Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Baikan


__ADS_3

Ketiga gadis cantik itu saling pandang masih dengan muka terkejutnya, Zela menggeleng tidak percaya dengan berita yang baru saja di lihatnya.


Sedangkan Vani kini sedang senyum-senyum sendiri sembari pikirannya melamun ntah kemana. Seli membalas beberapa pesan yang Dimas kirimkan, dia juga menanyakan tentang kebenaran berita tersebut.


" Duh... Coba yang kek gitu Bebeb Xelo, pasti meleleh hati Gue." Gumam Vani sembari senyum-senyum sendiri.


" Kebanyakan ngayal Lo." Sindir Seli sembari membalas pesan singkat Dimas.


" Daebak!." Teriak Vani kesal membuat Seli terkikik.


Sedangkan Zela tampak sedang berusaha menghubungi seseorang, tentu saja Zela menghubungi suaminya, tidak lama panggilan teleponnya di angkat, dan Zela segera pamit kepada kedua sahabatnya untuk menemui Brayen.


" Zezel temenin nggak?." Teriak Vani.


" Nggak usah!." Jawab Zela dan berlalu pergi.


Kini di sekolah ataupun kampus depan. Para mahasiswa dan juga siswa-siswi sedang membicarakan berita yang baru saja mereka baca di sosmed. Mereka tidak menyangka jika akan sampai seserius ini.


" Yah.. Mulai sekarang harus mengagumi dalam diam." Keluh salah satu siswi.


" Semua gara-gara Kakak kampus depan yang pada keganjenan." Sambung yang lainnya.


" Jangan nyalahin Kakak kampus aja dong, Lo juga ganjen kan kalau lihat Kak Ray?." Jawab siswi lain.


" Tapi Gue nggak sampai sefanatik mereka yang sampai ngasih barang-barang apa lagi sampai nyatain cinta ke Kak Brayen." Jawabnya membela diri.


" Iya Lo emang nggak sampai seperti itu, tapi Lo selalu teriak-teriak setiap lihat Kak Ray." Jelas salah satu siswi membuat yang lain tertawa.


" Sudah-sudah jangan pada ribut kalian, yang penting kita masih bisa lihat wajah tampan Kak Ray, kalau mau njerit dalam hati aja mulai sekarang." Jelas salah satu siswi yang di benarkan oleh teman-temannya.


Mereka beruntung, jika masih bisa melihat wajah tampan Brayen, setidaknya mereka masih bisa semangat, dari pada Brayen sang idola sampai pindah ke kampus lain atau lebih parahnya Brayen kembali ke Kampusnya dulu di New York. Sudah pasti mereka sebagai pengagum Brayen akan merasa kehilangan dan tidak semangat lagi untuk pergi Sekolah. Meskipun kenyataannya tidak setiap hari mereka bisa melihat wajah tampan Brayen, tapi mengerti jika sang Idola berada di kampus depan saja itu sudah cukup membuat membuat mereka lebih semangat lagi.


Sedangkan kini Zela dan Brayen sudah dalam perjalanan yang ntah mereka sendiri tidak tau tujuannya kemana. Brayen mamakai motor sportnya. Karena Zela kesal dia sama sekali tidak berpegangan kepada Brayen. Tapi Brayen cukup tau itu, dia melajukan motornya dengan pelan, jika di lihat mereka seperti anak muda yang sedang berpacaran dan bolos sekolah. Juga sedang dalam keadaan marahan atau tidak baik-baik saja, jelas karena wajah Zela sedari tadi menampakan kekesalannya.


Awal sekolah yang seharusnya akan Zela nikmati bersama kedua sahabatnya, malah harus di hadapi dengan beberapa masalah yang harus dia selesaikan dan dia luruskan, sebenarnya Zela tau, ini bukanlah salah Brayen sepenuhnya, hanya saja dia tidak tau melampiaskan kekesalannya dengan siapa kalau bukan dengan Brayen sang pemilik wajah tampan itu.

__ADS_1


" Yang pegangan." Suruh Brayen kepada Zela.


Tidak ada jawaban dari Zela, meski dia mendengar apa yang di katakan oleh Brayen, tapi Zela enggan untuk menjawabnya.


Dengan segera Brayen menuntun tangan Zela untuk berpegangan pada pingganya, bahkan Brayen malah menuntun tangan Zela untuk memeluknya, tidak ada penolakan dari Zela, karena dia memang ingin tapi juga kesal, ntahlah sekarang ini begitu rumit Zela rasakan, Zela merasa seperti kembali ke masa mudanya lagi, meskipun dia kini sudah mempunyai anak, tapi sikapnya seakan kembali semula sebelum hamilnya Arshaka.


Brayen tersenyum karena nyatanya Zela tidak menolak untuk memeluknya, dengan segera dia melajukan motornya dengan cukup kencang.


Zela sedikit tersentak, tapi dia bersikap biasa, malah sebenarnya bibirnya menampilkan senyuman manisnya.


" Mau kemana?." Tanya Brayen setengah berteriak.


" Nggak tau." Jawab Zela dengan nada yang masih kesal, padahal jauh dalam hatinya dia begitu senang.


Aneh memang, di awal pertamanya masuk malah sudah di ajak bolos oleh Brayen.


Brayen tersenyum, dia tau tempat yang sekarang harus di tuju, mumpung lagi berdua saja dengan Zela tanpa adanya baby boy Arsha, pikir Brayen.


Tidak ada percakapan selama di dalam perjalanan, tentu saja karena Brayen yang ingin cepat sampai di tempat itu. Dan Zela yang masih pura-pura kesal dengan Brayen, meskipun sepanjang perjalanan Zela terus tersenyum tanpa sepengetahuan Brayen, karena dirinya yang bersandar pada pundak Brayen.


Brayen mengajak Zela ke puncak, mungkin dengan suasana sejuk juga pemandangan yanh asri cukup membuat suasana hati dan pikiran mereka lebih tenang.


" Ayo." Ajak Brayen.


" Kemana?." Tanya Zela masih dengan nada pura-pura kesalnya.


" Beli jaket dulu buat kamu yang." Jelas Brayen yang tau jika Zela sedang kedinginan.


Zela tidak menjawab tapi dia menurut, bahkan ketika tangan Brayen menggandengnya Zela tidaklah menolak, dia malah sedikit menyunggingkan senyumnya, lagi-lagi Zela pura-pura kesal padahal sebenarnya begitu bahagia saat ini.


Setelah membeli *swe*ater untuk Zela, mereka duduk di sebuah gubuk kecil yang indah dengan di temani dua gelas kopi.


" Kenapa Kak Ray lakuin itu?." Tanya Zela tanpa basa basi.


Jujur saja Zela sedari tadi sudah menahannya untuk menanyakan hal ini di waktu yang pas, dan Zela rasa ini waktu yang tepat.

__ADS_1


" Karena kamu." Jawab Brayen singkat, tapi terdengar begitu berarti.


Zela menautkan alisnya, kemudia dia menghela nafasnya, sembari menggenggam secangkir kopinya untuk menghangatkan tangannya.


" Tapi kenapa harus mengancam untuk mengeluarkan mereka Kak?." Tanya Zela merasa jawaban Brayen tadi begitu ambigu, meskipun dia tau jika apa yang Brayen lakukan demi dirinya.


Berita di sosmed yang membuat semua gempar ialah, Brayen yang menuliskan pada akun sosmed nya, jika ada yang berani lagi mengikutinya atau bertindak berlebihan kepada dirinya akan di keluarkan dari Kampus ataupun Sekolah. Brayen tidak masalah jika fans yang tadinya begitu mengaguminya akan membencinya, tapi semua itu tidaklah terjadi, karenya nyatanya fans-fans Brayen menuruti apa yang di perintahkan oleh idola mereka. Bagi mereka cukup melihat Brayen saja sudah membuat mereka senang dan semangat.


" Kalau nggak seperti itu, mereka akan terus mengikutiku yang, aku harus lebih tegas lagi." Jelas Brayen membuat Zela lagi-lagi menghela nafasnya.


" Kamu nggak tau apa yang terjadi di kampus." Jelas Brayen terjeda, membuat Zela menatap Brayen dengan penuh penasaran.


" Mereka sampai mengatakan cinta di depanku, dasar gadis bod*h." Jelas Brayen yang begitu muak dengan gadis-gadis yang terus mengejarnya tanpa rasa tau malu.


" Tapi Kak Ray nggak harus seperti itu juga." Jawab Zela yang sebenarnya juga begitu terkejut dengan penuturan Brayen barusan.


" Karena aku nggak mau kamu sakit hati yang, kita udah ada Arsha, tidak seharusnya mereka bersikap seperti itu denganku." Jelas Brayen membuat Zela terdiam.


Zela juga sangat kesal dengan sikap gadis-gadis yang begitu berlebihan mengagumi suaminya.


" Maafin aku yang." Ucap Brayen membuat Zela menatapnya bingung.


" Maaf karena aku udah ngajak kamu bolos di hari pertama kamu masuk." Sambung Brayen membuat Zela tertawa.


" Nggak lucu." Ucap Zela sembari memukul lengan Brayen.


" Emang nggak ngelawak, tapi kenapa kamu tertawa kalau nggak lucu?." Tanya Brayen sembari menaik turunkan alisnya.


Zela menatap Brayen kesal, kemudian dia tersenyum lalu memeluk Brayen.


Brayen juga tersenyum sembari membalas pelukan Zela, akhirnya tidak sia-sia juga Brayen mengajak Zela jauh ke puncak, karena Brayen bisa mendapat pelukan dari Zela, bukan hanya itu, Brayen bahkan menginginkan lebih dari hanya sekedar pelukan.


" Yang, jauh-jauh ke puncak sampai bolos gini, kita bikin dedeknya Arsha aja gimana?." Tanya Brayen yang sontak membuat Zela terkejut dan melepaskan pelukannya.


" Mesum." Jawab Zela sembari memukul pelan dada bidang Brayen.

__ADS_1


Masalah yang mereka hadapi sudahlah terselesaikan, meskipun tidak terlalu besar, tapi jika menyangkut hati apa lagi mereka masih sama-sama muda, harus segera mencari jalan keluarnya, dan beruntung baik Zela ataupun Brayen pada dasarnya memanglah dewasa, meskipun terkadang mereka sama-sama konyol.


__ADS_2