
Sedangkan Vani dan Xelo masih sama-sama fokus dengan layar besar di depan mereka. Tidak ada adegan nakal seperti yang Dimas lakukan kepada Seli, apa lagi Brayen yang sudah benar-benar tidak tau diri mencumbu Zela di tempat umum. Meskipun gelap tapi tetap saja apa yang Brayen lakukan kepada Zela tetaplan salah dan tidak boleh di teruskan.
Bahkan sampai film yang di putar itu selesai juga Brayen masih dengan tingkah nakalnya yang mengerjai Zela.
Perlakuan Brayen terhenti saat lampu bioskop di nyalakan kembali.
Semua yang menonton film berdiri untuk pergi, begitu juga pasangan Dimas Seli dan juga pasangan Xelo Vani, hanya Brayen dan Zela yang masih duduk dan sibuk menutupi bekas kiss mark yang Brayen berikan tadi di leher Zela.
Bahkan Zela sampai menggunakan jaket yang tadi Brayen kenakan ketika masuk ke dalam Mall.
" Zela sama Kak Ray lama banget sih? " Ucap Vani yang masih setia menunggu Zela dan Brayen keluar.
" Kayak nggak tau mereka aja Van " Jawab Dimas dengan kekehan.
" Bi " Ucap Seli mengingatkan Dimas, tentu saja di jawab Dimas dengan senyuman tampan yang juga mengacak rambut Seli pelan.
Tidak lama Zela dan Brayen datang, tentu saja Seli dan Vani saling pandang bingung, soalnya Zela mengenakan jaket Brayen sampai ke atas lehernya, hanya wajahnya saja sekarang yang terlihat, Zela persis seperti orang yang sedang sakit leher pikir Seli dan juga Vani. Sedangkan Dimas dan Xelo hanya terkekeh, mereka tau apa yang sudah terjadi tadi di dalam bioskop.
" Zel kok Lo yang pake jaket sih? " Tanya Vani melihat Zela.
" Lo sakit Zel? " Sambung Seli bertanya kepada Zela.
Astaga.. Kenapa kedua sahabatnya ini jadi polos begini? Biasanya mereka akan tau hal-hal begituan, tapi kalau di hadapkan secara langsung mereka berubah jadi gadis yang polos, aneh memang.
" Gue nggak papa kok.. Cuma sedikit dingin aja" Jawab Zela berbohong, padahal aslinya Zela sudah merasa begitu gerah karena mengenakan jaket Brayen, dan juga di kerjai oleh Brayen tadi, meskipun hanya sebatas kecupan di lehernya tapi sentuhan bibir Brayen mampu membuat gejolak birahinya menginginkan lebih.
Beruntung Zela lebih tau diri ketimbang Brayen, sejak kehamilan Zela, sikap Brayen memang jadi berubah, bahkan urusan di ranjangpun berubah, Brayen mudah sekali tergoda dengan Zela.
" What? Lo dingin Zel?? Gue aja gerah gini " Jawab Vani membuat Zela tersenyum kikuk.
Sedangkan Brayen yang berada di sebelah Zela tersenyum sambil mengacak rambut Zela pelan. Zela melirik ke arah Brayen dengan kesal, semua ini juga karena ulah Brayen sampai membuat Zela beralasan dengan pertanyaan-pertanyaan kedua sahabatnya.
" Beb kamu gerah? Belum apa-apa udah gerah aja" Jawab Xelo membuat Vani memukul lengan Xelo pelan.
" Jangan mesum deh,, awas aja ya kalau sampai berani macam-macam" Jawab Vani galak membuat Xelo menarik hidung Vani gemas.
" Ha..ha..ha... Nikmatilah pacar rasa air tawar Man.. " Ledek Dimas kepada Xelo.
" Sialan Lo" Jawab Xelo singkat membuat Dimas semakin tertawa.
Juga Seli yang berada di sebelah Dimas juga langsung menimpuk Dimas pelan, tapi tentu saja Dimas membalasnya dengan senyuman tampannya, bahakn Dimas dengan sengaja menirukan gerakan mencium kepada Seli, hanya sekilas memang tapi mampu membuat Seli semakin kesal dengan sikap Dimas yang menyebalkan sekarang ini.
Seli sangatlah malu kepada kedua sahabatnya, sedangkan Vani melotot tidak percaya dengan apa yang di lakukan Dimas kepada Seli, meskipun tidak mencium secara nyata atau sampai menempel, tapi tetap saja Dimas sangatlah vulgar di depan mereka.
Padahal sebelumnya mereka sudah sering melihat Zela yang mencium Brayen di depan mereka.
Akhirnya pasangan muda mudi itu memutuskan untuk pulang. Kini Brayen dan Zela sudah berada di dalam mobil. Tangan Brayen terus menggenggam tangan Zela, sedangkan yang satunya fokus menyetir.
" Kak kenapa dari tadi diem terus? " Tanya Zela karena Brayen sedari tadi keluar bioksop lebih banyak diamnya.
" Kamu nggak akan tau yang, gimana cowok menahan sakitnya karena sudah lama menahan tombak yang sudah siap untuk bertempur " Jawab Brayen ngelantur, tentu saja Zela bingung dengan apa yang di katakan oleh Brayen.
" Maksud Kak Ray apaan sih? Aku nggak ngerti " Tanya Zela dengan bingungnya.
Dengan segera Brayen menuntun tangan Zela untuk meraba ke arah celananya yang sudah berdiri tombak di dalamnya. Asataga... Zela langsung terkejut karena itu.
" Kak Ray ih..!!!! " Ucap Zela dengan nada yang sudah naik 2 oktaf.
" Please... Yang... Kasian" Jawab Brayen dengan muka memelasnya.
Melihat muka Brayen sekarang ini, membuat Zela ingin tertawa, rasanya begitu lucu cowok setampan Brayen sampai meminta seperti itu, padahal tanpa Brayen memohonpun Zela sudah pasti akan mau melakukannya. memangnya siapa yang tidak mau berada di dekapan tubuh kekar dan wajah tampan Brayen, bahkan banyak sekali wanita di luar sana yang menginginkan di posisi Zela sekarang, dan Zela bersyukur karena dia pemenang sesungguhnya dari sekian banyak wanita.
__ADS_1
Zela tersenyum manis kepada Brayen, mencium tangan Brayen dengan lembut dan hangat.
" Tunggu sebentar sampai kita pulang ya Kak " Ucap Zela dengan lembut membuat Brayen mengangguk dengan senyum, juga mencium tangan Zela.
Brayen melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi, rasanya dia sudah ingin sampai di rumahnya, adik kecilnya sedari tadi sudah meronta untuk menemukan tempat ternyaman dan terhangat.
Sampai akhirnya mobil Brayen berhenti tepat di depan rumah Zafano. Dengan segera Brayen keluar dari dalam mobil dan langsung menuju ke arah Zela.
Bahkan Zela baru saja turun dan langsung di sambut Brayen dengan menggendongnya, Brayen membawa Zela masuk ke dalam rumahnya, terlihat Bunda Wina dan Pak Riko yang sedang duduk santai di ruang tengah.
Bunda Wina dan Pak Riko melihat Brayen yang sedang menggendong Zela dengan berjalan yang cukup cepat, membuat kedua Orang Tua paruh baya itu saling pandang bingung.
" Ray.. Zela kenapa? " Tanya Pak Riko ketika Brayen melewati mereka.
" Sayang kamu kenapa Nak? " Tanya Bunda Wina kepada Zela yang berada di gendongan Brayen.
" Kak lepasin" Bisik Zela kepada Brayen, tapi tentu saja Brayen tidak akan mungkin melepaskannya.
" Nggak papa Yah Bun.. Kita pamit ke atas dulu" Jawab Brayen kepada Orang Tuanya, membuat Bunda Wina dan Pak Riko semakin bingung.
Sedangkan Zela begitu malu dengan sikap Brayen, dengan sengaja Zela mengigit lengan Brayen dengan keras, sampai membuat Brayen sedikit meringis kesakitan, tapi bukan Brayen namanya kalau hanya di gigit Zela menyerah begitu saja.
Brayen membawa Zela menuju kamar mereka. Setelah sampai di kamar. Brayen langsung membaringkan Zela di ranjang, dia tersenyum ke arah Zela karena pada akhirnya pertempuran yang sedari tadi sudah dia tahan akan segera di lakukan.
Brayen mendekat ke arah Zela dan dengan rakusnya dia langsung melancarkan aksinya, bahkan Zela sendiri cukup terkejut dengan Brayen, yang semakin hari semakin buas kepadanya.
Meskipun perlakuan Brayen lembut, tapi begitu beruntun sampai membuat Zela tidak bisa mengimbangi permainan Brayen.
" Yang.. Kamu cukup nikmati saja," Bisik Brayen dengan mengecup telinga Zela, membuat Zela meremang karena perlakuan Brayen kepada dirinya.
Mereka menikmati malam yang panjang dengan hangat karena sentuhan cinta dari mereka, sampai tidak terasa sudah jam setengah 12 malam, Zela sudah tertidur di pelukan hangat Brayen, sedangkan Brayen masih membuka matanya sambil tangannya membelai rambut Zela pelan.
Brayen mengambil ponselnya yang berada di sebelahnya, dia mengirim pesang singkat kepada Dimas karena ada hal yang harus di bicarakan besok pagi. Tentu saja mengenai Sandro dan Vera yang hamil di luar nikah.
Pukul 06.55 mobil Brayen berhenti tepat di depan gerbang Sekolah Zela. Setelah memberi morning kiss untuk suaminya, Zela segera turun dari mobil Brayen dan masuk ke dalam Sekolah.
Sedangkan Brayen langsung melajukan mobilnya. Bahkan tanpa dia sadari sedari tadi Dara terus melihat kepergian mobil Brayen.
Brayen menuju ke apartemen Dimas. Karena tadi Dimas memberitahukannya jika masih berada di dalam apartemennya. Dan Brayen tidak ingin buru-buru mengatakan semua kepada Pak Riko, jika apa yang dia curigai kepada Sandro belum terbukti.
Brayen menghampiri Dimas yang sedang duduk di depan laptopnya.
" Udah Lo selidiki belum? " Tanya Brayen tanpa basa basi kepada Dimas.
" Sialan Lo menghubungi Gue cuma buat tugas aja" Jawab Dimas yang dapat cengiran dari Brayen.
" Coba Lo liat" Suruh Dimas kepada Brayen.
Brayen mengamati video dewasa yang sangatlah membuat dia jijik dan langsung ingin muntah.
Brayen terus saja mual karena itu, membuat Dimas terkekeh dengan sikap lebay Brayen.
" Lo aja yang liat Gue nggak bisa" Suruh Brayen kepada Dimas.
Jujur saja melihat wanita tanpa busana selain Zela sekarang membuat Brayen merasa risih dan ingin muntah. Beda ketika dulu Brayen masih berada di New York. Brayen sering melihat blue film, meskipun banyak wanita yang mau merelakan kehormatannya untuk dirinya termasuk juga Misha, tapi Brayen tidak pernah sampai menyentuhnya, Brayen dan teman-temannya sering berkunjung ke Klub malam bahkan hampir tiap malam tapi hanya sekedar mengusir kejenuhannya saja.
" Fix ini memang tuh cewek Ray, tapi cowoknya Gue juga nggak tau siapa" Jelas Dimas kepada Brayen.
Brayen mengangguk, dia berfikir jika Sandro pasti tau tentang cowok yang ada di dalam Video itu.
" Tuh anak curut pasti tau sesuatu" Gumam Brayen.
__ADS_1
" Gue sepemikiran ma Lo Ray" Jawab Dimas membuat Brayen menoleh ke arahnya.
Tanpa menunggu lama Brayen langsung menghubungi Mr Richard, dia harus menanyakan langsung kepada Sandro tentang video itu.
Setelah Mr Ricahrd mengunjungi Sandro yang masih berada di masa rehab Brayen langsung memberi rentetan pertanyaan kepada Sandro, awalnya Sandro tidaklah mengakui tapi dengan segera Dimas memperlihatkan video mesum yang terdapat pada memori ponselnya dulu.
Sontak saja Sandro begitu terkejut, rasanya dia sudah menghapus Video itu, tapi ternyata Brayen dapat menemukannya lagi.
Sandro mengakui jika dia mengenal cowok yang berada di dalam video itu, cowok itu adalah teman Sandro yang bertemu dengan Vera di klub malam. Awalnya Sandro tidak mengetahui jika mereka sampai menjalin hubungan pacaran atau bahkan sampai melakukan hal lebih dari sekadar orang pacaran.
Niat hati Sandro ingin mengerjai temannya itu dengan memberi kejutan di hari jadinya dengan memasang kamera untuk mengabadikan moment, tapi malah apa yang Sandro lihat di dalam rekamannya sangatlah membuatnya shok.
Temannya dan Vera sedang melakukan hubungan layaknya suami istri, dan karena itu jugalah yang membuat Sandro tidak hanya sekedar mengagumi Zela seperti dulu, tapi Sandro jadi lebih berani mengambil foto Zela dan mengeditnya untuk fantasi liarnya.
Setelah mendengar penjelasan Sandro, Brayen menutup sambungan teleponnya, dia dan Dimas harus menemui cowok tersebut. Ini semau Brayen lakukan untuk kedua Orang Tuanya yang sudah membangun Sekolah itu sejak dulu, sampai menjadi sekolah terfavorit di kota mereka. Bahkan sekolah terbaik di i
Indonesia.
" So... Apa yang harus Gue lakuin? " Tanya Dimas melihat Brayen yang sedang memikirkan sesuatu.
" Ikut Gue.." Ajak Brayen kepada Dimas, tentu saja Dimas tidaklah mungkin menolak ajakan Brayen. Dimas menganggukan kepalanya.
Mobil Brayen melaju meninggalakan gedung apartemen. Mereka menggunakan mobil mewah Brayen, tapi tentu saja Dimas sebagai sopirnya sekarang.
" Ke Kantor Ray? " Tanya Dimas membuyarkan lamunan Brayen.
" No " Jawab Brayen singkat, membuat Dimas mengernyitkan keningnya bingung.
" Kita ke sekolah" Sambung Brayen memberitahukan.
" Untuk? " Tanya Dimas ingin tau.
" Menghadiri rapat Guru sekarang" Jawab Brayen yang sudah mengetahui jika sekarang akan ada rapat Guru, juga kedua Orang Tuanya yang ikut hadir.
" Rapat Guru? " Tanya Dimas tidak percaya, yang di angguki oleh Brayen.
" It's Oke.." Jawab Dimas kembali melajukan mobilnya lebih kencang.
Brayen melirik Dimas yang sedang tersenyum senang, sudah dipastikan Dimas senang karena akan bertemu dengan Seli.
" Jangan fikir Lo bisa pacaran sama Seli, ada tugas penting sekarang" Sindir Brayen membuat Dimas terkejut dan menatap Brayen kesal.
" Sialan.. Anak kecil yang bikin anak Gue yang repot " Ucap Dimas membuat Brayen tertawa.
Sampai akhirnya mobil Brayen memasuki sekolahan Zela istrinya. Setelah memarkirkan mobilnya Brayen dan Dimas keluar, aman.. Semau siswa siswi sudah masuk ke dalam kelas meskipun jam pelajaran sekarang sepertinya akan kosong.
Terlihat mobil mewag Ayah Riko yang juga sudah terparkir rapih di sana. Bahkan sang sopir sudah setia menunggu di parkiran.
" Pak" Panggil Brayen kepada Sopir pribadi Pak Riko.
" Lho Den Brayen sama Den Dimas ke Sekolah juga? " Tanya sang Sopir kepada mereka.
" Iya.. Masih lama nunggu Ayah, sebaiknya ngopi dulu di kantin Sekolah " Suruh Brayen sembari memberikan selembar uang berwarna merah kepada sopir Ayahnya.
" Terimakasih Den.. Terimkasih banyak" Jawab sang sopir yang akhirnya berlalu menuju kantin Sekolah. Setelah sebelumnya pamit kepada Brayen dan Dimas.
Dimas menggelengkan kepalanya, Brayen memang sedikit arogan dan menyebalkan tapi tentu saja dia sangatlah baik dan satu lagi tidaklah pelit, bahkan Brayen benar-benar membelikan mobil mewah untuk Dimas karena sudah membayarkan jam tangan yang dia beli waktu itu, Jangan di tanya harga mobil mewah yang Brayen belikan untuk Dimas lebih dari 3 M.
Brayen dan Dimas berjalan menuju di mana ruang rapat di adakan. Tanpa sengaja mereka bertemu dengan Dara sepupu Zela yang diam-diam menyukai Brayen.
Dara cukup terkejut dengan keberadaan Brayen, tapi tidak dengan Brayen yang merasa biasa saja, sedangkan Dimas mengamati gelagat Dara yang terlihat seperti wanita pada umumnya mengidolakan lelaki tampan di sebalahnya, siapa lagi kalau bukan Brayen. Dimas belumlah tau siapa Dara sebenarnya, dia masih mengira jika Dara siswi Sekolah ini yang juga mengidolakan Brayen.
__ADS_1
Meskipun sekilas terlihat ada sedikit kemiripan di anatara Zela dan juga Dara.
Sorry gaes up siang.. Jangan lupa like, Comment and Vote ya.. Big Thanks