Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Kedatangan Sang Idola


__ADS_3

Brayen dan Dimas kini sudah berada diruangan kantor Brayen, masih sangat jelas apa yang Ayahnya katakan tadi, dan itu sukses membuat Brayen mengacak rambutnya frustasi.


Bukannya tidak mau, Brayen hanya ingin mengumumkan diwaktu yang tepat, ketika usia kandungan Zela sudah mulai terlihat.


Tapi nyatanya dalam waktu dekat ini dia harus benar benar melakukannya.


" Akh.... Shit.. Kenapa jadi gini sih.." Kesal Brayen benar benar frustasi.


Dimas menatap Brayen dengan senyuman yang meremehkan.


" Kenapa loe jadi gila.. Hmm..??? " Tanya Dimas kepada Brayen.


" Gue mikirin Zela.. Dia masih ingin Sekolah sebelum kandungannya membesar.." Jawab Brayen yang sebenarnya sedari tadi mengkhwatirkan Zela.


Juga memikirkan Misha, Brayen takut jika Misha berbuat yang lebih atau diluar nalar jika tau hubungannya dengan Zela yang sebenarnya.


Misha itu saiko, mungkin dia bisa menggila jika tau akan hal ini.


Dan Brayen tidak mau terjadi hal buruk kepada istri dan calon anaknya.


" Zela masih bisa sekolah, sampai dia benar benar tidak sanggup karena perut besarnya nanti..." Jelas Dimas dengan kekehan mencoba mencairkan suasana.


Tapi Brayen masih tidak bergeming, dia malah menatap kesal Dimas.


Dimas tidak pernah mengerti kekhawatirannya, pikir Brayen.


" Oh... Ayolah Ray.. Kenapa jadi kayak cewek gini sih..?? Bukannya ini malah kesempatan baik untuk kalian.." Jelas Dimas lagi mencoba meyakinkan Brayen.


Brayen menatap Dimas kembali, diam seperti memikirkan sesuatu.


Ini memang kesempatan Brayen untuk menyingkirkan curut curut juga tikus yang mencoba mendekati dirinya juga Zela.


Brayen kembali menghembuskan nafasnya dengan kasar.


" Tolong kasih tau Pak Rendy, segera siapkan buat press conference..." Ucap Brayen menyuruh Dimas.


Dimas tersenyum senang, akhirnya Brayen mau menyetujuinya juga.


" Siap Pak Bos.." Jawab Dimas membuat Brayen menatapnya kesal, sedangkan Dimas malah terkikik geli dengan perkataanya barusan.


Tidak lama Brayen mengambil jasnya yang tadi ia sampirkan di kursinya, dan langsung pergi begitu saja melewati Dimas.


" Mau kemana..?? Teriak Dimas bertanya kepada Brayen.


" Jemput istri gue.." Jawab Brayen santai dan kini benar benar sudah keluar dari ruangan kantornya.


Dimas memandang Brayen yang sudah tidak terlihat dengan gelengan kepala, juga berdecak pinggang sambil tersenyum tampan tentunya.


" Awas aja Ray.. Nanti seisi Sekolah pada gila karena loe.." Gumam Dimas yang tau jika Brayen pergi kesekolah Zela dengan pakaian kantornya.


Sudah dipastika seluruh kaum hawa di Sekolah istrinya itu akan semakin menggila, juga teman kampus tentunya jika melihatnya, karena ketampanan Brayen yang berlipat lipat dengan setelan kemeja juga jasnya.


Perfect.. Itu mungkin kata yang pas untuk menggambarkan seorang Brayen.


Mobil Brayen terus melaju membelah jalanan ibu kota yang begitu sangat padat dengan kendaraan, meskipun jam Kantor belum usai tapi tetap saja sehari harinya akan seperti ini.


Brayen jadi tersenyum sendiri, membayangkan muka terkejut Zela karena menjemputnya dijam istirahat nanti.


Sekarang ini belum waktunya Zela pulang, tapi sungguh niat Brayen menjemput Zela sudah tidak bisa dibendung lagi.


Ada banyak hal yang harus Brayen beritahu juga jelaskan kepada Zela.


" Akh... Dasar.. Gue gila karena loe yank.." Gumam Brayen memukul setir mobilnya pelan juga dengan senyum tampannya.


Mobil Brayen berhenti di depan gerbang, setelah di bukakan oleh Satpam sekolah Brayen segera menuju ke parkiran.


Mungkin karena Brayen anak dari pemilik Sekolah jadi Pak Satpam mengijinkannya, juga ada hal yang penting mungkin.


Iya hal penting yang akan membuat gaduh seisi sekolah karena kedatangannya.


Brayen menunggu Zela di dalam mobil sampai akhirnya bell istirahat benar benar berbunyi.


Sedangkan Zela, Seli juga Vani sedang merapihkan bukunya, mereka akan menuju ke kantin Sekolah.


" Ehh.. Ada kabar lagi nggak dari anak cupu itu..?? Gue hampir lupa.." Ucap Vani sambil menunggu kedua sahabatnya.


" Sandro maksud loe..?? Tanya Seli.


" Iya dong.. Siapa lagi emang yang cupu kalau bukan dia..?? " Jawab Vani kepada Seli.


" Ya... Kali aja loe juga.." Jawab Seli meledek Vani.


" Sialan loe.." Kesal Vani tak terima di bilang cupu oleh Seli.


Sedangkan Seli tersenyum menjawabnya, juga Zela yang hanya tertawa dengan apa yang di katakan oleh kedua sahabatnya itu.


Tiba tiba di depan terdengar suara gaduh dari teman teman sekolah mereka, khususnya para cewek tentunya yang kedatangan tamu special.


Ralat, bukan tamu mereka, tapi pangeran tampan yang akan menjemput Zela sebagai Tuan putri.


Bahkan banyak di antara mereka yang sudah teriak histeris karena kedatangan Brayen, persis seperti orang yang sedang kesurupan.


" Ada apaan sih didepan..??? " Tanya Zela kepada kedua sahabatnya.


" Tau tuh.. Gue juga penasaran..." Jawab Seli yang mulai celingukan keluar kelasnya.


" Kita liat yuk.." Ajak Vani yang di setujui Zela juga Seli.


Ketiga siswi cantik itu berjalan menuju kedepan, yang sudah terlihat banyak sekali gerombolan siswi siswi cantik dan centil mencoba untuk melihat secara dekat Sang Idola.


Ini kedua kalinya Brayen ke Sekolah mereka, selain ketika permasalahn Zela dan juga Vera pada waktu itu.


" Kak.. Ray..... You are very handsome...!!! " Teriak salah satu siswi.

__ADS_1


" I Love you Kak.." Ucap salah satu siswi lainnya yang begitu semangat sehingga membuatnya sangat berani mengatakan itu.


" Kak Brayen.. Wajahmu mengalihkan duniaku..." Teriak salah satu siswi lagi.


Benar saja, semua siswi begitu sangat heboh karena kedatangn seorang Idola Kampus juga sekolah mereka.


Termasuk Vera the geng yang sedari sudah berada di antara mereka, tapi Vera hanya diam tidak melakukan hal hal seperti siswi lainnya yang begitu terlihat memalukan menurutnya.


Padahal Vera sendiri awal awal kedatangan Brayen di Kampus depan juga pernah sampe membuntuti Brayen untuk bisa dekat dengan Brayen.


Tapi karena kejadian waktu Zela terjatuh karena dirinya yang membuatnya tidak begitu berani lagi, atau Vera akan melakukan dengan cara yang lain untuk bisa dekat dengan Brayen lagi.


Jujur saja sebenarnya Vera sangatlah ingin menyingkirkan tikus tikus got yang saat ini sedang menatap Brayen dengan tatapan kagumnya.


" Norak..." Gumam Vera kepada teman teman sekolahnya yang masih setia kepada Brayen.


Pelase..Vera berkacalah sebelum berkata.


Sedangkan Zela, Seli dan Vani kini sudah berada di kantin yang begitu sepi, tentu saja sepi, semua siswi kini sedang melihat sang Idola, tadinya mereka juga ingin kepo atau mencari tau tapi mereka urungkan karena melihat lautan manusia dengan rok abu abunya sedang berkerumun.


" Btw.. Ada apa sih..?? Tanya Vani kepada salah satu siswa yang sedang duduk dikantin dengan kesal.


" Ada Idola mereka.." Jawab siswa itu dengan nada kesalnya.


Mereka bertiga saling pandang sambil menautkan alisnya bingung.


" Yee... Biasa aja lagi nggak usah sewot gitu.." Ucap Vani tidak kalah ketusnya.


Membuat Siswa tersebut tersenyum sambil menangkup kedua telapak tangannya seperti meminta maaf.


" Sang Idola..?? Siapa sih maksud mereka..?? Kak Bintang..?? Tapi masa iya sampe heboh gitu.." Ucap Seli menebak nebak.


" Atau jangan jangan....." Sambung Vani yang langsung melotot.


" Astaga... Ayo cepetan..." Sambung Vani lagi sambil menarik tangan kedua sahabatnya.


Tapi baru juga sampe pintu mereka menabrak seseorang, dia adalah Bintang.


Bintang bersama beberapa teman kelasnya yang akan menuju kekantin.


" Sorry kak.. Sorry.. " Ucap Vani kepada Kakak kelasnya yang sudah ditabraknya itu.


" Sorry Kak.." Sambung Zela dan Seli.


Mereka bertiga bangkit dengan bantuan Kakak Kakak kelas yang tampan itu, tentu saja Bintang berusaha membantu Zela.


" Kalian kok disini..??? " Tanya Bintang kepada mereka bertiga.


" Emang kita harus kemana..? " Tanya Balik Vani begitu terdengar menyebalkan.


Bintang menggeleng, mengurungkan niatnya untuk menjawabnya, padahal sebenarnya maksud Bintang ialah, kenapa mereka bertiga tidak menyambut kedatangan Brayen.


" Akh.. Iya kita duluan ya Kak.." Pamit Vani kepada Kakak kelas mereka.


Sungguh ketiga siswi cantik ini bukan hanya populer tapi mereka benar benar menghormati Kakak kelas mereka.


Termasuk Kakak kelas cewek, bukan hanya cowok saja, meskipun tak khayal jika Kakak kelas mereka yang berjenis kelamin perempuan itu juga ada beberapa yang tak menyukai mereka karena begitu populer.


Tapi itu tak menjadi masalah untuk mereka.


" Zel... Udah dapat bingkisan dari Kakak kan..??? " Teriak Bintang menanyakan kepada Zela.


Ketiga gadis itu mengehentikan langkahnya, menoleh ke arah Bintang yang sedang tersenyum tampan.


Deg...


Zela teringat bingkisan tadi pagi yang diberikan adik kelasnya itu ternyata dari Bintang.


" Iya kak.. Thanks kak.." Jawab Zela tak mau berlama lama.


Kembali Vani menarik kedua sahabatnya untuk menemu Brayen, Zela dan Seli juga sudah menduga jika yang membuat jam istirahat sekolah tidak seperti biasanya adalah Brayen.


Sampai disana ternyata semua siswi sudah berada di depan kantor.


What..?? Depan kantor..?? Mereka ngapain..?? Atau jangan jangan Brayen yang.... OmG Zela langsung berlari kecil untuk menuju kerumunan teman teman sekolahnya.


" Gila.. Kak ray ganteng parah kalau pake setelan kemeja seperti itu.." Ucap salah satu siswi yang juga didengar oleh Zela.


" Iya... Gue jadi pengen berkhayal punya suami kayak Kak Brayen.." Sambung salah satu siswi lagi.


" Perfect.. Perfect.. Perfect..." Ucap siswi yang lainnya.


Dan masih banyak lagi yang terus memuji Brayen karena wajah tampan yang ia miliki, dan itu sangat terdengar jelas oleh Zela juga kedua sahabatnya yang berada disebelahnya.


Huffh..


sabar zel...sabar.. ini resiko punya suami tampan, batin Zela pada diri sendiri.


Seli dan Vani menggenggam tangan Zela untuk menguatkannya.


Zela tersenyum ke arah kedua sahabatnya.


" Kesel gue ma mereka.. Nggak bisa jaga mulut banget deh.." Gumam Vani kesal sendiri.


" Udah lah Van biarin.. Mereka kan nggak tau apa apa.." Jawab Zela agar terlihat tenang.


Tapi jujur saja sedari tadi bukan hanya telinganya saja yang panas tapi hati Zela sudah seperti kobaran api yang menyala.


Sampai akhirnya pintu kantor terbuka, menampilkan sosok tinggi tampan yang memang sedari tadi mereka tunggu.


Diikuti kepala sekolah dan juga guru yang lain dari belakangnya.


Semu siswi bungkam, tidak lagi seheboh tadi, sungguh pesona Brayen memanglah sangat memikat, membuat semua terbius bungkam menikmati wajah rupawan yang sedang Tuhan suguhkan kepada mereka.

__ADS_1


Brayen melihat keberadaan Zela, dia menghampiri Zela tanpa memperhatikan siswi siswi cantik yang lainnya.


" Ayo pulang...." Ajak Brayen kepada Zela.


Deg....


Jantung Zela berdesir hebat, terpompa lebih cepat, dunia seakan berhenti sekarang.


Brayen mengajaknya di hadapan semua siswi juga Gurunya, astaga.. Ini seperti mimpi untuk Zela.


" Sayang ayo...." Sambung Brayen lagi seketika membuat semua siswi terkejut dan melongo dibuatnya.


Zela tidak menjawab, dia masih seperti berada di alam mimpi rasanya, bahkan lidahnya sangat kelu untuk menjawab juga kakinya yang seperti berat untuk melangkah.


Setelah berpamitan kepada kepala sekolah juga guru yang lain, tanpa menunggu jawaban dari Zela, Brayen segera menggandengnya dan pergi dari kerumunan siswi yang sedari tadi sudah dibuatnya terkejut, bahkan mereka masih melongo karenanya.


Tapi sungguh hati mereka sangat hancur melihat dengan mata kepala mereka sendiri perlakuan Brayen kepada Zela, dan ini nyata bukan mimpi.


" Hati gue udah hancur..." Ucap siswi yang merasa patah hati.


" I'm brokent heart..." Sambung yang lainnya lagi.


" Kenapa gue bukan Zela sih.." Ucap salah satu siswi.


Dan masih banyak sekali ungkapan rasa patah hati dari mereka untuk Brayen.


Pak kepsek yang melihat siswi siswinya itu hanya geleng geleng kepala, dan membubarkan mereka, semua siswi bubar dengan perasaan yang sama sama hancur.


Patah hati berjamaah wist..😁


Sedangkan Seli dan Vani cekikikan melihat teman temannya yang sudah seperti tak bernyawa itu.


Juga Vera yang begitu sakit melihat perlakuan Brayen kepada Zela, Vera semakin yakin ada sesuatu yang mereka sembunyikan, dan sialnya Vera tidak mengetahui apapun akan hal itu.


Tenang Ver.. Sebentar lagi kamu akan tau.. Bukan hanya kamu, tapi juga semua.. ✌️


Sampai dimobil Brayen, Zela masih tak mengucapkan sepatah katapun, sungguh kedatangan Brayen diluar dugaannya.


Bahkan Zela masih tidak mengerti dengan semua ini, dengan perlakuan Brayen kepadanya yang ditunjukan kepada semua.


Apa Brayen tidak khawatir jika mereka semua curiga nantinya..?? Pikiran Zela penuh dengan pertanyaan.


Sampai tanpa Zela sadari Brayen sudah melajukan mobilnya meninggalkan Sekolah.


Brayen tersenyum melirik Zela yang masih bergelut dengan pikirannya.


" Ehmm.... I Love You.." Ucap Brayen membuat Zela tersadar.


Zela menoleh ke arah Brayen.


" Love you too Kak.." Jawab Zela dengan senyuman manisnya.


Meskipun Zela masih dengan bingungnya, tapi dia masih menjawab ungkapan perasaan Brayen kepada dirinya.


Brayen mengacak rambut Zela pelan, dan kembali pada setir mobilnya.


" Ada apa sebenarnya Kak..?? Tanya Zela kepada Brayen.


Zela sangat khafal dengan jalanan yang mereka lewati, ya tentu saja karena sekarang ini mereka akan pulang untuk membahas semua yang sudah Pak Riko dan Pak Adam bicarakan tadi.


" Nanti kamu akan tau sendiri yank..." Jawab Brayen membuat Zela semakin penasaran.


Perasaan Zela seperti tak enak, ntah kenapa Zela jadi gugup sendiri.


Zela melirik Brayen yang begitu terlihat tenang, seperti tidak terjadi apapun, tapi memang bawaan Brayen yang seperti itu, harusnya Zela khafal akan hal ini.


" Tadi kenapa bisa seperti itu..?? Tanya Zela lagi kepada Brayen.


Brayen maksud apa yang ditanyakan oleh Zela, tentu saja kejadian di Sekolah tadi.


" Itu biar mereka terbiasa dan nantinya tak begitu kecewa.. Aku nggak mau kamu dan calon anak kita kenapa napa yank.." Jawab Brayen membuat Zela semakin berfikir keras untuk mencernanya.


Zela kembali melirik Brayen sekilas, yang dijawab Brayen dengan senyuman tampannya.


curang.. selalu saja menampilkan jurus andalnnya. batin Zela


" Mamah Hana dan Papah sudah nunggu kita dirumah Yank..." Jelas Brayen kepada Zela.


Sontak saja Zela kembali menoleh ke arah suaminya, ada apa sebenarnya..?? Kenapa semua terlihat begitu aneh hari ini.


Atau Zela hanya bermimpi saja..?? Tapi ini sangat begitu nyata...


Banyak sekali pertanyaan dibenak Zela, sungguh Zela benar benar gundah akan hal ini, Zela takut jika terjadi sesuatu atau tanpa ia sadari, Zela sudah melakukan kesalahan yang membuat semua harus dibicarakan secara kekeluargaan.


Brayen menggenggam tangan Zela, kemudian tersenyum untuk Zela.


" Tenang.. Semua baik baik aja.." Ucap Brayen yang tau kegundahan Zela.


Zela mengangguk sambil tersenyum, dia percaya tidak terjadi hal hal yang membuatnya takut jika harus kehilangan Brayen, atau mendapat sidang dari kedua orang tuanya juga Martuanya.


Brayen mencium kening Zela sekilas, kemudian kembali fokus pada setir mobilnya untuk menuju rumah, dan membahas tentang pernikahan mereka yang harus segera diumumkan.


Dan itu sudah mutlak keputusan dari kedua orang tua Brayen juga Zela, mereka sependapat untuk tidak memberitahu Zela tentang perlakuan Sandro kepada dirinya.


Hanya saja mereka butuh persetujuan Zela tentang maksud mereka untuk mengumumkan pernikahan mereka, juga kehamilan Zela tentunya.


Jangan Lupa Like, Comment dan Vote..


Vote...Vote...Vote... Kak..


Big Thanks.. 🙏🙏


Aku sayang kalian... 😘😘

__ADS_1


__ADS_2