Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Tengah Malam


__ADS_3

Pukul 12 malam, Zela bolak balik dari posisi tidurnya, padahal baby Arshaka sudah tidur sedari tadi, sedangkan Brayen sedang di ruangan kerjanya yang kebetulan dekat dengan kamar mereka.


Zela melirik ke bok kecil dan lucu yang berada di sebelahnya. Dia tersenyum melihat bayi montoknya sudah tertidur, kemudian kembali mencoba memejamkan matanya tapi tetap sama, Zela masih saja susah untuk benar-benar tertidur.


Karena kesal dengan dirinya yang tidak kunjung bisa terlelap, akhirnya Zela memutuskan untuk menemui Brayen yang masih berada di ruang kerjanya yang berada di rumah. Tumben sekali suaminya bisa betah lama di sana, biasanya juga dia akan bermalas-malasan jika mengenai urusan kantor Ayahnya.


Tok... Tok... Tok....


Zela mengetuk pintu terlebih dahulu.


" Siapa?." Tanya Brayen dari dalam ruangan.


" Gue kak, eh aku." Jawab Zela meralat ucapannya yang memanggil dirinya dengan sebutan Gue.


" Masuk sayang." Suruh Brayen kepada Zela.


Dengan segera Zela masuk ke dalam ruangan kerja Brayen. Terlihat suaminya masih duduk di kursi yang akan menguras habis otaknya untuk memikirkan tentang pekerjaan.


" Kenapa belum tidur?." Tanya Brayen melihat Zela yang sudah duduk di pangkuannya saat ini.


Tidak ada lagi rasa malu apa lagi canggung, mereka sudah cukup tau satu sama lain, dari dalam dan luarnya.


" Nggak bisa tidur." Jawab Zela jujur.


" Minta di nananina dulu kan?." Tanya Brayen sengaja menggoda Zela.


Bahkan kini tangan Brayen sudah melingkar di pinggang istrinya.


" Mulai deh mesumnya." Jawab Zela membuat Brayen tersenyum.


Dengan nafas yang sudah mulai menderu, Brayen mulai menyium leher jenjang istrinya itu. Mereka juga saling melum*t bibir masing-masing, jika susah untuk tidur memang lebih baik ena-enaan saja, toh mereka juga sudah suami istri, tidak akan dosa, malah akan mendapat pahala.


Ciuman mereka sudah semakin panas, bahkan tangan Brayen sudah mulai mencari dua bukit kemb*r milik Zela. Brayen sangat suka bermain di area itu, rasanya yang empuk dan kenyal membuatnya seperti ingin terbang melayang ketika menjamahnya, apa lagi Zela yang merasakan sentuhan Brayen, dia sudah tidak bisa menahan suara desahannya menahan nikmat.


Baru juga tadi pagi mereka melakukannya, tapi kini sudah sama-sama menginginkan lagi, nyatanya yang bikin nikmat itu memang membuat candu.

__ADS_1


Ceklek.


" Astaga...." Ucap Bunda Wina tidak percaya melihat anak dan menantunya yang sedang pemanasan untuk berperang.


Bunda Wina datang sembari membawa Arshaka di gendongannya. Bayi tampan itu menangis karena haus, beruntung Bunda Wina yang merasa tidak enak dalam hatinya melihat ke kamar Zela dan Brayen. Betapa terkejutnya Bunda Wina melihat cucu kesayangannya berada di dalam kamar sendirian dalam keadaan menangis. Memangnya kemana kedua orang tuanya sampai membiarkan anaknya berada di kamar sendirian di tengah malam seperti ini.


Bunda Wina memang sering menengoki cucu kesayangannya itu, jika pintu kamar terkunci Bunda Wina akan mengurungkan niatnya dan kembali ke kamarnya. Tetapi jika tidak Bunda Wina akan melihat dari depan pintu. Tidak jarang Bunda Wina sering melihat Brayen dan Zela yang tidur dalam keadaan berpelukan ataupun saling membelakangi.


" Bunda." Jawab Zela yang begitu malu ke gep oleh Ibu Martuanya.


Rasanya seperti ketahuan jika dirinya sedang menjadi maling di rumah ini.


" Oh shit, panjang lagi ini pasti ceramahnya." Umpat Brayen sedikit kesal.


Bukan merasa bersalah Brayen malah justru kesal karena terganggu oleh Bundanya, padahal Zela sendiri yang datang ke ruang kerjanya dan minta untuk dinananina. Pasti bakal beda sekali rasanya ketika istri yang meminta.


Bayangkan saja sejak kehadiran Arshaka, Brayen jadi sering mendapat omelan dari Bundanya, pokoknya Bunda Wina sangat posesif dengan cucunya, padahal itu anak Brayen sendiri.


" Sayang Arsha minta asi, dia haus." Ucap Bunda Wina sembari menyerhakan Arsha kepada Zela.


Bunda Wina menatap Brayen serius dengan kedua tangannya bersikedap di dadanya.


Hufh....


Brayen menghela nafasnya, dia sudah siap jika akan mendapat ocehan dari Bunda Wina. Meski lagi-lagi bukan salah Brayen sepenuhnya, karena tadi yang nyamperin memanglah Zela sendiri. Brayen hanya bertugas mengajak karena malam-malam begini jika suami istri belum tidur memangnya akan melakulan apa selain ena-enaan.


" Bunda jangan keras-keras suaranya ini sudah laurt malam." Ucap Brayen sebelum Bunda Wina memarahinya.


Anak ini, semakin bandel saja, sudah menjadi Ayah bukan malah semakin dewasa malah makin menjadi saja, jelas karena Brayen sedang merasa cemburu dengan bayi tampan itu, jadi sikap menyebalkannya kambuh lagi.


" Kamu ini semakin hari bukannya menjadi pribadi lebih baik malah semakin menjadi." Kesal Bunda Wina menatap Brayen kesal.


" Menjadi apa Bun?." Tanya Brayen membuat Bunda Wina rasanya ingin menjitak kepala anak tampannya saja.


Brayen memang tampan, bahkan sangat tampan, tapi kenapa rasanya sekarag otaknya hilang se-ons.

__ADS_1


" Menjadi lebih menyebalkan." Jelas Bunda Wina ketus.


" Kamu harusnya tau waktu lah Ray, Zela itu capek harus mengurus Arsha, Sekolahnya, belum lagi mengurus kamu yang semakin hari semakin menyebalkan." Jelas Bunda Wina membuat Brayen tersenyum.


Rupanya Bundanya ini tidak tau jika Zela yang menghampiri Brayen, sudahlah biarkan saja jika Brayen berkata yang sebenarnya Bundanya tidak akan percaya, dan tetap akan menyalahkan dirinya, lagian Brayen juga tidak mau sampai membuat Zela malu karena itu.


Brayen berdiri dari duduknya, menghampiri Bundanya yang masih berdiri di depannya dengan bersikedap.


Brayen memeluk Bunda Wina dengan lembut, membuat Bunda Wina terkejut dengan sikap anaknya ini, lagi di marahi bukannya mendengarkan dan merenungkan kesalahannya malah bertindak seperti ini, benar-benar sudah tidak waras Brayen ini.


Astaga.... Bunda Wina tidak mau anak tampannya bersikap menyebalkan seperti dulu lagi.


" Bunda... Apa yang aku lakuin sama persis seperti Ayah dulu kan?." Tanya Brayen setelah melepaskan pelukannya, lalu mengecup kening Bundanya dengan lembut.


" Ray sayang Bunda, Ray mau Zela begitu mencintai Ray sama seperti Bunda mencintai Ayah." Sambung Brayen lagi.


Kali ini Bunda Wina tidak menjawab, dia masih menyerna kata-kata Brayen baru saja.


Sedangkan Brayen berjalan pergi dari ruangannya sembari tersenyum melihat wajah Bundanya yang masih terkejut dengan ucapannya.


" Good." Ucap seseorang sembari menepuk pundak Brayen ketika melewatinya.


Mendengar ada suara yang sangat di kenalinya membuat Bunda Wina menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya Bunda Wina melihat Pak Riko yang sedang tersenyum tampan ke arahnya, sudah jelas ini semua akal-akalan dua lelaki tampan yang menyebalkan ini.


Pak Riko menghampiri istrinya yang sedang menatap tajam ke arahnya.


" Lagi marah semakin cantik." Bisik Pak Riko mengeluarkan jurus rayuannya.


" Tidak usah merayu, tidur di kamar tamu sekarang." Jawab Bunda Wina sembari pergi.


Menghadapi dua lelaki tampan yang berkelakuan sama hanya akan membuatnya naik darah saja.


Sedangkan Pak Riko menatap kepergian istrinya, dia tersenyum sembari menggeleng, meskipun sudah menyuruh Pak Riko tidur di kamar tamu. Tapi nyatanya Bunda Wina tidak pernah mengunci pintu kamar. Dia akan membiarkan Pak Riko tidur dengan dirinya.


Apa yang di ucapkannya tidak akan pernah benar adanya, benar-benar istri yang sangat ajaib, pikir Pak Riko.

__ADS_1


__ADS_2