Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Masih mengagumi


__ADS_3

Dengan perasaan kesal Vani terus memakinya, tapi cowok didepan mereka terus terdiam tanpa memperdulikan ocehan Vani.


Bahkan ketika Zela pamit untuk menuju toilet siswi, pandangan matanya tak lepas dari Zela, hal itiu disadari oleh Seli yang juga menatap tajam cowok yang sedari tadi kena omelan Vani.


Seli merasa aneh dengan cowok di depannya, kenapa sedari tadi hanya menatap Zela..??? Bukankah mereka tidak saling kenal satu sama lain pikir Seli.


Ting...


Seli baru menyadari, kalau cowok di depan mereka itu adalah cowok yang pernah membantu Buk kantin untuk membawakan pesanan mereka.


Ya... Dia adalah Sandro si cowok misterius yang belakangan ini sering muncul di hadapan mereka.


Sebenarnya sudah dari dulu Sandro mengamati mereka, lebih tepatnya Zela, tapi mereka tidak tau sama sekali.


Saat Seli akan bertanya kepada Sandro, tiba tiba Sandro langsung pergi begitu saja, Seli mengurungkan niatnya.


Sembari berjalan, dia terus menatap punggung Sandro yang mulai tak terlihat dan toilet yang Zela masukin secara bergantian.


Dengan perasaan aneh tentunya, dan juga sedikit penasaran.


" Sel... Seli.. Woy... Dari tadi di ajakin ngomong malah bengong.. Kenapa sih loe..??? Tanya Vani membuyarkan lamunan Seli.


" Eh.. Apaan sih loe..?? Gue dengerin ya.." Jawab Seli mengelak.


" Ngomong apa coba gue...??? Tantang Vani kepada Seli.


" Ya.. Elah Van.. Kayak anak kecil aja deh loe.." Lagi lagi Seli mengelak, karena sebenarnya dia juga tidak begitu memperhatikan celotehan sahabat di sampingnya ini.


" Makanya.. Dengerin kalau gue lagi ngomong... Bayangin kak Dimas mulu sih loe.." Kali ini Vani yang meledek.


" Ish... Ngaco loe... Gue bayangin kak Dimasnya di kamar aja ya.." Jelas Seli terjeda lalu berbisik ketelinga Vani.


Sontak saja Vani melotot karena penuturan Seli.


" Seriusan loe..?? Tanya Vani tak percaya, sedangkan Seli hanya mengangguk sambil cekikikan melihat muka terkejut Vani.


Seli menggelengkan kepalanya dengan tingkah Vani yang gampang sekali di bohongi.


Tapi memang Vani ini sangat menggemaskan.


Zela sudah selesai dengan ritualnya menyamarkan bekas noda yang ada pada lehernya, ya bekas kiss mark yang Brayen lakukan itu sangatlah banyak.


Zela hanya menutupi bagian terlihat, sedangkan di bagian dada, Dia membiarkannya toh.. Nggak akan mungkin ada yang melihat.


" Udah Zel..??? Tanya Seli dan Zela mengangguk.


" Ayo...." Ajak Zela kepada mereka berdua.


Mereka bertiga kembali menuju kelas.


" Sumpah ya...Gue kesel banget ma tuh cowok.. Udah nabrak main pergi aja.. Nggak minta maaf dulu lagi, Hiihhh... Awas aja ya..." Celoteh Vani dengan nada kesal kepada cowok yang menabraknya tadi.


" Eh.. Iya.. Loe nggak papa tapi kan..?? Tanya Zela tiba tiba yang teringat dengan kejadian itu.


" Gue sih nggak papa.. Tapi harga diri gue yang menurun.." Jawab Vani ngaco membuat Zela dan Seli tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


" Harga beras kali Van.. Yang turun.." Sambung Seli meledek Vani.


" Enak aja gue disamain sama butiran beras..." Jawab Vani lagi lagi membuat Zela dan Seli tertawa.


" Butiran debu..." Jawab kompak Zela dan Seli.


" Mau butiran beras,, butiran debu atau buterin abu.. Suka suka gue dong..." Jawab Vani ngeyel membuat Zela dan Seli semakin gemas.


" Duh... Gemes gue.... Ayo akh.." Ucap Zela sambil mencubit pipi Vani gemas, lalu menarik kedua sahabatnya untuk menuju kelasnya.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Lain halnya dengan cowok yang sedari tadi tidak begitu berkosentrasi dengan mata pelajaran yang sedang di jelaskan oleh guru didepannya.


Bayangan wajah cantik Zela juga bekas merah yang ada pada leher Zela terus berkelebatan di dalam pikirnya.


Apa benar yang kemarin dia dengar jika Zela hamil..??? Apa benar seorang Azela serendah itu..??? Atau mungkin karena kuasa Brayen Zafano mampu membuat gadis cantik seperti Azela jatuh ditangannya..?? Akh.. Dengan banyak sekali pertanyaan dibenaknya membuatnya semakin tak karuan.


Ditambah Sandro sudah melihat video yang ada pada ponsel Misha ketika Zela dan Brayen memasuki hotel.. Sungguh pikiran liarnya tentang Zela semakin menjadi, tapi juga ada rasa sesak yang tertahan di dadanya ketika melihat video itu.


Pikirannya terus melayang dengan seorang Azela.


Kembali dia teringat dengan bekas merah yang ada di leher Zela, begitu banyak dan sialnya membuatnya ingin melakukan hal yang sama pada seorang Azela, gadis cantik yang sangat dia inginkan.


Bahkan keringat dingin mulai bercucuran pada dahinya, juga tangannya yang sedari tadi mengepal kuat di atas meja.


sial...sial...sial....i can not stand... batin Sandro kesal pada diri sendiri.


Sandro mengangkat tangannya, lalu segera berpamitan untuk pergi ke kamar mandi.


Dengan segera Sandro pergi ke kamar mandi, tentunya dengan perasaan yang masih tak membaik, bahkan ada sesuatu yang sangat ingin dia tuntaskan, bersama Azela tentunya.


Dia sering berfantasi liar hanya dengan melihat foto Zela, tapi karena kejadian beberapa hari yang lalu, membuat Sandro malah semakin menggila karena tidak bisa lagi memandang koleksi foto fotonya.

__ADS_1


Dengan ragu Sandro mengirim pesan kepada seseorang yang sekarang sangat dia takuti.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Brayen sedang duduk bersama Dimas dan juga Xelo, sedari tadi banyak sekali pasang mata yang terus memandangnya kagum.


Dan mereka adalah teman teman kampusnya yang berjenis kelamin cewek pastinya, sungguh karena melihat Brayen tadi malam di pesta Misha yang begitu terlihat tampan membuat mereka semakin gila mengidolakan cowok yang sudah menjadi suami orang itu.


Tentu saja karena mereka hanya tau jika Brayen dan gadis SMA yang bernama Zela itu hanya berpacaran, bukan sebagai suami istri, jika mereka tau yang sebenarnya, maka sudah dipastikan seluruh kampus dan sekolah akan patah hati berjamaah.


Mari kita lihat sampai kapan Brayen dan Zela bisa menutupi hubungan mereka sebagai suami istri..?? oke..


" Loe jadi trending lagi..." Ucap Dimas lalu meneguk minumannya.


" Idola Kampus..." Seru Xelo menyambungkan.


Brayen hanya nyengir tanpa memperdulikannya, dan hal itu sudah biasa untuk Dimas dan Xelo yang mengerti karakter cowok tampan di depannya ini.


Dingin, datar dan sedikit angkuh mungkin, tapi ketampanannya mampu menutupi sikapnya itu, jangan lupakan jika Brayen Zafano juga sangat tajir.


Ting


pesan masuk dari ponsel Brayen, membuat Brayen mau tak mau merogoh saku untuk mengambilnya.


Brayen tersenyum miring melihat siapa yang mengirim pesan.


Dimas yang melihat expresi Brayen sedikit penasaran.


" Siapa ray..?? Tanya Dimas yang memang sudah sangat ingin tau.


" Anak curut..." Jawab Brayen enteng membuat Dimas hanya menganggukan kepalanya.


Brayen kemudian membuka pesan yang Sandro kirimkan, terlihat muka terkejut Brayen ketika membukanya, tapi kemudian muka itu berubah datar lagi.


Baryen tersenyum menyeringai, dia tau jika anak curut ini mengajak bermain main dengannya, dan Brayen akan beri dia pelajaran.


" Heh... Looking dead..." Gumam Brayen kembali menaruh ponselnya.


Xelo yang mendengar gumaman Brayen menoleh ke arahnya dengan penasaran.


Xelo penasaran siapa yang di maksud oleh Brayen, sedangkan Dimas sudah tersenyum devil.


Dia cukup tau apa yang dilakukan oleh anak curut itu.


" Bawa dia nanti ke kantor.." Ucap Brayen menyuruh Dimas.


" Loe yakin ray..??? Tanya Dimas yang dianggukin oleh Brayen.


" Kalian ngomongin siapa man..?? Tanya Xelo yang sudah penasaran.


" Hanya curut kecil yang ingin bermain main.." Jawab Dimas membuat Xelo semakin penasaran.


" Curut...?? Tanya Xelo lagi tapi tak ditanggapi oleh Dimas maupun Brayen.


" Ayolah.. Kasih tau gue.." Sambung Xelo lagi kepada Mereka.


" Nanti juga loe akan tau.." Jawab Brayen membuat Xelo semakin penasaran, tapi dia tidak bertanya lagi.


Zela, Seli dan juga Vani menuju ke kantin karena bell istirahat sudah berbunyi, saat mereka akan memasuki kantin, tiba tiba Vera and the geng juga datang, tapi karena Vera masih berada di masa hukuman Vera hanya melirik Zela tajam.


Vera masih memendam rasa dendam kepada Zela, perminta maafan tempo hari hanyalah semata mata karena pihak sekolah dan juga Brayen yang meminta.


Jauh dilubuk hati Vera sama sekali tidak merasa bersalah, juga masih ingin membuat Zela celaka tapi jika masa hukumannya sudah selesai juga dengan cara yang halus tentunya.


Sedangkan Zela, Seli dan juga Vani tak mempermasalahkan jika memang Vera masih mencari gara gara dengan mereka, karena mereka punya senjata yang akan membuat Vera kalah talak juga hancur tentunya.


Mereka hanya menunggu jika Vera berulah lagi dan itu tidak akan lagi mereka rahasiakan, tapi jika Vera sudah benar benar berubah tak lagi mencari masalah, mereka juga tidak akan tega untuk membuat Vera hancur.


" Tumben bakwan bisa anteng nggak berulah.." Cletuk Vani di saat mereka bertiga sudah duduk dikursi kantin.


" Nggak beranilah dia.. Emang mau masa SMAnya sampai disini aja..?? Jawab Seli yang juga balik bertanya.


" Biarinlah dia.. Selagi nggak cari ribut ma kita.." Jawab Zela membuat Vani dan Seli hanya mengangguk pelan.


" Eh.. Gue pesenin... Seperti biasa kan..?? Tanya Vani kepada Zela dan Seli.


" Yup..." Jawab Zela dan Seli bersamaan kemudian mereka tertawa.


Vani segera pergi menuju Buk kantin, untuk memesan makanan mereka, tak lama Bintang datang di kantin, dia bersama teman teman kelas 3 dan duduk di meja sebelah Zela CS.


Bintang terus menatap Zela, tatapan yang susah di artikan, sedangkan Zela fokus dengan ponselnya sambil senyum senyum sendiri.


Seli yang menangkap tatapan Bintang kepada Zela segera menyiku lengan Zela pelan, sampai membuat Zela sedikit kaget.


" Hmm..??? Tanya Zela kepada Seli.


Seli menaik turunkan alisnya mengrahkan ke Bintang, Zela segera menoleh ke arah yang Seli beritahukan.


Zela menatap ke arah Bintang membuat Bintang langsung menglihkan pandangannya ke arah lain.

__ADS_1


" Tadi kak Bintang liatin loe terus.." Bisik Seli kepada Zela.


" Tapi sayang gue nggak liatin dia terus.." Bisik Zela kepada Seli membuat mereka berdua tertawa bersamaan.


Vani datang dengan nampan yang penuh dengan pesanan mereka.


" Pada kenapa sih..?? Tanya Vani melihat kedua sahabatnya yang sedang cekikikan.


" Ada idola loe.." Jawab Seli pelan.


" Hah... Kak Xelo..?? Tanya Vani spontan yang langsung menutup mulutnya.


" What..??? Ha..ha..ha... Ternyata..." Ledek Seli yang terkejut dengan pernyataan Vani.


" Cie..Vani cie...." Sambung Zela meledek.


" Kalian ikh.. Gue salah ngomong barusan.." Kesal Vani yang juga malu.


" Nggak papa lagi Van.. Kak Xelo kan cakep.." Ledek Seli menaik turunkan alisnya.


Vani yang melihat tingkah Seli semakin kesal dan malu tentunya.


" Nanti gue bilangin ke Kak Xelo.. Tenang aja.. Dia juga kayaknya suka ma loe.." Bisik Zela membuat Vani semakin malu.


" Kalian... Stop...!!!!! " Teriak Vani cukup keras membuat semua yang berada dikantin menoleh ke arah mereka sekilas.


Sedangkan sedari tadi Bintang terus mencuri pandang kepada Zela, tapi tentu saja Zela tak tau akan hal itu.


Berbeda dengan cowok yang sedari tadi berada di ujung kantin, dengan diamnya dia terus menatap Zela.


Sesekali dia juga menangkap basah tatapan Bintang kepada Zela, tentu saja dia tau jika Bintang juga menyukai Zela.


Dia mengepalkan tangannya, tak rela jika ada seseorang yang terus menikmati wajah ayu Zela.


" I am not willing.." Gumam Sandro yang terus menatap Bintang dengan tatapan tak suka.


Tak lama bel masuk berbunyi, siswa siswi yang masih berada di kantin segera berhambur menuju kelas masing masing.


Begitu juga dengan Zela dan kedua sahabatnya yang keluar untuk menuju kelasnya.


Saat Zela ingin keluar kantin, tiba tiba pergelangan tangannya ditarik oleh seseorang dari arah belakang, Zela menoleh kebelakang dengan terkejut.


Begitu juga dengan Seli dan Vani yang sama terkejutnya dengan Zela.


" Kak Bintang.." Ucap Zela melihat siapa yang menarik tangannya.


" Gue boleh ngomong berdua aja nggak ma loe.." Jawab Bintang dengan senyum tampannya.


Vani yang melihat senyuman maut Bintang menganggulan kepalanya, terkesima dengan wajah rupawan cowok tampan didepan mereka saat ini.


" Ish..bukan loe.." Bisik Seli membuat Vani memanyunkan bibirnya.


Zela melihat kedua sahabatnya sekilas.


" Em... Sorry ya kak.. Gue harus masuk kelas keburu Bu Eni datang.." Tolak Zela sopan dengan senyum manisnya.


Bintang menganggukan kepalanya tanpa menjawab, dia tersenyum kecut dengan penolakan Zela yang memang sangat sopan.


" Oke.. Duluan ya kak.." Pamit Zela yang langsung menarik kedua sahabatnya.


Bintang melihat punggung Zela yang sudah semakin jauh.


" Hufh.. Ternyata pesona gue nggak mampu menahlukan loe.. Dan gue suka itu.." Gumam Bintang dan berlalu menuju kelasnya.


Sedangkan Sandro yang sedari tadi melihat kejadian diantara mereka tersenyum miring, rupanya Zela tak menyukai cowok tampan sang pemain film.


Sampai dikelas ternyata Bu Eni belum datang, Zela, Seli dan Vani bisa bernafas lega.


" Kenapa nggak mau..?? Tanya Vani kepada Zela.


" Kenapa gue harus mau..?? Tanya Zela berbalik kepada Vani membuat Vani memanyunkan bibirnya.


" Ish... Ngeselin..." Jawab Vani yang dapat cengiran dari Zela juga Seli.


Seli masih memikirkan tentang Sandro, cowok yang menurutnya cukup misterius, bahkan tatapan mata Sandro kepada Zela seperti tak biasa.


Tapi Seli masih diam, belum berani mengutarakannya kepada Zela.


Sedangkan Zela saat ini sedang senyum senyum dengan layar ponselnya, dia tau jika perlakuan Brayen semalam di pesta Misha cukup membuat teman teman kampus Brayen merasa iri.


Terlebih Misha dia sangat malu, dan Zela suka itu, Zela tak mau lagi jika ada seseorang yang berani mendekati Brayen suaminya, jika hanya sebatas idola Zela tak mempermasalahkan, tapi jika seperti Misha yang ingin memiliki Brayen, Zela tak akan rela dan dia tak akan diam lagi seperti biasanya.


Biar saja semua orang tau tentang pernikahannya, dia tak lagi peduli, yang terpenting baginya saat ini adalah Brayen suaminya dan Zela tak mau berbagi ntah dengan siapapun itu.


Jangan Lupa Like, Comment dan Vote ya kak..


Vote..


Vote..

__ADS_1


Vote..


Big Thanks 🙏🙏😘😘


__ADS_2