
Pukul 9 Malam, Zela, Seli dan Vani masih duduk didepan tv sambil asik mengobrol.
Sungguh karena kekesalan Zela kepada Brayen, membuat Zela malam ini tak ingin tidur dengan suaminya.
Zela meminta Seli dan Vani menginap dirumahnya, dan itu sudah disetujui oleh Brayen, meskipun dari lubuk hati Brayen yang paling dalam terus mengumpat kesal, karena tidak bisa menghukum Zela malam ini.
Brayen , Dimas dan Xelo duduk santai di ruang tengah, mereka hanya bisa menatap gadis gadisnya dari ruang tamu, tentu saja karena ketiga gadis cantik itu menolak untuk ditemani di ruang tv.
" Akh... Shit.. Bisa gila Gue kalau gini terus.." Kesal Brayen melihat Zela yang malah asik dengan kedua sahabatnya tanpa memperduliknnya sama sekali.
" Sabar Ray.. Bumil memang begitu.." Jawab Xelo mencoba menenangkan Brayen.
" Libur semalam aja galau amat Lo..?? " Sambung Dimas meledek Brayen.
Brayen hanya menatap Dimas tanpa menjawab, setelah itu dia langsung memukul lengan Dimas cukup keras.
Membuat Dimas sedikit meringis kesakitan.
" Akh.... Sialan Loe.. Kesal sam Zela, Gue yang kena.." Ucap Dimas sambil mengaduh sakit.
Brayen memang sedikit kesal dengan Zela yang begitu membuatnya tersiksa sekarang, sedari tadi siang ketika melihat Zela memakai pakaian renang membuat Brayen begitu menginginkan Zela malam ini.
Tapi sial, Zela malah dengan sengaja begitu menambah siksaan batinnya.
Awas aja besok.. kamu pasti bertekuk di bawahku yank... batin Brayen yang terus memandangi Zela dari kejauhan.
" Btw tidur yuk.. Lumayan ngantuk nih Gue.. Hoaammm...." Ucap Vani yang sudah merasa ngantuk.
" Astaga Van.. Jangan lebar lebar, nggak malu Loe dari tadi diliatin Kak Xelo terus tuh.." Jelas Seli kepada Vani.
Membuat Vani seketika sadar jika memang Xelo masih berada di rumah Brayen, dan betapa malunya Vani ketika melirik ke arah Xelo, ternyata benar apa yang dikatakan oleh Seli barusan, bahwa Xelo memang masih terus menatapnya.
" Astaga.. Mati Gue.." Gumam Vani yang masih terdengar oleh Zela dan Seli.
" Kenapa..?? " Tanya Zela bingung.
" Gue barusan nguap lebar banget Zel.. Padahal dari tadi Kak Xelo liatin terus.." Jawab Vani seketika membuat Zela menoleh ke arah Xelo.
Memang benar apa yang Vani katakan jika Xelo memang sedang memandangi Vani.
Dan Zela tau jika diantara mereka memang memiliki rasa, hanya saja masih sama sama gengsi untuk memulai lebih dekat lagi.
" Cieee... Vani salting di liatin Kak Xelo..." Ledek Zela sambil menoel janggut Vani.
" Zela ikh.. Apaan sih Lo...?? " Jawab Vani kesal tapi juga malu.
" Udah tinggal bilang iya gitu aja kok repot..." Sambung Seli membuat Vani menoleh ke arahnya kesal.
" Iya Gue akui.. Kalau Gue tau.. Lo sama Kak Dimas ada sesuatu.." Jawab Vani yang malah dengan sengaja mengubah topik pembicaraan.
" Ikhh... Curang Lo..." Sambung Seli yang membuat Vani memeletkan lidahnya.
Tiba tiba terdengar suara petir yang cukup keras, bahkan sepertinya malam ini juga akan turun hujan.
Dan benar saja, tak lama setelah beberapa suara petir terdengar, hujanpun mulai turun, membuat Zela, Seli dan Vani akhirnya memutuskan untuk pindah ke kamar tamu yang berada di bawah.
Malam ini mereka bertiga akan tidur bersama, setelah sekian lama sejak Zela menikah memang ini baru yang pertama.
" Pindah kamar aja yuk.. Takut Gue.." Ajak Vani yang di setujui oleh Zela dan juga Seli.
Mereka bertiga memasuki tamu yang tak jauh dari ruang tv sebenarnya, membuat ketiga cowok yang terus mengamati mereka sedari tadi menjadi kesal.
Tentu saja Brayen, Dimas dan Xelo kesal, bagaimana tidak kesal jika ketiga gadia cantik itu masih mengibarkan bendera peperangan.
Padahal sungguh, di saat hujan seperti ini Brayen sangatlah ingin memeluk Zela untuk menghangatkan tubuhnya.
Tapi yang Ia dapat sedari tadi hanya tatapan permusuhan dari Zela.
Oke sekali lagi Brayen memang harus benar benar sabar sekarang.
Tiba tiba muncul ide gila dari Xelo, ya tentu Xelo juga sebenarnya ingin dekat dengan Vani, meskipun jika mereka dekat selalu saja berperang mulut.
Tapi menurut Xelo itu lebih baik, dari pada sekarang yang hanya saling diam dan menatap dari kejauhan.
Itu sebenarnya bukan hanya Brayen saja yang merasa kesal dan tersiksa, tapi baik Dimas dan Xelo juga sama halnya dengan Brayen.
Meskipun tak separah Brayen yang sudah menikah tentu saja, disaat sepertu malam ini Brayen sudah pasti menginginkan Zela berada di sisinya, di dekapannya, untuk menghangatkan tubuhnya.
__ADS_1
" Man.. Gimana kalau kita matiin aja tuh listriknya.." Ucap Xelo tiba tiba kepada Brayen dan Dimas.
Brayen dan Dimas saling pandang, lalu mereka mengangguk bersamaan dan bahkan tersenyum devil, senyuman yang begitu mengerikan jika saja ketiga gadis cantik itu melihatnya.
" Tunggu... Tapi kalian janji.. Jangan pernah bebruat aneh aneh.." Ucap Brayen mengingatkan Dimas dan Xelo.
" Kayak nggak tau kita aja Loe Ray.." Jawab Dimas.
" Kita cuma pengen deket mereka aja.. Nggak lebih... Ya itung itung mereka bayar atas apa yang sudah mereka lakukan ke kita.." Jelas Xelo kepada Brayen.
" No.. Kalau gitu mending nggak usah.. Gue takut kalian kelewat batas.." Jelas Brayen lagi.
" Astaga Ray... Lo nggak percaya sama kita..?? " Tanya Dimas akhirnya yang membut Brayen terdiam.
" Ya sudah sana... Tapi ingat jangan sampai melukai mereka oke..?? " Jelas Brayen lagi membuat keduanya mengangguk, dan Xelo tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.
Dengan semangat 45 akhirnya Xelo bergegas keluar, mencari kilometer listrik untuk mematikannya.
" Nah ini dia..." Ucap Xelo tersenyum menang.
" Kalian Ladis tunggu pembalasan kita.." Ucapnya lagi dengan senyum smirknya.
Setelah ditekan oleh Xelo, tiba tiba listrik diruamah keluarga Zafano menjadi padam.
Tapi hanya dirumah iti saja, sedangkan Dimas tadi sudah menyuruh para pelayan untuk menurut, juga kedua satpam yang berada di depan rumah itu.
Kedua satpam iti hanya menggelengkan kepalanya dengan tingkah anak bos besarnya itu, untuk mengerjai istrinya saja sampai harus mematikan lampu segala.
Tapi kemudian mereka tertawa, mengingat malam ini yang memang sedang hujan lebat, mungkin untuk menambah suasana keromantisan, pikir mereka.
Sedangkan Zela, Seli dan Vani terbangun dari tidurnya, mereka tidak bisa tidur dalam keadaan gelap, tentu saja karena lampu kamar yang tiba tiba mati begitu saja.
" Padahal udah nggak ada petir ya.. Kok mati sih lampunya.." Keluh Vani.
" Tau nih... Nyalain lampu di ponsel aja.. Males mau ambil lilin, Gue udah ngantuk banget.." Jawab Zela seperti tak hilang akal.
Mereka menyalakn senter yang berada di ponsel mereka masing masing, dan itu cukup membuat kamar menjadi terang, membuat mereka kembali bisa melanjutkan tidurnya.
Mungkin karena lelah, tadi siang berenang dan juga memasak sambil berjoget, membuat mereka tidak begitu mempermasalahkan, karena kamar juga yang sudah cukup terang dari lampu ponsel masing masing.
Sedangkan Brayen, Dimas dan juga Xelo sedari tadi sudah tersenyum smirk, mereka masih duduk di ruang tengah tadi, sambil memainkan ponselnya.
Sekitar tiga menit, belum ada tanda tanda para gadis itu keluar dari kamar, membuat mereka sedikit ragu dengan rencana konyol mereka.
" Mana sih..?? Kok belum pada keluar ya..?? " Ucap Xelo sambil terus melongok ke arah pintu kamar dimana ketiga gadis cantik itu sedang tertidur.
" Sabar Xel.. Palingan juga bentar lagi kesini.. Mereka lagi ngusir rasa gengsinya.." Jawab Dimas songong, tapi membuat Xelo mengangguk percaya.
Sedangkan Brayen masih terdiam, rencana ini memang begitu konyol, dia sendiri tidak yakin jika akan berhasil.
" Biasa cewek kan suka lama kalau ngapa ngapain.. Termasuk diskusi untuk kesini seperti mereka sekarang...Ha..ha..ha.." Sambung Dimas lagi dengan songongnya.
" Benar Dim.. Kita tunggu aja.. Sampai saatnya tiba mereka akan meminta kita untuk menemani.." Jawab Xelo yang sama halnya dengan Dimas.
Sedangkan Brayen hanya menatap mereka, lalu terdiam, dia tidak habis pikir sebenarnya dengan kedua sahabatnya, jatuh cinta memang bisa merubah sikap seseorang, seperti kedua sahabatnya sekarang.
Baik Dimas maupun Xelo memang mempunyai selera humor, tapi mereka juga tak sekonyol sekarang ini, sungguh cinta memang merubah segalanya, pikir Brayen.
5 Menit, 10 menit, 15 menit dan akhirnya sampai 20 menit belum ada tanda tanda pintu terbuka, apa lagi ketiga gadis cantik itu menghampiri mereka, membuat mereka sedikit kesal dibuatnya.
Sudah merasakan gerah demi ini semua nyatanya tidak belum ada hasil, fix Zela, Seli dan juga Vani sepertinya tidak menyadari jika sedang terjadi kegelapan di kamar itu.
" Akh.... Kenapa belum juga pada keluar sih..?? " Kesal Xelo sekarang.
" Gue rasa mereka nggak tau kalau mati lampu.." Jawab Dimas membuat Brayen menoleh ke arahnya dengan tersenyum.
" Mati lampu kalian yang buat.. So nikmatilah kegelapan ini.. Udah lah.. Gue mau tidur ngantuk.." Jawab Brayen akhirnya meninggalkan Xelo dan Dimas yang sedang kesal.
Brayen menuju ke atas ke kamarnya, setelah sampai dikamarnya, dia menghembuskan nafas panjangnya.
Huffhh....
" Gue nggak akan kasih ampun ke Lo yank.." Ucap Brayen yang tertuju kepada Zela.
Malam ini Brayen harus tidur sendiri, dengan hujan dan lampu yang gelap karena ide gila Xelo, dan itu tak menjadi masalah untuk Brayen, niatnya cuma satu benar benar akan menghukum istri cantiknya nanti.
Sedangkan Xelo dan Dimas masih berada di ruang tengah sebelum akhirnya memutuskan untuk ke kamar Dimas, bahkan mereka sama sama enggan untuk mengembalikan sentimeter listriknya agar menyala lagi.
__ADS_1
Biarkan saja semua orang dirumah ini tidur dengan kegelapan akibat ulah mereka, tentu saja karena mereka kesal, apa yang mereka rencanakan tidak sesuai dengan ekspektasi mereka.
Beruntung Bunda Wina dan Pak Riko tak ada dirumah, karena harus ke luar kota setelah acara makan malam, meskipun Pak Riko baru saja pulang dari kantornya tapi seperti tak ada rasa lelah.
Pak Riko tau jika Brayen lebih suka mengurus bisnis di bidang perhotelan, dan Pak Riko tidak akan memaksakan kehendaknya, sebeluk nanti Brayen benar benar siap menggantikan dirinya.
Akhirnya malam ini semua terlelap tidur dengan lampu yang padam akibat ulah ketiga cowok tampab itu, lebih tepatnya Xelo dan juga Dimas.
Sampai terasa pagi sudah menjelang, ketiga gadis cantik itu terbangun dari tidurnya, sebenarnya jam baru menunjukan pukul 5 pagi, tapi ada banyak hal yang harus mereka lakukan dipagi ini.
Termasuk mengambil buku pelajaran dan juga seragam sekolah Seli dan juga Vani.
" Hoammm...." Suara Vani yang menguap.
" Astaga Van.. Kebiasaan deh Lo nguap lebar gitu nggak ditutup lagi.." Ledek Seli membuat Vani tersenyum kikuk.
" Gimana tidur kalian..?? " Tanya Zela kepada kedua sahabatnya.
" Aman kok Zel.." Jawab Seli yang diikuti Vani dengan anggukan kepala.
" Kita langsung mandi aja gimana..?? " Tanya Vani kepada Zela dan Seli.
" Oke.. Kalian terserah mau mandi dimana.. Di kamar ini apa kamar sebelah.. Kamar mandi deket ruang tengah juga bisa, Gue biar mandi di atas.." Jelas Zela kepada kedua sahabatnya.
" Beres lah Zel.." Jawab mereka yang akhirnya siap siap untuk mandi.
Sedangkan Zela keluar dari kamar untuk ke atas menuju kamarnya, dimana Brayen sedang tertidur sendiri di sana.
Dengan sangat pelan, Zela membuka pintu, bahkan saking pelannya sampai seperti tak ada suara, dalam hal ini Zela memang sangat hebat sekarang ini.
Zela melihat Brayen yang masih tertidur dengan nyenyak di bawah selimut, dengan pelan dia masuk dan menutup pintu kembali.
Bahkan sangat hati hati sekali takut jika nanti sampai terdengar oleh Brayen, Zela berjalan sepelan mungkin untuk menuju kamar mandi.
Sampai akhirnya Zela merasa lega karena sudah berada di depan pintu kamar mandi dengan selamat tanpa menganggu Brayen sama sekali.
Zela menoleh ke arah kasur untuk memastika lagi, betapa terkejutnya Zela, jika tadi Zela melewati kasurnya masih berbaring sosok lelaki tampan yang sekarang menjadi suaminya itu.
Tapi sekarang hilang begitu saja, sampai akhirnya Zela dikejutkan lagi oleh keberadaan Brayen yang ternyata sudah berada di belakangnya.
" Ehemm...," Deheman Brayen seketika membuat Zela tersentak.
Astaga.. Suaminya ini seperti hantu saja, tadi masih tertidur dengan nyenyaknya, dan sekarang sudah berdiri tepat di belakangnya.
" Kak Ray..?? " Ucap Zela masih dengan keterkejutannya.
" Kenapa sayang...?? " Jawab Brayen yang membuat Zela sedikit berfikir jika ada sesuatu dari tatapan Brayen yang sangat terlihat jelas.
" Kak... Aku mau mandi dulu ya..." Jawab Zela dengan sedikit gugup.
Tentu saja Zela gugup jik sekarang Brayen terus saja menatapnya dengan tatapan elangnya, yang mampu membuat jantung Zela berdegup lebih kencang.
Brayen terus melangkah mendekat ke arah Zela, sedangkan sedari tadi Zepa terus memundurkan langkahnya, masih tatapan mata mereka sama sama bertemu.
Jujur saja meskipun suaminya ini sangatlah tampan dan menajdi Idola tapi Zela tidaklah senang jika Brayen benar benar memintnya sekarang.
Menurut Zela ini bukan waktu yang tepat, dia akan terlambat ke sekolah, juga merasa tidak akan enak dengan kedua sahabatnya yang pasti menunggu di bawah sana.
" Kak..." Ucap Zela pelan, akh.. Sungguh untuk bersuara saja rasanya sudah mulai berat jika disituasi seperti sekarang ini.
Brayen mengangguk, tersenyum penuh arti ke arah Zela, tanpa Zela sadari, dia menabrak tembok, ntah bagaimana bisa dia sekarang malah berada di dekat balkon kamarnya.
Bukankah tadi dia sudah berada tepat di depan pintu kamar mandi..?? Sepertinya Brayen memang sudah menghipnotisnya.
Brayen mengurung Zela dengan kedua tangannya di arahkan ke tembok, dia kembali tersenyum devil ke arah Zela.
Lalu dengan sengaja Brayen mendekatkan dirinya ke samping Zela, kini wajah Brayen tepat di ceruk leher Zela, hembusan nafasnya sangat terasa di kulit leher Zela.
Dan itu sukses membuat Zela merinding dibuatnya, Zela memejamkan matanya, dia tidak ingin tapi dia juga menikmatinya.
" Ini saatnya aku kasih hukuman untuk kamu yank.." Bisik Brayen seketika membuat Zela membuka matanya.
Zela tau apa yang di maksud oleh Brayen dengan hukuman, dan sudah dipastikan pagi ini akan menjadi pagi yang sangat panjang dan membuat Zela terlambat kesekolah.
Lalu bagiaman dengan nasib kedua sahabatnya yang berada di bawah..?? Akh.. tak usah dipikirkan.. Mereka akan baik baik saja selama ada Dimas dan juga Xelo.
Jangan Lupa buat Like, Comment dan Vote ya Kak..
__ADS_1
Please.. Vote Vote Vote.. ,😘😘