
Kini semua sudah berada di meja makan. Dengan formasi yang begitu lengkap, tentu saja karena adanya Jova dan juga Dara di sana. Setelah selesai dengan makan malamnya, semua masih berada di kursi masing-masing, bahkan makan malam tadi begitu hangat, tentu saja karena candaan Jova dan Pak Adam, meskipun Pak Adam tidak sehumoris Pak Riko begitu juga dengan Jova yang tak sehumoris Dimas, tapi candaan keduanya mampu membuat makan malam ini begitu hangat tanpa ketegangan sama sekali.
Dan ini sungguh membuat Pak Adam dan juga Mamah Hana bahagia, makan malam ini tidak sesepi biasanya.
" Mah.. Kok nggak pada kasih tau aku sih kalau Dara di sini ? " Tanya Zela kepada Mamah Hana, Pak Adam juga Zifa Kakaknya.
" Kita emang sengaja sayang biar surpri**se buat kamu, kamu tadi udah ketemu Dia kan di Sekolah? " Jawab Mamah Hana kepada Zela.
" Iya dek.. Lagian yang nyuruh itu tuh " Sambung Zifa kepada Zela menunjuk ke arah Dara.
Zela menatap ke arah Dara yang sedang melamun dengan dunianya. Ntah apa yang sedang Dara lamunin, tapi yang jelas tidak jauh-jauh dari Brayen suami Zela sendiri. Dan tentu saja tanpa sepengetahuan Zela dan yang lainnya.
" Ish.. " Jawab Zela kesal, membuat yang lain tertawa.
" Dar.. Dara...!! " Panggil Zifa dengan nada sedikit tinggi, membuat Dara akhirnya tersadar dari lamunannya.
" Hmm?? " Jawab Dara yang masih dengan bingungnya.
" Yeeee ngalamun aja Lo " Ledek Zela membuat Dara tersenyum kikuk.
Sedangkan yang lain tertawa renyah. tapi tidak dengan Zifa yang mulai mengamati gelagat Dara karena sedari tadi tidak hentinya mencuri pandang kepada Brayen, dan beruntung Zifa mengetahuinya.
Begitu juga dengan Brayen yang juga menyadari tatapan Dara untuknya, dan itu sangat membuat Brayen risih rasanya di tatap oleh wanita lain begitu lama selain istrinya Azela.
" Om tau pasti Dara lagi ngalamunin yang jauh di sebrang sana kan ? " Tebak Pak Adam yang mengira jika Dara sedang ngalamunin pacarnya.
" Bener kata Papah, biasanya yang galau-galau itu karena lagi LDRan " Sambung Jova membuat yang lain semakin tertawa.
Begitu juga dengan Dara yang juga tersenyum malu-malu, apa yang di katakan oleh Pak Adam ataupun Jova memanglah benar, Dara sedang menjalin hubungan jarak jauh atau LDR, hanya saja Dara tidak merasa kangen dengan pacarnya yang jauh di sana, melainkan dia lebih penasaran dan tertarik kepada lelaki tampan yang sedang makan malam bersamanya juga yang lain, siapa lagi kalau bukan Brayen yang Dara maksud.
" Jadi gini semua, Mamah sama Papah minta kalian untuk makan malam bersama di sini karena Kita mau ngenalin Dara sebagai sepupu Zifa dan juga Zela kepada Nak Brayen dan juga Nak Jova, dan Dara.. Kamu harus tau jika Zela sudah menikah, dan yang di sebelahnya ini adalah suami Zela, Brayen Zafano, kami pasti pernah dengar nama itu " Jelas Mamah Hana kepada Dara juga yang lainnya.
Deg....
Jantung Dara terpompa lebih cepat, tapi sepertinya dunia berhenti berputar, Dara seperti di sambar petir karena penjelasan dari Mamah Hana, Dara mencoba untuk tetap tenang. Dengan perlahan Dara menatap Zela yang sedang tersenyum manis kepadanya, begitu juga Brayen yang sekarang menatap ke arahnya, tentu saja tatapan mata Brayen tidaklah berati apa-apa, Brayen tersenyum dan mengangguk kepada Dara.
Dara mencoba tersenyum ke arah Zela dan juga Brayen. Lalu perlahan tangannya di angkat untuk memberi selamat kepada Zela dan juga Brayen.
" Selamat ya Zel.. Lo jahat " Ucap Dara seketika membuat yang lain sedikit terkejut.
Zela menyipitkan matanya ke arah Dara.
" Lo jahat.. Nikah nggak ngabarin Gue, Om sama Tante juga " Sambung Dara dengan senyum yang di paksakan tapi tentu saja terlihat biasa oleh semuanya, begitu juga dengan Zifa yang menjadi lega, karena ternyata Dara hanya sebatas mengagumi Brayen tadi sebelum tau yang sebenarnya.
" Sorry ya Dar.. Nih semua ide Mamah sama Papah " Jawab Zela jujur. Membuat Mamah Hana dan Pak Adam tertawa, begitu juga dengan Jova.
" Iya nak.. Ini semua karena ide Om dan Tante kamu, tapi kamu tenang aja adik sepupu kamu sekarang bahagia dia malah bersyukur menjadi istri Nak Brayen, bukan begitu Zel ? " Canda Pak Adam kepada Zela.
" Papah ih.. Malu aku " Jawab Zela yang malah juga bersembunyi pada badan Brayen. Membuat semua orang yang berada di sana tertawa.
jadi dia suami zela, oh God kenapa harus suami zela?? sepupu aku sendiri? Batin Dara sedikit menyesali.
Kembali Dara melirik ke arah Brayen yang tanpa di sengaja dia lihat sedang mencium puncuk kepala Zela juga mengacak rambut Zela pelan.
Setelah selesai dengan percakapan di dalam ruang makan. Para anak muda menuju ke ruang tv, sedangkan Pak Adam dan Mamah Hana menuju ke ruang kerja Pak Adam, tentu saja Mamah Hana yang akan menemani suaminya mengerjakan pekerjaan Kantornya di rumah.
Zela tiduran di paha Brayen, sedangkan Brayen mengelus pelan rambut Zela yang berada di pangkuannya.
" Berapa hari Ray di New York ? " Tanya Jova yang mengetahui jika Brayen baru saja dari negri orang.
" 1 hari doang Kak.. Kak Ray nggak betah jauh dari aku " Jawab Zela kepada Jova.
Sontak saja membuat yang lain tertawa, begitu juga dengan Brayen yang tersenyum simpul karena memang bena apa yang di katakan oleh istrinya.
" Wah.. Parah Lo Ray, di sana numpang tidur doang ? " Tanya Jova lagi kepada Brayen.
__ADS_1
" Iya Kak Jova.. Numpang tidur doang " Lagi-lagi Zela yang menjawab, membuat Brayen gemas kepada istri cantiknya itu.
" Nggak lah Kak, Gue ada urusan tapi ni anak orang gangguin Gue terus." Jawab Brayen kepada Jova.
Mendengar suara Brayen membuat Dara yang tadi sibuk dengam ponselnya akhirnya melirik ke arah Brayen.
Deg..
Kembali hati Dara begitu berdebar, sungguh Brayen adalah lelaki yang begitu istimewa, Dara tidak mengenalnya, hanya sebatas melihat tapi rasanya Brayen berbeda, Brayen seseorang yang mampu menggetarkan hatinya juga jiwanya, bahkan dengan pacarnya saja Dara tidak pernah merasa seperti sekarang ini, seperti apa yang dia rasakan untuk Brayen, suami dari sepupunya sendiri.
Dan Dara hanya bisa sebatas mengagumi seorang Brayen, yang bahkan dari awal bertemu saja tidak pernah meliriknya sama sekali.
Tatapan mata Zela dan Dara bertemu, Zela tersenyum ke arah Dara, begitu juga dengan Dara yang tersenyum ke arah Zela.
lo emang selalu menang dari gue zel dari dulu Batin Dara kepada Zela.
" Beneran aku gangguin Kak Ray pas di sana ? " Tanya Zela yang sudah mulai sedikit kesal kepada Brayen.
" Maksud Brayen tuh gangguin di pikirannya dek " Jelas Jova kepada Zela. Membuat Zela menoleh ke arah Brayen.
" Beneran Kak ?? " Tanya Zela kepada Brayen.
" Masih nanya, ngapain juga aku sampai berbuat sekonyol itu kemarin " Jawab Brayen sambil menarik hidung Zela gemas.
Zela tersenyum senang mendengar jawaban Brayen barusan.
" Kalian nginep kan ? " Tanya Zifa kepada Zela juga Brayen.
" Iya dong Kak kita nginep, kalau Kak Jova nanti pulang ya " Jawab Zela sambil meledek Jova.
" Ish.. Ngusir kamu ya dek.. Awas saja kalau sampai ngidam nasgor buatan Kakak lagi " Jawab Jova sengaja kepada Zela.
Dara yang sedari tadi diam kembali menoleh ke arah Zela, tentu saja karena mendengar jika Zela sedang hamil.
Dara berfikir jika Zela mungkin MBA terlebih dahulu, mengingat Zela yang masih Sekolah juga kedua Om dan Tantenya yang tidak menjelaskan tentang pernikahan Zela dan juga Brayen secara detail.
" Tenang aja Kak Jova, aku nggak ngidam nasgor buatan Kakak lagi, tapi ngidam pengen ke clubnya Kakak " Jawab Zela yang langsung dapat tarikan hidung dari Brayen.
" Auw.. Ampun Kak " Jawab Zela yang dapat serangan dari Brayen.
" Dasar nakal.." Jawab Brayen lagi masih dengan menyerang Zela.
Sedangkan Zifa tersenyum bahagia melihat rumah tanggan adiknya yang begitu terlihat bahagia. Zifa merasa lega karena Misha sedang berada di New York tapi mengingat itu membuat Zifa mengernyitkan keningnya. Zifa harus bertanya sesuatu kepada Brayen.
Zifa melirik ke seseorang yang sedang menatap Zela dengan tatapan berbeda, siapa lagi kalau bukan Dara, bahkan Dara sedari tadi banyak diamnya, tidak seperti biasanya yang heboh jika sudah bertemu dengan Zela, dan Zifa tau ada sesuatu yang Dara sembunyikan, mungkin lain kali Zifa akan menanyakan itu kepada Dara, atau Zifa akan menjelaskan semua kepada Dara. Tentang Zela dan Brayen.
Dan juga Zela yang tidak mudah menjadi istri seorang Brayen Zafano, Zela harus berbesar hati karena suaminya menjadi Idola setiap kaum hawa. Jika seorang wanita yang sudah melihat Brayen atauh bahkan mengenalnya sudah pasti akan memiliki rasa kagum kepada Brayen, termasuk juga dirinya dulu, dan Zifa benar-benar harus menjelaskan kepada Dara, agar Dara lebih mengerti.
Kini Zela dan Brayen sudah berada di dalam kamar mereka. Zela sedang melakukan video call dengan kedua sahabatnya tentu saja Seli dan Vani yang sedang menceritakan kencan pertama mereka, teruntuk Vani yang sedari tadi terus semangat bercerita tentang Xelo yang ternyata sangat romantis.
Brayen sedang membalas pesan singkat dari Mr. Richard tentang perkembangan kasus Sandro, tentu saja semua sudah terselesaikan dengan baik hanya saja sekarang Misha tidak bisa di hubungi.
Brayen menghela nafasnya, dia melirik ke arah Zela yang sedang tertawa dengan kedua sahabatnya. Brayen tersenyum ke arah Zela, dia berjanji tidak akan membiarkan seorangpun sampai menyakiti Zela dan calon anaknya.
" Kak tau nggak ? Tadi Vani di ajakin Kak Xelo ke rumahnya " Ucap Zela kepada Brayen.
Kini Zela dan Brayen sudah berbaring di ranjang dengan posisi saling berdekapan atai berpelukan.
" Bagus dong yang, lebih bagus lagi kalau Xelo ngakalin Vani ke penghulu " Jawab Brayen membuat Zela terkejut dan menatap Brayen yang juga sedang menatapnya.
" Ih.. Kan masih sekolah Kak Vani, Ngaco deh Kak Ray " Jawab Zela membuat Brayen tersenyum.
" Kamu juga masih sekolah yang, kita ke penghulunya " Jawab Brayen kepada Zela.
" Tapi kan beda Kak " Jawab Zela lagi.
__ADS_1
" Beda kenapa ? Sama aja kok " Jawab Brayen kepada Zela.
" Beda lah.. Mereka kan sudah pacaran dan saling sayang, sedangkan kita di jodohkan " Jelas Zela membuat Brayen mengernyitkan keningnya.
" Tapi sekarang kita saling sayang kan yang ? Kita juga sekarang pacaran kan? Enakan juga pacaran setelah menikah kayak kita gini bukan kayak... Kak Jova sama Zifa " Jelas Brayen terjeda lalu berbisik kepada Zela.
Zela menatap Brayen tidak percaya, dengan segera Zela menggelitik pinggang Brayen, sampai membuat Brayen tidak tahan karena begitu terasa geli.
" Yang stop kalau nggak mau aku garap sekarang kamu ya " Ucap Brayen mencoba mengancam Zela.
" Coba aja Kak, aku nggak takut " Jawab Zela enteng, yang sukses membuat nyali Brayen semakin memuncak untuk benar-benar mengerjai Zela sekarang.
Brayen tidak akan peduli meskipun sekarang sudah larut malam, Brayen harus mengerjai Zela istri cantiknya yang sudah semakin nakal kepadanya, dan tentu saja Brayen menyukai itu.
Semakin Zela nakal kepadanya, semakin Brayen suka, tapi kenakalan Zela hanya kepadanya dan untuk Brayen seorang.
Brayen langsung melancarkan aksinya kepada Zela, Brayen mencium dan mencumbu Zela, membuat Zela mulai menghentikan gelitikannya pada pinggang Brayen, bahkan jari jemari Zela mulai nakal pada tubuh Brayen. Membuat Brayen tersenyum smirk karena Zela.
istri nakal. Batin Brayen sambil meniimati sentuhan bibirnya pada bibir Zela.
Jam sudah menunjukan pukul 06.30 Zela dan Brayen sudah bersiap siap untuk berangkat ke Sekolah. Tentu saja Brayen yang angkat mengantarkan Zela ke sekolah. Sedangkan dia sendiri hari ini tidak ada kuliah, Brayen akan ke kantor Ayahnya untuk menemui Dimas. Membahas tentang Misha yang tiba-tiba menghilang dan susah di hubungi.
" Kak ini " Tunjuk Zela kepada lehernya yang lagi-lagi dapat bekas kiss mark dari Brayen, dan sudah di pastikan tanda yang Brayen berikan kepada Zela sangatlah banyak.
Brayen melangkah maju untuk lebih dekat dengan Zela. Dengan senyum tampannya Brayen malah dengan sengaja memeluk Zela.
" Sini aku tambahin " Goda Brayen kepada Zela.
Jujur saja dengan perlakuan Brayen kepada Zela sangatlah membuat Zela bahagia, Zela tersenyum ke arah Brayen.
Dengan sengaja Zela merangkul Brayen, dengan tangan Zela di lingkarkan ke leher Brayen, muka mereka sangatlah dekat, bahkan karena hidung mereka yang sama-sama mancung membuat hidung mereka menempel.
" Nanti di rumah ya Kak " Bisik Zela yang langsung melepaskan rangkulan tangannya dari Brayen.
" Nakal kamu ya yang.." Jawab Brayen mencoba menangkap Zela.
Membuat pasangan suami istri muda itu malah kejar kejaran di dalam kamar. Tanpa memperdulikan beberapa Orang yang sudah menunggu mereka di dalam meja makan untuk sarapan bersama.
Sampai akhirnya pintu kamar mereka di buka. Menampilkan sosok tinggi besar dan gagah, siapa lagi kalau bukan Pak Adam yang sedang terkejut dengan yang di lihatnya, membuat Zela dan Brayen menoleh ke arah Pak Adam dengan terkejut.
" Papah tunggu di bawah " Ucap Pak Adam dan berlalu pergi.
Pak Ada menggelengkan kepalanya dengan apa yang di lihatnya barusan, pasalnya Brayen sedang mencium leher Zela dengan sangat rakus.
apa yang di katakan riko memanglah benar Batin Pak Adam sambil tersenyum.
Brayen dan Zela saling pandang kikuk, tentu saja mereka akan sangat malu kepada Pak Adam nanti, meskipun suami istri tapi jika dengan Orang Tua apa lagi Ayah martuanya tentu saja Brayen akan merasa malu, berbeda jika dengan Pak Riko Ayahnya sendiri yang memang selalu saja menggodanya.
Melihat Zela yang sedang menunduk sambil menggigit bibir bawahnya, membuat Brayen mengerti jika istri cantiknya ini sudah pasti merasa malu dengan Papahnya.
" Sayang ayo ke bawah.. Kalau kelamaan di sini Papah malah akan mengira kita meneruskan permainan yang tadi " Bisik Brayen membuat Zela menatap Brayen kesal.
" Ih.. Gara-gara Kak Ray " Jawab Zela dengan nada kesal dan berlalu dari kamarnya.
Brayen menatap Zela dengan senyum, sekali lagi Brayen memang harus lebih banyak bersabar menghadapi mood bumil yang mudah sekali berubah ubah.
Tanpa menunggu lama Brayen mengejar Zela yang sudah lebih dulu ke bawah, sambil tangannya mengetik pesan kepada Dimas untuk melakukan double date nanti bersama sahabatnya, mungkin mood Zela akan baik lagi pikir Brayen.
Sorry gaes.. Up siangan..
Seperti biasa aku minta Like, Comment and Vote ya Kak..
Vote
Vote
__ADS_1
Vote..
Aku tunggu lho.. Big Thanks 🙏🙏😘😘