Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Keinginan Zela


__ADS_3

Kini sudah sebulan lebih Zela melanjutkan sekolahnya dengan home schooling. Usia kandungan Zela juga sudah 7 bulan lebih bahkan hampir 8 bulan, jelas perut Zela sudah sangat besar, bahkan banyak yang mengira jika Zela akan melahirkan anak kembar nantinya.


Tapi tetap, jika di USG bayi dalam kandungan Zela hanya ada satu dan juga berjenis kelamin laki-laki, hanya saja memang bayinya sudah 3kg lebih, meskipun belum waktunya untuk keluar dari perut sang Mommy.


Dan pagi ini Zela sedang menyiapkan baju untuk sang suami berangkat ke kampus. Meskipun sulit tapi Zela tetap melakulannya, mengingat Brayen yang masih kuliah lagi-lagi membuat Zela tersenyum.


" Sayang... Daddy mau kuliah, dia nakal nggak ya di kampus?." Ucap Zela sembari mengelus perut buncitnya.


" Nggak mungkin nakal, ada bidadari dan malaikat kecil yang sedang menunggu di rumah." Jawab Brayen yang baru saja selesai mandi.


Brayen masih menggunakan handuk yang di lilitkan di pinggangnya, bahkan rambutnya juga masih basah.


Zela menoleh ke arah belakang, suaminya ini selalu saja berbuat seperti ini sekarang.


" Kebiasaan deh rambutnya di biarin basah." Jawab Zela sembari tersenyum.


Brayen melepaskan pelukannya, dia malah duduk di tepi ranjang sembari melihat istrinya yang sedang sibuk mengambil handuk kecil untuknya. Lalu Zela kembali menghampiri Brayen yang masih duduk di tepi ranjang.


Zela mencoba mengeringkan rambut Brayen dengan handuk yang tadi di ambilnya. Seperti kucing yang menurut pada majikan, Brayen anteng dan menurut ketika Zela sedang melakukannya, dan hal ini sudah terjadi beberapa minggu ini.


" Nanti pulang kuliah ke kantor dulu apa nggak?." Tanya Zela kepada Brayen.


Beberapa minggu ini memang Brayen sudah sering berangkat ke kantor Ayahnya, meskipun tidak setiap hari dan tidak di tetapkan waktunya.


" Nggak, nanti langsung pulang dan kita ke hotel ya yang? ada yang harus aku cek." Jawab Brayen yang di angguki oleh Zela.


Zela sering menemani Brayen ke hotelnya untuk mengecek atau sekedar berkunjung saja. Semua orang yang bekerja di hotel Zafano ataupun di Kantor Zafano adalah orang-orang yang jujur dan berkualitas tinggi. Hanya ada satu orang dulu yang ada masalah ialah Pak Septa, Bapaknya Sandro, tapi setelah itu tidak ada lagi masalah dan semua berjalan dengan lancar.


Zela dan Brayen menuju ke bawah untuk sarapan. Setelah sarapan Brayen pamit untuk berangkat ke kampus. Dan Zela mengantar sampai ke depan mobil suaminya. Pemandangan ini sudah setiap hari di lihat di depan rumah Zafano.


" Aku berangkat ya yang? Jangan nakal di rumah, awas kalau deket-deket Yubi." Pamit Brayen sembari mencubit hidung mancung Zela, juga mengingatkan Zela untuk tidak dekat dengan kucing kesayangannya.

__ADS_1


Zela mengangguk sembari tersenyum, hampir setiap hari Brayen mengatakan hal itu, Zela tidak boleh dekat-dekat dengan Yubi, dan Zela selalu menuruti apa yang di katalan oleh Brayen.


" Kak." Panggil Zela lirih dan sedikit ragu.


" Apa sayang?." Jawab Brayen membuat Zela tersenyum.


" Nanti ke hotel pakai motor aja ya? motor gede gitu, pengen...." Jelas Zela dengan nada sedikit memelas, tentu saja agar Brayen mengiyakan permintaannya, karena Zela yakin akan sangat sulit meminta ini kepada Brayen.


" No." Jawab Brayen singkat, seperti dugaan Zela, Brayen sudah pasti akan menolak, tapi Zela tidak boleh menyerah untuk meminta, karena memang sekarang ini Zela sedang ingin menaiki motor besar Brayen yang di biarkan berdebu begitu saja.


Bahkan setelah menikah, Brayen belum pernah menaikinya lagi, tapi mana mungkin Brayen membawa Zela dengan motor besarnya, sedangkan Zela sedang hamil besar seperti sekarang ini.


" Tapi pengen Kak." Pinta Zela lagi.


" Nanti kan bisa yang, kalau baby udah lahir, kita bisa jalan-jalan pakai moge." Jawab Brayen membuat Zela membrengut kesal.


" Kalau baby udah lahir mana pengen aku Kak, ini yang pengen kan baby." Jawab Zela dengan nada kesal.


" Lho kok belum berangkat Ray?." Tanya Bunda Wina yang juga ke depan rumah untuk mengantarkan suaminya berangkat kantor.


" Ada problem Bund." Jawab Brayen sembari melirik Zela.


Bunda Wina tersenyum, pasti ada sesuatu di antara anaknya ini.


" Kenapa sayang? kamu ingin apa?." Tanya Bunda Wina penuh perhatian seakan mengeti keinginan menantu cantiknya yang tidak di iyakan oleh Brayen anaknya.


" Zela pengen naik motor besar Kak Ray Bun." Jawab Zela lirih. Sontak saja Bunda Wina dan Pak Riko terkejut tapi kemudian mereka tersenyum.


" Terus Brayen tidak mengijinkan?." Tanya Bunda Wina mengerti permasalahan mereka saat ini, Zela mengangguk membenarkan apa yang di tanyakan oleh Ibu martuanya itu.


" Mana boleh Bun, perut Zela sekarang besar gitu, bahaya kalau naik motor." Jelas Brayen kepada membuat Bunda Wina tersenyum.

__ADS_1


" Nggak papa lah Ray, itu tantangan buat calon Ayah, itung-itung nguji skil**l kamu." Ucap Pak Riko membuat Brayen menoleh ke arah Ayahnya dengan sedikit kesal.


Bukan karena Brayen tidak bisa menaiki motor gedenya, tapi Brayen takut dengan keadaan Zela yang sedang hamil besar.


Sedangkan Zela tersenyum ke arah Ayah martunya, karena apa yang Pak Riko katakan seakan menyetujui permintaan Zela.


" Dulu Bunda kamu meminta lebih aneh dari Zela." Ucap Pak Riko membuat Brayen dan Zela kembali menoleh ke arah Pak Riko.


" Dulu Bunda pas hamil besar minta naik sepeda dan Ayah yang harus mengayuh, ha..ha.... Kalau ingat itu jadi pengen ketawa lagi ya Yah." Jelas Bunda Wina sembari tertawa kecil mengingatk kejadian dulu.


" Ha...ha.... Benar Bund, apa lagi pas roda sepedanya sampai lepas karena keberatan dengan tubuh Bunda, beruntung Bunda tidak sampai jatuh karena Ayah sigap." Jawab Pak Riko melanjutkan cerita istrinya.


Sedangkan Zela dan Brayen masih menyimak, rupanya ada kejadian konyol di antara kedua orang tuanya.


" Dan kamu harus tau Ray, permintaan anak kamu sekarang ini tidak seberapa dengan permintaam kamu dulu ketika masih di perut Bundamu." Jelas Pak Riko yang di angguki oleh Bunda Wina.


" Buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya, seperti permintaan Zela sekarang dan Bunda dulu." Jelas Bunda Wina lagi.


" Jadi maksud Ayah sama Bunda permintaan Zela karena anak Ray yang sama seperti Ray Daddy nya?." Tanya Brayen sembari menunjuk dirinya. Dan Bunda Wina juga Pak Riko mengangguk sembari tertawa.


Brayen menatap Zela yang sedang tersenyum, jelas Zela tersenyum senang karena sudah di pastikan Brayen akan mengiyakan permintaannya.


" Okay, wait for me my wife." Ucap Brayen sembari mengecup kening Zela.


Zela tersenyum, lalu mengecup pipi Brayen di depan kedua martuanya, membuat Bunda Wina dan Pak Riko tersenyum, menyadari ada kedua martuanya membuat Zela tersenyum malu-malu.


Sedangkan Brayen sama sekali tidak malu dengan adanya ke dua orang tuanya, dia malah sengaja mencium pipi Zela juga bibir Zela sekilas di depan orang tuanya, bahkan sampai membuat Zela melotot karena terkejut dan juga malu.


Zela memukul pelan dada Brayen, yang di jawab Brayen dengan mengacak rambut Zela pelan sembari tersenyum tampan untuk istrinya sebelum di tinggal berangkat ke kampus olehnya.


Jangan Lupa Like, Comment and Vota ya gaes.. Di tunggu lho.. Big Thanks 🙏🙏😘😘

__ADS_1


__ADS_2