Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Vani.. Vanvan....!!!!!!!!!!!!!


__ADS_3

Brayen menatap seseorang yang masih berdiri di sebelah mobilnya. Dia membuka pintu mobilnya dan menghampiri seseorang yang kini sedang menatapnya dengan senyum miringnya, terlihatkan meremehkan Brayen dan juga menyebalkan.


Brayen menghela nafasnya, dia juga tersenyum miring ke arah seseorang yang sudah menganggunya itu.


" You jerk." Ucap Brayen sembari tersenyum.


Orang itu bukannya marah malah langsung memeluk Brayen, begitu juga dengan Brayen yang membalas pelukan persahabatan mereka.


" Baru sampai di indo udah di suguhkan pasangan mesum di pinggir jalan." Cletuknya membuat Brayen terkekeh.


Pasalnya kaca mobilnya tidaklah mungkin bisa di lihat dari arah luar. Tapi memang apa yang sedang di lakukannya dengan Zela sudah bisa di tebak oleh sahabatnya itu.


" Lo kenapa nggak bilang mau ke sini?." Tanya Brayen membuat cowok itu terkekeh.


" Surprise lah buat ponakan Gue." Jawabnya membuat Brayen kembali tersenyum.


" Lo mau pulang ke hotel dulu apa apartemen Gue?." Tanya Brayen yang membuat cowok tampan itu seperti berfikir.


" Mau langsung ke rumah Lo aja, godain Bunda kayaknya seru." Jawabnya dengan kekehan.


" Sialan Lo, Gue anter bini sekolah dulu." Pamit Brayen yang di angguki oleh sahabat bastard nya itu.


Dia adalah Tian, sahabat Brayen ketika di New York. Tian sengaja berkunjung di ultah Arshaka yang ke 1 tahun, dia juga ingin bertemu dengan bayi tampan yang sudah membuat heboh media sosial, meskipun sampai sekarang keluarga Zafano dan Adafsi belum terang-terangan memperkenalkan Arshaka ke media, tapi bayi tampan itu sudah cukup terkenal dan membuat semua orang bertanya-tanya bagaimana wajah tampan dan menggemaskannya.


Bahkan kedua Opanya saja sampai harus menahan diri untuk tidak mengajak cucu tampannya ke kantor mereka. Padahal jelas dari awal kelahiran Arshaka kedua Opanya sangatlah tidak sabar untuk mengajak dan memperkenalkan cucu kesayangan mereka kepada semua karyawan dan juga rekan bisnis mereka.


Brayen kembali ke mobilnya. Begitu juga dengan Tian yang kembali ke taksi yang di tumpanginya, dia menyebutkan alamat rumah Zafano kepada sopir taksi tersebut.


" Kak Tian ya?." Tanya Zela kepada Brayen yang sudah kembali duduk di kursi kemudinya.


Brayen menatap Zela dengan senyum.


" Iya yang, sialan banget itu orang." Jawab Brayen mengumpat kesal kepada Tian sahabatnya itu.


" Nggak boleh gitu Kak, kita harusnya bersyukur kalau Kak Tian nggak datang bisa aja kita khilaf di sini." Jelas Zela membuat Brayen menautkan alsinya sembari menatap Zela.

__ADS_1


" Kalua udah terlanjur aku mau ajak kamu ke puncak lagi kok." Jawab Brayen yang langsung mendapat tatapan tajam dari Zela.


Brayen terkekeh melihat Zela yang sedang di mode galaknya, meskipun wajahnya di buat galak tapi tetap saja menggemaskan menurut Brayen.


" Kiss me please." Pinta Brayen dengan nada manjanya.


Astaga... Brayen ini benar-benar berubah kalau sedang berdua saja dengan Zela, mode cuek dan datarnya hilang begitu saja.


" Kak Ray nggak lihat banget ya kalau aku lagi kesal?." Ucap Zela dengan nada kesalnya.


" Tau kamu kesal, Tian emang sialan banget udah gangguin kita." Jawab Brayen membuat Zela menatap Brayen semakin tajam.


Maksud Zela bukanlah seperti itu, tetapi kesal karena Breyan masih saja menggodanya, padahal Zela kan sedang malu gegara tadi ke gep sama sahabat dari suaminya itu.


Ngeri saja nanti kalau Tian sampai bercerita dengan Dimas tentang apa yang sudah dilakukannya dengan Brayen di pinggir jalan. Meksipun sepertinya Tian bukanlah mulut ember sepeti Dimas dan Xelo, tapi tetap saja Zela harus berhati-hati.


Brayen tertawa melihat Zela yang masih saja menampilka wajah kesalnya, menggoda istrinya memang sangat menyenangkan pikir Brayen.


Sampailah mereka di depan gerbang Sekolah. Sebelum keluar dari mobil Zela sempat mengecup sekilas bibir Brayen. Tadi Zela memanglah menolak untuk itu, tapi jika sudah berada di sekolah Zela teringat dengan banyak gadis yang sangat mengidolakan suaminya itu, teman-teman sekolah dan juga Kakak kampus depan.


" Sayang, I love You." Ucap Brayen sebelum Zela benar-benar pergi.


" *Lo*ve you too." Jawab Zela dengan senyum, lalu segera masuk ke dalam gedung tinggi dan besar itu.


Malu saja kalau Brayen benar melihat wajah Zela sekarang yang sedang blushing.


Brayen tersenyum melihat wajah malu-malu Zela, unik sekali istrinya itu, kadang galak kadang malu-malu seperti sekarang ini, tapi terkadang juga sangat cerewet dan menyebalkan.


Dengan segera Brayen menuju kampusnya. Dia sengaja membuat Tian menunggu lama di rumahnya. Biarkan saja, lagian Tian juga sudah cukup dekat dengan Bundanya.


Zela masuk ke dalam kelasnya. Tapi belum ada dua mahluk yang biasanya sudah menunggunya, tumben sekali Seli dan Vani belum sampai di sekolah. Biasanya juga mereka akan datang lebih dulu darinya.


" Awas aja pokoknya kalau sampai mereka bolos karena nggak berani ketemu Gue." Gumam Zela kesal dengan kedua sahabat kampretnya itu.


Zela mengambil ponselnya yang berada di dalam tasnya, dia mencoba menghubungi Seli dan Vani secara bergantian, tapi tidak ada yang mengangkat teleponnya membuat Zela semakin yakin dengan kedua sahabtanya itu yang sengaja menghindar darinya.

__ADS_1


Zela mencoba mengirim pesan kepada Dimas untuk menanyakan keberadaan Seli.


Setelah mendapat jawaban pesan dari Dimas, Zela segera menuju di mana kedua sahabatnya itu berada, pokonya Zela ingin menjitak kedua sahabatnya itu agar otaknya enceram sedikit, bila perlu Zela akan menjambak rambut mereka sampai botak.


Zela berdiri dengan diam mendengar suara cekikikan dari dua mahluk kampret yang sedang membicarakannya, benar-benar sahabat lucknut mereka sekarang.


" Ha...ha.... Gue yakin Zezel sekarang lagi nyariin kita deh Sel." Cletuk Vani sembari tertawa.


" Pastinya Van, salah sendiri punya anak gemesin banget." Jawab Seli membuat Vani mengangguk setuju.


" Asrha kapan gedenya sih, pen Gue culik deh." Sambung Vani lagi.


" Ya elah Arsha lagi mekar bagaikan kumbamg di taman, Lo udah bau ta* kali Van." Jelas Seli membuat Vani memonyongkan bibirnya tidak terima dengan ucapan Seli.


" Sembaragan Lo, Gue tuh tipe cewek yang nggak bakal tua, secara kan udah mandi kembang tujuh rupa biar tetap cantik dan awet muda." Jelas Vani dengan karangan ceritanya yang terdengar begitu konyol.


" Set*n kali ah Lo makan kembang segala." Cibir Seli membuat mereka berdua tertawa.


" Dasar nggak waras." Ucap Zela membuat kedua sahabatnya tidak terima.


" Sialan Lo ngatain kita nggak waras, tapi Gue emang rela sih nggak nikah buat nungguin Arshaka." Jawab Vani yang masih belum sadar dengan keberadaan Zela di belakang mereka.


" Oya...? Tapi bukannya Arsha besar Lo udah nenek-nenek?." Tanya Zela sengaja mencibir Vani agar tersadar dari kegilaannya.


Deg...


Suara ini begitu familiar di telinga Seli dan Vani. Secara bersamaan mereka menoleh ke arah belakang. Dimana Zela sedang bersikedap dan menatap mereka dengan tatapan tajam.


" Kya... Camer!!." Teriak Vani yang langsung bersiap untuk kabur.


Sedangkan Seli menatap Zela dengan senyuman kikuknya.


" Vanvan... Jangan kabur Lo, Gue mau pites Lo sampai nggak berbentuk!!." Teriak Zela yang sudah sangat kesal dengan ulah Vani.


Gila saja Arsha sama Vani, anaknya ini kan akan menjadi idola baru nantinya di kalangan remaja, pokoknya Zela tidak terima meskipun itu hanya kekonyolan Vani saja.

__ADS_1


Sudah di buat kesal oleh kado pemberian dari mereka, ini semakin di buat kesal dengan ucapan gila Vani yang akan menunggu Arshaka besar, sampai ada mandi kembangnya segala lagi. Benar-benar edan yang namanya Kiara Tivani, pikir Zela.


__ADS_2