
Pagi pagi sekali Zela terbangun, jam baru menunjukan pukul 5:00 pagi, Zela menatap Brayen yang masih tertidur nyenyak di sampingnya, dengan senyum manisnya Zela mencium kening Brayen lalu segera bangun untuk menuju kamar mandi.
Setelah selesai dengan mandinya Zela menuju ke lemari, disana terdapat beberapa bajunya dan juga baju Brayen, Selesai memilih baju yang akan dikenakan, Zela juga menyiapkan pakaian untuk Brayen nanti ke kampus juga seragam sekolahnya.
Dilihatnya Brayen yang masih tertidur, Zela tersenyum lalu seger menuju ke dapur untuk memasak.
" Gue masak apa ya buat sarapan.." Gumam Zela sambil memilih milih bahan makanan yang berada di kulkas.
" Nasi goreng aja yang gampang..." Jawab Brayen dari arah belakang Zela.
Sontak saja Zela sangat kaget dan langsung menoleh ke arah Brayen.
Astaga... Brayen terlihat sangat tampan dan sexy meskipun masih dalam keadaan baru bangun tidur.
Zela benar benar mengagumi mahluk di depannya ini, dia merasa sangat beruntung bisa selalu dekat dengannya.
" Kak ray..." Ucap Zela yang masih terkejut dengan kedatangan Brayen.
Brayen mendekat Zela, lalu memeluknya, mencium lekuk leher Zela dengan pelan, wangi dan selalu memabukan untuk Brayen.
" Kenapa bangun pagi sekali..?? Bisik Brayen tepat di telinga Zela.
Zela yang merasakan hembusan hangat nafas Brayen malah merinding sendiri, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan sambil memejamkan matanya.
Brayen yang melihat tingkah Zela jadi tersenyum senang, Brayen semakin mengeratkan pelukannya, dia kembali mencium leher Zela lalu naik ke atas tepat di belakang telinga.
Tentu saja Zela semakin tidak tahan dengan perlakuan Brayen, tapi dia ingat kalau sekarang bukan waktu yang tepat, mereka harus bersiap siap untuk berangkat ke Kampus dan Sekolah, meskipun ini masih terlalu pagi, tapi jika Zela ingin memasak untuk sarapan mereka berdua sekarang, maka waktu pasti tidak terasa akan berjalan dengan cepat.
" Kak ray please... Stop..." Lirih Zela masih dengan mata terpejam.
Brayen melihat wajah Zela yang tertahan, dia tersenyum senang, Brayen tau Zela ingin tapi ini memang bukan waktu yang tepat.
" Sorry...." Jawab Brayen lirih, Zela menatap Brayen sekilas tapi tidak menjawab sepatah katapun.
Brayen melepaskan pelukannya, dia berjalan kembali menuju kamar untuk segera bersiap siap, sedangkan Zela akhirnya bisa bernafas lega, setelah tadi perlakuan Brayen sempat membuat Zela hampir melambung tinggi.
Zela berinisiatif membuat nasi goreng untuk sarapan mereka berdua, cukup lama memang Zela berkutat dengan dapur kecil nan elegan yang berada di aprtemen itu, pasalnya Zela memang tidak pernah beraksi di dapur.
Sampai dia tidak tau kalau sedari tadi Brayen sudah berdiri tepat di belakangnya, Brayen terus memperhatikan gerak gerik Zela sedari tadi.
Zela mencicipi nasi gorengnya terlebih dahulu sebelum akhirnya dia letakan ke 2 piring yang sudah dia siapkan tadi.
" Hmmm... Lumayan kok.." Gumam Zela masih tidak sadar jika Brayen berada di sana.
Brayen yang melihat tingkah Zela hanya geleng geleng kepala sambil tersenyum simpul, tapi sungguh Brayen sangat senang melihat Zela yang tampak seperti wanita dewasa.
Sibuk dengn kegiatan masak pagi, menyiapkan pakaian suami dan yang lainnya, meskipun sebenarnya Zela masih sangatlah muda bahkan masih sekolah, tapi sekarang ini Zela terihat seperti wanita dewasa di mata Brayen.
" Awas aja kalau Kak ray sampai komplent.." Gumam Zela lagi, membuat Brayen kembali tersenyum.
" Ehem...." Deheman Brayen membuat Zela terperanjat kaget.
" Kak ray...???? Ucap Zela melihat ke arah Brayen.
Brayen terlihat tampak fresh dan tampan sudah pasti, apa lagi Brayen mengenakan baju yang Zela siapkan tadi, bertambah saja ketampanan Brayen pikir Zela.
" Kenapa Bengong....?? Udah sana biar gue yang beresin.." Suruh Brayen kepada Zela.
Tapi Zela masih dengan bengongnya karena bingung.
" Ka..Kak ray udah dari tadi..?? Tanya Zela sedikit gelgapan, yang di jawab Brayen dengan anggukan kepala.
" Loe siap siap aja.. Biar gue yang beresin.." Sambung Brayen lagi.
Deg...
seriusan ini kak ray mau beresin?? astaga... benar kata vani kak ray memang paket komplit dan gue beruntung banget... batin zela terkikik senang.
Brayen yang melihat Zela senyum senyum sendiri merasa aneh, tapi dia seperti bisa membaca apa yang ada di pikiran Zela.
" Udah bengongnya.. Gue emang cakep dan baik hati.." Jelas Brayen sombong, membuat Zela mengernyitkan keningnya dengan senyum seperti mengejek.
Tapi ya sebenarnya memang begitu adanya, tanpa menjawab Zela melangkahkan kakinya untuk segera bersiap siap, tapi baru berapa langkah Zela berbalik lagi, dia menghampiri Brayen dan mencium pipi Brayen yang sudah bersiap siap untuk mencuci bekas tadi Zela memasak.
Brayen yang di cium pipinya secara tiba tiba oleh Zela tersenyum, lalu mengacak pelan rambut Zela.
__ADS_1
Zela sedikit melotot ke arah Brayen karena kesal rambutnya jadi sedikit basah, tapi Brayen malah menanggapinya dengan memonyongkan bibirnya persis seperti orang yang meminta untuk di cium bibirnya.
Melihat tingkah Brayen, Zela yang tadinya kesal jadi tertawa tapi dengan segera dia pergi menuju kamar untuk bersiap siap seperti apa yang sudah Brayen perintahkan barusan.
Brayen benar benar berubah drastis ketika sedang berdua dengan Zela, dia menjadi pria yang sangat hangat bahkan humoris, berbeda sekali jika di luar, sikap cuek dan datarnya seperti es yang selau dia perlihatkan.
Setelah selesai dengan sarapannya mereka langsung menuju kampus dan sekolah, mengingat waktu yang juga sudah semakin siang, tak banyak percakapan memang di dalam mobil karena Brayen terus menerima beberapa telp yang ntah Zela sendiri tidak tau dari siapa, tapi sesekali Brayen melirik Zela sekilas.
oke nanti biar ke rumah aja..
Itu ucapan terakhir Brayen sebelum akhirnya mematikan sambungan telpnya.
Begitu juga dengan mobil mewah Brayen yang sudah sampai tepat di depan gerbang sekolah, Zela melirik Brayen begitu juga dengan Brayen, mata mereka kembali bertemu sampai akhirnya Zela sendiri yang mengalihkan pandangannya.
" Kiss dulu.." Suruh Brayen melihat Zela yang sudah ingin membuka pintu mobil.
Zela berbalik menoleh ke arah Brayen, tanpa menunggu lama dia langsung mencium pipi Brayen.
" Bibir..." Ucap Brayen lagi terdengar seperti memerintah.
Masih tanpa menjawab Zela menurut apa yang di perintahkan oleh Brayen, Zela mencium bibir Brayen lalu mencium tangan Brayen, yang dijawab Brayen dengan mencium Bibir Zela sekilas lalu keningnya.
Manik mata mereka kembali bertemu tapi pada akhirnya Zela segera mengalihkan pandangannya dan keluar dari mobil Brayen, masih dengan muka masamnya.
" Yang.. Nanti ajak Seli sama Vani kerumah ya.." Ucap Brayen sebelum Zela benar benar pergi.
Zela tampak bingung, tapi dia menganggukan kepalanya pertanda mengiyakan, Brayen tersenyum lalu segera melakukan mobilnya menuju kampus depan.
" Ukh.. Untung cakep kalau nggak udah gue gigit.... Ngeselin banget sih kak ray hari ini.." Gumam Zela kesal sendiri lalu segera masuk kedalam Sekolah.
Tanpa Zela sadari ada empat pasang mata indah yang sedang memperhatikannya, siapa lagi kalau bukan Bintang, beruntung tadi Bintang tidak melihat Zela yang keluar dari mobil Brayen.
Dan satunya lagi Sandro, pagi ini Sandro berangkat tepat bersama dengan datangnya mobil Brayen, tapi karena takut Sandro sedari tadi menghentikan mobilnya tepat di belakang mobil Brayen, beruntung kali ini Brayen tidak begitu memperhatikannya, Sandro tidak ingin jika bertemu langsung dengan seorang Brayen Zafano, cukup saja dia memberi kabar kepada Brayen, tentang teman Sekolahnya yang dia idamkan sejak dulu.
Sandro bertekad ingin membuang jauh perasaan ingin memiliki Zela, iya Sandro sangat menginginkan Zela bahkan dia sering sekali berfantasi tentang Zela, tapi itu dulu sebelum akhirnya dia berurusan dengan Brayen Zafano.
Zela memasuki kelasnya dengan muka masamnya, dia masih penasaran dengan siapa Brayen tadi menelfon, memang terdengar biasa saja dari cara mereka berbicara tapi tetap saja Zela penasaran, mungkin bawaan debay pikirnya.
" Pagi Cantik.." Sapa Vani centil kepada Zela.
Zela hanya melirik ke arah Vani sekilas lalu duduk dibangkunya.
" Kesel.." Jawab Zela sekenanya.
" Sama..??? Sambung Seli lagi.
" Muhammad Brayen Zafano..." Jawab Zela lantang.
Membuat beberapa murid yang sudah berada di kelasnya menoleh ke arahnya, tapi tetap saja Zela cuek.
" What...??? Tanya Seli dan Vani barengan.
" Upss...Jangan kerasa keras..." Ucap Vani mengingatkan, tapi tak di tanggapi oleh Zela.
" Kenapa dengan Kak Ray...?? Tanya Seli.
" Nggak papa.." Jawab Zela masih dengan muka kesalnya.
" Katanya tadi kesel..?? Tanya Vani.
" Tadi iya,, sekarang udah nggak.." Jawab Zela membuat Seli dan Vani geleng geleng kepala, mendengar penuturan Zela.
Oke.. Sekarang ini Seli dan Vani harus sedikit bersabar menghadapi mahluk cantik di depannya ini, biasanya Zela memang paling dewasa di antara mereka tapi karena bawaan debay untuk sekarang ini mereka harus memakluminya dengan apa yang diperbuat olehnya.
Setelah jam istirahat berbunyi mereka langsung menuju ke kantin, seperti biasa sudah banyak anak anak yang sudah mengantri memesan makanan.
" Pesen biasa kan..?? Tanya Vani yang dapat anggukan dari Zela dan Seli.
" Oke..." Sambung Vani lagi yang akan berdiri untuk memesankan makanan mereka.
" Van... Gue dua porsi ya.." Teriak Zela dengan senyum kikuk.
Vani diam sejenak, begitu juga dengan Seli, tapi kemudian Vani mengacungkan jempolnya dengan senyum cantiknya.
Setelah selesai dengan pesanan makanannya, Vani kembali kemeja di mana Zela dan Seli sudah menunggu.
__ADS_1
" Gaes... Nanti pada kerumah ya..." Ucap Zela tiba tiba.
" Oke.. Bis pulang kita langsung ke sana.." Jawab Vani semangat.
" Cieee... Semangat banget yang mau ketemu Kak Xelo..." Ledek Seli membuat Vani melotot ke arahnya.
Sedangkan Zela masih bingung dengan pembicaraan mereka.
" Kerumah gue Seli sayang... Bukan buat ketemu Kak Xelo.." Jawab Zela membuat Seli dan Vani saling pandang tapi kemudian terkikik.
" Loe lupa atau amnesia si Zel..?? Bukannya nanti malam acara ultahnya Sepupunya Kak Bintang ya.." Jelas Vani seketika membuat Zela tersadar.
" Astaga... Iya.. Ya udah kalian sekalian berangkat dari rumah gue aja.." Sambung Zela yang dijawab mereka berdua dengan mengacungkan jempolnya.
Tak lama pesanan mereka berdua datang, bukan Buk kantin yang membawanya melainkan Sandro.
What...?? Sandro buat apa anak pendiam ini berani membawakan pesanan mereka, dengan langkah gemetar Sandro berjalan mendekati meja dimana ketiga gadis itu sedang menunggu pesanannya.
Zela, Seli dan Vani saling pandang terkejut, melihat ke arah Sandro yang sudah membawa nampan berisi pesanan mereka.
" Ngapain loe kesini..??? Semprot Vani melihat keberadaan Sandro di depan mereka.
" Maa..maaf... Gue cuma bantuin Buk Kantin buat bawain pesanan kalian..." Jawab Sandro tergagap.
" Oh... Ya udah mana cepetan..." Sambung Vani lagi menyuruh Sandro untuk menaruhnya di meja mereka.
Dengan pelan Sandro lebih mendekat, dia berdiri tepat di sebelah Zela lalu menaruh empat mangkok berisi bakso beserta minumannya, Sandro melirik Zela sekilas dari sampingnya.
Deg....
Jantung Sandro langsung memompa lebih cepat, Sandro memejamkan matanya dia benar benar terpukau oleh kecantikan Zela, istri dari seseorang yang siap membunuhnya jika dia berani macam macam lagi.
Tapi sungguh Sandro juga lelaki normal, bahkan bisa dikatakan hyper **** meskipun terlihat pendiam jika melihat mahluk secantik Zela sudah pasti dia membayangkan hal hal di luar batas.
gila...loe bener bener bidadari... come on baby.... batin sandro menjerit masih menginginkan Zela meskipun ada rasa ketakutan.
" Heh... Cepetan..malah merem... dikira kita set*n apa...??? Ucap Vani lagi dengan kesal.
" Eh.. Iya.. Sorry..." Jawab Sandro segera menaruh pesanan mereka lagi.
" Loe habis Zel 2 mangkok..?? Tanya Seli yang di jawab Zela dengan anggukan kepala.
" Gue tadi pagi bikinin sarapan buat kak ray lho..." Ucap Zela tiba tiba membuat Sandro yang masih berada disana sedikit terkejut.
Seli mengingatkan kepada Zela melalui matanya, untuk tidak mengatakan secara langsung tentang Brayen karena Sandro masih berada disana.
" Udah semua... Gue balik dulu..." Pamit Sandro kepada mereka bertiga.
" Oke.. Thanks ya..." Jawab Zela dan Seli bersamaan sedangkan Vani hanya menjawabnya melalu gerakan tangan menyuruh Sandro untuk pergi.
" Seriusan loe..?? Kok bisa loe yang bikinin sarapan buat Kak ray.. Biasanya kan Bunda...??? Cerocos Seli.
" Kita kemarin pulang ke apartemen.." Jawab Zela yang mulai melahap baksonya.
" Dih... Yang nggak mau di ganggu.. kalau mau enak enakan pulang ke apartemen kalau nggak ya ke hotel..." Ledek Vani membuat Zela dan Seli bersamaan buru buru membekap mulutnya.
" Ikh.. Kalian..." Kesal Vani kepada mereka berdua.
" Jangan kenceng kenceng nanti kedengeran yang lain..." Jawab Zela yang dapat cengiran dari Vani.
" Ehemm....." Deheman dari seseorang yang ingin ikut bergabung bersama mereka.
Mereka bertiga menoleh bersamaan ke asal suara.
" Kak Bintang..." Ucap mereka bertiga bersamaan.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Sandro menuju kamar mandi, dia memejamkan matanya, nafasnya memburu bayangan wajah elok Zela terus berputar di kepalanya.
Ini pertama kalinya Sandro melihat wajah cantik Zela secara dekat, dan ternyata Sandro lebih tidak bisa untuk menahannya, begitu besar rasa ingin memilik Zela pada diri Sandro, bukan hanya sekedar penggemar saja melainkan seperti keharusan, dia sangat ingin memiliki Zela tapi dia juga tidak mau kalau harus berurusan dengan Brayen.
Dia begitu merasa pecundang, merasa kecil jika harus di sandingkan dengan seorang Brayen Zafano cowok cakep idola sekolahnya bahkan kampus depan juga.
" Sial....sial...sial......" Geram Sandro memukul mukul kepalanya di tembok kamar mandi sekolah.
__ADS_1
Yuhuuu.. Kak... Author nggak akan ada bosennya untuk meminta kalian.. Like, Comment dan Vote...
Vote.. Vote.. Vote... Big Thanks 😘😘🙏🙏