Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Waktu Cepat Berlalu


__ADS_3

Setelah selesai di periksa, Zela, Bunda Wina, dan juga Mamah Hana menuju ke ruang tengah lagi. Mereka masih mengobrol tentang calon cucu mereka yang sudah bisa bergerak di dalam perut Zela.


Kedua wanita paruh baya itu sudah tidak sabar ingin segera menimang cucu, begitu juga dengan Zela yang sudah ingin bertemu dan melihat seperti apa nanti malaikat kecilnya.


Tidak lama Dara datang, tentu saja karena Mamah Hana sendiri yang meminta Dara untuk menjemputnya di rumah besan. Mumpung Dara berangkat sekolah menggunakan mobil. pikir Mamah Hana.


" Tante." Sapa Dara yang juga ikut bergabung bersama mereka di ruang tengah.


Zela, Bunda Wina dan juga Mamah Hana menoleh ke arah Dara, mereka tersenyum.


" Nak... Sini." Suruh Mamah Hana kepada Dara agar duduk di sebelahnya.


" Dara... Lo sendiri?." Tanya Zela melihat kedatangan Dara seorang diri.


" Seperti yang Lo lihat Zel." Jawab Dara sembari tangannya menyalami Bunda Wina dan juga Mamah Hana.


" Lho ini siapa? Cantik sekali." Puji Bunda Wina kepada Dara yang sudah duduk di sebelah Mamah Hana.


" Ponakanku Win, dia sekarang melanjutkan Sekolah di Sekolahmu." Jelas Mamah Hana kepada besannya itu.


Bunda Wina mengangguk, masih dengan memandangi Dara yang sekilas mirip dengan menantu cantiknya itu.


Mereka terus mengobrol sembari bercanda, bahkan tidak hentinya kedua wanita paruh baya itu bercerita tentang calon cucu mereka. Sedangkan Zela dan Dara bercerita tentang masa kecil mereka dulu.


Tidak lama terdengar suara seseorang yang turu dari arah tangga. Brayen menghampiri mereka masih dengan muka bantalnya, bahkan terlihat sekilas Brayen seperti zombi berjalan.


Brayen yang memang sebenarnya masih setengah sadar itu, langsung berbaring dengan kepalanya di atas paha Zela. Sontak saja kelakuan suami tampannya itu membuat Zela terkejut tapi juga gemas.


Jangan di tanya bagaimana perasaan Dara saat ini, Dara masih begitu banyak menyimpan rasa untuk Brayen, perasaan yang tidak bisa di ungkapkan, yang dia sendiri juga tidak ingin ada seorangpun tau tentang perasaan hatinya yang berlabuh salah pada seseorang.


Dara tersenyum, senyuman begitu pahit.


" Ray... Jangan gitu ih, ada Mamah Hana ini lho." Ucap Bunda Wina kepada Brayen yang masih memejamkan matanya.


" Kak Ray ih." Sambung Zela menarii hidung mancung Brayen gemas.


Mendengar ada Ibu martuanya membuat Brayen segera bangun dan duduk di sebelah Zela, tapi tentu saja masih dengan keadaan setengah sadar, karena Brayen memaksakan dirinya untuk segera bangun meski hatinya dan matanya masih enggan.


Dengan segera Brayen menyalami tangan seseorang yang Dia kira adalah Ibu martuanya itu, Brayen menyalami tangan Dara sama seperti ketika dia menyalami Mamah Hana.


Sontak saja semua yang berada di sana tertawa, begitu juga dengan Zela, Bunda Wina bahkan sampai terpingkal dan menggelengkan kepalanya dengan kelakuan anak tampannya.


Berbeda dengan Dara yang ntah kenapa malah terkejut tapi juga ada perasaan yang susah dia jelaskan, perasaan aneh yang ada pada dirinya di saat tangan Brayen menyentuh tangannya. Meskipun pada dasarnya apa yang di lakukan Brayen itu karena hanya kekeliruan saja.


" Ray... Kamu ini ngaco banget, Mamahmu di sebelah Bunda bukan di situ." Ucap Bunda Wina yang sukses membuat Zela dan Mamah Hana semakin tertawa. Sedangkan Brayen langsung membuka matanya lebar dan begitu tekejut setelah mengetahui jika dia menyalami orang yang salah.


Brayen tersentak kaget, dengan segera Dia menyalami Mamah Hana karena tadi sudah salah sasaran.


" Makanya buka dulu matanya, duduk dengan mata tertutup aneh kamu." Sambung Bunda Wina lagi yang terus meledek Brayen.


" Kak Ray lucu." Ucap Zela gemas kepada Brayen yang begitu lucu menurutnya.


Tapi setelah menyalami Mamah Hana, Brayen segera pamit untuk menuju ke kamar mandi. Tentu saja Brayen akan mencuci bersih tangannya yang sudah menempel dengan tangan cewek lain selain Zela.


Aneh memang, tapi feeling Brayen mengatakan jika Dara berbeda dari kedua sahabat Zela, siapa lagi kalau bukan Seli dan Vani. Jika tangan kedua sahabat Zela yang menempel tadi pada tangannya, mungkin Braye tidak akan selebay ini.


Dan fix, sikap Brayen banyak sekali perubahan setelah Zela hamil.


Brayen terus mencuci tangannya dengan sabun, bahkan sampai berkali-kali, tentu saja agar tidak ada lagi bau tangan Dara, tapi percaya ini semua hanya sikap lebay Brayen. Tangan Dara sama sekali tidak berbau, bahkan tangan Dara begitu lembut dan halus sama seperti tangan Zela.


Karena Brayen tidak kunjung datang. Membuat Zela pamit untuk menyusul suaminya.


" Kak...! Nggak pingsan di dalam kan?." Tanya Zela dari luar pintu kamar mandi.


Tidak lama terbukalah pintu kamar mandi.


" Lama banget sih? " Tanya Zela seperti tidak sabar di tinggal Brayen ke kamar mandi.


" Bau nggak yang?." Tanya Brayen sembari tangannya di arahkan kepada Zela untuk menciumnya.

__ADS_1


" Wangi kok, wangi banget malah, kenapa sih Kak? Aneh deh." Jawab Zela yang juga bertanya kepada Brayen.


Tidak ada jawaban dari Brayen, malah Brayen masih sibuk mengendus-endus tangannya, dan tentu saja wangi karena memang tidak ada bau sama sekali. Sekali lagi hanya Brayen saja yang lebay tidak ingin bersentuhan dengan Dara.


" Ayo." Ajak Brayen tanpa menjawab pertanyaan Zela tadi.


Mereka menunu ke meja makan. Di mana Bunda Wina, Mamah Hana dan juga Dara sudah berada di sana.


" Mules Ray?." Tanya Bunda Wina melihat kedatangan Brayen dan Zela.


" Nggak Bun." Jawab Brayen singkat, membuat Bunda Wina menggelengkan kepalanya.


" Ya sudah ayo kita makan dulu bersama." Ajak Bunda Wina kepada mereka.


Mereka makan bersama, tentu saja Dara kembali mencuri pandang ke arah Brayen. Meakipun yang dia kagumi diam-diam sebenarnya sedang anti padanya.


" Bund... Dokternya mau ke sini jam berapa?." Tanya Brayen yang sontak membuat Zela, Bunda Wina, dan juga Mamah Hana tersentak kaget.


Tidak lama mereka tertawa karena pertanyaan Brayen, tapi malah membuat Brayen semakin bingung, sedangkan Dara hanya menyimak saja dengan diamnya.


" Udah dari tadi dong Ray." Jawab Bunda Wina yang sukses membuat Brayen terkejut bukan main.


Brayen menoleh ke arah Zela yang sedang tertawa dan mengangguk, pertanda mengiyakan apa yang di katakan oleh Bunda Wina


" Udah?." Tanya Brayen sekali lagi dan di jawab Bunda Wina dan Zela dengan anggukan kepala.


" Sorry tadi Kak Ray tidur, aku nggak tega buat bangunin." Jelas Zela merasa sedikit bersalah. Tapi juga ingin tertawa.


" Ah... Shit." Gumam Brayen merasa kesal.


" Ray!." Ucap Bunda Wina mengingatkan Brayen agar bersikap sopan di depan Ibu martuanya.


" Nggak papa Win, aku tau pasti Brayen juga ingin sekali tau bagaimana perkembangan anaknya." Jelas Mamah Hana yang sama sekali tidak masalah dengan umpatan Brayen barusan.


Mamah Hana memaklumi jiwa muda seperti Brayen.


" Yang... Kok jahat banget sih nggak bangunin aku tadi?." Tanya Brayen membuat Zela semakin bersalah.


" Nggak usah sayang, salah sendiri dia malah tidur, kata Dokter tadi anak kamu sehat Ray, tapi kamu juga harus jadi suami siaga ngingetin istri kamu biar nggak banyak makan coklat atau makanan yang banyak minyaknya dulu." Jelas Bunda Wina membuat Brayen mengangguk.


" Terus gimana yang anak kita cowok apa cewek?." Tanya Brayen lagi kepada Zela.


Sontak saja pertanyaan Brayen membuat Bunda Wina dan Mamah Hana menggelengkan kepalanya sembari tertawa renyah. Brayen tidak jauh beda dengan Zela yang seperti lupa jika usia kandungan yang baru 4 bulan masih belum bisa di lihat jenis kelaminnya.


" Belum tau Kak, belum bisa di lihat kan masih 4 bulan, nunggu paling nggak 6 bulan dulu." Jawab Zela membuat Brayen sedikit kecewa.


Tapi ya memang seperti itu adanya. Jadi Brayen harus sabar dulu.


" Tapi kata Dokter anak kita kayaknya cowok, tapi belum pasti ya ini." Sambung Zela lagi yang langsung membuat Brayen semangat.


" Yes." Gumam Brayen begitu bahagia, mendengar jika calon anaknya nanti berjenis kelamin laki-laki, meskipun belum pasti tapi itu cukup membuat Brayen semakin yakin jika anaknya nanti seorang laki-laki yang akan tumbuh tidak jauh seperti dirinya. Menjadi Idola di kalangan wanita.


Brayen langsung mencium kening Zela di depan martua dan Bundanya, juga Dara tentunya, tapi tidak ada lagi rasa malu karena sudah tertutup denga rasa bahagia yang begitu teramat dia rasakan.


" Jangan seneng dulu, ini belum pasti Ray... Bisa aja pas 6 bulan nanti Dokter bilang anak kalian cewek." Jelas Bunda Wina yang sengaja menggoda Brayen.


" Nggak lah Bund, aku yakin anak kita nanti cowok, Zela kan jadi doyan banget makan." Jawab Brayen dengan penuh percaya diri.


Membuat Bunda Wina menggelengkan kepalanya. Sedangkan Zela langsung melayangkan cubitannya pada pinggang Brayen.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Kini hari sudah berganti dengan bulan, dan tidak terasa dua bulan yang Brayen tunggu untuk mengetahui dengan pasti jenis kelamin calon anaknya dengan Zela nanti.


Brayen sudah bersiap di kamarnya. Sedangkan Zela masih harus ini itu, perutnya yang sudah membuncit membuatnya sedikit kesusahan untuk bergerak, tidak seleluasa biasanya.


Kandungan Zela memang tepat 6 bulan di hari ini, tetapi perut Zela sudah cukup besar seperti usia kandungan yang sudah memasuki 7 bulan. Bahkan tadi malam sudah di adakan syukuran untuk si jabang bayi mereka. Semua saudara, kerabat, juga rekan bisnis kedua keluarga Zafano maupun Adafsi berkumpul di rumah mewah Zafano untuk mendoakan kelancaran persalinan Zela nantinya, juga untuk calon anak Zela dan Brayen agar sehat tanpa kurang suatu apapun.


Bahkan rencananya Zela hanya akan masuk ke sekolah sebulan lagi. Di usia kandungan 7 bulan nanti Zela akan melakukan home scho**oling. Seperti rencana pada awal kehamilan, dan sekarang Zela harus menikmati waktu sebulan di sekolahnya.

__ADS_1


Meski dengan perut besar tapi Zela masih tetap semangat mengikuti pelajaran seperti biasanya, sama halnya dengan Vera yang usia kandungannya juga sudah memasuki 5 bulan, perut Vera juga sudah membesar meski tidak sebesar perut Zela yang memang hobby makan sejak kehamilannya.


Sedangkan Misha, kini menghilang bak di telan bumi. Misha tidak ada kabarnya sama sekali, meskipun kabar terakhir bahwa dia berada di Indonesia. Tapi selama Misha tidak mengusik rumah tangganya. Brayen tidak bertindak lebih.


" Kak... Tolong bantuin." Pinta Zela kepada Brayen untuk membantu memakaikan seragamnya, tidak ada lagi kecanggungan atau rasa malu lagi pada saat awal-awal menikah atau hamil seperti beberapa bulan yang lalu.


Dengan segera Brayen mendekat ke arah istri cantiknya yang sedang kesusahan memakai seragamnya.


" Siap Tuan putri." Jawab Brayen dengan senyum tampannya, yang di jawab Zela juga dengan senyuman.


" Ingat... Nanti setelah pulang Sekolah, kita ke Dokter ya." Ucap Brayen mengingatkan Zela.


" Iya hubby." Jawab Zela membuat Brayen tersenyum dan langsung mencium kening Zela.


Tapi ciuman Brayen tidak hanya di kening, melainkan turun ke bibir Zela yang bisa saja berubah menjadi melum*tan bukan hanya sekedar morning kiss saja.


" Stop Kak, nanti kita telat." Gumam Zela yang melepaskan ciuman Brayen. Bukan maksud Zela menolak ajakan Brayen. Tapi memang sekarang bukan waktu yang tepat.


Brayen tersenyum, dia mengacak rambut Zela pelan.


" Love you." Ucap Brayen mengungkapkan isi hatinya kepada istri cantiknya.


" Love you too." Jawab Zela dengan senyuman cantiknya juga menggandeng Brayen untuk mereka menuju ke bawah.


Sampai di bawah seperti biasa Bunda Wina dan Pak Riko sudah menunggu di meja makan. Melihat kedatangan anak dan menantu cantiknya yang sedang hamil cukup tua membuat kedua orang tua paruh baya itu tersenyum hangat.


" Mau berangkat sekolah sayang?." Tanya Bunda Wina kepada Zela.


" Iya Bund... Zela pengen nikmati sisa sebulan ini." Jawab Zela yang di angguki oleh Bunda Wina.


" Nanti kalau anak kalian sudah lahir dan kamu masih pengen lanjutin sekolah. Tidak masalah Nak, nanti ada baby sister dan Bundamu yang membantu merawat." Jelas Pak Riko membuat Zela mengangguk.


" Terimakasih Yah." Jawab Zela yang di angguki oleh Pak Riko.


" Ray kamu kuliah hari ini?." Tanya Pak Riko yang di angguki oleh Brayen.


Pak Riko terkekeh melihat anaknya yang masih kuliah tapi sebentar lagi akan mempunyai seorang anak. Meksipun pada dasarnya Brayen cukup matang dan dewasa meskipun usianya masih begitu muda. Dan itu semua juga karena dirinya yang membuat anaknya akan menjadi seorang Ayah di usia mudanya, tentu saja karena ide Pak Riko dan Pak Adam yang menjodohkan anak mereka.


Setelah pamit, Zela turun dari mobil Brayen. Begitu juga dengan Brayen yang melajukan mobilnya menuju kampus depan Sekolah Zela.


Brayen sudah tidak sabar ingin segera memeriksa kandungan Zela nanti, tentu saja karena dia ingin mengetahui hasil USG calon anaknya nanti.


Sedangkan Zela kini berjalan menuju ke kelasnya. Dengan langkah yang begitu pelan karena perut Zela yang memang sudah terlihat menonjol.


Tidak lama dia berpapasan dengan Bintang yang sedang berjalan sendiri, Zela tersenyum ke arah Bintang, senyuman yang begitu canggung karena mengetahui bahwa Bintang pernah menyukainya dulu, jika sekarang Zela tidak tau seperti apa perasaan Bintang padanya, yang Zela tau Bintang seperti menghindar darinya. Dan Zela bersyukur karena Bintang bisa bersikap dewasa seperti itu.


Bintang juga membalas senyuma Zela, senyuman tampan yang tidak ada perubahan, masih sama seperti dulu.


Zela memasuki kelasnya. Tentu saja kedua sahabatnya sudah menunggunya seperti biasa, bahkan Vani sudah bersiap memberikan sebotl air mineral untuknya.


Baik Seli maupun Vani sekarang semakin perhatian kepada Zela, terkadang mereka ngilu sendiri melihat perut Zela yang sudah membesar, Zela yang dulu langsing dan sexy sekarang menjadi begitu berisi.


" Zel... Usia kandungan Lo sebenarnya berapa sih?." Tanya Vani membuat Zela mengernyitkan keningnya.


" 6 bulan lah, kan Lo tadi malam datang kan di acara syukuran calon anak Gue?." Tanya Zela yang dapat cengiran dari Vani.


" Jangan bilang Lo mikir yang aneh-aneh." Sambung Seli membuat Vani terkikik.


" Ya kali aja Lo ma Kak Ray nabung dulu sebelum ijab, secara perut Lo gede banget." Jawab Vani tanpa dosanya yang langsung dapat cubitan dari Seli.


Sedangkan Zela hanya menggelengkan kepalanya, dia sama sekali tidak sakit hati dengan ucapan Vani barusan. Tentu saja karena Zela tau bagaimana karakter seorang Vani yang juga asal mangap saja kalau bicara.


" Mana bisa sih Van mereka nabung dulu, mereka di jodohkan, dan ingat... Zela sama Kak Ray dulu adalah musuh, emang Lo sama Kak Xelo yang sekarang lengket terus, awas orang ketiga di antara kalian setan lho." Jelas Seli membuat Vani terkikik dengan pikiran anehnya tentang Zela.


" Dan setannya Lo Sel." Jawab Vani ngegas, membuat Zela dan Seli tertawa.


Ketiga gadis cantik itu masih sama konyolnya seperti dulu, tapi ada sedikit perubahan dalam diri Zela, kini Zela sedikit lebih dewasa, dan kadang malah menyiapkan segala keperluan Brayen untuk ke kampus. Tidak jauh berbeda dengan Pak Riko, Zela juga kadang ingin tertawa setiap melihat beberapa tumpukan buku kulian Brayen. Seorang Idola Kampus yang begitu banyak di gilai wanita sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah dari anaknya. Dan Zela juga sangat beruntung akan hal itu.


Brayen begitu dewasa meski terkadang konyol, Brayen selalu bisa menjaga hatinya meskipun banyak wanita yang mengantri menjadi madunya di luar sana.

__ADS_1


Like, Comment and Vote ya gaes, Vote... Vote...Vote... Big Thanks


__ADS_2