
Ketiga gadis cantik itu kini sudah berada di Butik Tante Carrol. Seperti yang sudah Zela janjikan kepada kedua sahabatnya untuk mengantarkan mereka memilih gaun yang akan di kenakan di hari pernikahan mereka nanti.
" Zel menurut Lo baguzan yang mana?." Tanya Seli yang sudah mengenakan gaun berwarna putih di depannya.
Zela menoleh ke arah Seli yang sedang menunggu pendapatnya.
" Emejing Sel, cantik parah Lo." Puji Zela membuat Seli tersenyum.
" Geli Gue ma bahasa Lo." Jawab Seli membuat Zela tertawa.
" Tapi emang bener kok apa yang di katakan Zela, kamu sangat cantik sayang dengan gaun ini." Puji Tante Carrol yang baru saja datang menemui mereka.
Zela dan Seli langsung memberi salam kepada Tante Carrol, sedangkan Vani sedari tadi sedang berada di toilet. Kebiasaan dia kalau sedang gugup selalu begitu, kalau tidak kentut ya akan mulas, aneh banget pokoknya kebiasaan buruk si Vanvan.
" Lho mana si tampan?." Tanya Tante Carrol kepada Zela.
" Masih di Kantor Tan." Jawab Zela seraya tersenyum.
Tante Carrol menggeleng seraya tertawa renyah.
" Maksud Tante baby Arsha sayang." Jelas Tante Carrol yang langsung membuat Zela cengo.
Astaga... Zela mengira jika Tante Carrol menanyakan keberadaan Brayen, tetapi ternyata malah anaknya.
" Owh... Arsha ikut Ayah ke Kantor tadi Tant, mungkin sekarang sudah pulang sama Bunda." Jawab Zela membuat Tante Carrol kembali tersenyum.
" Padahal Tante kangen banget sama itu anak, biar Tante suruh Maz Riko bawa ke sini ya kalau belum pulang." Jelas Tante Carrol yang di angguki oleh Zela.
Padahal jika nanti anaknya ke Butik Tante Carrol. Sudah dapat di pastikan jika Zela tidak akan jadi menemui Brayen di Kantornya. Kalaupun jadi juga pasti Dia akan membawa Arshaka atau mungkin malah rame-rame bersama kedua sahabatnya.
Tante Carrol mencoba menghubungi Pak Riko, tetapi ternyata Arsha sudah di bawa Bunda Wina ke Rumah Mamah Hana. Dan itu membuat Tante Carrol sedikit kecewa, tetapi memang Arsha banyak sekali yang menyayanginya, jadi banyak juga orang yang ingin menemani bermainnya.
" Dia lagi di rumah Kamu sayang sama Omanya." Jelas Tante Carrol kepada Zela.
" Owh.... Besok-besok aku ajak main ke sini Tant Arsha." Jawab Zela yang tidak tega melihat Tante Carrol menahan kangennya kepada anak tampannya.
__ADS_1
" Beneran ya sayang, Tante lagi sibuk banget belum bisa ke rumah." Jawab Tante Carrol yang di angguki oleh Zela dengan senyumnya.
" Maklum Tant, musim kawin jadi banyak yang milih gaun buat nikah." Ucap Vani tiba-tiba yang baru saja datang menghampiri mereka.
Zela dan Tante Carrol tertawa mendengar penuturan Vani barusan. Sedangkan Seli memang sedari tadi masih sibuk memilih-milih gaun yang akan di kenakannya. Karena bukan hanya satu atau dua gaun saja, Seli memilih beberapa gaun yang menurutnya paling pas dan paling indah dia kenakan.
Akhirnya Seli menemukan gaun yang menurutnya paling cocok di tubuhnya, tentu saja dengan bantuan Zela dan Vani juga pemilik butik Tante Carrol. bahkan Tante Carrol juga menyuruhnya untuk kembali lagi besok dengan Dimas calon mempelai prianya agar lebih muda nantinya.
Setelah Seli dan Vani mengantarkannya ke kantor Zafano. Zela langsung masuk ke dalam kantor. Karena sudah sore hari banyak karyawan Kantor yang sudah pulang. Jadi keadaan tidak begitu rame, meskipun masih banyak yang berhilir mudik dengan kerjaan mereka yang mungkin sedang lembur.
Banyak para karyawan kantor yang memberi salam kepada Zela. Seperti biasa Zela akan mengangguk seraya memberikan senyum kepada mereka.
Sampailah dia di depan pintu ruangan suaminya. Zela menghela nafasnya dalam. Rasanya seperti akan masuk ke dalam sarang musuh yang sudah menunggunya untuk di terkam.
" Tenang Zel, Lo udah sering ngelakuin ini." Gumamnya begitu pelan untuk menenangkan dirinya.
Tangannya mulai membuka pintu ruangan Brayen. Tetapi sebelum pintu terbuka, datanglah Dimas yang langsung mengagetkan Zela.
" Bu bos!." Panggil Dimas yang sebenanrya tidak begitu keras tetapi sangat mengejutkan Zela.
" Kak Dim, ngapain di sini?." Tanya Zela berusaha bersikap biasa saja.
" Mau nemuin Ray lah, kamu yang ngapain sore-sore ke Kantor?." Tanya Dimas menyelidik.
" Ya mau nemuin Kak Ray juga lah." Jawab Zela tidak mau kala.
Dimas tersenyum meremehkan, dia tahu maksud tersembunyi dari pasangan suami istri muda itu.
" Kalau mau celup-celup di hotel aja Zel, punya hotel mewah, milihnya di ruangan Kantor." Cibir Dimas yang langsung membuat Zela blushing tetapi juga kesal.
Dimas langsung masuk ke ruangan Brayen tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Itu kebiasaan Dimas memang.
Begitu juga dengan Zela yang ikut masuk di belakang Dimas dengan wajah merahnya, menahan malu dan juga kesal pastinya dengan ucapan Dimas barusan.
Brayen menghampiri mereka berdua, tetapi dia melewati Dimas yang berada di depannya, dan menghampiri Zela yang berada di belakang Dimas.
__ADS_1
Brayen langsung memberi kecupan di bibir Zela, bahkan berniat untuk ******* bibir manis istrinya, sontak saja Zela terkejut dan langsung menjauhkan bibirnya dari Brayen.
Dimas menghela nafasnya, tadi dia sempat melihat sekilas pemandangan yang seharusnya tidak menjadi tontonan itu.
" Sabar Dim sebenatr lagi, tahan." Gumam Dimas kepada diri sendiri.
" Kak Ray." Kesal Zela seraya memukul dada bidang Brayen dengan pelan.
Brayen tersenyum tampan kepada Zela, membuat Zela benar-benar tidak habis pikir dengan suaminya yang tidak ada malunya di depan sahabatnya.
Tetapi memang seperti itu sih sifat Brayen.
" Nggak ada ahlak Lo Ray." Ucap Dimas yang hanya di tanggapi Brayen dengan senyuman mengejek.
" Lo sendiri yang ke sini, sana pergi mengganggu saja." Usir Brayen kepada Dimas.
Dimas menggeleng, tangannya menunjuk Brayen seraya tersenyum.
" Bast*rd Lo." Ucap Dimas seraya pergi dari ruangan Brayen.
" Sama istri nggak menjadi masalah." Jawab Brayen membuat Dimas yang sudah berada di pintu kembali menghentikan langkahnya.
" Ingat Ray Lo punya hotel mewah." Cibir Dimas lalu kembali melangkahkan kakinya keluar.
Setelah kepergian Dimas, Brayen tersenyum tampan ke arah Zela yang sedang membalas pesan Zifa yang menyuruhnya untuk pulang ke rumah.
" Waktunya untuk kita yang." Bisik Brayen yang sudah memeluk Zela seraya mengecup kening Zela.
Zela mendongak menatap wajah tampan Brayen, dia tersenyum seraya mengangguk, manik matanya begitu dalam menatap manik mata Brayen.
Sesuatu yang sedari tadi sudah sangat dia inginkan akan segera terjadi, mengingat percakapan di antara teman-teman kampusnya tadi membuat Zela kesal.
Bahkan tanpa di sadari, Zela lebih dulu menyerang dengan mencium Brayen begitu lembut, sampai berubah menjadi ciuman yang dalam dan hangat di antara mereka.
Sore ini akan menjadi waktu yang panjang untuk mereka, ruangan kantor Brayen yang akan menjadi saksi kedua pasangan suami istri itu sama-sama melepas hasrat sampai mencapai kenikmatan bersama nanti.
__ADS_1