
Sekitar jam 8 pagi. Brayen dan Dimas sampai di bandara. Dengan semangat tinggi Brayen berjalan menuju mobil yang sudah menjemputnya. Tentu saja karena Brayen belum mengetahui tentang apa yang sudah Dimas lakukan kepadanya, apa lagi namanya kalau bukan Dimas yang sudah berkhianat dengan Brayen.
Bahkan dalam bayangan Brayen Zela sedang menangis tersedu karenanya, membayangkan hal itu membuat Brayen tersenyum dan tidak sabar untuk bertemu dengan Zela.
" Dim.. Anterin Gue ke mall yuk.." Ajak Brayen yang membuat Dimas menoleh dengan mengernyitkan keningnya.
" Mau ngapain...? " Tanya Dimas kepada Brayen.
" Nanti Lo juga tau.." Jawab Brayen singkat, sambil terus menampilkan senyuman tampannya.
Brayen sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Zela, meskipun Dia mengerjai Zela dengan candaan di atas kewajaran, tapi Brayen juga ingin membelikan sesuatu untuk Zela, sebagai hadiah karena dia sudah mengerjai istri cantiknya.
" Jangan aneh-aneh dong Ray.." Ucap Dimas mengingatkan Brayen.
" Nggak aneh.. Ini tuh akan membuat Zela jadi semakin sayang ma Gue.." Jawab Brayen songong.
Mobil melaju menuju Mall besar di kota mereka. Setelah sampai di tempat tujuan. Brayen dan Dimas segera masuk ke dalam Mall. Bahkan beberapa Orang yang menyadari kedatangan Brayen langsung berlari menuju ke arah Brayen dan Dimas.
Membuat Dimas mau tidak mau menarik Brayen dengan cepat, agar tidak harus berlama menanggapi Orang-orang yang pasti ingin meminta foto dengan Brayen, siapa lagi kalau bukan para kaum hawa juga Ibu-Ibu yang sedang berkunjung di Mall. Meskipun Brayen bukanlah artis ataupun modelis tapi ketampanan dan kekayaan Brayen yang merupakan anak dari Riko Zafano membuatnya banyak di kagumi dan di ketahui banyak Orang.
Bahkan Brayen begitu sukses di usia yang terbilang masih begitu muda untuk seorang lelaki, tanpa nama Ayahnyapun Brayen memanglah sudah sukses di bisnis perhotelannya, di tambah dengan nama Ayahnya Riko Zafano yang merupakan pembisnis sukses membuat Brayen sangat sangat di kagumi seorang wanita.
Terlebih ketika pernikahannya dengan Zela di umumkan, itu membuat Brayen begitu di kenali semua orang yang ada di kota bahkan negaranya.
Brayen dan Dimas masuk ke dalam toko pakaian lelaki, dengan segera Brayen membeli baju juga topi untuk menutupi dirinya agar tidak mudah di kenali oleh wanita wanita yang mengidolakannya.
" Gila.. Lo melebihi artis Ray di sini.." Ucap Dimas dengan nafas yang masih sedikit ngos ngosan.
" Gimana penampilan Gue..?? " Tanya Brayen tanpa menjawab perkataan Dimas barusan.
Dimas memandang Brayen dari atas sampai bawah.
" Lumayanlah sekarang.." Jawab Dimas yang di acungi jempol oleh Brayen.
" Fans Lo nggak kayak biasanya deh Ray.. Biasanya juga senyum sama Lo udah cukup.." Jelas Dimas yang di jawab Brayen dengan mengangkat bahunya.
Mereka keluar dari toko baju setelah penampilan Brayen cukup meyakinkan untuk mengelabuhi fans fanatik Brayen. Bagaimana tidak fanatik jika tadi yang mengejar mereka kebanyakan adalah para Ibu-Ibu.
" Ayo.. Cepet anterin Gue.." Ajak Brayen kepada Dimas.
Brayen mengajak Dimas menuju ke sebuah toko perhiasan, tentu saja Dimas mengernyitkan keningnya bingung, meskipun Dimas tau jika Brayen akan membelikannya untuk Zela, tapi dalam rangkan apa, Dimas masih dengan bingungnya.
" Lo mau beliin Zela..?? " Tanya Dimas yang di angguki oleh Brayen.
" Ray... Gue rasa ini berlebihan deh.. Gue ngerasa Zela itu nggak suka perhiasan seperti ini.." Jelas Dimas membuat Brayen sedikit kesal.
" Lo tau apa tentang Zela..?? Gue kan suaminya.. Gue lebih tau tentang Zela.." Jawab Brayen dengan nada sedikit kesal.
" Astaga Ray.. Susah ngomong ma Lo.. Gini ya Lo pernah liat Zela pakai begituan nggak selain kalung yang Lo kasih pas sweet seventeennya Dia..?? " Tanya Dimas membuat Brayen seketika terdiam.
Apa yang di katakan oleh Dimas memang ada benarnya, Brayen berfikir sejenak. Dia memikirkan apa yang harus di belikannya untuk Zela.
Dimas yang melihat tingkah Brayen hanya menggelengkan keplanya.
" Jam tangan aja gimana..?? " Usul Dimas kepada Brayen.
Seketika membuat Brayen tersenyum senang, memang ada baiknya Dia kemana mana selalu mengajak Dimas. Pikir Brayen.
Mereka berdua akhirnya pergi ke sebuah toko jam tangan dengan merek terkenal, sudah bisa di pastikan jika toko yang Brayen kunjungi adalah toko untuk kalangan kelas elit saja.
" Gimana Kak.. Ada yang bisa saya bantu..??? " Tanya seorang pegawai di toko tersebut.
" Tolong ambilkan jam tangan wanita yang paling bagus dan mahak ya Mbak.." Jawab Brayen menyuruh kepada pegawai itu.
Pegawai itu mengamati gelagat Brayen yang aneh, tentu saja karena Brayen memakai jaket tebal dengan topi dan terus menundukan kepalanya.
Merasa di perhatikan oleh pegawai toko itu. Brayen membuka topinya sambil tersenyum tampan ke arah pegawai itu, seketika membuat pegawai toko melotot tidak percaya jika orang aneh yang sedang berdiri di depannya ini adalah Brayen Zafano lelaki tampan dan tajir yang begitu di gandrungi banyak wanita.
Sekali lagi Dimas hanya menggelengkan kepalanya dengan kelakuan Brayen, tapi apa yang di lakukan oleh Brayen sekarang ini memang ada benarnya.
" Tu... Tuan Brayen... Astaga..." Gumam pegawai toko melihat keberadaan Brayen.
Membuat salah satu karyawan yang lain menoleh ke arah Brayen dan sama terkejutnya denga pegawai yang tadi.
" OMG.. Cakep parah..." Gumamnya pelan.
" Sssttt... Kalian cepat layani aku.." Suruh Brayen yang membuat kedua pegawai itu langsung mengangguk.
Sedangkan Dimas semakin melotot dengan ucapan Brayen yang terdengar konyol itu, Brayen menjadi berubah hanya karena sempat menahan rindu berada jauh dari Zela.
__ADS_1
" Maksud Dia.. Tolong kalian layani karena dia mau beli jam tangan di sini.. Secepatnya ya.." Suruh Dimas yang langsung di angguki oleh kedua pegawai itu.
Dengan segera kedua pegawai itu menunjukan 3 buah jam tangan dengan model dan harga yang berbeda tentunya.
Setelah memilih jam tangan yang di rasa paling bagus juga paling mahal di toko itu Brayen tersenyum ke arah Dimas, dengan senyuman setampan mungkin, tapi tentu saja selalu terlihat menyebalkan untuk Dimas akhir akhir ini.
Dimas merasa ada yang janggal, juga hatinya merasa tidak enak, sudah di pastikan ada sesuatu yang tidak beres pastinya.
" Dim.. Gue nggak bawa dompet.." Ucap Brayen seenaknya yang sukses membuat Dimas melotot dengan kesal.
Dimas menunjuk dirinya. Dan di angguki oleh Brayen dengan terus menampilkan senyum mautnya untuk kaum hawa tapi tidak dengan Dimas yang semakin kesal dengan ulah konyol Brayen.
Tidak mau berdebat dan berlama lama di dalam toko, dengan segera Dimas memberikan kartu kreditnya kepada pegawai itu.
Jam tangan yang Brayen belikan untuk Zela cukup mahal, bahkan cukup menguras kartus kredit Dimas, tapi tidak masalah karena Brayen sudah pasti akan memberikan yang lebih untuk dirinya, Dimas hanya kesal dengan ulah Brayen yang konyol.
Pulang begitu saja dari New York ke Indonesia dan membelikan jam tangan tanpa membawa dompet ataupun uang cash.
Fix... Brayen benar-benar lelaki tampan yang paling konyol di dunia, dan bucin setang mati dengan seseorang yang dia sayangi. Siapa lagi kalau bukan istrinya.
Setelah selesai dengan pembayaran, kedua lelaki tampan itu pergi dari toko tersebut. Tapi kedua pegawai toko itu sedari tadi sudah menginginkan untuk bisa berfoto dengan Brayen.
" Kak.. Boleh minta fotonya..?? " Tanya salah satu dari mereka.
Tentu saja dengan wajah di buat sememelas mungkin.
Brayen menatap Dimas, lalu mengangguk ke arah mereka.
" Tapi hanya kalian.." Ucap Brayen yang langsung dapat anggukan dari kedua pegawai itu dengan semangat.
" Terimakasih Kak.. Terimakasih banyak.." Ucap pegawai itu yang di angguki oleh Brayen dan Dimas. Tentu saja Dimas juga ikut melalukan sesi foto itu haha.
Brayen tidaklah mau sendiri berfoto dengan seorang wanita, dia akan menjaga hati Zela meskipun sebenarnya Zela tidaklah akan tau.
Mereka pergi dari toko jam tangan itu. Sedangkan kedua pegawai itu langsung memberitahukan kepada pegawai yang lain setelah Brayen dan Dimas pergi.
Kedua pegawai itu memarkan beberapa fotonya dengan Brayen, membuat teman pegawai yang lain begitu terkejut dan kecewa tidak bisa melihat ketampanan Brayen Zafano secara langsung.
Mobil Brayen memasuki pelataran rumah mewahnya, mereka sudah sampai di kediaman keluarga Zafano.
Saat mereka masuk ke dalam, rumah dalam keadaan begitu sepi. Hanya ada satu pelayan yang bertugas menjaga rumah. Bahkan Dimas juga bingung karena ini.
" Bi... Istri aku dimana..?? Bunda dan juga Ayah..??? " Tanya Brayen mengira jika Zela tidaklah mungkin akan Sekolah jika kemarin mendengar Dia kecelakaan di New York.
" Non Zela.. Tuan muda..." Ucap Bibi dengan nada yang sudah gemetar.
" Kenapa dengan istri saya Bi..?? " Tanya Brayen yang sudah mulai cemas.
" Non Zela... Di bawa ke rumah sakit.." Jelas pelayan itu sambil mengeluarkan air matanya.
Sontak saja membuat Brayen teridam dan lemas mendengar apa yang pelayan rumahnya katakan.
Sedangkan Dimas mulai mengerti dengan permainan yang sedang Zela lakukan.
" Zela kenapa Bi..?? " Tanya Dimas sengaja kepada pelayan itu.
" Nona Zela pingsan mendengar Tuan Brayen kecelakaan.. Tapi kenapa Tuan Brayen... Ini....??? " Ucap pelayan itu dengan nada di buat sesedih dan seterkejut mungkin melihat keadaan Brayen.
Fix... Pelayan rumah Zafano juga sangat pintar sekali berakting.
" Baik Bi terimakasih.." Ucap Dimas yang langsung mengajak Brayen untuk segera ke rumah sakit Zafano tentunya.
Rumah sakit milik keluarga mereka.
Sedangkan Brayen masih saja dengan diamnya, bahkan rasanya separuh jiwanya sudah pergi, ini karena kebodohannya, ini karena kekonyolan Brayen sendiri.
" Akhhh....." Kesal Brayen membanting ponselnya.
Brayen mengacak rambutnya lalu melepas jaket yang dia kenakan tadi.
Dimas melirik Brayen yang terlihat begitu kacau dan menyedihkan, jujur saja Dimas sangat ingin tertawa sekencangnya, tapi tentu saja Dimas juga harus mendalami sandiwaranya bersama geng Zela dan Bunda Wina.
" Ray... Cukup.." Ucap Dimas berusaha menenangkan Brayen.
" Ini karena Gue Dim.." Jawab Brayen frustasi.
emang karena lo.. batin Dimas terkikik.
Brayen memejamkan matanya, dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istrinya, dengan seseorang yang membuatnya kacau, seseorang yang membuatnya gelisah, juga seseorang yang sangat dia rindukan selama beberapa hari ini.
__ADS_1
Sedangkan di Sekolah. Zela, Seli dan juga Vani sedang berada di kantin Sekolah. Mereka ingin tau bagaimana reaksi Idola Kampus dan Sekolah mereka yang sekarang ini sedang di kerjain oleh mereka.
Membayangkan muka Brayen membuat Zela ingin tertawa, Zela begitu kesal dengan Brayen yang begitu berlebihan mengerjainya, tapi jauh di lubuk hatinya Zela sangat merindukan sosok menyebalkan itu.
" Tebak.. Kak Ray sekarang lagi ngapain..?? " Tanya Zela kepada kedua sahabatnya.
" Nangis..." Jawab Vani semangat.
" Dih... Nangis.. Menurut Gue Kak Ray lagi gundah gulana... Kak Ray lagi otw rumah sakit.." Jelas Seli sambil berbisik.
Membuat Zela langsung tertawa, begitu juga dengan Vani.
" Ha..ha..ha.. Gue rasa juga begitu.." Jawab Zela.
" Zel.. Emang Lo nggak kangen apa ma Kak Ray..?? Secara Lo kan abis di tinggal.." Cletuk Vani yang langsung membuat Zela terdiam.
" Jujur ya.. Gue tuh kemarin kangen...banget, Bahkan baru berapa jam di tinggal rasanya udah kayak sewindu tau nggak.. Tapi Gue kesel juga sama Kak Ray yang akhir-akhir ini aneh banget..." Jelas Zela yang di angguki kedua sahabatnya.
" Ha..ha..ha.. Gue nggak nyangka kalian pas pisah saling ngegalau eh.. Pas mau ketemu malah saling perang gini.." Jelas Vani membuat Zela tertawa.
" Gue juga nggak nyangka.. Gue kesel banget sumpah.. Tapi Gue juga pengen meluk Kak Ray.." Jawab Zela dengan jujur sambil malu-malu.
" Ciee.. Yang ternyata kangen.. Tapi pakai acara balas dendam segala.." Ledek Seli yang hanya dapat cengiran dari Zela.
Sampai akhirnya Bintang dan juga teman temannya datang menuju kantin. Bintang menatap Zela yang di jawab Zela dengan senyuman sekilas.
" Zezel.. Kayaknya Kak Bintang masih ada rasa deh ma Lo.." Ucap Vani pelan kepada Zela.
" Rasa asin apa rasa manis Van...?? " Tanya Seli kepada Vani.
" Rasa manis, asin dan asem.." Jawab Vani cekikikan.
" Permen dong itu.." Jawab Seli membuat mereka tertawa.
Sedangkan Zela hanya menggelengkan kepalanya dengan perkataan kedua sahabatnya. Jujur saja Zela sangat ingin bertemu dengan Brayen, Zela sudah begitu rindu dengan suaminya, mendengar Brayen yang memang sudah sampai di Indonesia membuat rasa rindu yang Zela rasakan seperti tidak tertahankan lagi. Tapi Zela harus sabar sampai sandiwara ini terselesaikan dengan baik.
Terlebih semua ini juga atas ide Bunda Wina sendiri yang ingin memberi pelajaran untuk anaknya.
Hufh.... Zela menghela nafasnya.
" Kak Ray.. Miss you.." Gumam Zela sambil tersenyum karena membayangkan wajah tampan suaminya.
" What..??? Nggak salah denger kan Gue barusan..?? " Ucap Vani mendengar apa yang Zela katakan barusan.
" Lo kangen tapi kesal.. Tahan sampai permainan ini selesai ya Zel.." Sambung Seli membuat Zela malu karena ketahuan oleh kedua sahabatnya jika dia memang merindukan Brayen.
Dan Zela tidak bisa menyembunyikan itu.
Sampai akhirnya Bunda Wina menelfon Zela, Bunda Wina memberitahukan jika Brayen saat ini sedang mondar mandir di depan ruangan yang di buat mereka sebagai ruang inap Zela saat ini.
Bahkan Bunda Wina mengatakan jika Brayen sampai menangis di pelukan Bunda Wina, Brayen meminta maaf atas semua kekonyolannya.
Brayen sampai memarahi Dokter untuk cepat menangani Zela agar cepat sadar, yang Brayen tau saat ini Zela sedang tidak sadarkan diri karena ulahnya.
Mendengar itu membuat Zela ingin tertawa tapi juga terharu. Tanpa Zela sadari air matanya jatuh begitu saja.
Membuat Seli dan Vani langsung mengajak Zela menuju ke kelas mereka. Bintang yang melihat Zela hanya memendam rasa penasaran dengan apa yang terjadi kepada Zela sampai membuat Zela menangis.
Sampai di kelas Zela semakin menangis, maklum mood Ibu hamil memang gampang sekali berubah.
" Lo kenapa Zel..?? " Tany Seli khawatir.
" Kak Ray beneran kecelakaan..?? " Tanya Vani yang sudah kembali di mode awal.
Tentu saja karena tidak ada Xelo di dekatnya.
Zela menggeleng, tapi masih dengan tangisnya membuat Seli dan Vani semakin bingung.
" Zel.. Katakan.." Ucap Seli kepada Zela.
" Gue nggak tahan pengen ketemu Kak Brayen.." Jawab Zela yang sukses membuat Seli dan Vani saling pandang terkejut.
" Astaga.. Zezel..." Ucap mereka barengan.
Meskipun Zela kesal dengan apa yang sudah Brayen lakukan, tapi rasa rindu untuk Brayen lebih besar dari rasa kesalnya, dari amarahnya terhadap Brayen, dan Zela tidak bisa memungkiri itu semua.
Brayen terlalu berharga untuk Zela, dan selamanya akan tetap begitu...
Jangan Lupa Like, Comment and Vote ya Kak..
__ADS_1
Hayo... Aku tau lho yang Vote sama yang nggak.. Ha..ha..ha..
Big Thanks buat kalian yang udah lakukan seperti permintaanku di atas.. 😘😘