
3 bulan menjadi seorang mahasiswi di Kampus barunya. Zela, Seli, dan Vani kembali menjadi idola baru di kampus mereka. Sama seperti ketika mereka menjadi idola di sekolah mereka untuk para siswi dulu.
Seperti yang sudah di rencanakan mereka di waktu lalu, mereka melanjtukan kuliah dengan berbeda kampus dari Brayen dan kedua sahabatnya Dimas dan Xelo.
Bahkan sekarang Brayen, Dimas dan Xelo juga sudah jarang ke kampus. Mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, terlebih tinggal menunggu beberapa minggu lagi Dimas dan Seli akan melangsungkan pernikahan, begitu juga dengan Xelo dan Vani yang akan melangsungkan pernikahan 2 minggu setelah Dimas dan Seli.
Zela sedang bersiap-siap ke Kampusnya. Hari ini Dia akan berangkat bersama Seli dan Vani dengan satu mobil.
" Sudah mau berangkat yang?." Tanya Brayen yang baru saja selesai ngegym.
Zela mengangguk, lalu menghampiri suami tampannya yang pagi-pagi sudah terlihat sangat menggairahkan.
" Hari ini aku pulang telat ya Kak, mau nemenin Seli buat beli sofenir." Jawab Zela seraya merangkulkan tangannya di leher Brayen.
Padahal jelas Brayen sedang berkeringat, tetapi seakan tidak menjadi masalah bagi Zela, toh di luaran sana banyak sekali wanita-wanita yang menginginkan posisinya sekarang ini.
" Oke, pulang ke kantor ya yang." Jawab Brayen seraya menatap Zela dengan tatapan menggoda.
Zela tersenyum, dia tahu maksud Brayen yang memintanya untuk ke kantornya.
" Ada maunya pasti." Jawab Zela seraya menarik hidung mancung Brayen.
Brayen hanya tersenyum lalu mengecup kening Zela.
Sudah beberapa kali mereka memang melakukan pelepasan di ruangan kantor Brayen. Ntah kenapa sensasi yang mereka dapatkan berbeda seperti biasanya ketika mereka melakukannya di kamar. Apa lagi Arshaka yang sudah semakin besar dan pintar, sekarang mereka harus pintar-pintar mengambil waktu untuk berdua saja.
Arsha sangatlah posesif terhadap Zela, terkadang jika Brayen dekat dengan Zela saja, Arsha sudah langsung memelototi Brayen untuk menjauh dari Mommy nya. Jelas apa yang di lakukan oleh Arshaka itu sangatlah lucu menurut orang-orang yang berada di sekitarnya.
" Jangan nakal ya di Kantor." Ucap Zela seraya memainkan bibir indah suaminya.
" Nakalnya nanti dong nunggu kamu datang." Jawab Brayen membuat Zela gemas dan langsung mencubit pinggang Brayen.
" Jangan tebar pesona sama anak-anak dari rekan bisnis Ayah, mereka kan sering banget post foto Kak Ray." Ucap Zela lagi, mengingat beberapa anak dari rekan bisnis Pak Riko yang diam-diam mengambil foto Brayen ketika sedang rapat bersama.
__ADS_1
" Kamu jealuose yang?." Tanya Brayen sengaja menggoda Zela.
" Nggak, tapi nggak suka aja." Jawab Zela mengelak.
Brayen tersenyum, lalu bergantian menarik hidung mancung Zela.
" Tidak akan sayang." Jawab Brayen kembali mengecup Zela, tetapi bukan di kening seperti tadi, melainkan di bibir manis Zela.
Sebenarnya Brayen jarang masuk ke kampusnya karena fans-fans nya yang begitu fanatik. Mereka tahu jika Brayen dan Zela tidak satu kampus. Alhasil malah membuat mahasiswi di kampusnya semakin mengejar hot Daddy itu.
Bahkan beberapa gadis cantik dari anak rekan bisnisnya di hotel juga ada yang dengan sengaja pindah ke Kampus Zafano. Semua demi untuk mengejar cinta Brayen. Tetapi kini Brayen dan Zela sudah semakin dewasa, mereka bisa menyikapi apapun permasalahan yang ada, apa lagi hanya kerikil dari luaran sana yang mencoba masuk ke dalam rumah tangga mereka yang begitu berharga seperti berlian.
Kerikil itu tidak akan mungkin bisa.
" Mumy Dad." Panggil Arsha melihat kedua orang tuanya yang baru saja turun.
" Sayang, Mommy kuliah dulu ya? Nanti main sama Mommy oke?." Ucap Zela kepada bayi tampan yang tiba-tiba mengembungkan pipinya karena jawaban Zela.
Arshaka ini bayi yang sangat cerdas, dia sudah bisa di ajak berbicara dan bercerita seperti anak di atas usianya.
" Sini Mommy gendong dulu." Ucap Zela seraya akan menggendong bayi tampannya.
" No." Jawab Arsha seraya tangannya mengisyaratkan agar Zela tidak menggendongnya.
Arshaka malah berlari menuju Omanya yang sedang tertawa melihat interaksi di antara mereka.
" Ndong Oma." Ucap Arsha meminta Bunda Wina untuk menggendongnya.
" Sini sayangku, kenapa ngambek sama Mommy?." Tanya Bunda Wina kepada Arshaka.
Arsha menoleh ke arah Zela yang sedang menatapnya, lalu kembali menatap Bunda Wina yang kini sedang menggendongnya.
Bayi tampan dan pintar itu menggeleng, tetapi mata bulatnya sudah berkaca-kaca, astaga... Melihat itu membuat Bunda Wina jadi tidak tega dengan cucu kesayangannya.
__ADS_1
" Sayang kamu hari ini nggak masuk kuliah dulu, kasian Arsha sepertinya minta di temani kamu." Ucap Bunda Wina kepada Zela.
" Ba.." Jawab Zela yang langsung terpotong karena ucapan Brayen.
" Tidak bisa Bund, hari ini Zela juga sudah janji ingin menemani Seli, iya kan sayang?." Jawab Brayen membuat Bunda Wina menggelengkan kepalanya.
Brayen sengaja menolak karena jika Zela tidak jadi ke kampusnya. Itu berati Zela juga tidak jadi menemuinya di Kantor. Sudah dapat di pastikan jika rencana mereka untuk nananina akan tertunda lagi.
Brayen sudah begitu menginginkan, sekarang mereka jarang melakukannya dan itu semua karena sikap posesif Arshaka terhadap Mommy nya.
" Daddy akal." Ucap Arsha menatap tajam ke arah Brayen.
Sontak saja semua yang berada di sana tertawa, begitu juga dengan Pak Riko yang baru saja datang dari kamarnya.
" Pria kecil Opa, nanti kita jalan-jalan saja ya beli mainan yang banyak, pakai mobil Daddy lambo." Ucap Pak Riko berusaha merayu Arshaka.
Tidak di sangka bayi tampan dan pintar itu langsung mengangguk setuju, bahkan Arshaka sempat memeletkan lidahnya ke arah Brayen yang sedang memijit pelipisnya karena anak tampannya yang begitu memusuhinya.
Arshaka paling suka di ajak jalan-jalan dengan mobil mewah Brayen. Seperti orang dewasa saja dia sudah mengerti mana mobil yang mahal dan biasa saja.
" Anak kamu itu yang." Bisiki Brayen kepada Zela.
Zela tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
" Dia itu sangat mirip sekali denganmu Ray, menggemaskan waktu kecil." Ucap Bunda Wina kepada Brayen.
" Tapi aku tidak pernah musuhin Ayah seperti Arsha musuhin aku Bund." Jawab Brayen membuat Bunda Wina tertawa.
" Kata siapa? Justru kamu lebih parah dari Arshaka, sampai terkadang Ayahmu malas untuk mengajak jalan-jalan kamu." Jelas Bunda Wina membuat Zela tertawa.
" Benar Ray, pria kecil yang tampan ini benar-benar versi kamu kecil." Sambung Pak Riko lalu menciumi Arshaka yang sudah berada di gendongannya.
" Sabar Kak ini ujian." Bisik Zela lalu tertawa meledek Brayen.
__ADS_1
Brayen menatap Arshaka yang sedang menampilkan wajah permusuhan dengan Brayen. Lalu menatap Zela yang sedang tertawa ngakak meledeknya.
Awas kamu yang, habis kamu nanti di ruanganku Batin Brayen seraya menatap Zela dengan tatapan penuh arti.