Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Mau Tapi Malu


__ADS_3

Tukk.. Tukk... Tukk...


Zela mengetuk ngetukan remot tv yang sedang di mainkannya.


Jam sudah menunjukan pukul 10 malam, tapi Zela masih enggan untuk menuju ke kamarnya.


Sudah banyak yang Brayen dan Dimas bahas, tapi masih saja Zela tidak mengerti arah pembicaraan mereka.


Sampai membuat Zela benar benar kesal sendiri.


Dengan penuh keberanian Zela bertanya kepada Brayen, tentu saja karena Zela sudah merasa penasaran di level akhir.


" Kak.. Dari tadi pada bahas apa sih..?? Penasaran nih.." Ucap Zela membuat kedua lelaki tampan di depannya itu menoleh ke arahnya.


" Ya seperti yang kamu dengar yank.." Jawab Brayen membuat Zela mendengus kesal karena tidak puas dengan jawaban Brayen.


Akh.. Seharusnya Zela tau.. Jika bertanya pada Brayen pasti akan begini jawabannya.


" Dari tadi nguping Zel..?? " Tanya Dimas membuat Zela tersenyum kikuk.


" Nggak ada niat Kak buat nguping, tapi gatel juga nih dari tadi dengerinnya.." Jawab Zela jujur.


" Cih... Sama aja itu Nyonya Brayen.." Jawab Dimas yang malah membuat Zela malu dengan rona merah dipipinya.


Jujur saja tidak pernah ada yang mengatakan " Nyonya Brayen " kepada dirinya kecuali Vani yang sering meledeknya dengan sebutan Nyonya Zafano.


Bagaimana ada yang mengatakannya, jika pernikahan mereka saja masih dirahasiakan.


Tapi sungguh perkataan Dimas barusan membuat Zela senang dan malu, Brayen juga Dimas yang bisa melihat muka merah Zela hanya tersenyum tipis.


" Yank.. Belum ngantuk..?? " Tanya Brayen tiba tiba untuk mengalihkan perhatian agar Zela tidak malu juga tidak tanya dengan apa yang sedang mereka obrolkan.


" Belum Kak.. Mau nemenin kakak.." Jawab Zela yang ntah kenapa seketika rasa malunya hilang begitu saja.


Sekali lagi, Bumil memang gampang sekali moodnya berubah.


" Bentar ya yank.. Nunggu nih orang pulang.." Jawab Brayen plus menyindir Dimas, seperti mengusirnya.


Zela mengangguk sambil tersenyum manis, juga dengn jari yang dibentuk OK.


" Ck.." Decak Dimas kesal.


" Ngusir loe ray..?? Nggak mempan gue belum mau balik..." Sambung Dimas dengan PDnya.


" Nggak tau malu.." Jawab Brayen singkat dengan menyunggingkan senyumnya.


" Udah akh.. Dari pada berantem terusin aja.. Aku juga udah nggak mau kepo.. Dan ingat Kak Dimas kalau udah selesai langsung balik, ini udah waktunya suami istri buat tidur.." Jelas Zela membuat Brayen tersenyum, sedangkan Dimas geleng geleng kepala dengan perkataan Zela barusan.


" Tega banget loe Zel ngusir kakak.. Gue doain anak kalian mirip gue..." Ucap Dimas dengan penun kepercayaan diri yang tinggi.


" Amit.. Amit.. Daddynya aja tampan,


Masa mau turun level tampannya..?? Jawab Zela yang sukses membuat Brayen tertawa terbahak, sedangkan Dimas benar benar kalah talak dengan jawaban Zela barusan.


Oke.. Untuk urusan itu, Dimas memang kalah dari Brayen, tapi untuk urusan mengambil hati wanita mungkin Dimas lebih menguasai dari pada Brayen.


Atau itu hanya pikiran Dimas saja, yang belum mengerti bagimana perlakuan Brayen kepada Zela.


Jika Dimas sudah mengetahui tentu saja Brayen akan mengalahkan Dimas dalam segala hal.


Kembali Zela fokus pada layar besar di depannya, sedangkan Brayen kembali fokus dengan Dimas.


Zela yang merasa bosan dengan acara tv, akhirnya memainkan ponselnya yang sedari tadi dia lupakan.


Zela mulai membuka pesan di grup wa yang berisi tiga gadis The Most Wanted SMA mereka.


Zela terkikik geli dengan obrolan Seli juga Vani sedari tadi, meskipun hanya beranggotakan tiga orang tapi tetap saja setiap malamnya rame dengan ocehan mereka.


Ntah dorongan dari mana, Zela memotret Dimas untuk dikirimkannya ke grup wa mereka, tentu saja dengan tujuan agar Seli tau.


Dan benar saja grup wa mereka semakin gaduh, tentu saja Vani yang membuat suasana grup wa rame seperti konser ketikan kata kata.


Vani


wah...wah...malam malam gini Kak Dimas di apartemen zela... sikat sel...sikat...


Seli


sikat..?? pake mesin cuci aja vani sayang... ribet amat..


zela


ha...ha..ha...ada yang mulai kesal nih kayaknya..😁😁


vani


iya beb... maklum malam ini libur nggak VClan dulu 😜


seli


woy..telinga gue panas kampret.. 😤😤


zela


ehemm... ampun mak...✌️


vani


tempelin es gih.. biar dingin 😝


seli


seriusan loe pada nyebelin deh..😔


Zela


gue yakin loe lagi kangen berat sama Kak Dimas, makanya gue fotoin.. 😄


vani


aku rindu setengah mati kepadamu.. du..du..du..


Seli

__ADS_1


berisik...


zela


suara loe cempreng van..


vani


kampret.. 👊👊


seli


bobo dulu ya gaes... dadah.... mmuachhh 😘😘😘


Vani


emmmuuuachhhhhh... love kalian 😘😘😘😘😘😘🤗🤗🤗🤗


seli


Ikh.. lesbi..


Vani


nggak romantis loe.. 😒


Ya begitulah kira kira setengah dari isi chat mereka, membuat Zela terus tertawa sambil memainkan ponselnya.


Brayen dan Dimas menoleh ke arah Zela bingung, tapi mereka kembali fokus pada permasalahan.


" Oke.. Jadi besok kita adakan meeting aja Dim.. Kita juga ada saksi Pak Rendy.." Ucap Brayen serius kepada Dimas.


" Loe yakin ray..?? Kalau Ayah tau apa tidak apa apa..??? Tanya Dimas mencoba meyakinkan Brayen.


" Itu urusan gue nanti..." Jawab Brayen mantab membuat Dimas mengangguk pertanda setuju.


" Udah sono balik.." Usir Brayen tiba tiba.


" Oke..oke.. Gue juga mau balik.. Silahkan kalian bertempur..Pesan gue pelan pelan saja kasihan calon ponakan.." Jawab Dimas membuat Brayen tersenyum kesal kearahnya.


" Kak.. Dimas..... Pergi...!!! " Usir Zela yang udah siap melemparkan bantal sofa ke arah Dimas.


" Kabur...." Jawab Dimas sambil ngacir keluar juga dengan terkikik geli.


Kini suasana kembali sepi, tapi karena memang sudah begitu larut malam.


Brayen tersenyum ke arah Zela, begitu juga dengan Zela yang tersenyum ke arah Brayen.


Mereka menuju ke kamar untuk menuju ke alam mimpi.


Sampai di kamar Zela segera merebahkan tubuhnya, diikuti oleh Brayen dari sampingnya.


" Kalau ngantuk harusnya tidur dulu yank.." Ucap Brayen yang merasa kasihan karena Zela harus menunggunya begitu lama.


" Nggak ngantuk kok kak.. ini juga masih melek gini..." Jawab Zela menjelaskan kepada Brayen.


" Pengen ditengokin ya babynya..?? " Tanya Brayen sambil menaik turunkan alisnya.


Tentu saja Zela sangat terkejut, bukan ingin menolak tapi ini sudah begitu larut malam, dan Zela memang sebenarnya sudah merasa ngantuk.


Ntah kenapa juga Zela merasa sedang tidak ingin melakukannya.


Cup....


Brayen mencium bibir Zela sekilas, lalu kembali mencium keningnya.


Bahkan Zela dibuat terkejut berkali kali oleh perlakuan Brayen, Zela belum juga menjawab Brayen sudah menyerangnya.


Zela menatap Brayen begitu dalam begitu juga dengan Brayen yang menatap Zela, Brayen tau jika Zela sudah merasa ngantuk, sangat terlihat jelas dari matanya.


Cupp..


Kembali Brayen mencium bibir manis Zela, rasanya begitu candu untuk Brayen, ingin rasanya melakukan lebih tapi Brayen tau ini bukan waktu yang tepat, Brayen juga tidak mau egois memaksakan kehendaknya.


Tapi tidak memikirkan Zela juga calon anaknya yang harus beristirahat sekarang ini.


" Tidur yank.. Sudah malam..." Ucap Brayen yang diangguki oleh Zela dengan pelan, juga seulas senyuman manisnya.


" Good nigth Kak.. I Love you.." Ucap Zela mengutarakan isi hatinya.


" Love you too baby.." Jawab Brayen begitu lembut dan terdengar jelas oleh Zela.


Zela mulai memejamkan matanya, sedangkan Brayen masih memandangi wajah ayu Zela, wajah yang tidak pernah membuat Brayen bosan untuk menyentuh juga memandangnya.


Tidak akan pernah bosan, karena perasaan Brayen untuk Zela begitu tulus dan dalam, bahkan tidak bisa digambarkan atau diungkapkan.


Biarkan Zela sendiri yang merasakan betapa besar rasa sayang dan cintanya.


Sampai akhirnya Zela benar benar tertidur, Brayen masih memandangi wajah Zela dengan senyum tampannya.


Tidak lama Brayen bangun dari tidurnya untuk menuju kamar mandi, sedari tadi Brayen belum membersihkan diri.


Tapi Zela bisa tertidur didekatnya, benar benar lelaki perfect, Brayen mandi atau tidak buat Zela tidak menjadi masalah.


Nyatanya Zela bisa tertidur pulas sekarang, tanpa Zela protes bau kepada Brayen.


Setelah selesai dengan mandinya, Brayen kembali menuju kamarnya, kali ini Brayen mandi begitu kilat, mungkin karena malam yang sudah begitu larut.


Brayen mengecup kening Zela, lalu perut Zela setalah itu, dia ikut merebahkan dirinya menuju alam mimpi.


Hingga pagi hari yang cerah ini, kedua suami istri muda itu masih sama sama tertidur pulas di tempatnya.


Sinar matahari mulai menerobos masuk melalu celah jendela, Zela bangun terlebih dahulu.


Sedangkan Brayen masih dengan mata terpejamnya, Zela jadi senyum senyum sendiri melihat wajah tampan Brayen.


Sering sekali ketika dia bangun terlebih dahulu selalu saja memandang wajah tampan Brayen terlebih dahulu.


Tak pernah bosan dan memang tidak mungkin membosankan untuk Zela.


Hingga tanpa Zela sadari, ponsel Brayen berbunyi membuat si empunya terbangun membuka mata.


Sungguh suara brisik ponsel Brayen sangat menganggu dirinya, tapi anehnya Zela sama sekali tak mendengarnya, bahkan sampe Zela tertangkap basah oleh Brayen sedang memandanginya pagi ini.

__ADS_1


Masih saja Zela tak sadar akan hali ini, membuat Brayen tersenyum tampan kepadanya, bahkan Zela masih tak bergeming dia malah membalas senyuman tampan yang Brayen berikan.


" Morning..." Ucap Brayen kepada Zela.


Membuat Zela tersenyum senang, masih dengan tidak sadarnya.


Oh... Ayolah Zel.. Sadar kalau tidak ingin merasa malu dilevel tertinggi.


Fix... Brayen memang benar benar idola, sampe membuat seorang Azela tidak sadar tanpa bantuan seorang pesulap.


Karena tidak juga mendapat jawaban dari Zela tanpa pikir panjang Brayen langsung mengecup bibir manis Zela.


Cuppp....


Brayen benar benar mencium bibir Zela, dan itu juga sukses membuat Zela melotot ke arahnya dengan rasa yang sangat malu tentunya.


Brayen tersenyum ke arah Zela, tentu saja senyuman seperti tadi yang membuat Zela sampe tidak sadar diwaktu yang cukup lama.


" Kapan Kak Ray bangun..?? " Tanya Zela kepada Brayen.


" Emmm... Udah ada 5 menitan yank.." Jawab Brayen berbohong.


Deg...


Jantung Zela terpompa lebih cepat, sudah 5 menitan Brayen bangun, kenapa bisa Zela baru tersadar sekarang ini..???


" Kenapa..???? " Tanya Brayen melihat muka berfikir Zela.


Zela menggeleng pertanda tidak ada apa apa, tapi tetap saja dia masih mengira ngira, dan... Tiba tiba Zela menutup mulutnya.


" Astaga..." Gumam Zela pelan tapi masih terdengar oleh Brayen.


Zela menatap Brayen, tatapan mata yang susah di artikan, jujur saja Zela tau jika dirinya ini tadi telah terhipnotis oleh wajah rupawan suaminya di depannya ini.


Tapi Zela mencoba untuk tetap tenang, meskipun rasa malunya saat ini sangatlah tinggi.


" Ayoo Mandi... Nanti keburu telat..." Bisik Brayen yang tanpa menunggu lama sudah menggendog Zela menuju kamar mandi.


" Kak ray lepasin.. Tambah telat kalau kita mandi bersama.." Jawab Zela mencoba untuk berontak.


" Tenang yank.. Nggak akan aku perkosa kok.." Jawab Brayen enteng membuat Zela melotot karena ucapan vulgar Brayen barusan.


" Ikh... Mesum..." Sambung Zela membuat Brayen tersenyum smirk, juga malah mencium bibir Zela.


Cupppp..


Lagi lagi Brayen mencium Zela, ntah sudah berapa kali dari semalam sampe pagi ini, tapi tetap saja ciuman sekilas Brayen di bibir Zela mampu membungkamkan celotehan Zela.


Zela kini benar benar bungkam, dia menurut saja, sampe akhirnya mereka berdua sampai di kamar mandi dan melakukan ritual mandi bersama.


Ingat... Ini hanya mandi bersama, karena waktu yang tidak begitu memungkinkan untuk Brayen menuntaskan hasratnya.


Sampai tidak terasa kini mobil mewah Brayen sudah berada di depan gerbang Sekolah Zela.


" Yank... Sorry..." Ucap Brayen melihat wajah kesal Zela.


Jujur saja Zela kesal dengan perbuatan Brayen yang tidak tau waktu itu, sudah berjanji untuk tidak melakukan apa apa, tapi nyatanya Brayen tidak bisa jika tidak meminta energi dari Zela.


" Kalau masih ngambek.. Aku tambahin.." Sambung Brayen seketika membuat Zela terhenti dari aktifitasnya.


" Sini aku bantuin..." Sambung Brayen lagi karena tidak juga dapat jawaban dari Zela.


Dengan segera Zela mendekatkan dirinya, juga menyerahkan alas bedak kepada Brayen.


Brayen segera menyamarkan bekas kiss mark yang dia sendiri berikan kepada leher Zela, tentu saja disini seharusnya yang kesal adalah Brayen.


Sudah begitu nanggung, bahkan adik kecilnya tadi sudah siap bertempur, tapi Brayen mengalah mengingat waktu yang memang tidak begitu memungkinkan.


" Untung yang kemarin udah mau hilang.." Ucap Zela sambil merasakan usapan jari Brayen pada dirinya.


" Malah sexy kok masih protes aja yank.." Jawab Brayen tanpa rasa bersalahnya.


Membuat Zela mendengus kesal, tapi Brayen malah tersenyum kepada Zela.


Brayen benar benar tidak habis fikir dengan istri cantiknya ini, tadi ketika dia mencumb* Zela.


Zela begitu sangat menikmati, sampai sesekali Zela mengeluarkan suara desah*nnya yang begitu sangat sexy.


Tapi ketika Zela melihat leher putihnya begitu banyak tanda cinta yang Brayen berikan, Zela jadi kesal sendiri.


Wanita memang kadang susah dimengerti, atau jangan jangan Zela kesal karena mereka sama sama tidak melnjutkannya..???


Akh... Sudah lupakan.


" Selesai.." Ucap Brayen setelah semua bekas kiss marknya tidak ada satupun yang terlihat.


" Thanks..." Jawab Zela masih dengan nada kesalnya.


Brayen mengangguk sambil tersenyum, mengacak rambut Zela pelan.


Wajah mereka kini sangatlah dekat, bahkan deru nafas keduanya saling bertautan, dan itu membuat Zela yang tadi kesal dengan Brayen malah merasa gugup.


Jantung Zela seperti meletup letup, astaga.... Zela jadi malu sendiri jika sampai Brayen mendengar detak jantungnya sekarang.


Tapi sungguh wajah ini, wajah Brayen membuat Zela tidak bisa kalau berdiam diri saja.


Oke... Zela mulai hilang kendalinya, kenapa juga suaminya ini tampan sekali..??


Salahkan saja Brayen yang mempunyai wajah setampan itu, pikir Zela.


Cup....


Kali ini Zela yang mencium bibir Brayen sekilas, memang hanya sekilas karena sebenarnya Zela begitu gugup.


" Itu.. Hukuman karena udah bikin leher aku seperti macan tutul.." Ucap Zela langsung keluar tanpa menunggu jawaban dari Brayen.


Brayen malah menyunggingkan senyumnya, sungguh aneh memang, dan lagi Zela sekarang lebih berani terhadap dirinya.


Jika hukuman yang Brayen terima berupa ciuman dari Zela, tentu saja Brayen dengan senang hati akan terus memberi tanda kepemilikan kepada Zela.


Itu justru menguntungkan bukan untuk Brayen..??


Jangan Lupa Like, Comment dan Vote ya Kak..

__ADS_1


Big Thanks.. 🙏🙏😘😘


__ADS_2