Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Demo


__ADS_3

Hari ini hari yang Zela nantikan, setelah menunggu cukup lama tapi itu menurut Zela.


Akhirnya Zela berangkat kesekolah dengan di antar Brayen suaminya.


Catat Brayen sebagai suami Zela, bukan lagi pacar Zela.


Dari perjalanan rumah, sampai ke Sekolah, tak hentinya Zela terus nenyunggingkan senyumnya, senyum yang begitu manis, semanis hari ini menurutnya.


Zela sangatlah bersemangat, dan tidak sabar lagi ingin melihat reaksi teman teman sekolahnya nanti, terlebih melihat Vera yang mungkin akan mati kutu tau siapa Zela sekarang ini.


Sombong itu mungkin yang terlintas dibenak pembaca untuk seorang Azela sekarang.


Tapi itu semua karena selama ini Zela sudah begitu panas, jengah melihat mata mata genit yang terus saja memandangi suami tampannya, dan ini saatnya Zela untuk pamer sedikit kepada mereka.


Bahwa Zelalah pemenang dari mereka semua yang berharap kepada Brayen.


Catat, Zela melupakan jika mungkin mereka akan melakukan demo, jika melihat Zela yang sudah menikah atau sedang hamil masih bisa bersekolah.


Ssst...... Mobil Brayen berhenti tepat di depan gerbang Sekolah, di sana sudah sangat ramai siswa dan siswi yang ntah kenapa seperti sedang melakukan demo.


Zela dan Brayen saling pandang bingung, mereka belum tau apa yang sebenarnya terjadi.


Tapi ketika salah satu dari mereka sadar akan kedatangan Brayen juga Zela, mereka langsung mengerubuni mobil Brayen, dengan jarak 3 meteren.


Tentu saja meskipun mereka sedang melakukan aksi demo, masih saja tidak berani sepenuhnya untuk melakukan hal hal yang lebih.


Seperti mendekat ke arah mobil Brayen, memaksa Zela untuk keluar atau yang lainnya.


Deg... Jantung Zela terpompa cepat, pasti ada yang tidak beres dengan ini.


" Apa mereka sedang melakukan aksi demo Kak..?? " Tanya Zela tak yakin.


Brayen menghembuskan nafasnya, dia sendiri juga tidak tau tapi kelihatannya memang begitu adanya.


" Ayo.. Kita temui mereka..." Ajak Brayen kepada Zela.


Zela dan Brayen turun dari mobil, sontak saja mereka semua terdiam, tidak seperti tadi yang terlihat begitu gaduh.


Ini karena pesona Brayen, yang mampu membuat mereka seketika bungkam tak bisa lagi berkata, bahkan mata mereka juga ada yang tidak berkedip karena sosok tampan di depannya sekarang ini.


Brayen menghampiri mereka, diikuti Zela dari samping.


" Ada apa..?? " Tanya Brayen datar kepada mereka.


Dengan ragu mereka menggeleng, menandakan tidak terjadi apa apa.


Brayen menautkan alisnya bingung, kemudian menatap Zela yang sama halnya dengan Brayen bingung.


" Kalau begitu bubar semunya..." Suruh Brayen yang membuat mereka terdiam, ntah mereka diam karena masih ingin memandang wajah tampan Brayen atau tidak menurut dengan apa yang Brayen katakan.


" Tunggu apa lagi... Bubar..!! " Ucap Brayen meninggikan suaranya.


Sontak saja semua yang berada di sana terkejut ketakutan, mereka berniat untuk bubar, tapi belum juga melangkah suara seseorang membuat mereka kembali berdiri ditempatnya mengurungkan niatnya.


" Tunggu.... Kalian tetap disini..." Ucap seseorang yang sontak saja membuat Zela terkejut.


Sedangkan Brayen hanya tersenyum miring.


Bintang, seseorang dibalik aksi demo, dia juga dibantu oleh Vera dan juga siswi lain yang merasa patah hati.


Bintang tidak ingin Zela bersekolah lagi, karena dia merasa begitu sakit dengan kenyataan bahwa Zela sudah menikah dengan Brayen, ditambah Zela yang sedang mengandung anak Brayen, itu membuat Bintang sangat kacau.


Dari awal Bintang melihat Zela, dia sudah menyukai Zela, meskipun tak banyak yang ia lakukan untuk mengambil hati gadis yang disuakainya itu, karena Zela yang memang terkadang tidak menanggapi usahanya.


Dan Bintang tau kini alasannya, apa lagi kalau bukan karena Zela sudah menikah.


Itu sangat bodoh untuk Bintang mencintai istri orang, tapi rasa yang Bintang miliki sangatlah tulus untuk Zela.


Sedangkan Vera, dia memang tidak suka melihat Zela, rasa benci Vera begitu besar setelah mengetahui bahwa Zela istri Brayen.


Sungguh Vera tidak terima akan hal itu.


" Maaf apa sebaiknya Kak Ray dan juga Zela ikut ke Kantor untuk membicarakan masalah ini kepada kepala Sekolah.." Jelas Bintang tho the point membuat Zela bertambah bingung.


Masalah apa sebenarnya..?? Apa karena dia menikah dengan Brayen..?? Lalu fans fans Brayen tidak terima..?? Atau ada yang lainnya..?? Banyak sekali pertanyaan pada benak Zela.


Tanpa menjawab Brayen menyetujui, bahkan Brayen sendiri yang lebih dulu pergi ke ruangan Kepsek sambil menggandeng tangan Zela.


Diikuti Bintang dari belakang, Bintang mengepalkan tangannya erat, jujur saja hatinya begitu sakit melihat secara langsung kemesraan Zela dan juga Brayen.


Tapi apa yang bisa dia lakukan..? Haruskah dia pergi dari kota ini..? Kota yang membawanya pada hati yang terluka..??


Akh... Itu bisa nanti dia pikirkan lagi.

__ADS_1


" Permisi Pak.." Ucap Brayen masuk kedalam ruangan Pak Dodi selaku kepala sekolah.


" Ada apa ya ini...?? " Tanya Pak Dodi bingung.


what..?? jadi dari tadi nggak ada guru yang tau kalau pada demo didepan..?? batin Zela tak percaya.


" Kami kesini untuk membicarakan tentang sekolah Zela Pak.." Jelas Bintang mantab.


Pak Dodi mengerutkan keningnya, kemudian menyuruh Brayen, Zela dan Bintang untuk duduk diruangannya.


" Maksud kamu tadi apa Bintang..?? " Tanya Pak Dodi kepada Bintang.


" Kami siswa siswi keberatan jika Zela masih bersekolah Pak.." Jawab Bintang mantab, tanpa ragu sedikitpun.


Meskipun dalam hatinya merasa tidak enak, jujur saja aksi dan perkatannya sangatlah menyudutkan Zela, tapi apa yang bisa diperbuat selain untuk menghindari pandangan matanya kepada Zela.


" Oh... Iya tentang itu, kalian semua tenang saja.. Nanti setelah ini akan saya jelaskan.. Kalian berkumpul di lapangan upacara.." Jelas Pak Dodi membuat Bintang mengernyitkan keningnya.


" Maksud Bapak bagaimana..?? " Tanya Bintang bingung.


" Nanti biar saya jelaskan kepada semua, agar tidak timbul fitnah atau yang lainnya... Sesuatu yang tidak diinginkan.." Jelas Pak Dodi kepada Bintang.


" Kalau begitu kalian boleh keluar sekarang.." Suruh Pak Dodi, membuat Bintang terdiam, mereka bertiga pamit permisi kepada Pak Dodi untuk keluar.


Tapi belum sampai pintu Pak Dodi sudah berucap lagi kepada Brayen.


" Maaf Nak Brayen sebelumnya, siswa siswi memang belum tau.. Tapi setelah ini saya akan menjelaskan..." Sambung Pak Dodi menjelaskan kepada Brayen, karena memang tidak enak hati.


" Tidak papa Pak.. Saya memakluminya.." Jawab Brayen sopan, lalu menatap Bintang sekilas sebelum akhirnya benar benar keluar.


Kini di lapangan upacara sudah berbaris siswa siswi, mereka dikumpulkan karena ada yang harus dijelaskan oleh kepala Sekolah.


Kasak kusuk terdengar, jika banyak Ibu Guru yang sedang membicarakan tentang pernikahan Zela dan juga Brayen.


Membuat Seli dan Vani jadi kesal sendiri mendengarnya, ditambah sedari tadi Zela belum menampakan dirinya, mereka pikir Zela belumlah berangkat.


Tidak lama datanglah Pak Dodi, yang diikuti Brayen dan Zela dari belakang, Zela menghampiri kedua sahabatnya yang sudah berbaris dikelas, sedangkan Brayen berdiri didepan Pak Dodi.


Formasi ini mengingatkan ketika Brayen meminta Vera untuk meminta maaf kepada Zela waktu itu.


" Loe beneran berangkat..?? " Tanya Vani tak percaya.


" Iya lah.. Ngapain juga gue boong.." Jawab Zela membuat Vani terkikik.


" Nggak tau gue.. Tapi kayaknya ini ada hubungannya ma gue juga Kak Ray.." Jawab Zela lirih, mereka berdua mengangguk mengerti.


" Baik anak anak.. Saya akan menjelaskan kenapa kalian dikumpulkan pada pagi hari ini.." Ucap Pak Dodi membuat siswa siswi saling pandang, tapi tidak sedikit dari mereka yang tau jika ini menyangkut pernikahan Brayen dan juga Zela.


" ****.... Tambah patah hati gue.. Liat Kak Ray di depan tapi udah punya orang.." Ucap lirih salah satu siswi pada temannya.


" Nikmatilah dulu.. Mumpung kita masih bisa liat Kak Ray.. Siapa tau besok besok sama si Zela diumpetin.." Jawab yang lainnya membuat teman temannya terkikik geli.


" Saya memang menjadi saksi di pernikahan saudari Azela juga Saudara Brayen, saya sudah mengetahui ini sejak lama, mengenai sekolah saudari Zela, saya dan Guru yang lain sudah membicarakan hal ini, Bahwa Azela Syakarina Adafsi tetap diperbolehkan untuk melakulan kegiatan sekolah seperti biasanya.." Jelas Pak Kepala sekolah membuat siswa dan siswi terkejut bukan main.


Tapi mereka tidak ada yang berani untuk protes, termasuk Bintang dan juga Vera yang tampak begitu kecewa dengan keputusan pihak Sekolah.


Oke mungkin karena ini sekolah milik keluarga Zafano, so... Mereka bisa apa.?.?


Brayen tersenyum menang, dia tau jika di barisan murid murid saat ini ada seorang laki laki yang sedang kesal ataupun kecewa karena hal ini.


Sedangkan Zela, Seli dan Vani saling peluk bahagia, mereka tidak lagi peduli dengan omongan siswi siswi yang begitu kecewa.


Setelah tidak lagi ada yang perlu ditanyakan, Pak Dodi membubarkan murid murid untuk menuju kekelas masing masing.


Dilapangan upacara masih ada Zela, Seli, Vani dan juga Brayen tentunya.


Brayen menghampiri ketiga gadis cantik itu dengan senyum tampannya, bahkan hampir membuat hati Vani meleleh karena pesona yang Brayen tunjukan untuk mereka, ralat bukan mereka tapi untuk Zela, hanya saja ketika ada kedua sahabat Zela.


" Baik baik ya di sekolah... Aku ke Kantor Ayah dulu.." Pamit Brayen kepada Zela.


" Pasti... Kak Ray hati hati... I Love you.." Ucap Zela tanpa malu lagi adanya kedua sahabatnya, membuat Brayen tersenyum tampan ke arahnya, mengacak rambut Zela gemas.


Sedangkan Vani dan Seli sedari tadi hanya tersenyum melihag keromantisan kedua pasangan muda ini.


" I Love you too..." Jawab Brayen lalu mengecup kening Zela.


" Sel.. Van.. Titip Zela ya.." Ucap Brayen kepada Seli dan Vani.


" Ish.. Kayak barang aja dititipin.." Protes Zela membuat Brayen tersenyum menanggapinya.


" Eh.. Iya Kak.. Siap..." Jawab mereka berdua kompak.


Setelah Brayen pergi, mereka segera menuju kekelas, dengan perasaan bahagia tentunya.

__ADS_1


Sampai dikelas belum ada Guru yang mengajar, tapi seluruh kelas tertuju pada Zela, iya gadis yang sekarang ini resmi menjadi istri Brayen sang idola, bahkan banyak siswi yang satu kelas dengannya, menatap Zela dengan tatapan tak suka.


" Napa liat liat..?? " Kesal Vani melihat tatapan mereka.


Tapi tak di jawab oleh mereka, mereka hanya saling bergunjing di belakang Zela.


" Udah lah Van biarin aja.. Gue ngerti kok pasti mereka belum terima.." Jawab Zela mencoba untuk mengingatkan Vani.


" Kesel tau.. Liat mereka liatin loe kayak liat setan aja.." Jawab Vani membuat Zela melotot ke arahnya.


" Loe nyamain gue sama setan..?? " Tanya Zela tak terima.


" He..he.. Becanda kali Zel.. Baby Mommy kamu marahin aunty nih..." Jawab Vani malah sengaja seperti berbicara dengan calon anak Zela.


" Vani ikh..." Kesal Zela merasa tidak enak karena teman teman kelasnya terus mengamatinya.


" Emang loe ya nggak tau waktu banget buat becanda.." Sambung Seli membuat Vani terkikik geli.


Membuat Zela membuang nafasnya panjang, lalu mengeluarkan buku yang ada di tasnya untuk mengikuti mata pelajaran pertama.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Mobil Brayen memasuki parkiran kantor Zafano, Brayen turun menuju kantor melewati lift khusus untuk orang orang penting di Kantornya.


Dengan gugup Brayen langsung menuju ke ruangan Dimas, Brayen membuka pintu dan langsung masuk menemui Dimas.


" Ray..." Sapa Dimas sedikit terkejut dengan kedatangan Brayen.


Dimas langsung berdiri, karena Brayen terlihat begitu gugup seperti menahan amarah.


" Dimana anak brengsek itu...?? " Tanya Brayen tho the point.


" Dia sekarang di ruangan Ayah Ray.." Jawab Dimas membuat Brayen langsung membalikan tubuhnya untuk keluar.


" Ray... Tunggu.. Biarkan Ayah yang mengurusnya.." Teriak Dimas tapi tidak ditanggapi oleh Brayen.


Dengan segera Dimas mengejar Brayen, yang sudah pasti akan memberi pelajaran kepada anak curut itu.


Brayen terus saja mengumpat kesal, menyumpah serapahi anak tidak tau diri itu, dan kini dia berani beraninya ke kantor Zafano.


Ntah apa yang anak itu rencanakan, yang jelas Brayen benar benar sudah tidak tahan lagi untuk tidak menghajarnya.


Brayen juga tidak sabar untuk mengirim anak sialan itu ketempat sejauh mungkin.


Brayen membuka pintu ruangan Ayah Riko dengan keras, sampai membuat orang yang berada di dalam terperanjat kaget.


Pak Riko, Pak Rendy juga Sandro menoleh ke arahnya dengan terkejut.


Terkejut dengan kedatangan Brayen, membuat Sandro kembali di landa rasa takut yang begitu tinggi, melihat muka Brayen merah padam menahan amarah.


Brayen mendekati Sandro, dan langsung melayangkan pukulannya.


Bughh... Bughh...


Brayen memukul muka Sandro dengan keras, membuat Sandro terpental, dengan segera Pak Riko dan Pak Rendy menghentikan aksinya.


" Ray cukup..." Cegah Pak Riko kepada Brayen.


" Dia itu brengsek Yah..." Jawab Brayen masih dengan emosinya.


Sedangkan Sandro masih tersungkur mengelap darah yang keluar dari sudut bibirnya.


Sungguh Sandro tidak ingin lagi bertemu dengan Brayen, dia terlalu malu.


" Ayah tau Ray.. Tapi bukan seperti itu cara membalasnya.." Jelas Pak Riko membuat Brayen menatap Ayahnya tak percaya.


Tidak lama Dimas datang, dia melihat Sandro yang sudah tersungkur dilantai dengan sudut bibir yang sudah berdarah sedikit.


Kemudian Dimas menatap Brayen yang masih bernafas secara tidak teratur, Dimas berjalan ke arah Brayen.


" Sebaiknya kamu dengarkan dulu penjelasan dia Ray...." Ucap Dimas kembali membuat Brayen terkejut.


Brayen menatap Dimas tak percaya, lalu menatap Ayahnya dengan tatapan yang sama, juga Pak Rendy yang sedari tadi masih berdiam diri.


Brayen tersenyum miring, dia merasa tidak ada yang memihaknya sekarang, tapi dia juga harus tau alasan Sandro datang ke kantornya.


Brayen tidak mau sampai salah mengambil keputusan, meskipun niat mengirim Sandro ke negri orang memang sudah tidak bisa lagi diganggu gugat, Brayen akan tetap pada pendiriannya, yaitu mengirim Sandro sejauh mungkin, Brayen tidak rela lagi jika Sandro mata Sandro sampai melihat Zela lagi.


Jangan Lupa Like, Comment dan Vote..


Big Thanks..


Ow ya.. Tunggu cerita author selanjutnya ya.. Dengan jalan cerita yang berbeda dan lebih seru pastinya.

__ADS_1


Tapi tunggu kisah cinta Zela sama Brayen happy ending ya gaes... 😘😘


__ADS_2