Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Ingin Marah


__ADS_3

Setelah rapih dan selesai memakai setelan jasnya kembali, Brayen dan Zela menemui Dima, Pak Rendy dan Oliv yang masih duduk di ruangannya.


Dengan wajah tanpa dosanya, Brayen duduk di depan mereka, bahkan dirinya ikut duduk di sofa ketimbang duduk di kursi kerjanya, hal itu membuat Pak Rendy merasa tidak enak hati, jelas tidak seharusnya Orang seperti Brayen ikut duduk di sofa hanya untuk masalah seseorang seperti Oliv. Jika bukan rekan kerjanya rasanya Brayen terlihat begitu rendah hati.


" Tuan muda Brayen, sebaiknya anda dud..." Ucap Pak Rendy terpotong, Brayen sudah mengisyaratkan dengan jari telunjuknya agar Pak Rendy diam dan tidak menyuruhnya untuk duduk di kursi singgah sananya.


" Sssttt...." Brayen mengisyaratkan kepada Pak Rendy yang akhirnya mengangguk tanpa menjawab.


Brayen menatap Dimad dan Oliv bergantian, lalu menghela nafas pelan.


" Apa tidak ada yang ingin di bicarakan?." Tanya Brayen membuat Pak Rendy buru-buru menoleh ke arah Oliv, matanya mengisyaratkan untuk menyuruh Oliv mengatakan apa yang menjadi tujuannya saat ini.


Oliv yang mengerti maksud dari Pak Rendy mengangguk pelan, ntah kenapa sikapnya berubah tidak seperti tadi ketika dia datang ke Kantor Zafano. Mungkin Oliv merasa begitu bersalah dan malu pastinya dengan keangkuhan dirinya tadi.


" Begini Tuan Brayen." Ucap Oliv terjeda.


Dirinya menghela nafasnya dalam untuk menenangkan dirinya, kedua tangannya saling bertautan seraya meremas jemarinya.


Pikiran Oliv masih buyar karena pemandangan indah tadi yang Brayen suguhkan. Bahkan melihat Brayen sekarang yang duduk di hadapannya membuatnya merasa sedikit gugup, bukan karena malu apa yang ingin di ucapkan atas kesalahan dirinya, tetapi karena pesona Brayen yang sudah mengambil hatinya.


" Saya mau minta maaf." Sambung Oliv dengan nada bicara yang sangat tenang.


Oliv sangatlah pintar menyembunyikan apa yang dia rasa saat ini.


" Minta maaf untuk apa? Bukankah saya bersalah karena telah membuat Kakak anda hidup di New york?." Tanya Brayen sarkas.


Mendengar apa yang Brayen katakan membuat nyali Oliv sedikit menciut, tidak ada gunanya memang berpura-pura biasa saja, padahal dalam hatinya begitu merasa malu dan bersalah.


" Saya salah sudah menuduh Tuan Brayen dan Pak Riko yang bukan-bukan, saya sadar apa yang sudah Bapak dan Kakak saya lakukan sangatlah salah." Jelas Oliv membuat Brayen tersenyum miring.


" Dan saya minta maaf atas nama mereka juga apa yang sudah saya lakukan tadi, saya benar-benar minta maaf." Sambung Oliv seraya menundukan kepalanya sekilas.

__ADS_1


Dalam hati Oliv terus berharap, supaya Brayen memaafkan atau bahkan bisa mengenal Brayen lebih jauh, bukan karena masalah ini, tetapi karena dirinya anak Pak Septa seseorang yang cukup keluarga Zafano segani, meskipun itu dulu, tetapi Oliv tetap berharap.


" Sudah saya maafkan Nona Oliv, silahkan anda boleh pergi sekarang." Jawab Brayen membuat Oliv terkejut dengan jawaban enteng Brayen.


Tetapi memang itu yang dia minta kepada Brayen bukan tadi? Jika sudah tidak ada urusan lain lagi, Oliv sebaiknya pergi sekarang sebelum Zela yang sedari tadi sudah bersusah payah menahan amarah menyerangnya, dengan kata-kata menohoknya.


" Baiklah, saya permisi dulu." Pamit Oliv sopan kepada Brayen, meskipun tidak ada jawaban dari Brayen.


Oliv berdiri dari tempat duduknya, dia kemudian berhenti dan menatap Zela.


" Saya juga minta maaf kepada anda Nona Zela atas apa yang sudah saya lakukan tadi." Ucap Oliv sebelum pergi kepada Zela.


" Ya sudah saya maafin." Jawab Zela singkat.


Zela tidak ingin lagi berkata panjang lebar, yang Zela inginkan sekarang ialah Oliv cepat pergi, agar dirinya bisa menyidang suaminya dan juga pulang untuk bertemu Arshaka.


Mendengar jawaban Zela membuat Oliv tersenyum sekilas, tetapi ada rasa iri melihat Zela saat ini, bukan hanya Kakaknya saja yang begitu mengaguminya sampai berbuat hal gila yang membuatnya harus tinggal di negri orang, tetapi juga Brayen yang begitu menyayangi Zela dan juga penurut.


Oliv menundukan kepalanya ke arah Dimas dan juga Pak Rendy, setelah itu dia benar-benar pergi dari kantor Zafano.


Setelah kepergian Oliv, Lak Rendy juga ikut pamit untuk bersiap-siap pulang. Karena hari memang sudah semakin sore.


" Saya permisi dulu Tuan muda." Pamit Pak Rendy kepada Brayen.


" Harus berapa kali saya katakan, panggil Ray saja Pak Rendy jangan Tuan muda!." Jawab Brayen dengan nada suara sedikit tinggi.


Pak Rendy hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, mau sampai berapa kalipun Brayen meminta dirinya untuk memanggil nama saja dari anak bos besarnya. Jika masih berada di Kantor Pak Rendy tidak mungkin mengiyakan. Meskipun sudah di luar jam kerja.


" Lo ngapain masih di sini?." Tanya Brayen kepada Dimas yang malah duduk santai di sofa ruangannya.


" Mau ngapain lagi memangnya selain melihat adegan live kalian." Jawab Dimas seraya tertawa.

__ADS_1


Sontak saja apa yang baru saja Dimas katakan langsung membuat Zela naik darah, sedari tadi dia memang sudah menahan amarah, dan kebetulan sekali sepertinya Dimas yang akan mendapat amukan darinya.


" Kak Dimas!!." Teriak Zela seraya melemparkan buku dan pena yang berada di meja kerja Brayen.


Melihat apa yang akan Zela lakukan membuat Dimas langsung buru-buru berdiri dan ngacir keluar dari ruangan Brayen.


" Huh... Menyebalkan." Gumam Zela seraya bertolak pinggang.


" Jangan marah sayang, nanti malam aku kasih lagi." Bisik Brayen seraya memeluk Zela dengan pelan, membuat Zela menatap Brayen tajam.


Di saat mereka sedang saling tatap, tiba-tiba pintu ruangan Brayen kembali terbuka. Menampilkan kepala Dimas yang sedang tersenyum menyebalkan ke arah mereka.


" Apa?." Tanya Zela dengan mode galaknya.


" Pergi Lo." Usir Brayen kepada Dimas, tidak mau kalah dengan Zela.


" Ampun bos... Btw Zel, jangan bilang Lo marah-marah karena lagi isi lagi? Pantesan cepet banget jadi rupanya sekali main berkali-kali." Ledek Dimas lagi yang kali ini langsung menutup pintu ruangan Brayen dan ngacir pergi sebelum benar-benar di keroyok oleh pasangan suami istri muda yang masih betah berada di kantor Zafano.


Hufh... Zela menghela nafasnya kasar mendnegar ledekan Dimas yang semakin membuatnya ingin marah saja sekarang.


Berbeda dengan Brayen yang malah senyum-senyum seraya menatap Zela penuh arti.


" Apa?." Tanya Zela melihat tatapan aneh Brayen.


" Gimana kalau kita bikin kenyataan aja yang apa yang Dimas katakan?." Tanya Brayen menggoda Zela.


" Kenyataan apa sih maksud Kak Ray?." Tanya Zela masih dengan nada suara yang terdengar masih berada di zona merah.


" Sekali main berkali-kali." Bisik Brayen lalu kedua alisnya di naik turunkan untuk menggoda Zela, sontak saja apa yang Brayen katakan dan lakukan membuat Zela semakin tidak bisa lagi menahan amarahnya, tidak suaminya tidak Dimas mereka sama-sama mengesalkan sekali.


" Kak Ray!!!!." Teriak Zela dengan dua tanduk yang sudah muncul di kepalanya.

__ADS_1


Tetapi semua bermula karena Oliv yang sudah melihat tubuh atletis Brayen tadi, Zela tidaklah rela meskipun hanya sebatas melihat tanpa di sengaja, bahkan tanpa memegang, tetapi tetap saja membuat Zela ingin marah setiap kali teringat akan hal itu.


__ADS_2