
Zela dan Zifa duduk didepan tv sambil asik memainkan ponsel masing masing, tapi tentu saja dengan tv yang menyala juga layar laptop Zifa yang masih menyala.
Tak lama terdengar klakson mobil dari arah luar, Zela dan Zifa saling berpandangan dan tersenyum, mereka tau siapa yang datang.
Tentu saja cowok tampan kekasih Zifa,, Jova,, yup... Dia adalah Jova.
Jova masuk kedalam dengan tentengan berisi coklat.
Mata Zela berbinar ketika melihat kedatangan Jova, tentu saja karena Zela menginginkan apa yang sedang Jova bawa untuknya.
" Coklat.... I coming...!!! " Teriak Zela senang.
Zifa yang melihat tingkah Zela hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Di usia Zela yang masih sangat muda bahkan masih sekolah, tapi sebentar lagi dia akan menjadi seorang Ibu, dan Zifa memaklumi itu.
Adiknya ini memang terkadang masih sangat manja ketika Mamah Hana bercerita, ntah lah jika dengan suaminya Zela akan bersikap bagaimana, Zifa sendiri tidak begitu memikirkan yang terpenting baginya saat ini adalah Zela bahagia dengan pernikahannya.
" Ni dek buat loe.." Ucap Jova sambil menyerahkan beberapa kantong plastik berisi coklat.
" Thanks kak Jov.." Jawab Zela yang langsung membuka bingkisan coklatnya.
" Dan ini buat tercinta..." Ucap Jova lagi sambil menyerhakan beberapa box pizza.
" Thanks honey..." Jawab Zifa dengan senyum manisnya yang juga dijawab Jova dengan senyuman tampannya.
" Kak mau juga ya gue pizzanya.." Ucap Zela kepada Zifa.
" Nyante aja.. Kakak nggak bakal abis kok.." Jawab Zifa santai.
" Ikh.. Gue nggak mau sisa kak Zifa ya.." Sambung Zela lagi membuat Zifa dan juga Jova tertawa.
" Bukan sisanya kok dek.. Tapi boxnya yang buat loe.." Jawab Jova kepada Zela.
" Garing..." Jawab Zela dan Zifa barengan.
Membuat mereka bertiga tertawa bersama, mereka terus bercanda sambil memakan pizza yang tadi dibawa oleh Jova.
Sungguh kencan Zifa dan Jova digagalkan oleh Zela, tapi tanpa Zela meminta ditemani juga sudah pasti Zifa akan membatalkan kencannya dengan Jova.
Tentu saja karena tidak ada siapa siapa selain para asisten rumah tangga.
Mereka terus bercanda bersama, sampai Zela tak merasa sedih lagi karena tadi ditinggal oleh Brayen.
Jova memanglah sangat dewasa juga sedikit humoris, bahkan sikapnya ini hampir mirip dengan Dimas, selera humor mereka yang selalu membuat orang disekelilingnya tertawa.
" Pada kemana sih kok sepi banget..?? Tanya Jova kepada Zela dan Zifa.
" Pada pergi yang.. Nah ni malah dititipin sama Brayen.." Jawab Zifa menjelaskan kepada Jova.
Jova mengangguk mengerti.
" Jadi ini nih.. Bumil yang bikin rencana kencan kita batal.." Ucap Jova sambil menarik hidung Zela, sampai membuat Zela melotot kesal kearahnya.
Tentu saja Zela merasa kesal, Jova menarik hidungnya disaat Zela sedang memakan coklatnya, bahkan Zela hampir tersedak.
Benar benar calon kakak ipar terkampret pikir Zela.
Sedangkan Jova hanya tersenyum melihat muka Zela yang terlihat begitu menggemaskan, cantik tapi lucu pikir Jova.
Juga Zifa yang hanya tersenyum melihat tingkah kekasih dan adiknya yang terlihat manis itu.
" Ish.. Enak aja.. Gue nggak nyuruh ya buat Kak jova sama Kak Zifa batalin kencan, Gue cuma minta ditemenin Kak Zifa.." Jawab Zela mengelak.
" Ha..ha..ha.. It's oke.. Kalau gitu karena loe udah ditemenin dek.. Kita pergi dulu ya.." Jawab Jova sengaja mengerjai Zela.
" Beneran kak mau pada pergi..?? Tanya Zela yang sedikit terkejut.
" Hmmm.." Jawab Zifa santai membuat Zela semakim terkejut.
" Jahat..." Jawab Zela kesal, membuat Zifa dan Jova tersenyum senang berhasil mengerjai Zela.
" Kidding kali dek.." Jawab Zifa membuat Zela tersenyum senang, tapi masih dalam keadaan kesal.
Jam sudah menunjukan pukul 10 malam, tapi baik Brayen juga kedua orang tua Zela belum ada yang pulang.
Zela sudah merasakan kantuk, dia memutuskan untuk menuju kekamarnya terlebih dahulu, meninggalkan Zifa juga Jova yang masih asik di depan tv.
Mereka berdua memutuskan untuk tetap menunggu didepan tv, tentu saja Jova menemani sang kekasih yang dapat tugas dari adik iparnya untuk menjaga istrinya, siapa lagi bukan Zela.
Malam sudah semakin larut, jam menunjukan pukul 12 malam. Zifa memutuskan untuk tidur dikamarnya, sedangkan Jova masih tertidur didepan tv untuk menjaga dua bidadari cantik.
Bahkan ketika ponsel Zifa sedari tadi terus berbunyi, Zifa sama sekali tak mendengarnya, telp dari Mamah Hana yang memberitahukan jika dia dan Pak Adam tidak bisa pulang malam ini, mereka harus menginap dihotel dekat kantornya, tentu saja karena ada pekerjaan yang mendesak.
Dan harus diselesaikan malam ini juga oleh Pak Adam, sebagai istri yang baik Mamah Hana harus mendampingi suaminya disaat genting seperti sekarang ini.
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Dilain tempat, tepatnya Hotel Zafano, Kini diruangan yang sangat jarang orang ketahui sudah tedapat beberapa orang yang sedang berdiri dan mengintrogasi seorang pemuda yang saat ini terlihat sangat lemah.
Ya.. Sandro berada di Hotel Zafano saat ini, Sandro begitu terkejut dan takut, keringatnya terus bercucuran dari dahi juga badannya.
Bahkan rasanya sangat gerah karena terus menahan sesak didada, sesak harus berhadapan dengan seorang Brayen, anak dari bos Bapaknya bekerja.
Bahkan suhu AC yang cukup dingin tidak lagi dia rasakan.
Brayen, Dimas juga Xelo dan Pak Rendy orang kepercayaan dikantor Zafano mengelilingi Sandro.
" Ma..maafkan aku Kak Brayen.." Ucap Sandro tergagap.
Membuat Brayen tersenyum miring, dia tau kalau dia sudah salah menyuruh anak curut dihadapannya ini untuk memata matai istrinya.
Dan Brayen tidak lagi konyol, Brayen sudah sangat percaya kepada Zela, jika Zela tidak akan mungkin menanggapi para curut yang ada disekolahnya, juga yang mencoba untuk mendekatinya.
" Berikan kepadanya Pak Rendy..." Suruh Brayen kepada Pak Rendy.
" Baik Tuan muda..." Jawab Pak Rendy kepada Brayen.
Seketika Dimas yang mendengar ucapan Pak Rendy terkikik geli, pasalnya sudah sering kali Brayen memberitahukan jika dia tidak suka dipanggil dengan sebutan " Tuan Muda " Tapi tetap saja Pak Rendy tidak menggubrisnya.
Atau mungkin Pak Rendy terlalu tidak sopan jika harus memanggil anak Bos besarnya itu dengan sebutan " Nak " saja.
Brayen yang melihat tingkah Dimas hanya berexpresi datar, kesal memang, tapi ya sudah Brayen tidak akan memperpanjang ada hal yang lebih penting baginya saat ini.
Sedangkan Xelo masih sedikit bingung dengan situasi ini.
Kenapa Brayen menyuruhnya untuk membwa anak SMA ini..?? Apakah mereka saling kenal.. atau..?? Akh.. Banyak sekali pertanyaan di benak Xelo dan dia akan menanyakannya lain waktu mungkin diwaktu yang tepat.
Pak Rendy dengan segera memberi beberapa secarik kertas dihadapan Sandro, dengan sopan tentunya, lain halnya jika Brayen ataupun Dimas yang memberikannya sudah dipastikan akan dilemparkan langsung ke arah Sandro.
Dengan ragu Sandro mulai mengamati isi kertas tersebut.
Deg....
Jantung Sandro bertamabah bergemuruh, juga sesak yang semakin ia rasakan.
Betapa tidak..??? Jika kertas yang sedang dia bawa adalah data data juga bukti bukti jika Bapaknya sudah mengambil beberapa uang di perusahaan Zafano, tanpak haknya atau bukan atas gajinya melainkan uang yang seharusnya dipake untuk keperluan Kantor.
Bisa dikatakan jika Orang tua Sandro sudah berkorupsi dengan nominal yang sangat fantastic, ini membuat Sandro semakin ketakutan.
Sandro telah salah melangkah jika berani mengambil tindakan untuk menantang Brayen karena begitu menginginkan Zela.
Apa segitu berharganya Zela untui Brayen..?? Sejauh mana hubungan antara Zela pujaan hatinya juga Brayen..??? Banyak sekali pertanyaan pada diri Sandro.
" Nak Sandro.. Pak Septa sudah banyak sekali melakukan tindakan yang sangat merugikan perusahaan.. Jika saja Tuan Muda Brayen tidak menyuruh saya untuk merahasiakan ini, mungkin Pak Septa sekarang ini sudah di berhentikan dari pekerjaannya.." Jelas Pak Rendy kepada Sandro.
Jleb... Dada Sandro semakin sesak, dia merasa sangat malu dan takut saat ini, malu karena ternyata Brayen sudah begitu baik masih memperkerjakaan orang tuanya yang sudah melakukan kesalahan besar.
Memberi Sandro kesempatan untuk tidak mengusik kekasihnya lagi, tapi apa yang Sandro lakukan saat ini benar benar kelewat batas, dan Sandro menyadari itu.
Sandro benar benar sudah membangunkan singa yang sedang tidur, ntah singa ini bisa dikendalikan lagi atau tidak, Sandro sendiri tidak tau dia hanya akan pasrah.
Takut, ya Sandro sangat takut jika sekarang sudah tidak ada harapan lagi untuknya bersekolah di SMA favorit di kota ini.
Begitu juga nasib Pak Septa yang mungkin bisa saja Brayen memberitahukan kesalahannya kepada Pak Riko juga semua karyawan kantor, tentu Pak Septa akan merasa sangat malu dan sudah dipastikan terancam di PHK.
Jika sampai itu terjadi Sandro tidak bisa lagi membayangkan nasib keluarga dan juga dirinya.
Ini memang kesalahannya, juga orang tuanya lebih tepatnya Bapaknya, Sandro akan menerima apapun yang terjadi kedepan, hanya saja ada sedikit harapan dalam hatinya jika Brayen memafkaannya, memberi kesempatan sekali lagi dia akan gunakan sebaik mungkin.
Tidak akan lagi mengusik atau bahkan sampai berani menganggu Zela.
Sandro mulai bringsut, dia bahkan kini berada tepat dibawah Brayen, memohon ampun untuk kembali memberi kesempatan untuknya.
" Kak ray.. Saya minta maaf.. Saya sudah melakukan kesalahan yang begitu besar, juga atas nama Bapak saya.. Saya benar benar minta maaf.." Ucap Sandro dengan nada penuh takut kepada Brayen.
Brayen tersenyum miring, dia tau kalau akan seperti ini jadinya, anak curut seperti Sandro memanglah hanya belalang atau curut kecil baginya.
" Bangun..." Suruh Brayen kepada Sandro.
Dengan penuh keraguan Sandro berdiri, melihat ke arah Xelo, Dimas lalu Pak Rendy dan terakhir tentu saja ke arah Brayen yang sedang menatap lurua kedepan tanpa menatapnya.
" Pak Rendy adalah saksi, jika lain hari loe berani macem macem lagi ma gue.. Gue nggak segan segan buat tendang Bapak loe untuk pergi dari perusahaan ini.." Jelas Brayen penuh penekann kepada Sandro.
Sandro mengangguk paham, tapi tentu saja masih dengan rasa rakut yang begitu tinggi.
" Pak Rendy anda boleh keluar.. Tolong pantau terus Pak Septa, terimakasih banyak untuk waktunya.." Ucap Brayen kepada Pak Rendy.
" Sama sama Tuan muda.. Saya pamit permisi.." Jawab Pak Rendy kepada Brayej untuk berpamitan pulang.
" Mari Tuan Dimas.. Tuan Xelo.." Pamit Pak Rendy kepada Dimas juga Xelo yang dianggukin oleh mereka berdua.
__ADS_1
Setelah Pak Rendy pergi, Kini suasana semakin mencekam, rasanya begitu dingin untuk Sandro, berbeda dengan tadi jika Sandro merasa hawa yang begitu panas, sekarang teramat dingin.
Jantung Sandro bahkan terus berdebar, berdebar karena takut dengan Brayen, bukan karena melihat cantiknya Zela seperti biasanya.
" Dim..." Ucap Brayen mempersilahkan Dimas untuk mengintrogasi Sandro.
Tentu saja dengan senang hati Dimas melakukannya.
Lain halnya dengan Xelo yang masih juga bingung, tapi semakin kesini dia mulai paham dengan permasalahan Brayen dengan anak SMA yang sedang ketakutan saat ini.
" Mana Ponsel loe.." Suruh Dimas kepada Sandro.
Sandro sedikit membelalakan matanya, pasalnya dia menyimpan lagi foto foto Zela juga beberapa video dewasa yang diganti dengan wajah Zela.
Tentu saja itu semua untuk fantasi liarnya, sungguh Sandro sekarang tidak bisa lagi selamat seperti tempo hari.
Tamatlah riwayatnya..!!
Harus pasrah jika dia tidak bisa lagi bersekolah di SMA favorit itu, SMA yang membuatnya bertemu dengan wanita cantik yang selalu menganggu setiap harinya.
Sandro harus menanggung resiko besar, untuk tidak bisa lagi melihat keindahan yang Tuhan ciptakan dengan bentuk dan rupa seperti seorang Azela.
Dan itu salahnya.
" Cepetan..!!! " Bentak Dimas kesal, karena tak dapat respont dari Sandro bahkan sangat terlihat jika Sandro semakin ketakutan.
Dan itu sukses membuat Dimas semakin penasaran atau tau jika Sandro menyembunyikan sesuatu diponselanya, atau bahkan dia akan menemukan foto foto Zela seperti tempo hari atau bahkan lebih dari itu.
" Sante man.. Kasian anak orang.." Ucap Xelo yang sedikit kasihan melihat Sandro.
Brayen maupun Dimas hanya tersenyum miring, senyum devil yang tak pernah Xelo lihat sebelumnya.
Xelo bahkan tidak menyangka jika Dimas yang juga humoris seperti dirinya punya sisi mengerikan seperti sekarang yang sedang diperlihatkan kepadanya.
Mungkin ini karena baik Brayen maupun Dimas sudah benar benar menganggapnya sebagai sahabat, tidak ada lagi kecanggungan untuk menunjukan sikap menyeramkannya seperti sekarang ini.
Tapi Xelo masih berfikir keras, jika apa yang dilakukan oleh anak SMA ini pasti sangatlah fatal, sampai membuat seorang Brayen begitu marah besar kepadanya.
" Kalau loe tau apa yang udah dilakukan anak ini.. Gue yakin loe udah bunuh dia.." Jawab Dimas semakin membuat Xelo penasaran.
Tapi juga semakin menyeramkan kata katanya, bahkan selera humor Dimas lenyap begitu saja.
Xelo mengangguk pelan, tidak lagi ikut campur sebelum dia tau apa permasalahan sebenarnya.
"Udah diperingati kenap malah nyolot..?? Kurang baik apa Brayen sama loe huh...??? Ucap Dimas kini tak bisa lagi menahan emosinya.
Sungguh Dimas sangat terkejut dan marah tadi setelah tau bahwa Pak Septa sudah berani melakukan hal bodoh yang membuat perusahaan Zafano bisa saja bangkrut jika terus menerus.
Sebelumnya dia tidak tau sama sekali tentang permasalahan ini, bahkan baru tau tadi dari penuturan Pak Rendy juga Brayen.
Mengingat Pak Riko yang begitu baik kepada Pak Septa sungguh membuat Dimas begitu murka, Dimas tidak terima dengan penghianatan ini.
Memang tidaklah mungkin untuk keluarga Zafano bangkrut, Pak Septa mengirim 300 juta hampir 2 minggu sekali kerekening pribadinya, itu tidaklah begitu besar tapi keluarga ini sangatlah menomer satukan kejujuran, dan itu sudah sangat keterlaluan.
" Brengsek.....!!!! " Teriak Dimas yang mulai memukul Sandro.
Membuat Sandro jatuh tersungkur, Brayen hanya diam dengan expresi datar, sedangkan Xelo semakin terkejut dengan sikap arogan Dimas.
" Dim.. Stop.. Nggak seperti ini caranya..." Ucap Xelo mengingatkan Dimas.
Membuat Dimas sedikit kesal dengan Xelo.
" Loe cek ponselnya.. Dia itu bajing*n kecil..." Jawab Dimas penuh amarah kepada Xelo.
Dengan ragu Xelo mengambil ponsel yang berada di saku celana Sandro, tentu saja Sandro tidak langsung menyerahkannya dia masih sedikit menolak, tapi karena Xelo yang menatapnya dengan tatapan tajam membuat Sandro tidak lagi berontak.
Dia benar benar akan pasrah dengan nasibnya kali ini, berbeda dengan Brayen yang memandang pemandangan dikotanya pada malam hari.
Dia menatap lurus kedepan melihat gemerlapnya lampu disaat malam hari, juga pikiran yang tertuju kepada istri cantiknya, tapi dia harus selesaikan ini terlebih dahulu.
Brayen mengambil ponselnya untuk memberi pesan kepada Zela, sebelumnya dia melirik ke arah Sandro terlebih dahulu.
Tatapan mata tajam Brayen yang biasanya memabukan untuk Zela tapi dirasa sungguh membunuh untuk Sandro.
Jika benar Sandro mengulang kesalahannya lagi, kali ini Brayen tidak akan tinggal diam, dia benar benar akan mengirim anak curut itu kepulau terjauh dan terpencil.
Tidak lagi membiarkan istri cantiknya dinikmati oleh cowok brengs*k seperti Sandro, meskipun hanya lewat tatapan mata tapi Brayen benar benar tidak rela, itu begitu menjijikan menurut Brayen.
Jangan Lupa Like, Comment dan Vote
Vote
Vote
Vote
__ADS_1
Big Thanks 🙏🙏😘😘