
Brayen sampai di kampusnya. Setelah memarkirkan mobilnya Brayen segera masuk ke kelasnya. Bahkan beberapa pasang mata dari mahasiswi yang terus memandanginya tidak di hiraukan olehnya, seperti biasa dia akan bersikap cuek dan tidak menganggap mereka ada.
Setelah duduk di bangkunya, Brayen mengambil ponselnya, bermaksud untuk menghubungi Zela istri cantiknya, yang baru di tinggal beberapa menit saja sudah membuatnya merasa kangen, tapi belum sampai dia mengambil ponselnya, kedua sahabatnya sudah datang menghampirinya.
Dimas dan Xelo datang menghampiri Brayen dengan wajah ceria, bahkan mereka sampai tertawa, sudah dapat di tebak jika mereka bahagia karena double date yang mereka lakukan tadi malam.
Awalnya Zela dan Brayen juga di ajak, tapi mengingat Zela yang sedang hamil besar jado di urungkan niat untuk ikut double date bersama kedua pasangan Seli Dimas dan Vani Xelo.
" Muka ganteng Lo kenapa berubah jadi masam?." Tanya Xelo melihat Brayen.
Brayen hanya menatap Xelo sekilas, tanpa berminat untuk menjawab pertanyaan darinya.
" Nyesel kan nggak jadi ikut tadi malam?." Tanya Xelo songong membuat Brayen tersenyum miring, sedangkan Dimas menggelengkan kepalanya dengan tingkah Xelo.
Dimas fikir Xelo dan Vani sangatlah serasi, mereka sama-sama mempunyai sifat yang sama persis.
" Gue kangen dong sama istri Gue, tapi...." Ucap Brayen terhenti, membuat Dimas dan Xelo menatap Brayen seakan meminta penjelasan dari Brayen.
" Tapi kenapa Bro?." Tanya Xelo penasaran.
" Zela minta naik motor gede Gue." Jawab Brayen seketika membuat Dimas dan Xelo saling pandang lalu tertawa ngakak.
Brayen menatap kedua sahabatnya kesal. Pasalnya tawa Dimas dan Xelo terdengar seperti ledekan.
" Apanya yang lucu sih?." Tanya Brayen kesal kepada kedua sahabatnya.
" Ini benar-benar suatu kebetulan Ray." Jawab Dimas membuat Brayen menautkan alisnya.
" Tadi malam si Vani ngimpi Lo boncengin Zela pakai moge, eh taunya mau jadi kenyataan mimpi tuh anak." Jelas Dimas yang di angguki langsung oleh Xelo.
Brayen cukup terkejut, pasalnya mimpi Vani sangatlah tepat dengan permintaan Zela tadi pagi.
" Terus Zela minta buat di anterin ke puncak nggak pakai moge Lo?." Tanya Xelo ingin memastikan mimpi pacarnya lagi.
" Nggak." Jawab Brayen singkat.
" Yah... Sayang sekali kalau gitu." Jawab Xelo dengan nada suara di buat-buat.
" Kenapa lagi?." Tanya Brayen ingin tau.
" Kalau Zela mimpi di anter ke puncak, anak pertama Lo bakal langsung punya adik." Jelas Xelo yang terdengar ambigu untuk Brayen.
__ADS_1
" Wuuuu dasar itu sih otak mesum Lo yang ngada-ada." Ucap Brayen membuat Xelo dan Dimas tertawa ngakak.
Dan kini Brayen sudah berada di mobil. Sedari tadi di perjalanan Brayen terus memikirkan keinginan Zela, meskipun kedua orang tuanya sudah memperbolehkan, tapi jauh dari lubuk hati Brayen masih belum sepenuhnya mengiyakan permintaan istri cantiknya itu.
Permintaan Zela terlalu aneh, dan Brayen tidak mau sampai terjadi apa-apa dengan istri dan calon anaknya, mengingat apa yang Zela inginkan sangatlah beresiko.
" Oh God my wife has a strange request." Gumam Brayen sembari memukul setir mobilnya pelan.
Sampi tidak terasa mobil Brayen sudah memasuki pelataran rumah Zafano. Brayen tidak seperti biasanya yang langsung masuk menemui istri cantiknya, kali ini dia sedikit ragu, padahal tadi ketika baru sampai kampus Brayen langsung merasakan kangen dengan Zela. Tapi sekarang semua berbanding terbalik.
Hampir 5 menit sudah Brayen berada di mobilnya tanpa melakukan apa-apa. Pikirannya satu, mewujudkan keinginan Zela atau mencoba sekali lagi untuk merayu Zela agar melupakan keinginannya untuk naik moge bersamanya ke hotel.
" Oke kita temui wanita unik ini sekarang." Gumam Brayen turun dari mobilnya.
Jika saja Zela tau apa yang baru saja Brayen katakan, sudah dapat di pastikan semua tidak akan baik-baik saja, atau Zela akan marah 7 hari 7 malam dengannya, tapi beruntung Zela masih berada di kamarnya sekarang. Semua yang Brayen katakan hanya di dengar oleh dirinya sendiri.
Brayen menuju ke atas di mana kamarnya berada. Sampai di depan pintu Brayen terdiam dia merasa ragu. Antara dia akan membukanya atau tidak, dengan segera Brayen menghela nafasnya untuk menenangkan dirinya.
Ceklek
Pintu kamar di buka oleh Brayen, dan betapa terkejutnya Brayen melihat Zela yang sudah rapih dan siap untuk pergi.
Penampilan Zela sangatlah berbeda dari hari biasanya, dan sekarang membuat Brayen tidak bisa lagi berucap, istrinya memang sangatlah cantik, bahkan di saat wanita lain sedang hamil besar kadang kesusahan mempadu padakan pakaian, tapi tidak dengan Zela yang terlihat cocok memakai pakaian manapun.
Tentu saja Zela senang, sebentar lagi keinginannya akan segera terwujud.
" Apa sayang?." Tanya Brayen masih dengan wajah takjubnya dengan mahluk Tuhan paling cantik ini.
" Kenapa lihatin aku kek gitu?." Tanya Zela membuat Brayen sedikit tersadar.
" Kamu cantik banget yang." Jawab Brayen membuat Zela blushing.
Selalu saja membuat Zela tersipu dengan perkataan sederhana Brayen tapi begitu bermakna untuk Azela.
" Kak Ray capek nggak?." Tanya Zela yang dapat gelengan kepala dari Brayen.
Melihat Zela saat ini membuat rasa lelah Brayen hilang begitu saja, bahkan rasa ragu yang tadi sempat di rasanya hilang begitu saja.
" Sekarang aja gimana? ayo Kak." Ajak Zela membuat Brayen terdiam sejenak.
Zela menatap Brayen bingung, karena tidak ada jawaban dari Brayen.
__ADS_1
" Ada apa?." Tanya Zela bingung.
" Kamu nggak minta kita ke puncak kan yang?." Tanya Brayen membuat Zela terdiam sebentar, lalu tertawa.
" Nggak lah Kak, bukannya tadi Kak Ray bilang mau ke hotel buat ngecek ya?." Jelas Zela membuat Brayen mengangguk pelan.
" Kenapa Kak Ray tanya gitu?." Tanya Zela penasaran.
" Lupakan." Jawab Brayen tapi malah membuat Zela semakib penasaran.
" Kenapa?." Tanya Zela sekali lagi.
" Bener pengen tau?." Tanya Brayen yang langsung di angguki oleh Zela.
" Kalau ke puncak kita bisa bikin anak lagi." Jawab Brayen membuat Zela terkejut tapi juga malu.
" Di hotel juga bisa Kak, malah sepuasnya kan itu hotel Ayah." Jawab Zela malu-malu dan langsung ngacir menuju ke bawah.
Sebelum Brayen tau wajah Zela sekarang yang sudah sangat merah karena perkataannya barusan.
Brayen masih berdiam diri di tempatnya, menyerna apa yang baru saja Zela katakan.
" Oh shit kenapa Gue jadi telmi gini?." Gumam Brayen kesal merasa dirinya bod*h dan tidak mudah tanggap.
Brayen tersenyum setelah sadar apa yang Zela katakan, dengan segera dia menuju ke bawah untuk menghampiri istri cantiknya.
" I'm coming darling." Gumam Brayen sembari turun di tangga dengan semangat 45.
Sampai di bawah, tidak terlihat Zela yang sedang menunggunya, lalu di manakah Zela sekarang?.
" Permisi Den Brayen, di tunggu Non Zela." Ucap salah satu asisten rumah tangganya.
" Oke Bi." Jawab Brayen singkat.
Brayen berjalan ke depan untuk menemui istrinya, pasalnya motor gede yang akan mereka tumpangi nanti sudah di siapkan oleh Pak Sopir keluarganya.
Tapi baru berapa langkah asisten rumah tangga yang tadi sudah mencegahnya.
" Maaf Den, Non Zela menunggu di depan kandang Yubi." Jelas asisten rumah tangga itu yang membuat Brayen terdiam tidak percaya.
" Yubi? astaga...." Gumam Brayen kesal dan gemas dengan Zela yang ingin pergi masih saja harus menemui kucingnya dulu.
__ADS_1
Brayen mengacak rambutnya kesal, awas saja kalau gara-gara Yubi Zela sampai menyuruhnya untuk kasih makan Yubi terlebih dahulu sebelum mereka pergi.