
Dengan perasaan campur aduk Zela masuk kekamarnya, sampai dikamar dia langsung menuju kamar mandi untuk segera membersihkan dirinya sebelum nantinya makan malam bersama kedua sahabatnya.
Ntah lah sekarang ini Zela harus merasa senang atau takut, tapi yang jelas mendengar penuturan Brayen tadi membuatnya jadi senyum senyum sendiri.
Zela senang karena ternyata Brayen sebegitu posesifnya terhadapnya, sampai dia tau banyak hal tentang ini, tapi dia takut jika sikap Brayen ini akan membuat yang lain tau yang sesungguhnya, tentang hubungannya dengan Brayen.
Setelah selesai dengan mandinya Zela turun menghampiri Seli dan Vani yang masih berada di ruang tv.
" Lama banget neng mandi apa mandi..?? Tanya Vani melihat kehadiran Zela.
" Mandi dong Van..." Jawab Zela dengan senyum manisnya.
" Oke..let's go..." Sambung Vani lagi dengan semangat.
Sementara Zela dan Seli saling pandang bingung.
" Kemana...??? Tanya Seli kepada Vani masih dengan bingungnya.
" Ya makan lah Sel.. kemana lagi emang... ayo..." Ajak Vani santai saperti tuan rumahnya sendiri.
Zela dan Seli saling pandang dan tertawa melihat tingkah konyong Vani.
" Dasarr ni anak.. makan gratis aja cepet.." Gumam Seli sambil berjalan menuju meja makan.
Sampai di meja makan, mereka langsung duduk dan mengambil makanan masing masing, tapi di saat Zela akan menyuapkan makanan pertamanya dia teringat Brayen kalau Brayen juga belum makan malam.
" Bentar ya gue panggilin Kak Ray sama Kak Dimas dulu.. biar sekalian.." Pamit Zela kepada Seli dan Vani.
Mereka berdua hanya mengangguk, sedangkan Zela langsung berjalan menuju ke atas untuk memanggil suaminya.
Zela berjalan pelan saat mendekati tempat kerja Brayen, sampailah dia didepan pintu, tapi Zela malah bingung sendiri antara mau memanggil Brayen atau tidak.
Dengan ragu Zela segera mengetuk pintu dari arah luar.
Tokk...tok...tok....
" Kak.. Kak ray..." Ucap Zela sedikit keras dari arah luar pintu.
" Iya...kenapa Yank.. masuk aja..." Jawab Brayen dari dalam.
Zela membuka pintunya dengan pelan, setelah pintu terbuka Zela tersenyum memperlihatkn gigi rapihnya.
Brayen dan Dimas malah bingung melihat Zela yang sedikit canggung.
" Kenapa..??? Tanya Brayen kepada Zela.
" Makan yuk... Udah ditungguin Seli sama Vani di bawah.." Jelas Zela.
" Oke... Sayang..." Jawab Brayen sambil berjalan mendeka ke arah Zela..
Zela sedikit terkejut, pasalnya Brayen sangat lantang tadi ketika memanggi dengan sebutan Sayang, bahkan Dimas dari belakang sampai geleng geleng kepala karena Brayen.
Dimas berjalan di belakang mereka, seperti pengawal membuntuti Sang pangeran dan putrinya.
Sampailah mereka dimeja makan, dengan cekatan Zela mengambilkan nasi beserta lauk pauknya untuk Brayen, sempat Dimas, Seli dan Vani melongo dibuatnya, terakhir ketika makan malam bersama, mereka melihat Zela yang masih sedikit kaku ketika menyiapkan makanan untuk Brayen, tapi sekarang Zela terlihat sangat cekatan dan mahir.
Setelah selesai dengan makannya, Seli dan Vani belum juga pamit, tapi mereka kembali bersantai di taman belakang, Zela, seli, dan Vani seperti biasa duduk di ayunan.
Sedangkan Brayen dan Dimas duduk di tepi kolam ikan kecil yang berada ditaman, sayangnya formasi mereka kurang satu yang sering membuat suasana menjadi riuh siapa lagi kalau bukan Xelo.
" Kak ray..." Panggil Zela sedikit lirih.
Brayen menoleh ke arahnya dengan senyum.
" Kenapa yank..?? Tanya Brayen kepada Zela.
" Pengen martabak...." Jawab Zela manja.
" Sekarang..??? Tanya Brayen dan dianggukin oleh Zela.
" Bentar ya gue suruh Pak Farhan.." Jawab Brayen yang akan menyuruh satpam rumahnya.
" Nggak mau kalau Pak Farhan yang beli.. Maunya kakak.." Jawab Zela membuat Brayen mengernyitkan keningnya.
Sedangkan Seli dan Vani hanya nyengir melihat tingkah manja Zela kepada Brayen, Kalau Dimas jangan ditanya dia hanya akan menyimak saja kali ini hehe.
" Oke... Ayo Dim.." Jawab Brayen mengajak Dimas untuk menemaninya.
" Gue..?? Tanya Dimas menunjuk dirinya.. Dan Brayen mengangguk tanda mengiyakan.
" It's oke... Sel mau pesen apa ma kakak..?? Tawar Dimas kepada Seli.
Sedangkan yang ditanya hanya bengong dengan malunya.
" Makanya tembak kak Dim biar Seli nggak malu.. digantungin mulu sih.." Cletuk Vani seketika membuat Seli melotot kearahnya.
Sedangkan yang lain hanya tertawa, Dimas dan Seli memang pernah nonton bareng tanpa sepengetahuan mereka, tapi sayang seribu sayang Vani yang sedang jalan dengan Maminya melihat dengan jelas ketika mereka sedang memasuki bioskop yang berada di mall tempat Vani dan Maminya berbelanja.
Vani sempat mempertanyakan ini kepada Seli, awalnya Seli mengelak, tapi akhirnya dia sendiri cerita kalau selama ini Kak Dimas juga sering kasih perhatian lebih untuk Seli, meskipun lewat chat atau telp tapi itu cukup membuat mereka semakin dekat.
Hanya saja mereka masih merahasiakan ini dari Brayen, Zela dan juga Xelo, karena mereka ingin memberi kejutan jika mereka memang cocok dan suatu saat nanti berjodoh.
Sangat rapih memang, sampai diantara Zela maupun Brayen tak menyurigainya, meskipun dari gelagat mereka berdua yang sering salah tingkah sangat terlihat jelas ketika sedang berkumpul bersama.
Jika saja Vani tak memergokinya mungkin juga dia tak akan mengerti atau bahkan tak curiga sama sekali.
" Tunggu aja kabar baiknya.. Loe juga Van ditunggu kabar baiknya dengan Babang Xelo.." Jawab Dimas membuat Vani sedikit kesal, sedangkan yang lain malah tertawa.
" Udah akh.. sana cepetan.." Suruh Zela yang memang tak sabar ingin menyantap Martabak yang sedang ia inginkan.
Brayen mencium kening Zela, setelah itu mengacak gemas rambut Zela.
__ADS_1
" Pengen Martabak ya dek..??? Tanya Brayen mengelus perut rata Zela.
" Iya Dad.. beyiin ya.." Jawab Zela menirukan suara anak kecil.
" Pasti..." Jawab Brayen singkat kembali mengelus perut rata Zela.
Seli, Dimas, dan Vani masih bengong dengan seikap kedua pasutri muda ini.. akh.. mereka memang sekarang sangat terang terangan di depan mereka.
Setelah itu Brayen berlalu pergi diikut Dimas yang akan menemani Brayen.
Tentu saja perlakuan Brayen seperti itu membuat Seli dan Vani sedikit iri..
" Wuih....Kak ray... so sweet banget sih.." Gumam Vani ketika Brayen dan Dimas sudah berlalu pergi.
" Makanya Van jadian sama Kak Xelo biar di beliin martabak juga.." Sambung Seli membuat Vani memelototkan matanya dan Zela tertawa.
" Dih...maksud gue tuh perlakuan Kak Ray ya.. bukan karena martabaknya.." Jawab Vani ngegas membuat Seli dan Zela semakin tertawa.
" Ow ya... Loe ma Kak Dimas lagi deket ya Sel..? Tanya Zela tiba tiba.
" Hah.. eng..gak kok.." Jawab Seli sedikit gelagap dengan pertanyaan Zela.
" Nggak biasanya loe gugup gini..pasti...." Ucapan Zela terputu karena sudah disambung oleh Vani.
" Iya Zel.. dan gue pernah memergoki mereka lagi nonton dibioskop.." Sambung Vani semangat.
Zela terkejut lalu tersenyum, sedangkan Seli melotot kesal ke arah Vani, tapi Vani hanya nyengir saja tanpa dosa.
"Ember..banget deh mulut loe..." Ucap Seli kepada Vani.
" He..he..sorry Van.. lagian Zela kan sahabat kita.. kabar baik itu harus disampaikan dengan orang terdekat.." Jawab Vani tanpa dosanya.
" Iya sih Sel..lagian loe gitu ya ma gue main rahasia rahasiaan..." Jawab Zela dengan mengercutkan mulutnya.
" Nah tuh.." Sambung Vani membenarkan apa yang dikatakan oleh Zela.
" Bukan gitu Zel.. gue belum siap aja cerita ke loe.. Lagian mana ada sih Kak Dimas suka ma gue.. Secara kan yang deketin dia banyak, cewek cantik semua lagi.." Jelas Seli yang merasa tak enak dengan Zela.
" Ish... Loe nggak tau ya Sel.. Kak Dimas memang banyak yang suka.. tapi dia nggak pernah nanggepin mereka, lagian loe jauh lebih cantik dari mereka,, dan kalau Kak Dimas sampe ngajakin loe nonton itu berati.." Jelas Zela setengah setengah membuat Seli sedikit penasaran begitu juga dengan Vani.
Tapi Seli jadi senyum senyum sendiri, dia tau apa yang akan Zela katakan, melihat Seli yang sedang senyum senyum sendiri, Vani tidak tinggal diam.
" Cie...Ceyi cie..." Ledek Vani dengan lebay.
" Paan sih Van...." Kesal Seli dengan muka merahnya.
Mereka bercanda bersama, sampai akhirnya Brayen dan Dimas datang dengan menenteng beberapa kantong plastik yang berisi Martabak pesanan Zela.
Zela yang melihat kedatangan suaminya dengan beberapa tentengan plastik langsung melonjak senang.
" Wuih..pesanan datang..." Ucap Zela menghampiri Brayen dengan wajah begitu sumringah.
" Makasih kak..." Ucap Zela kepada Brayen.
Dan Brayen menjawabnya dengan senyum tampannya, tapi langkah Zela terhenti dan menoleh kembali ke arah Brayen.
Cupp...
Zela mencium pipi Brayen didepan kedua sahabatnya juga Dimas, mereka terkejut pasalnya sudah berapa kali Zela melakukan itu di depannya, Zela benar benar terlihat sangat agresif.
Brayen yang gemas dengan tingkah Zela langsung menarik gemas hidung Zela.. Bukannya malu Zela malah memberi senyum manisnya.
" Ayo serbu gaes.." Ucap Zela kepada kedua sahabatnya.
" Sikat..." Jawab Vani semangat.
" Dasar..loe.." Sambung Seli sambil menoyor kening Vani.
" Auw... sakit Sel... kebiasaan loe.. ya.. Kak Dimas... Seli nakalin gue nih.." Adu Vani kepada Dimas.
Dimas yang tadinya akan menuju ruang tv untuk bermain Playstation dengan Brayen menoleh kearahnya.
" Bilang ma gue Van kalau Seli nakal.. Nanti biar gue yang kasih hukuman.." Teriak Dimas menjawab apa yang Vani adukan.
Tentu saja Seli sangat terkejut dengan penuturan Dimas, dia tidak menyangka Dimas akan mengatakan itu, begitu juga dengan Zela , dia tidak menyangka hubungan Seli dan Dimas sudah sejauh itu, sampai Dimas berani memberi hukuman Seli.
Vani hanya nyengir ke arah Seli dengan penuh kemenangan, sedangkan Brayen cuek saja expresinya juga biasa.
" Tuh dengerin loe bakal kena hukuman kak Dimas.." Ejek Vani kepada Seli yang dapat cubitan dipipi Vani dari Seli.
Mereka menikmati martabak di pinggiran kolam ikan, sedangkan Brayen dan Dimas asik diruang TV dengan gamenya.
Hari semakin malam, Seli dan Vani pamit untuk pulang karena besok mereka juga harus sekolah, awalnya Dimas menawarkan untuk mengantar tapi mereka menolak karena mereka bawa mobil masing masing.
Zela menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu dia langsung merebahkan diri di ranjang tempat tidurnya, Zela jadi teringat dengan apa yang Brayen katakan dengan Dimas pada saat dia menguping pembicaraan mereka tadi.
" Hmm... Kak ray..." Gumam Zela sambil senyum senyum sendiri.
Tak lama pintu kamar terbuka, dan Brayen melihat Zela yang sedang berbaring sambil senyum senyum sendiri, Brayen berjalan mendekati Zela, masih Zela tak bergeming dia masih sibuk dengan lamunannya.
" Ehem.." Deheman Brayen membuat Zela langsung menoleh ke arahnya.
" Kak ray..." Jawab Zela kaget dan langsung duduk di tepi ranjang.
Brayen lebih mendekat ke arah Zela, membuat Zela jadi salah tingkah dan berdiri didepan Brayen, dia merasa sedikit aneh dengan tingkah istrinya.
" Ada apa..? Tanya Brayen kepada Zela.
" Kak ray udah main PSnya..?? Tanya Zela balik tanpa menjawab pertanyaan Brayen.
Brayen mengangguk, dan kembali bertanya kepada Zela.
__ADS_1
" Jawab dulu pertanyaan yang tadi.." Suruh Brayen kepada Zela.
Zela menatap Brayen serius, begitu juga dengan Brayen.
" Gue sayang loe Kak.. sayang banget.." Ucap Zela dengan senyum manisnyan.
Brayen menatap Zela bingung, karena jarang sekali jika Zela yang menyatakan perasaanya terlebih dahulu.
" Gue juga Sayang sama loe... Sayang banget.." Jawab Brayen menirukan nada bicara Zela.
Zela memukul pelan dada Brayen sambil tersenyum malu, lalu dia memeluk Brayen, merasakan kehangatan cinta yang sudah Brayen berikan untuknya selama ini.
" Kak ray.." Lirih Zela kepada Brayen, masih dengan posisi mereka saling peluk.
" Hmm..." Jawab Brayen singkat.
" Kakak cemburu...??? Tanya Zela kepada Brayen.
Zela mendongak ke arah Brayen, terlihat Brayen sedikit gugup dengan pertanyaan Zela tadi.
" Cemburu untuk apa...?? Tanya Brayen masih dengan pura puranya.
" Gue denger tadi kakak ngobrol sama Kak Dim.. Sorry gue nggak sengaja..." Jelas Zela sedikit ragu.
Zela kembali menatap Brayen dengan sedikit takut, Membuat Brayen tersenyum karena gemas melihat muka merah Zela saat ini.
" Jadi loe nguping..?? Tanya Brayen dan Zela mengangguk pelan.
" Gadis nakal.." Sambung Brayen menarik hidung Zela gemas.
" Auw.. kak ray..ikh... tambah mancung nanti gue.." Jawab Zela songong.
Brayen tertawa, dan dengan sigap dia menggendong Zela lalu meletakannya diranjang dengan pelan.
" Kak ray ikh..." Rengek Zela ketika Brayen menggendongnya.
Kembali mata mereka saling bertemu, saat ini tatapan Brayen sukses membuat jantung Zela dag dig dug serr.... Jika tadi Zela bisa mengendalikan untuk bersikap tenang, tapi kali ini dia tidak bisa.. Sangatlah susah meskipun Zela sudah mencobanya.
" Gu..gue.. sama kak Bintang baru kenalan tadi, dan gue nggak ada apa apa.. Kak ray nggak usah cemburu tentang itu..." Jelas Zela dengan gugupnya.
" Gue tau.." Jawab Brayen enteng.
" Hah...tau..?? Bengong Zela dengan pikiran bertanya tanya.
dari mana kak ray tau..?? apa kak ray buntutin gue..?? tapi nggak mungkin banget...batin zela bertanya tanya.
" Kak ray tau dari man..." Ucapan Zela terpotong karena Brayen sudah terlebih dahulu menyambar bibirnya.
Mereka berpagutan cukup lama, sampai akhirnya menjadi cumbuan juga lumatan, dan berakhir dengan malam yang panjang untuk mereka.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Di pagi yang cerah ini Brayen dan Zela sudah sama sama bersiap untuk menuju ke sekolah dan juga kampus, karena pagi ini Brayen juga ada mta kuliah pagi.
Mereka bangun lebih awal dari biasanya dan merasa sangat bahagia karena semalam, Zela sangat bersemangat untuk bersekolah hari ini meskipun dia harus hati hati karena ternyata Brayen punya mata mata untuknya.
Ntah dia siapa, Zela sendiri juga belum tau, saat semua sudha siap tinggalah mereka menuku kebawah, tapi ketika Zela akan keluar pintu Brayen menarik tangannya.
Zela menoleh bingung dengannya.
" Ada apa Kak..?? Tanya Zela bingung kepada Brayen.
" Kiss me..." Perintah Brayen kepada Zela.
Zela menatap Brayen cemberut tapi setelah itu tersenyum.
Cup...
Zela mencium pipi Brayen dengan berjinjit kaki.
" Bibir..." Perintah Brayen lagi dengan nada datar, ini sudah hal biasa jadi Zela tak mempermasalahkan.
Cuppp...
Zela mencium Brayen, tapi tentu saja Brayen tak tinggal diam, mengingat waktu yang masih cukup pagi dia ingin mengisi energy terlebih dahulu.
Brayen menekan tengkuk leher Zela, jadilan mereka sekarang berciuman dalam dan lama
Krekkk.....
Tiba tiba pintu kamar mereka terbuka, mereka berdua reflek menghentikan aktifitasnya, ternyata Bunda Wina yang ingin mengajak mereka untuk sarapan.
Biasanya Bunda Wina menunggu di bawah, sangatlah jarang sampai menghampiri ke kamar, tapi kali ini karena permintaan Pak Riko yang sudah menunggu di meja makan, terlebih tadi malam mereka tak makan bersama karena Pak Riko yang harus bekerja lembur.
" Astaga..." Gumam Bunda Wina kaget.
Muka Zela saat ini sudahlah sangat merah persis udang rebus, sedangkan Brayen bersikap biasa saja seperti tak terjadi sesuatu.
" Bunda... ada apa..?? Tanya Brayen sedangkan Zela masih diam karena malu.
Jika biasanya Dimas yang memergoki mereka dia malu tapi tidak seperti sekarang ini, Bunda Wina martuanya sendiri yang memergokinya, dan Zela teramat sangat malu, mungkin jika ada levelnya sudah level 10 Zela merasa malu.
" Sarapan dulu sayang.. Ayah sudah menunggu kalian... Nggak papa ya lanjut nanti.." Goda Bunda Wina berlalu sambil tersenyum.
Brayen mengernyitkan keningnya, sedangkan Zela sudah tak bisa berkata lagi, dia masih diam seribu bahasa.
Yuhuu kak.. Maaf ya jika lama menunggu, biasa sikap pemalas author kambuh lagi.
Author nggak akan pernah bosan buat minta Like, Comment dan juga Vote..
Vote,,, Vote,,, Vote ya kak... Big Thanks 🙏🙏😘😘
__ADS_1