
Zela membuka matanya pelan, dilihatnya Brayen yang berada di sampingnya, masih dengan mata terpejam tapi tidak mengurangi ketampananya.
Zela mengangkat tangannya pelan, membelai pipi Brayen lalu menunjuk nunjuk pelan, meraba mata Brayen yang masih terpejam, juga alis tebal Brayen, Zela jadi senyum senyum sendiri dengan tingkah konyolnya.
Tapi tak lama Brayen memonyongkan bibirnya masih dengan mata terpejam, Zela yang melihat itu seketika ingin tertawa dia tersenyum gemas dengan tingkah Brayen, Zela mengira kalau Brayen sedang ngigau dalam tidurnya, dia mendekatkan bibirnya untuk mencium bibir Brayen.
Tak disangka setelah Zela menciumnya, Brayen tersenyum masih dengan mata terpejam, tapi perlahan dia membuka matanya, dan langsung menatap gadis didepannya yang sudah berwajah masam karena kesal, Zela yang merasa di kerjai oleh Brayen memang menjadi kesal.
" Kak ray udah bangun dari tadi kan..?? Tanya Zela yang di jawab Brayen dengan gelengan kepala.
" Iya kan.. ngaku aja...???? Tanya Zela lagi tapi masih dijawab Brayen dengan gelengan kepala dan senyum tampannya.
Zela merasa sedikit ragu karena senyuman Brayen hampir membuat dia tak bisa berkosentrasi, apa lagi dalam keadaan dekat seperti ini, dan ingat.. mereka masih tanpa pakaian ya hehe..
" Terus...???? Tanya Zela lagi lagi karena Brayen masih enggan menjawab dengan kata kata.
" Mau lagi yang..." Jawab Brayen sambil tersenyum jail.
Seketika Zela melotot dengan jawaban Brayen, tapi tentu saja saat ini muka Zela sudahlah sangat merah.
Meskipun Brayen suaminya dan mereka sudah sering melakukannya, tapi jika Brayen berkata seperti itu selalu saja sukses membuat muka Zela memerah karena malu.
" Kak ray ikh...." Jawab Zela kesal sedangkan Brayen hanya tertawa.
Di peluknya Zela, di ciumnya puncuk kepalanya, lalu Brayen kembali menatap Zela.
" Mandi bareng yuk..." Tawar Brayen dengan tatapan menggoda.
Belum sempat Zela menjawab, Brayen sudah berdiri sambil mengangkat Zela menuju kamar mandi untuk mandi bersama, meskipun Zela sempat menolak tapi pada akhirnya dia menurut juga dengan Brayen.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Dikediaman keluarga Praditya
Bintang sedang melamun di balkon rumahnya, dia terus membayangkan senyum indah yang ada pada gadis cantik di sekolahnya, siapa lagi kalau bukan Azela.
Yup.... Bintang memang benar benar menyukai Zela, bukan karena ingin membantu kakak sepupunya, melainkan karena dia sudah benar benar jatuh cinta dengan Zela.
" Gue yakin loe akan jadi milik gue..." Gumam Bintang dengan senyum tampannya.
Tak lama Ponsel Bintang berbunyi, Bintang melirik layar ponsel sekilas, setelah tau siapa yang menghubunginya Bintang malah meletakan ponselnya di atas meja yang berada di balkon, terlihat dia sangat malas untuk mengangkatnya.
Dengan senyum miring Bintang kembali menatap pemandangan dari atas balkon kamarnya.
" Gue jatuh cinta beneran kak sama dia..." Gumam Bintang dengan pandangan lurus kedepan.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Setelah selesai dengan mandinya Brayen dan Zela segera keluar untuk mencari makan, mereka makan di restorant dekat apartemen.
Setelah selesai mereka langsung kembali menuju ke apartemen lagi, malam ini mereka berdua memutuskan untuk tidur di apartemen.
Zela duduk di sofa sambil menonton tv, sedangkan Brayen duduk di sebelahnya tapi fokus menghadap layar laptop di pangkuannya.
Tak lama terdengar ketukan pintu dari arah luar, Zela dan Brayen saling pandang, pasalnya jam sudah menunjukan 9 malam lebih.
" Bentar gue bukain dulu..." Ucap Brayen yang di angguki oleh Zela.
Brayen berdiri dan berjalan menuju arah pintu, di bukanya pintu apartemen yang ternyata adalah Dimas, Brayen menatap kesal ke arah Dimas, sedangkan Dimas hanya tersenyum tanpa dosa di depannya.
" Mau ngapain..?? Tanya Brayen tho the point kepada Dimas.
" Mampir lah.. Minggir..." Jawab Dimas masih dengan tampang menyebalkn menurut Brayen.
Tanpa di suruh Dimas langsung masuk kedalam, di ikuti Brayen dari belakang masih dengan muka kesalnya.
" Hay Zel...." Sapa Dimas kepada Zela.
Zela langsung menoleh ke arah suara, lalu menatap Brayen yang berada di belakang Dimas masih dengan muka masamnya.
Zela jadi bingung sendiri melihat mereka berdua.
" Hay Kak..." Jawab Zela kembali menatap layar TV di depannya.
__ADS_1
Dimas duduk di sofa sebelah Zela, meskipun jaraknya tidak terlalu dekat tapi itu cukup membuat Brayen semakin kesal dengan Dimas.
Tanpa di duga Brayen langsung menyuruh Dimas pindah ke sofa kecil yang juga berada di ruangan itu, tanpa pikir panjang Dimas hanya menurut saja dengan santainya, sedangkan Zela hanya geleng geleng kepala dengan tingkah mereka berdua.
" Sensi amat loe ray,, belum dapat jatah ya..??? Ledek Dimas yang seketika membuat Brayen dan Zela menoleh ke arahnya.
" Udah tadi sore.." Jawab Brayen enteng membuat Zela seketika melotot ke arahnya.
Dimas yang mendengar penuturan Brayen hanya tersenyum.
" Mau ngapain..??? Tanya Brayen lagi kepada Dimas.
Tampak wajah Dimas yang berubah menjadi serius, mungkin Dimas merasa tidak enak karena Zela juga berada di sana, Brayen yang melihat muka Dimaspun tersenyum, Dia tau apa yang dimaksud oleh Dimas.
" Tentang pesta ultah Misha..??? Tanya Brayen enteng.
Dimas yang mendengar penuturan Brayen langsung menoleh ke arahnya dengan terkejut, begitu juga dengan Zela yang langsung menoleh ke arahnya, tapi Zela tampak biasa saja dia tidak terkejut sama sekali, dan kembali pada layar TV di depannya.
" Ray...." Lirih Dimas mencoba mengingatkan.
" Kenapa..?? Tanya Brayen lagi membuat Dimas semakin geram.
" Bini loe woy..." Ucap Dimas tanpa suara.
Brayen malah tertawa, membuat Dimas semakin kesal di buatnya.
" Zela udah tau.. Gue udah jelasin ke dia.." Jelas Brayen membuat Dimas terkejut tapi juga lega.
" Santai aja Kak Dim.. Gue tau kok.." Sambung Zela yang kali ini benar benar membuat Dimas lega tapi juga bingung.
" Loe tau semua Zel..?? Tanya Dimas yang di anggukin oleh Zela dengan mantap.
" Dan loe nggak marah ma Brayen..?? Tanya Dimas sekali lagi yang di jawab Zela dengan anggukan kepala.
" Pertanyaan konyol... Zela lebih dewasa dari loe man.." Ucap Brayen membuat Zela tertawa.
" Sialan loe.." Kesal Dimas kepada Brayen.
" So...? Tanya Dimas kepada Brayen.
" Kak Dimas bareng kak Xelo kan..?? Tanya Zela yang dapat anggukan kepala dari Dimas.
" Sekalian sama Seli dan Vani ya kak.." Sambung Zela membuat Dimas terkejut.
" Mereka juga Zel..?? Tanya Dimas yang di anggukin oleh Zela.
" Cakep... Gue suka kalau gitu.." Jawab Dimas dengan muka senangnya.
" Senang karena ada Seli kan..??? Goda Zela yang membuat Dimas sedikit terkejut.
" Jangan digantungin lho ya..." Ancam Zela kepada Dimas.
" Tenang aja Zel kakak bisa di andalkan.." Jawab Dimas songong tapi juga tidak main main.
Zela mengacungkan kedua jempolnya sambil tersenyum, sedangkan Brayen cuek dengan apa yang menjadi obrolan mereka berdua.
Zela dan Dimas akhirnya fokus dengan layar tv yang sedang menampilkn film " fast & furious hobbs & shaw " , Sedangkan Brayen masih fokus dengan laptopnya.
Brayen menutup laptopnya, tugas yang dia kerjakan sudah selesai, dia melihat Zela dan Dimas yang masih fokus dengan layar besar di depan mereka.
" Balik sana loe.." Usir Brayen kepada Dimas.
" Bentaran ray.. Nanggung nih.." Jawab Dimas tanpa menoleh ke arah Brayen.
Brayen menatap Dimas kesal, sedangkan Dimas hanya nyengir masih fokus dengan layar di depannya tanpa menoleh Brayen.
Brayen duduk di sebelah Zela, mereka sama sama fokus dengan filmnya, tapi tak lama Zela merasa ngantuk, tanpa beralih menuju ke kamar Zela malah bersandar di pundak Brayen, karena rasa ngantuk yang teramat, Zela langsung memejamkan matanya.
Brayen menoleh ke arah Zela yang sudah tertidur di pundaknya, dengan pelan Brayen mencoba membuat Zela merasakan posisi yang nyaman di pundaknya.
Dimas yang melihat perlakuan Brayen hanya nyengir saja, dia tau kalau Brayen dan Zela memang sudah sama sama saling cinta bahkan mungkin mereka di mata Dimas sudah saling bucin.
Tapi karena merasa kasihan dengan Zela, Brayen segera mengangkat Zela untuk dibaringkan di tempat tidur, dengan pelan Brayen meletakan Zela, menyelimuti, dan mengatur AC agar Zela tidak kepanasan juga kedinginan.
__ADS_1
Diamati wajah pulas Zela dengan seksama oleh Brayen, lalu diciumnya kening Zela beralih juga mengelus pelan perut Zela.
" Jaga Mommy son..." Ucap Brayen kepada Calon anaknya yang masih di dalam perut Zela istrinya.
Brayen memang menginginkan anak pertama mereka laki laki, meskipun dia belum tau jenis kelamin anak pertamanya laki laki atau perempuan tapi Brayen sudah sering memnggilnya dengan sebutan Son..
Tapi yang lebih penting untuk Brayen, anak dan Ibunya nanti sehat sampai hari kelahiran dan tanpa kekurangan apapun.
Brayen kembali menuju ruang tv dimana disana masih ada Dimas yang sedang duduk bersandar di sofa, Brayen membuka kulkas untuk mengambil 2 soft drink diberikannya yang satu untuk Dimas, sedang yang satunya lagi dia buka untuk dirinya sendiri.
" Thanks.." Ucap Dimas menerima minuman yang diberikan oleh Brayen.
Brayen hanya mengangguk menjawabnya, kemudian dia duduk di sebelah Dimas sambil meneguk minumannya.
" Loe serius ma Seli..?? Tanya Brayen tiba tiba membuat Dimas yang sedang meneguk minumannya hampir tersedak.
Dimas menoleh ke arahnya, begitu juga Brayen yang menoleh ke arah Dimas sekilas, kemudian mereka sama sama menatap lurus kedepan.
" Kayak nggak tau gue aja loe ray.." Jawab Dimas membuat Brayen tersenyum miring.
" Loe yakin ray akan bawa Zela ke pesta Misha..?? Tanya Dimas kemudian.
Brayen menghembuskan nafas kasarnya, masih dengan tatapan lurus ke depan.
" Zela di ajak anak tengil itu.." Jawab Brayen membuat Dimas kembali menoleh ke arahnya.
" Pemain film itu...?? Tanya Dimas, yang dijawab Brayen dengan anggukan kepala juga senyum kecutnya.
" Apa itu juga rencana Misha..?? Tanya Dimas lagi kepada Brayen.
" Tadinya gue kira gitu... Tapi gue yakin tuh anak juga ada rasa sama istri gue.." Jawab Brayen lagi lagi membuat Dimas mengangguk mengerti.
" Tuh anak curut yang lapor ke loe..?? Tanya Dimas lagi dan Brayen mengangkat alisnya tanda mengiyakan.
Sandro Aditama, dia satu sekolah dengan Zela dan dia begitu sangat mengagumi Zela sampe semua yang Zela lakukan atau Zela suka dia sangatlah tau, tak ada yang mengerti akan hal ini termasuk Zela sendiri.
Sampai pada akhirnya Sandro mengikuti Zela yang masuk kedalam mobil Brayen, dia terus mengikuti sampai Sandro tau bahwa Zela dan Brayen tinggal satu rumah, di rumah keluarga Zafano.
Tapi karena seorang Brayen Zafano yang tak mungkin bodoh hanya karena diikuti oleh seorang Sandro anak yang terkenal pendiam di Sekolah Zela, bahkan sangat sedikit yang tau tentang Sandro.
Brayen menyuruh Dimas untuk mencari tau tentang anak yang sudah berani ingin tau tentang kehidupannya.
Dimas menyerahkan Sandro, juga ponsel Sandro yang terlebih dulu sudah dia cek.
Seketika mata Brayen melotot melihat isi ponsel anak curut di depannya itu, dengan emosi meluap Brayen membanting Ponsel itu dan langsung meninju Sandro.
Ponsel Sandro ternyata penuh dengan foto foto Zela yang dia ambil ketika di sekolah, bahkan ada beberapa foto yang dia edit dengan foto wajah Zela hanya saja badannya diambil dari cewek lain, ya foto tanpa busana yang memeperlihatkan bentuk tubuh secara sempurna, bahkan posisi foto itu sangat memperlihatkan daerah kewanitannya.
Meskipun badannya bukanlah badan Zela tapi wajahnya adalah wajah ayu Zela istri cantiknya, Brayen benar benar sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya, dia benar benar sangat murka.
" Brengsek..." Geram Brayen sambil memukul Sandro.
" Sudah ray... Cukup.." Cegah Dimas kepada Brayen.
Brayen berhenti, dengan nafas memburu menahan amarah, dia menatap anak SMA di depannya dengan tatapan tajam siap untuk membunuh.
Tentu saja Brayen sangat murka, dia tau wajah istrinya dibuat anak curut brengsek ini untuk melakukan onani.
Sandro yang ketakutan dan tau berhadapan dengan seorang Brayen Zafano dia hanya berani menunduk sambil terus meminta maaf kepada Brayen.
Awalnya Brayen ingin memberi pelajaran lebih kepada Sandro, tapi karena Dimas menahannya Sandro bisa terlepas.
Tapi tentu dengan syarat, Sandro harus lapor siapa saja yang berani mendekati Zela, termasuk Vera jika masih saja berani mengganggu Zela istrinya dia harus lapor, dengan catatan hanya disekolah dan dia tidak boleh dekat dekat atau curi curi pandang dengan Zela, ya begitulah yang Brayen inginkan konyol bukan..??
Seorang Fans gelap Zela di suruh memata matai Zela sendiri, benar benar aneh... Tapi karena rasa takut Sandor yang begitu tinggi tentu saja dia menyanggupi apa yang di suruh oleh Brayen.
Terlebih Brayen bisa kapan saja mengelurakannnya dari Sekolah, tentu itu sangat membuat Sandro lebih takut dengan Brayen.
Tapi di balik ini semua ada seorang Dimas yang lebih membuat Sandro takut, ya Ayah Sandro bekerja di kantor Zafano tentu saja jika keluarganya ingin selamat, Sandro tidak bisa lagi berbuat kurang ajar, apa lagi dengan Zela menantu dari Bos dimana Ayahnya bekerja, mungkin jika Brayen tau hal ini akan beda lagi dengan nasib Sandro sekarang ini.
Setelah cukup lama membahas pesta yang di rencanakan Misha juga teman sekolah Zela yang sekarang menjadi suruhan Brayen untuk memata matai istrinya, Dimas segera pamit untuk menuju ke apartemen.
Brayen menatap Zela yang tertidur pulas, dia mencium kening Zela lalu ikut berbaring di sebelahnya untuk menuju ke alam mimpinya, memeluk Zela dengan mata terpejam.
__ADS_1
Oke kak.. Nanti bakal gue kasih konflik nyentrik ya.. Secara sekarang kan ada si Sandro penggemar Zela yang di jadikan Brayen untuk mata mata, tapi tenang aja.. Brayen dan Zela akan selalu romantis... tis..tis... 😁😁😁
Jangan Lupa, like, comment, dan Vote ya kak... 🙏🙏🙏😘😘