
Vani masih berada di lorong kamar hotel dengan perasaan kesal. Pasalnya Zela dan Seli pergi begitu saja meninggalkan dirinya yang terlihat begitu menyedihkan, berdiam diri menunggu kedatangan Xelo untuk menjemputnya.
Masih dengan perasaan yang sama, Vani menghentak-hentakan kakinya.
" Kak Xelo lama banget sih, pengen juga tau di gendong." Gumam Vani kesal.
Tapi tidak lama, mata Vani di tutup oleh seseorang dari arah belakang dengan tangannya, dan Vani sudah bisa menebak, jika itu kelakuan dari seseorang yang memang sedang di tunggunya.
" Beb ih." Kesal Vani membuat Xelo melepaskan tangannya yang menutupi mata Vani.
" Sorry beb nunggu lama ya?." Tanya Xelo dengan senyum tampannya.
Vani mengangguk, kemudian tangannya di regangkan seperti meminta untuk di gendong, membuat Xelo tersenyum dan mengacak rambut Vani gemas.
Tanpa menunggu lama, Xelo langsung menggendong Vani membawanya ke bawah. Membuat Vani tersenyum senang, meskipun permintaannya ini sangatlah lebay, tapi di perlakukan seperti ini oleh Xelo membuat Vani senang.
Sepanjang perjalanan Vani terus tersenyum dengan pandangan matanya tidak lepas dari wajah Xelo yang dengan cool nya menggendongnya.
Astaga... Semua itu membuat Vani jadi berfikir jauh, Vani serasa akan di bawa Xelo menuju kamar di malam pengantin mereka.
Sampai akhirnya, sampailah mereka di tempat tujuan. Tapi ternyata di sana tidak ada keberadaan Zela dan Brayen, hanya ada Seli, Dimas, dan juga cowok tampan dengan postur tubuh atletis yang Vani tidak tau dia siapa, tapi Vani merasa tidak asing dengan cowok itu, seperti sudah pernah bertemu, tapi di mana dan siapa Vani lupa akan hal itu.
Begitu juga dengan Tian yang merasa seperti tidak asing dengan Vani, tapi sama seperti Vani tadi, Tian tidak tau Vani siapa dan tidak begitu memikirkannya.
" Mau turun sekarang nggak?." Tanya Xelo kepada Vani, membuat Vani buru-buru mengangguk, karena lupa jika dirinya masih dalam gendongan Xelo.
Sedangkan Seli, Dimas dan cowok tampan yang ntah Vani belum tau namanya, tertawa kecil melihat tingkah Vani di gendongan Xelo.
" Dih... Yang nggak mau ketinggalan." Ledek Seli membuat Vani membrengut kesal.
" Gue bukan nggak mau di tinggal, tapi kalian yang ninggal Gue, jahat tau." Kesal Vani membuat Xelo mengacak rambut Vani pelan.
Vani begitu manis dan menggemaskan menurut Xelo.
" Zela mana Sel?." Tanya Vani kepada Seli.
" Tadi belok ke dapur lagi, bubur ayamnya nambah." Jawab Seli membuat Vani mengangguk.
" Eh... Van, Lo belum kenal sahabat asing Gue kan?." Tanya Dimas kepada Vani, yang di jawab Vani dengan gelengan kepala, tapi tatapannya juga menatap Tian.
" Tian." Ucap Tian memperkenalkan dirinya kepada Vani.
" Vani." Jawab Vani singkat.
" Cewek Gue." Sambung Xelo membuat Tian tertawa, begitu juga dengan Vani yang tersenyum dan mencubit pinggang Xelo gemas.
Sedangkan Seli, tadi dia sudah di perkenalkan terlebih dahulu oleh Dimas kepada Tian, bahkan pertama kali melihat Seli ataupun Vani sempat membuat mata Tian segar lagi, biasanya Tian memang tidak lepas dari cewek-cewek cantik, bahkan pacar yang Tian punya tidak hanya satu atau dua, bisa tiga sekaligus, Tian selalu memanjakan pacar-pacar bulenya di sana. Jika di sini mungkin Tian belum dapat karena sejak kepulangannya seminggu yang lalu ini juga pertama dia keluar dari rumahnya.
Tian sengaja ingin berkunjung ke hotel Zafano untuk melihat perkembangan hotel Brayen. Seperti dugaan Tian, jika Brayen memanglah sukses bisnis di dunia perhotelan. Hotel Zafano yang berada di negaranya tidak kalah suksesnya dengan yang berada di New York.
Bahkan Tian juga tau jika Brayen sedang membangun beberapa hotel Zafano di Canada di kota Ottawa. Tentu saja karena Tian yang memang sudah sering berbisnis dengan Brayen.
" Wanita asia memang tidak ada duanya." Ucap Tian membuat Dimas terkekeh. Dimas tau secara tidak langsung Tian sedang memuji Seli dan juga Vani.
" Dan cowok seperti Lo memamg tidak ada perubahannya." Sambung Dimas membuat Tian tertawa.
Tidak lama Brayen dan Zela datang, dengan Zela yang berjalan begitu santai, perut buncitnya yang menambah Zela semakin terlihat cantik dan sexy, Zela berjalan dengan tangannya yang masih sibuk menyendokan bubur ayam buatan Brayen tadi. Tapi mau bagaimanapun Zela berjalan tetap saja dia cantik.
Pertama yang terlihat pada diri Zela oleh Tian ialah, Zela gadis cantik yang seperti jelmaan bidadari, bahkan hati Tian sampai berdebar melihat gadis cantik yang merupakan istri dari sahabatnya.
Dan ini untuk pertama kalinya hati Tian berdebar karena seroang wanita, meskipun banyak wanita yang mengelilingi harinya, tapi hati Tian belum pernah sama sekali tersentuh karena wanita, Astaga... Ini salah, dan begitu salah, karena Zela ialah istri dari Brayen, sahabat dia sendiri.
Brayen menghampiri Tian yang sebenarnya masih dengan lamunan karena kecantikan wanita yang berada di sebelah Brayen.
Brayen memukul lengan Tian pelan, membuat Tian tersadar dari lamunan jauhnya tentang Zela yang merupakan istri Brayen.
" Brengs*k, pulang nggak bilang-bilang Lo." Ucap Brayen membuat Tian terkekeh dan langsung merangkul Brayen.
" Lo lebih brengs*k Ray, nikah nggak bilang-bilang." Jawab Tian masih di pelukan Brayen.
__ADS_1
Brayen melepaskan pelukan Tian, lalu tersenyum meremhkan ke arah Tian.
" Ceritanya panjang, nanti Gue ceritain ke Lo." Ucap Brayen membuat Tian mengangguk.
" So.. ini istri Lo?." Tanya Tian menunjuk Zela. Membuat Brayen mengangguk.
" Yang... Musuh Gue." Ucap Brayen memperkenalkan Zela kepada Tian, membuat Tian dan yang lain tertawa, sedangkan Zela tersenyum, senyuman yang begitu indah menurut Tian.
Shit... Ada yang nggak beres sama gue. Batin Tian kepada dirinya.
" Azela, Kakak boleh panggil Zela." Ucap Zela memperkenalkan dirinya kepada Tian.
Tian tersenyum, rupanya apa yang di katakan oleh Dimas memang benar, istri Brayen masih kecil tapi body Zela memang tidak di ragukan lagi.
" Tian, sahabat Brayen." Jawab Tian mengulurkan tangannya.
Brayen tersenyum miring, mendengar apa yang Tian katakan jika dia sahabatnya.
" Sahabat bejat Lo." Ucap Brayen lagi membuat Tian mengacak rambutnya.
Tian sebenarnya merasa tidak nyaman sejak kehadiran Zela, ntah perasaan apa yang Tian rasakan, dia sendiri tidak tau pasti. Tapi yang jelas matanya serasa selalu ingin melihat wajah ayu Zela yang begitu menggodanya.
Fix, Tian merasa jika ada maghnet yang membuatnya menjadi seperti ini kepada istri sahabatnya.
Brayen mengajak mereka untuk sarapan bersama di restorant hotel. Sepanjang perjalanan dari kolam hotel menuju restorant. Tidak hentinya Zela bergelayut manja di lengan Brayen.
Membuat Tian yang berada tepat di belakang mereka menjadi sedikit kurang nyaman. Meskipun dulu ketika di New York. Tian sering mencium pacarnya di depan Brayen. Tapi Brayen sama sekali tidak keberatan, karena memang Brayen tidak begitu memperdulikannya. Berbeda dengan apa yang sekarang Tian alami, meskipun Brayen dan Zela suami istri dan hanya bermanja di lengan Brayen saja, tapi mampu membuat seorang Tian merasa tidak nyaman, dan itu semua karena ada sesuatu yang terjadi pada hati Tian, untuk wanita cantik di pelukan Brayen.
Brengs*k Gue udah gila. Batin Tian mengumpat kesal kepada dirinya.
Mereka sarapan bersama dengan berbagai makanan, bahkan Zela yang tadi sudah habis 2 mangkok bubur seperti kurang saja dengan mengambil beberapa daging tanpa nasi untuk di makannya.
" Kak, boleh kan?." Tanya Zela manja kepada Brayen.
" Gue kirain udah lupa, masih ingat aja." Jawab Dimas yang mengira ketiga bidadari cantik itu sudah lupa tentang kepergian mereka.
" Mau jalan-jalan, tapi cuma bertiga aja tanpa kalian." Jawab Vani membuat Xelo langsung terkejut.
" Tanpa kita?." Tanya Xelo yang di angguki oleh Vani.
" Nggak boleh." Jawab Xelo langsung yang dapat acungan jempol dari Dimas. Sedangkan Brayen masih dengan diamnnya.
" Beb, cuma bentaran." Sambung Vani memelas, tapi Xelo mengangguk mantab.
" Berasa kayak burung di dalam sangkar kita kalau kayak gini." Ucap Seli sengaja menyindir Brayen CS.
" Hangat dong Mi, kalau di sangkar." Jawab Dimas terkikik tapi membuat Seli menatap Dimas kesal.
Sedangkan Tian tersenyum, Dimas masih sama seperti yang dulu humoris tapi pikirannya tidak jauh dari hal-hal yang begituan.
" Oke, tapi jam 12 harus sudah kembali." Ucap Brayen yang sedari tadi terdiam, tapi sukses membuat ketiga gadis cantik itu girang.
Jika Brayen sudah berkata iya, berati iya, dan jika Brayen yang berkata tidak berati juga tidak, meskipun Dimas dan Xelo sedikit keberatan dengan Brayen yang memperbolehkan ketiga gadis cantik itu pergi tanpa mereka.
" Ray... Ah...." Kesal Xelo membuat Brayen tersenyum miring.
" Santai Xel, kita juga bisa lihat cewek-cewek cantik di sini." Cletuk Dimas yang sukses mendapat pelototan mata dari Seli.
" Silahkan aja kalau berani, dan jangan harap ya kalian bisa menghubungi kita lagi." Jawab Seli seperti mengancam.
" Maksud Lo kita mutusin mereka Sel?." Tanya Vani ragu, membuat Seli juga mengangguk dengan ragu, membuat Dimas dan Xelo tertawa, dan mengacak rambut Seli dan Vani secara bersamaan.
" Jangan nakal ya kalau pergi tanpa kita." Ucap Dimas seperti mengingatkan. Yang di jawab Seli dengan menganggukan kepalanya dengan senyum.
Sedangkan Zela dan Brayen tersenyum melihat gaya pacaran sahabatnya yang begitu lucu, Brayen mencium kening Zela lembut.
" Baby hati-hati ya, kalau ada apa-apa kasih tau Daddy, oke?." Ucap Brayen mengelus perut besar Zela.
" Ciyap Dad." Jawab Zela menirukan suara anak kecil.
__ADS_1
" Nggak boleh nakal yang kalau nggak mau dapat hukuman." Ucap Brayen pelan yang di angguki oleh Zela dengan senyum manisnya.
Dan ucapan Brayen tadi juga di dengar oleh Tian yang kebetulan duduk di sebelah Brayen. Tian yang melihat perlakuan Brayen kepada Zela langsung bisa menebak, jika Brayen benar-benar sudah banyak sekali perubahan. Dan mungkin semua itu karena istri cantiknya, bahkan Tian juga sempat berfikir jika dia mempunya wanita seperti Zela, mungkin juga kebiasaan buruknya dengan banyak wanita bisa di hilangkan, memikirkan hal itu membuat Tian menggeleng.
" Konyol." Gumam Tian yang hanya di dengar olehnya.
" Kak duluan ya?." Pamit Zela kepada Brayen.
" kiss me please." Jawab Brayen yang sontak saja membuat Zela melotot tidak percaya. Zela sekarang malu jika melakukan ciuman di depan orang lain, jika hanya kecupan di kening tidak masalah.
" Kak Ray ih." Kesal Zela memukul dada bidang Brayen pelan. Membuat Brayen tersenyum dan mengacak rambut Zela gemas. Sedangkan Dimas, Xelo, dan Tian tertawa melihat Brayen yang di tolak istrinya.
Setelah kepergian Zela, Seli, dan Vani para cowok masih asik bercerita di restorant hotel. Mereka bercerita tentang apa saja yang sudah terjadi dalam hidupnya selama ini setelah sekian lama tidak bertemu, teruntuk Brayen dan Tian yang bercerita tentang kehidupan mereka.
Hidup Brayen yang jauh berubah sejak menikah dengan Zela, bahkan Tian sempat tidak percaya ketika Brayen mengatakan jika dirinya dan Zela menikah karena perjodohan.
Tapi perjodohan yang sangat menguntungkan untuk Brayen menurut Tian.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Zela sedang duduk santai di ruang tv dengan Bunda Wina. Tadi ketika jalan-jalan dengan kedua sahabatnya, Zela bertemu dengan Bunda Wina yang juga sedang berbelanja keperluan bayi untuk calon cucunya, calon anak Zela dan Brayen tentunya, mengingat mereka yang sudah tau jenis kelamin anak Zela dan Brayen, jadi sekarang lebih mudah untuk berbelanja kebutuhan bayi laki-laki.
Sedangkan Brayen masih berada di kamar mandi. Sengaja Zela tidak menunggunya seperti biasa, karena banyak hal yang ingim Zela tanyakan kepada Ibu martunya tentang melahirkan anak laki-laki.
" Bund, sakitan lahiran anak laki-laki apa perempuan?." Tanya Zela membuat Bunda Wina tertawa.
" Kamu itu lho tanyanya aneh-aneh saja, sakit semua dong sayang... Tapi rasa sakit kamu akan terbayar ketika melihat malaikat kecil kamu nanti." Jawab Bunda Wina membuat Zela mengangguk.
Tapi jawaban Bunda Wina masih belum membuat Zela puas, rasanya nyeri karena cerita Vani tadi tentang Tantenya yang melahirkan anak laki-laki begitu sakit masih membuat Zela sedikit takut.
" Kenapa? Kamu takut?." Tanya Bunda Wina yang di angguki langsung oleh Zela.
" Tidak boleh takut sayang, semua wanita akan merasakannya, dan wanita yang sudah bersuami dan mempunyai seorang anak itu akan menjadi wanita yang sempurna dalam hidupnya." Jelas Bunda Wina sambil tangannya menggenggam tangan Zela.
Zela tersenyum dan mengangguk.
" Zela mau lahiran normal ya Bund." Ucap Zela yang langsung di angguki oleh Bunda Wina.
Bunda Wina mengelus puncuk kepala Zela pelan.
" Makanya kamu harus semangat, dan nggak boleh takut ya sayang." Jawab Bunda Wina yang di angguki oleh Zela.
Zela memeluk Bunda Wina untuk lebih menenangkan dirinya.
" Ingat... Jangan banyak pikiran ya Nak, kalau butuh apa-apa bilang Bunda, Ayah, juga Ray ya." Ucap Bunda Wina lagi.
" Makasih Bund, makasih banyak." Jawab Zela yang di angguki oleh Bunda Wina.
Zela tidak lagi begitu takut sekarang, dia yakin kalau nanti di saat proses lahirannya semua akan baik-baik saja.
Sampai akhirnya Brayen datang bersamaan dengan Pak Riko yang baru saja pulang bermain golf dengan besannya.
Bunda Wina pamit untuk menyiapkan segala keperluan suaminya, meskipun banyak asisten rumah tangga di rumahnya. Tapi keperluan Pak Riko masih Bunda Wina yang menyiapkan.
Sedangkan Brayen duduk di pangkuan Zela, dengan tangannya mengelus perut buncit Zela, dan sembari menciumi perut Zela.
" Kak geli ih." Ucap Zela mendapat perlakuan Brayen seperti itu.
" Kalai bikinnya nggak geli ya yang tapi enak." Ucap Brayen yang sukses langsung dapat cubitan dari Zela.
" Auw... Sakit yang." Pekik Brayen.
" Biarin, salah sendiri nakal." Jawab Zela yang malah membuat Brayen semakin gemas.
" Nakal tuh kayak gini yang." Ucap Brayen sembari tangannya nakal pada dada Zela. Sontak saja sekarang Brayen benar-benar mendapat cubitan dan juga pukulan keras dari Zela.
Bahkan Zela sampai berdiri dan membuat Brayen hampir terjatuh, Zela malu jika sampai ada yang melihat, meskipun kenyataannya hanya mereka berdua saja yang berada di ruang tv.
Zela berjalan menuju meja makan untuk membantu menyiapkan makan malam. Dari pada berdua dengan Brayen yang akhir-akhir ini begitu usil selalu menggoda Zela. Tetapi Brayen dengan semangat berjalan mengikutinya untuk menggodanya lagi.
__ADS_1