
Zela mengarahkan kamera ponselnya kepada dirinya dan kedua sahabatnya yang sudah bersiap untuk di ambil fotonya. Dengan arahan dari Zela tadi tentunya, mereka menampilkan senyum cerianya, jari lentiknya bersiap untuk menekan tombol tengah yang berada di bagian bawah layar ponselnya.
Jangan di tanyakan bagaimana reaksi para penumpang yang melihat ketiga gadis cantik itu sekarang, mereka sampai geleng-geleng kepala sembari tersenyum, jelas mereka terpukau dengan kecantikan ketiga gadis cantik itu.
Bisa-bisanya ada bidadari nyasar di angkot? Harusnya gadis cantik seperti mereka berada di mobil yang super mewah bukan angkot yang juga ada ayamnya.
Wajah Zela, Seli, dan Vani memang sudah tidak lagi tertutup oleh tangan mereka, karena akan melakukan selfi, otomatis mereka harus melepaskan tangannya yang tadi di gunakan seperti masker itu.
Dari wajah dan pakaian, juga perawakan ketiga gadis cantik itu jelas terlihat, jika mereka dari keluarga yang berada, tapi kenapa harus bersusah-susah naik angkot? Pikir beberapa penumpang memperhatikan Zela dan kedua sahabatnya itu.
Terlebih ponsel yang Zela gunakan ialah Iph*ne 11, jelas jika mereka dari keluarga berada.
" Senyum Vani." Suruh Zela melihat Vani yang terlihat terpaksa melakukannya.
" Nih Gue senyum nih." Jawab Vani sembari tersenyum manis menampilkan gigi rapihnya.
Zela langsung mengambil moment itu, sedangkan para penumpang semakin tertawa melihat tingkah ketiga gadis cantik itu.
Sekitar 2 atau 3 gaya mereka melakukan selfi di angkot tersebut.
" Cukup." Jawab Zela tersenyum melihat hasil pemotretan yang abal-abal itu.
" Udahan Zel?." Tanya Vani yang di angguki oleh Zela.
" Yah... Gue kirain sih banyak gaya, cuma segini doang buat apa coba." Protes Vani lagi, tapi tidak di hiraukan oleh Zela.
Dengan segera Zela mempost foto selfi yang mereka lakukan di dalam angkot di akun ig nya. Dengan caption terdampar ntah kemana.
Sangat bertolak belakang memang dengan foto selfi yang mereka post dengan wajah yang sedang tersenyum ceria, sangat membingungkan bukan? memang itu maksud dan tujuan Zela. Berharap juga agar di antara Brayen, Dimas, dan juga Xelo melihat foto yang sudah dia post itu.
Mereka turun dari angkot, dan melanjutkan ke Hotel Zafano dengan menaiki taxi. Karena tidak mungkin sekali angkutan umum sampai di depan Hotel Termegah itu di kota mereka.
" Pufh... Akhirnya bisa duduk dengan nyaman juga." Ucap Vani setelah mendudukan bok*ngnya di kursi taxi.
" What? gila Lo Zel." Ucap Seli terkejut ketika melihat postingan Zela.
Zela menoleh ke arah Seli sembari menaikan alisnya.
" Kok Lo post sih?." Protes Seli kepada Zela.
" Apaan sih Sel? Baru juga bisa menghirup udara segar udah heboh aja Lo." Kesal Vani sembari ingin tau apa yang Seli maksud.
" Mana ada udara segar di kendaraan, nih Lo liat?." Jawab Seli seraya menyerahkan ponselnya ke tangan Vani.
Dengan teliti Vani menatap layar ponsel Seli, seketika matanya melotot dengan sempurna melihat dengan jelas foto mereka bertiga yang sedang tersenyum manis di angkutan umum dengan banyak orang. Bahkan sudah sangat banyak yang like ataupun komentar, hanya saja mereka harus bersabar karena orang yang mereka maksud belum juga melihat postingan foto itu.
" Astaga... Turun derajat Gue kalau kayak gini." Gumam Vani yang langsung dapat toyoran kepala dari Seli.
__ADS_1
Vani melotot tidak terima dengan perlakuan Seli, tapi dia tidak memprotesnya.
" Zezel kok Lo post sih? Malu Gue sama anak-anak ketahuan naik angkot." Jelas Vani yang di angguki oleh Seli.
" Sekali-kali anak Sultan naik angkot kan nggak papa, lagian cuma bentaran kok." Jawab Zela yang di angguki oleh Seli.
" Tunggu, apa Lo sengaja biar Kak Ray, Kak Dimas, sama Kak Xelo tau?." Tanyan Seli yang sudah mulai paham dengan rencana gila dari Zela.
" Pinter." Jawab Zela dengan senyuman cantiknya.
" Hah seriusan itu niat Lo?." Tanya Seli memastikan.
" Iya Cecel, kita liat aja nanti gimana reaksi mereka lihat kita naik angkot dan nggak ketemu, salah siapa udah bikin kita nunggu sampai kayak kanebo kering gini, nggak nagsih kabar lagi" Jelas Zela dengan nada kesalnya.
" Kyaaa.... Pinternya camerku." Jawab Vani yang langsung mengecup pipi Zela.
" Astaga Vani....!." Kesal Zela yang hanya dapat cengiran dari Vani.
" Pokoknya ponsel kita matiin ya setelah ini." Ucap Zela yang di angguki oleh kedua sahabatnya dengan mengacungkan jari jempolnya.
Sampailah mereka di depan Hotel Zafano. Setelah membayar taxi mereka turun dan langsung masuk ke dalam hotel. Sebelumnya Zela sudah meminta kunci kamar hotel VIP kepada manager hotel. Kamar yang mereka tempati berhadapan dengan kamar yang biasanya Zela dan Brayen tempati.
Saat mereka akan masuk ke dalam. Zela sempat melirik ke arah pintu kamar hotel yang biasanya dia dan Brayen tempati. Zela jadi tersenyum sendiri mengingat itu. Apa lagi jika dirinya dan Brayen sudah memasuki kamar. Biasanya suasananya akan langsung berubah manjadi panas.
" Napa Lo senyum-senyum?." Tanya Vani membuat Zela langsung menggeleng cepat.
Bruk...
Ketiga gadis cantik itu menghempaskan tubuhnya di ranjang kamar hotel. Lelah dan khawatir bercampur menjadi satu, tapi mereka juga merasa kesal dengan ketiga cowok tampan itu, mereka membiarkan bidadarinya terlunta seperti sekarang ini.
" Capek juga ya." Gumam Seli sembari menatap langit-langit kamar hotel.
" Capek, tapi enakan lah terdampar di kasur empuk gini." Jawab Vani sembari terkikik.
Seli menatap Vani kesal, masih aja bisa jawab di saat seperti ini.
" Udah ada yang di hubungi belum?." Tanya Zela yang di jawab kedua sahabatnya dengan gelengan kepala.
" Mereka lagi ngapain sih sampai lupain kita kayak gini, awas aja Kak Xelo nggak Gue kasih vitamin lagi tuh bibir." Cletuk Vani yang membuat Zela dan Seli saling pandang dan tertawa.
" Biarin aja lah, matiin aja ponsel kita, setelah itu tidur." Jawab Zela yang di tururti oleh Seli dan Vani.
Ketiga gadis cantik itu mematikan ponselnya. Lalu tidur tanpa sempat mandi atau bercuci muka terlebih dahulu, menunggu itu menyebalkan, apa lagi tanpa ada kabar dan kepastian, itu sangatlah menyiksa hati dan membuang waktu.
Sedangkan di Apartemen Dimas. Kini Brayen, Dimas, Xelo,Tian dan juga si kecil Arshaka sedang asik bermain.
Arsha memang di bawa oleh ke empat cowok tampan itu, tentu saja dengan persetujuan Bunda Wina, alhasil mereka sampai lupa waktu jika siang sudah berganti sore, bahkan di antara mereka tadi membiarkan ponsel mereka tergeletak begitu saja di atas meja.
__ADS_1
Pokoknya karena Arshaka, bayi tampan dan menggemaskan itu, mereka seperti mendapat mainan baru yang sangat menyenangkan sampai lupa waktu saking asiknya.
" Ini Om siapa Baby?." Tanya Brayen kepada putra tampannya.
" Mas." Jawab Arsha membuat para cowok tampan itu tertawa.
Arsha memanggil Dimas dengan sebutan Mas.
" Kalau Om yang paling ganteng ini siapa coba?." Tanya Xelo kepada Arsha untuk dirinya sendiri.
" Yo." Jawab Arsha tertawa memamerkan 2 giginya yang berada di bagian bawah.
Kembali mereka tertawa dengan celotehan Arsha yang belum jelas menyebutkan nama Xelo.
" Om yang paling jelek siapa?." Tanya Dimas kepada Arsha sembari menunjuk Tian.
Tian tersenyum miring menatap Dimas, mulut Dimas memang perlu di sumpal.
" Yan, yan." Jawab Arsha tertawa, bahkan Arshaka malah meminta untuk di gendong oleh Tian.
" Ha...ha...ha... Arshaka malah milih Om jeleknya." Ucap Xelo yang langsung membuat mereka tertawa.
Tian menggendong Arsha yang sekarang sedang bermain-main dengan hidung dan matanya.
" Thank baby, kamu udah bikin Om seneng hari ini." Ucap Tian kepada bayi menggemaskan yang sedang menatap wajahnya dengan senyumnya.
" Btw biasanya kalau ada Om ada Ont...." Ucap Xelo terputus dan langsung melotot teringat akan sesuatu yang sangat penting tapi sudah mereka lupakan.
Dengan segera Xelo melihat jam yang ternyata sudah menunjukan hampir pukul 4 sore.
" Sial, sial, sial!!." Gumam Xelo kesal dengan dirinya yang akan mendapat semprotan dari miss plankton.
Apa lagi sudah banyak sekali panggilan tidak terjawab dari Vani, sudah dapat di pastikan Xelo bibir Xelo akan di biarkan kering karena tidak dapat vitamin dari Vani.
Begitu juga dengan Brayen dan Dimas yang sudah mulai panik melihat banyak sekali panggilan tidak terjawab di ponselnya dari Zela dan Seli.
" Kacau man." Ucap Xelo frustasi sembari memberikan ponselnya kepada Brayen dan Dimas.
Xelo memperlihatkan postingan Zela yang menampilkan backgorund angkot dengan banyak orang. Apa lagi melihat caption Zela rasanya sudah bikin merinding saja.
" Ini editan deh, nggak mungkin mereka mau naik angkot berdesakan kayak gitu?." Ucap Dimas belum yakin melihat foto mereka.
Xelo mengangkat bahunya, jujur saja dia sudah pasrah dengan hukuman yang akan Vani berikan. Sedangkan Brayen mencoba untuk menghubungi istrinya, tapi ponsel Zela tidak dapat di hubungi.
Hawa dingin dan tegang mulai mereka rasakan, bukan karena kedatangan sosok tak kasat mata, tapi mereka akan kena hukuman dari ketiga gadis cantik itu, bairpun mereka cantik dan konyol tapi kalau sudah marah persis seperti singa betina.
" Bodoh." Gumam Brayen mengepal kuat tangannya, Brayen sangat menyayangkan dirinya membiarkan Zela menaiki angkot berdesakan dengan banyak orang.
__ADS_1
Brayen belum bisa berpikir jernih, untuk apa coba mereka naik angkot, jika mereka bisa menghubungi sopir pribadi atau naik taxi, itu semua jelas karena akal-akalan dari Zela dan kedua sahabatnya.