
Setelah makan malam selesai, benar saja Dimas pamit untuk mencari angin ke belakang. Yang di maksud Dimas belakang juga ntah di mana. Intinya dia tidak lagi berada di restorant hotel.
Begitu juga dengan Seli yang tidak lama setelah Dimas pamit pergi, dia juga pamit untuk menyusul Dimas pacarnya.
Seli menuju di mana Dimas tadi sudah memberitahukan keberadaanya. Sebuah balkon dengan beberapa tempat duduk dan banyak pohon kecil di sana. Sungguh hotel Zafano memang berbeda dengan hotel-hotel yang berada di tempat lain.
Seli menghampiri Dimas yang sedang menikmati suasana malam dari arah balkon itu. Juga jalanan dan gemerlapnya lampu di jalanan.
" Bi." Panggil Seli membuat Dimas menoleh ke arahnya.
Dimas tersenyum, lalu dengan segera menarik tangan Seli untuk masuk ke dalam dekapannya.
Seli membalas pelukan hangat Dimas, memang sudah biasa di antara mereka berpelukan, bahkan mereka juga sudah sering melakukan kissing tapi hanya sebatas itu dan tidak lebih.
Dimas lelaki normal, jika di hadapkan dengan wanita cantik seperti Seli sudah pasti dia akan merasa seperti lelaki pada umumnya, yaitu hasrat untuk menginginkan lebih. Tapi Dimas juga menyayangi Seli dengan tulus, Dia tidak mau mengecewakan Seli sampai nanti saatnya tiba, di mana mereka bebas meluapkan hasratnya seperti Zela dan Brayen saat ini.
Dimas mengecup kening Seli lembut, lalu tersenyum tampan ke arahnya. Membuat Seli juga tersenyum manis ke arah Dimas.
" Aku sayang kamu Mi." Ucap Dimas mengungkapkan isi hatinya.
" Aku tau itu Bi." Jawab Seli singkat membuat Dimas tidak begitu puas dengan jawaban Seli barusan.
" Katakan, kalau kamu juga sayang denganku Mi." Suruh Dimas menginginkan Seli agar mengungkapkan isi hatinya.
Seli manatap Dimas, lalu dia tersenyum jail, senyuman yang begitu manis tapi juga terlihat menyebalkan.
" Aku mau kalau Abi mau menyatakan perasaan Abi dari arah sini." Jelas Seli membuat Dimas mengernyitkan keningnya bingung.
" Maksudnya aku berteriak biar semua yang berada di sini dan di bawah sana tau isi hati aku untuk kamu Mi?." Tanya Dimas membuat Seli mengangguk dengan senyum.
Dimas tersenyum, wanita cantik di sebelahnya ini memang selalu membuatnya melakukan hal-hal yang tidak pernah di bayangkan olehnya, tapi jika hanya itu permintaan Seli, tentu saja Dimas langsung menyanggupi.
" Selia Kamila..!! I Love You..!!." Teriak Dimas begitu keras. Membuat Seli tersenyum senang.
" Kak Dimas..!! I Love You Too..!." Teriak Seli yang juga sama kerasnya dengan Dimas.
Bahkan meskipun mereka berada di ketinggian dari atas balkon. Ada beberapa sepeda motor yang berhenti di jalanan hanya untuk mengetahui dari mana asal suara yang baru saja di dengarnya.
Seli dan Dimas tertawa saat mengetahui beberapa sepeda motor yang terlihat seperti menoleh ke arah mereka. Meskipun tidak begitu jelas pastinya.
" Cieeeee.. Mojok." Ucap Zela dan Vani kompak.
Seli dan Dimas menoleh ke belakang mereka. Dimana Zela, Vani, Brayen, dan Xelo sudah berdiri sambil cengar-cengir menatap ke arah mereka.
" Ternyata di sini kalian? Kita cari-cari juga." Ucap Vani kepada Seli dan Dimas.
" Gue kirain Lo udah lagi mojok aja di kamar Hotel, Keren Bro dugaan Gue salah." Sambung Xelo membuat Dimas terkekeh.
" Gue udah tobat nggak bakal kayak gitu lagi." Jawab Dimas becanda. Tapi sukses membuat Seli menatapnya tidak percaya, begitu juga dengan Zela dan Vani.
Sedangkan Brayen hanya menggelengkan kepalanya dengan candaan Dimas yang sama sekali tidak lucu menurutnya.
" Serius Kak?." Tanya Seli tidak percaya. Dan kembali ke mode awal dengan sebutan Kak di depan sahabat mereka, meskipun sebenarnya Zela dan Vani sudah tau dengan panggilan sayang mereka yang terkesan lebay menurut mereka.
__ADS_1
" Iya serius lah Mi." Jawab Dimas membuat Seli semakin terkejut.
" Serius kamu kena prank." Sambung Dimas membuat Seli semakin kesal tapi juga lega.
Dimas menarik hidung Seli gemas, tapi dengan segera Seli tepis karena rasa kesalnya.
" Nggak lucu tau." Kesal Seli, yang di jawab Dimas dengan mengacak rambutnya pelan, sedangkan yang lain tertawa melihat pasangan yang satu ini.
Tapi tiba-tiba Zela mengaduh sakit di perutnya, membuat mereka yang berada di sana terkejut dan langsung panik.
" Auw...!." Pekik Zela kesakitan.
" Yang kamu kenapa?." Tanya Brayen panik.
" Sakit Kak." Jawab Zela dengan nada suara menahan sakit.
" Mananya yang sakit yang? Dim... Tolong panggilin Bunda sama Mamah." Suruh Brayen kepada Dimas untuk memanggilkan Kedua Orang tuanya.
" No, jangan panggil Bunda sama Mamah." Jawab Zela menolak, membuat Brayen sedikit bingung dengan permintaan istrinya.
" Tapi perut kamu sakit yang, aku nggak tau haris gimana, aku bingung." Jelas Brayen sambil mengacak rambutnya frustasi.
" Zezel... Lo harus di bawa ke dokter." Sambung Vani yang juga sama paniknya dengan Brayen.
" Kalau Lo nggak mau, Lo jahat ma anak Lo Zel." Jelas Seli juga kepada Zela.
" Gue pengen ke atas, ke tempat pas Kak Xelo nembak Vani." Jawab Zela yang sontak membuat mereka yang berada di sana mengernyitkan keningnya bingung dengan permintaan aneh Zela.
Tanpa menunggu lama lagi, Brayen langsung menggendong Zela dan membawanya ke atas, di mana tempat yang tadi Zela inginkan. Di ikuti oleh sahabat mereka.
" Gue jangan dulu panggil Bunda sama Tante nih Ray?." Tanya Dimas yang dapat gelengan dari Brayen.
" Nanti dulu aja Kak, nunggu Zela gimana." Jawab Seli yang di angguki oleh Dimas dengan senyum. Tapi kembali mereka panik lagi melihat Zela yang sedang mengaduh sakit.
Sampailah mereka di atas, dimana tempat itu telah menjadi saksi bisu antara Xelo dan Vani memulai menjali sebuah hubungan sampai sekarang ini.
Melihat tempat itu lagi, membuat Vani tersenyum begitu juga dengan Xelo, tapi perhatian mereka kembali pada Zela yang sudah minta untuk di turunkan dari gendongan Brayen.
" Kak Ray turunin aku." Suruh Zela yang langsung di turuti oleh Brayen.
" Yang mana yang sakit? aku suruh dokter ke sini aja ya buat priksain kamu?." Tanya Brayen yang dapat gelengan kepala dari Zela.
" Zel... Lo nurut deh sama Kak Ray, kita itu nggak mau Lo kenapa-napa." Sambung Seli yang juga khawatir dengan Zela.
Masih sama seperti tadi, Zela hanya menjawabnya dengan gelengan kepala, sambil tangannya terus mengelus perut buncitnya.
" Zezel please...." Pinta Vani memohon masih sama seperti tadi, Zela hanya menggelengkan kepalanya.
" Yang kamu jangan keras kepala dong, kamu harus ke dokter." Jelas Brayen gemas.
Brayen sudah ingin membawa Zela ke dokter untuk di periksa perutnya. Tapi Brayen juga tidak ingin sampai membuat Zela tidak nyaman jika bukan keinginannya.
Melihat wajah Brayen dan yang lainnya frustasi, membuat Zela tidak tahan lagibmenahan tawanya.
__ADS_1
Dan sekarang meledaklah tawa Zela yang sedari tadi sudah di tahannya.
" Ha.. ha...ha.... Kalian kena prank." Ucap Zela tertawa kencang tapi sukses membuat yang lain terkejut, bengong masih di tempatnya.
Masih dengan diamnya Brayen menatap Zela seperti meminta penjelasan.
" Sorry gaes... Perut Gue nggak sakit sama sekali, Gue cuma ingin kita kencan bareng aja di sini, di tempat yang udah merubah setatus sahabat Gue nggak jomblo lagi." Jelas Zela yang sukses membuat Seli dan Vani semakin terkejut. Sedangkan Brayen menarik gemas hidung mancung istri cantiknya yang nakal itu.
Dimas dan Xelo tertawa mendengar apa yang Zela katakan baru saja.
" Zezel...!!!." Teriak Seli dan Vani yang siap melancarkan aksinya untuk menyerang Zela, meskipun mereka menyerangnya hanya dengan sebuah gelitikan karena Zela sedang hamil besar.
Sampai akhirnya malam semakin larut, Brayen dan Zela memutuskan untuk menginap di hotel. Terlebih besok hari minggu, jadi mereka bisa santai tidak di kejar waktu untuk bangun pagi seperti hari biasanya.
Begitu juga dengan sahabat-sahabat mereka, Seli dan Vani satu kamar. Sedangkan Dimas satu kamar dengan Xelo.
Setelah Kedua Orang Tua Zela dan Brayen pamit untuk pulang, mereka meminta ijin untuk menginap di hotel. Tentu saja Pak Riko dan Bunda Wina memperbolehkan tetapi dengan syarat, Kamar laki-laki dan wanita di pisah, seperti formasi tadi.
Bahkan Bunda Wina juga sempat menawarkan Zifa, Jova, dan juga Dara untuk menginap saja. Tapi dengan segera Zifa menolaknya. Dan akan di ganti dengan liburan para anak muda itu di sebuah pulau yang juga di miliki oleh keluarga Zafano. Nanti tentunya ketika libur panjang itu telah tiba kembali.
Kini Seli dan Vani sedang berbaring di kamar hotel yang menjadi tempat inap mereka malam ini. Tidak lama Zela datang sendiri, dengan segera Zela ikut bergabung dengan kedua sahabatnya yang masih asik mengobrol.
" Pada ngomongin apa sih?." Tanya Zela kepada kedua sahabatnya.
Tapi di jawab Seli dan Vani dengan cengiran, membuat Zela mengernyitkan keningnya bingung.
" Apa?." Tanya Zela lagi.
" Zel... Gue mau tanya, tapi Lo jangan marah ya?." Ucap Vani ragu.
" Jangan aneh-aneh deh ya.. Mentang-mentang ini sudah malam, ngeres pasti kalian ya?." Tanya Zela membuat Seli dan Vani semakin cekikikan.
" Ini sebenarnya pertanyaan aneh Vani Zel, tapi Gue juga penasaran sih." Jelas Seli cekikikan, membuat Zela semakin yakin jika kedua sahabatnya akan bertanya tentang sesuatu yang tidak jauh dari otak mesum mereka.
" Gue tau, udah cepetan tanya." Suruh Zela agar kedua sahabatnya tidak lagi cekikan seperti tanda-tanda orang setres.
" Janji dulu nggak boleh marah." Ucap Vani meyakinkan yang di angguki oleh Zela.
" Lo kalau lagi enak-enakan ma Kak Ray pernah sampai kentut nggak Zel?." Tanya Vani yang sukses membuat Zela melotot tidak percaya dengan pertanyaan nyelneh Vani.
" Ha...ha...ha.... Pasti Lo mikir kayal Gue Zel, ni anak emang otaknya udah gesrek Zel, masa dia ngebayangin kalau udah nikah sama Kak Xelo terus lagi itu tuh, samapi dia kentut, Gila emang Lo Van." Jelas Seli membuat Vani cekikan.
" Ya Gue juga nggak tau, terlintas aja gitu di otak Gue, pas Gue ma Kak Xelo lagi penyatuan tiba-tiba muncul bau busuk, kan nggak enak banget pasti." Jelas Vani jujur yang sukses membuat Zela sekarang tertawa.
" Ha...ha...ha...ha.... Gue pernah." Jawab Zela singkat tapi sukses membuat kedua sahabatnya terkejut dan langsung menatap Zela dengan serius.
" Serius?." Tanya Vani tidak percaya, Zela mengangguk.
Bahkan Zela jadi cekikan sendiri mengingat kejadian yang pernah membuatnya malu di hadapan Brayen, terlebih itu ketika mereka baru saja menikah, dan itu menjadi rahasia besar Zela selama ini yang akan di ungkapkan kepada kedua sahabatnya.
Sorry gaes, aku sibuk banget
Jangan Lupa Like, Comemnt, dan Vote ya.. Di tunggu 😊😊
__ADS_1