
Zela dan kedua sahabatnya Seli dan Vani sedang bernyanyi di mobil seraya berangkat ke kampus. Meskipun suara mereka tidak ada yang bagus, tapi tidak masalah jika itu di dengarkan oleh mereka sendiri. Ketiga gadis cantik itu sama-sama merasa kebahagiaan yang luar biasa, apa lagi Seli yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan dengan Dimas.
" Tadi kenapa suami kecil Gue nggak keliatan Zel?." Tanya Vani kepada Zela.
Tadi ketika Seli dan Vani menjemput Zela memang tidak melihat keberadaan Arshaka yang biasanya akan meminta ciuman dari kedua Ontynya itu sebelum berangkat ke Kampus bersama Mommy nya. Pokoknya Arsha ini bayi kecil yang sangat cerdas.
" Lagi ngambek dia, jadi di ajak Ayah ke Kantor." Jawab Zela seraya mengetuk-ketukan jemarinya di pahanya karena alunan musik yang sedang di dengarnya itu.
" What ke Kantor?." Tanya Vani yang di angguki oleh Zela.
" Wuih... Bos kecil calon CEO tampan ini." Sambung Seli membuat Zela tertawa.
" Kayak di novel-novel yang Gue baca dong." Jawab Zela membuat mereka tertawa.
Pasalnya cerita novel yang biasanya mereka baca ialah tentang CEO tampan dengan kehidupan penuh dengan kesempurnaan.
" Btw Sel Lo jadi pakai gaun dari Tante Carrol kan?." Tanya Zela yang langsung di angguki oleh Seli.
" Jadi dong, setelah Gue pakai kan mau di pungut si Vanvan." Jawab Seli seraya mencibir Vani yang langsung tersedak karena ucapan Seli barusan.
" Sembarangan aja kalau ngomong, Gue juga pakai gaun dari Tante Carrol lah, tapi bukan bekas Lo ya.. Ogah amat Gue." Jawab Vani tidak terima.
" Ya udah sih nikahnya barengan aja kalian, pakai nunggu 2 minggu dulu Lo Van." Ucap Zela membuat Vani langsung menggelengkan kepalanya.
" No Zezel, mumpung dapat gedung buat nikah gratis ini." Jawab Vani sembari cekikikan.
" Pinter Lo Van." Jawab Seli menyetujui ucapan Vani barusan.
Pasalnya pernikahan Seli dan Vani memang akan di langsungkan di hotel Zafano. Tentu saja dengan gratis atau tanpa di pungut biaya sepeserpun.
Dan sampailah mereka di Kampus yang sudah beberapa bulan ini mereka tempati untuk belajar. Seperti biasa mereka akan menjadi pusat perhatian para mahasiswa, bahkan hanya beberapa mahasiswa saja yang sudah mengetahui tentang setatus Zela yang sudah menikah dan mempunyai anak.
Itu juga tidak ada yang tahu jika suami Zela ialah Brayen Zafano, lelaki tampan yang begitu di idolakan banyak wanita.
__ADS_1
Jelas Zela menjadi incaran banyak mahasiswa di Kampusnya. Tapi seakan tidak perduli, Zela menampilkan sikap datar dan cueknya seperti suaminya ketika berada di Kampusnya dulu.
" Morning cantik." Sapa Dion salah satu mahasiswa fakboy di Kampus mereka.
Mata Dion tertuju pada gadis yang paling cantik di antara mereka, siapa lagi kalau bukan Mommy nya Arshaka.
" Morning too handsome." Jawab Vani seraya cekikikan.
Tetapi dengan sengaja matanya di kedipkan ke arah Dion yang malah menebarkan rayuan mautnya.
" Love you darling." Jawab Dion seraya memberi kecupan dari jarak jauh kepada Vani.
Melihat sikap Dion membuat Vani memeragakan orang yang akan muntah.
Sialan banget itu cowok pagi-pagi udah bikin enek saja.
" Ada ya cowok gila kayak gitu." Ucap Vani kepada Zela dan Seli yang sedang menggelengkan kepalanya.
" Makanya Lo nggak usah tanggapilah cowok kayak Dion gitu, bisa keluar lagi sarapan Lo tadi." Jelas Seli membuat Zela tertawa.
Mereka memasuki kelas. Di sana sudah ada beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang sedang membicarakan cowok tampan anak pemilik dari Kampus Zafano.
Teman-teman Kampus Zela banyak yang belum tahu jika Zela ialah istri dari lelaki yang selalu menjadi topik pembicaraan mereka.
" Tahu nggak kata temen Gue yang kuliah di Kampus Zafano itu, si Brayen cowok tampan dan tajir itu udah jarang banget ke kampus." Ucap salah satu mahasiswi di kelasnya.
" Brayen Zafano maksud Lo?." Tanya teman yang satunya.
" Iya lah siapa lagi memang kalau bukan dia, cowok yang tampannya kebangetan itu kan memang Brayen Zafano." Jawabnya lagi seraya senyum-senyum membayangkan wajah rupawan Brayen.
Zela yang mendengar penuturan dari teman kelasnya mendesah sedikit kesal, tetapi Zela mencoba untuk tetap tenang meskipun hatinya sudah di liputi rasa cemburu.
" Kalau nggak salah Kakak Gue pernah bilang, doi udah nikah deh, malahan udah punya anak." Jawab salah satu dari mereka.
__ADS_1
Zela mengepalkan tangannya kuat-kuat untuk menahan amarahnya, beraninya mereka memanggil suaminya dengan sebutan Doi, memangnya Brayen siapa mereka? Hanya sekedar tahu dan kagum saja berani sekali memanggil Brayen dengan sebutan Doi, jelas Zela tidak terima itu.
" Hah? Ngaco aja Lo, nggak mungkin lah, Berita yang dulu itu cuma hoax aja." Jawabnya seperti tidak menerima kenyataan jika Brayen memang sudah menikah, bahkan istrinya sekarang malah sedang mendengar pembicaraan mereka.
Seli dan Vani melihat Zela yang sedang mengatur nafasnya agar tidak meledak emosinya.
" Zel Lo nggak papa kan?." Tanya Seli khawatir kepada Zela.
Zela mengangguk tanpa menjawab pertanyaan Seli barusan.
" Gue heran Kak Ray kan nggak kuliah di sini, masih aja jadi pembicaraan cewek-cewek ganjen itu, gimana kalau di Kampus Zafano ya? Pasti banyak banget tuh cewek-cewek yang terus curi pandang ke Kak Ray." Ucap Vani yang langsung menutup mulutnya setelah sadar apa yang dia ucapkan itu sangatlah salah di depan sahabatnya Zela.
" Astaga mulut blong Lo Van." Kesal Seli yang mendapat cengiran dari Vani.
" Zel sorry." Ucap Vani merasa tidak enak hati dengan Zela.
" Nggak papa Van, Gue juga sepemikiran ma Lo kok, dan besok Gue mau bikin kejutan buat mereka." Jelas Zela seraya memikirkan rencana yang akan di lakukannya besok.
" Lo mau ngapain?." Tanya Seli penasaran.
" Lihat aja besok." Jawab Zela seraya tersenyum penuh arti.
Zela berniat akan membuat teman-teman kampusnya yang masih saja mengagumi suaminya itu sadar, jika Brayen sudah mempunyai istri dan seorang anak
Zela tidak suka dengan wanita-wanita yang mengagumi Brayen secara berlebihan.
Bahkan sekarang rasanya dia sudah tidak sabar menemui Brayen di Kantornya. Jika Zela sedang di liputi rasa cemburu karena ucapan para gadis-gadis lain yang terus membicarakan tentang suaminya, hal terbaik untuk meredamkan amarah dan rasa cemburunya ialah memberikan service terbaik kepada Brayen. Karena memang hanya Zela yang berhak atas Brayen.
Begitu juga di Kantor Zafano. Brayen baru saja mengadakan rapat bersama karyawan juga rekan bisnisnya, setelah itu dia langsung masuk ke ruangannya.
" Shit kenapa lama sekali jamnya berputar." Gumam Brayen kesal seraya melirik arloji yang berada di pergelangan tangannya.
Brayen sudah tidak sabar ingin menikmati waktu bersama Zela, berdua saja hanya dengan Zela istri cantiknya, dan itu akan menjadi pertemuan yang panas untuk pasangan suami istri muda itu, yang satu sedang di landa cemburu dan yang satunya sudah tidak tahan terus menahan hasratnya.
__ADS_1