
Zela menghampiri Seli dan Vani yang sedang duduk santai di ruang tv sambil memakan cemilan yang sudah di suguhkan. Melihat kelakuan kedua sahabatnya membuat Zela menggelengkan kepalanya.
Dua mahluk cantik ini sering sekali menganggu waktu Zela dan Brayen ketika akan menikmati waktu intim mereka berdua. Tapi tidak masalah toh untuk saat ini berkat Seli dan Vani, Zela jadi terbebas dari perlakuan Brayen, Zela menikmati tapi dia juga masih ada rasa kesal terhadap Brayen, membuat Zela tadi berada di posisi kurang nyaman.
Aneh memang menikmati tapi tidak ingin, dan itu hanya Zela zaja yang merasa.
" Zezel." Panggil Vani melihat kedatangan Zela.
" Nggak pake triak kali." Sindir Seli yang dapat cengiran dari Vani.
Zela duduk di sebelah mereka, membuat Seli dan Vani saling pandang bingung dengan pakaian yang Zela kenakan.
" Kok masih pakai kimono?." Tanya Vani melihat penampilan Zela.
" Males ganti Gue." Jawab Zela singkat.
" Baru mandi Lo?." Tanya Seli yang di angguki oleh Zela.
" Tumben berdua aja." Ucap Zela melihat kedua sahabatnya tanpa satpam tampannya.
" Nanti juga ke sini, lagi Gue suruh buat beliin piscok." Jawab Vani yang di angguki oleh Zela.
" Eh Van, bilangin Kak Xelo Gue juga mau piscoknya, lebihin ya belinya." Pinta Zela yang di acungi jempol oleh Vani.
" Tanpa Lo minta kita juga ngerti kali Zel, Lo kan paling doyan makan sekarang." Jelas Seli membuat Zela tertawa.
" Dih... Kalian emang the best." Puji Zela kepada kedua sahabatnya.
Sampai akhirnya Brayen datang menghampiri mereka, tapi kedatangan Brayen malah membuat Seli dan Vani sedikit terkejut, bahkan Vani sampai melotot tidak percaya.
Begitu juga dengan Zela yang awalnya terkejut, tapi sekarang Zela menatap Brayen dengan kesal, bagaimana Zela tidak kesal jika Brayen datang hanya menggunakan celana rumahannya saja tanpa baju yang melekat pada tubuh atasnya, dan hal itu membuat Zela semakin murka dengan Brayen sekarang.
Zela tidak rela tubuh atletis suaminya di pandang orang lain, termasuk kedua sahabatnya, karena memang selama ini Brayen tidak pernah memamerkan tubuh indahnya dengan lawan jenisnya selain Zela istrinya.
" Kalian berdua aja?." Tanya Brayen melihat keberadaan Seli dan Vani tanpa Dimas dan juga Xelo.
Seli dan Vani hanya mengangguk tanpa berkata, tentu saja mereka shok tapi juga terpesona dengan tubuh indah calon hot Daddy itu.
Melihat kedua sahabatnya yang tidak beres, Zela segera menarik Brayen untuk ke kamarnya. Zela tidak ingin Brayen tebar-tebar pesona dengan cara seperti itu, meskipun Seli dan Vani kedua sahabatnya, tapi Zela tidak suka tubuh Brayen yang tanpa baju di lihat oleh mereka.
" Bentar gaes Gue ke atas dulu." Pamit Zela yang di angguki oleh Seli dan Vani.
__ADS_1
Zela menarik Brayen ke atas. Sedangkan Brayen hanya menurut saja karena rencananya sepertinya akan segera berhasil.
Dan memang itu yang Brayen inginkan, Zela mengajak Brayen ke kamar mereka lalu dengan segera meminta untuk melanjutkan apa yang tadi sedang mereka lakukan tapi tertunda itu.
Sampai di kamar Zela langsung menatap Brayen dengan tatapan tajam, begitu tajam mata Zela, tapi sayang menurut Brayen bukan menakutkan tapi Zela malah terlihat semakin sexy.
" Maksud Kak Ray tadi apa?." Tanya Zela dengan nada kesal.
" Maksud gimana?." Tanya Brayen begitu terdengar menyebalkan menurut Zela.
Zela menghela nafasnya, Brayen benar-benar menguji kesabarannya untuk saat ini.
" Pakai baju Kakak." Ucap Zela membuat Brayen mengernyitkan keningnya.
Padahal sebenarnya Brayen tau, jika Zela tidak suka dirinya bertelanjang dada di depan orang lain.
Brayen tersenyum, karena meskipun rencana awalnya tidak berhasil setidaknya Zela menunjulan rasa tidak sukanya jika dia seperti tadi. Konyol memang tapi itulah Brayen sekarang.
" Kamu jealuose yang?." Tanya Brayen yang langsung dapat gelengan kepala dari Zela.
" Jealuose kenapa? nggak ada alasan buat aku jealuose." Jawab Zela mengelak.
Dan mungkin juga karena kehamilan Zela yang membuatnya seperti itu.
" Aku gini karena kamu berani nemuin mereka dengan pakaian seperti itu." Jelas Brayen membuat Zela menatap Brayen tidak percaya.
Semua karena Zela yang masih memakai kimono handuknya untuk menemui kedua sahabatnya. Jika Brayen tidak melakukan itu tadi mungkin sekarang Zela masih berada di ruang tv dengan baju sialan itu, sampai nanti Dimas dan Xelo datang, dan Brayen tidak mau hal itu sampai terjadi.
" Kok Kak Ray aneh sih? aku nemuin Seli dan Vani tadi Kak, bukan orang lain." Ucap Zela dengan nada sedikit kesal.
" Kamu emang nemuin mereka, tapi itu semua sebelum pacar mereka datang yang." Jawab Brayen membuat Zela terdiam.
Apa yang Brayen katakan memanglah benar, Zela jadi bingung sendir harus jawab apa, mau mengakui kesalahannya malu, tapi jika tidak dia merasa begitu egois.
Zela masih terdiam di tempatnya, sedangkan Brayen semakin mendekat ke arahnya. Brayen memeluk Zela, pelukan mereka sekarang sudah terhalan oleh perut buncit Zela yang besar.
" Kita lanjutin yang tadi aja yang." Bisik Brayen membuat Zela menatap Brayen tidak percaya.
Selalu saja Brayen tidak tau kondisi, jika sudah ingin ya tidak bisa di cegah lagi, ntah berapa cara Brayen akan tetap memintanya.
" Tapi mereka?." Tanya Zela kepada Brayen.
__ADS_1
" Mereka akan ngerti kok." Jawab Brayen penuh percaya diri.
Tentu saja Brayen berkata seperti itu dengan penuh percaya diri, pasalnya tadi baik Seli maupun Vani memang terbengong melihat kedatangannya dengan bertelanjang dada di depan mereka. Dan itu dapat Brayen yakinkan jika Seli dan Vani memaklumi jika Zela langsung mengajak Brayen ke atas dan meminta.
Padahal yang begitu menginginkan ialah Brayen sendiri, yang sedari tadi uring-uringan tidak jelas karena tertunda.
Brayen mulai mengusap pundak Zela, juga menjatuhkan jubah atau kimono handuk Zela. dengan pelan Brayen mulai mengusap lembut tubuh Zela. Dia juga mulai melancarkan aksinya, tetapi lagi-lagi ada suara dari arah pintu.
Beruntung sekarang pintu tidak langsung di buka. melainkan di ketuk terlebih dahulu, jadi mereka masih bisa terselamatkan dari rasa malu.
Tok...
Tok...
Tok...
" Zezel, piscoknya udah datang." Teriak Vani dari arah luar pintu mereka.
Zela dan Brayen saling berpandangan ternyata itu adalah Vani, beruntung Vani mengetuk pintu terlebih dahulu tadi.
" Bentar Van, Gue ke bawah!!." Teriak Zela kepada Vani.
" Oke cepetan ya Zel mumpung masih anget." Jawab Vani juga dengan berteriak dar arah depan pintu.
Setelah kepergian Vani, Zela menatap Brayen yang masih berdiir mematung juga dengan wajah merahnya, dapat di lihat jika Brayen sekarang begitu kesal atau bahkan rasa kesalnya sudah menjadi marah.
" Aku ganti baju ya Kak, nggak enak sama yang lain." Ucap Zela mengecup pipi Brayen sekilas.
Zela mencium pipi Brayen untuk sedikit meredakan rasa kesal Brayen. Tapi tidak ada jawaban dari Brayen, membuat Zela terkikik dalam hatinya. Zela kasihan dengan Brayen, tapi dia juga kesal karena Brayen tadi menertawainya.
Padahal di sini jelas yang lebih salah ialah Zela yang sudah memeluk lelaki lain tanpa ijin dulu kepada Brayen, mungkin jika Zela menyempatkan waktu untuk mengirim pesan singkat sebagai ijinnya kepada Brayen ketika akan memeluk Bintang, semua nggak akan seperti sekarang ini.
Zela sudah selesai berganti baju, dia menatap ke arah Brayen yang masih berdiam diri.
" Sorry Kak, kita lanjutin nanti malam ya." Ucap Zela dengan perminta maafan, tapi Zela meminta maaf karena tertunda lagi keinginan Brayen, bukan karena awal mula kesalahan Zela yang memeluk Bintang.
Setelah kepergian Zela ke bawah. Brayen menghela nafasnya, dia mengacak rambutnya kesal.
" Sial, pisang Gue kalah sama piscok yang kecil dan lembek itu!!." Gumam Brayen dengan nada lirih, tapi begitu kesal.
Brayen juga berganti baju, dia berniat akan mengusir Dimas dan Xelo, karena kedatangan mereka keinginannya harus tetunda lagi.
__ADS_1