Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Beli Kado


__ADS_3

Hari berganti bulan, dan kini bulan sudah berganti tahun, tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, baby Arshaka sudah menginjak usia satu tahun, tepat nanti malam akan di adakan pesta kecil-kecilan untuk merayakannya syukuran atas bertambahnya usia bayi tampan dan montok itu.


Kini baby Arshaka juga sudah bisa berdiri sendiri, tinggal melangkahkan kakinya saja untuk jalan, dan sebentar lagi bayi tampan itu akan bisa berlari dan bermain sendiri.


Zela juga sudah hampir menghadapi ujian, dia semakin giat belajar dan juga mengurus Arsha, meski lelah sebagai ibu muda yang belum berpengalaman, tapi Zela begitu menikmati masa-masa ini, kapan lagi coba menjadi seorang Ibu tapi dia juga masih menjadi seorang siswi? Ini benar-benar kehidupan yang ajaib menurutnya.


Zela duduk di kursi bangkunya sembari melihat-lihat kue yang sebenarnya sudah dia pesankan untuk Arshaka. Tetapi yang namanya wanita tidak akan puas memilih hanya satu saja untuk barang yang si sukanya, rasanya matanya tetap saja akan mencari-cari yang lain.


" Dorrr...!." Teriak Vani berusaha mencoba mengagetkan Zela.


" Nggak kaget Gue." Jawab Zela sekenanya.


" Dih... Ngeselin." Jawab Vani kesal karena tidak mempan acara mengagetkan Zela.


Seli dan Vani duduk di sebelah Zela, mereka juga memberikan jus alpokat yang tadi di pesan oleh Zela ketika mereka ke kantin. reti


" Lagi ngapain sih?." Tanya Seli sembari melirik ke layar ponsel yang sedang di mainkan oleh Zela.


" Cari kue." Jawab Zela singkat.


" Buat apa?." Tanya Seli lagi penasaran.


" Anak Gue lah." Jawab Zela masih singkat.


" Daebak, Gue lupa si embul nanti malam ultah." Ucap Vani membuat Seli menautkan alisnya.


" Asrhaka udah satu tahun Zel?." Tanya Seli yang di angguki oleh Zela.


" Lebih tepatnya nanti malam." Jelas Zela membuat Seli menangguk pelan.


" Apa? kenapa Gue bisa lupa sama ultah pacar kecilku?." Ucap Seli sembari menepuk keningnya.


" Nggak usah lebay deh Lo, Gue yang istrinya Arsha aja biasa aja kok, yang penting kan kadonya nggak ketinggalan." Sambung Vani yang langsung mendapat toyoran dari Seli.


" Mimpi aja terus Lo." Cibir Seli membuat Vani mengerucutkan bibirnya.


Zela tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya yang merebutkan anaknya itu, sudah biasa Seli dan Vani menganggap Arsha sebagai pacar atau bahkan suami, dasar mereka memang semakin tidak waras saja sejak kehadiran Arsahaka, masih kecil saja wajahnya sudah bisa memikat gadis cantik, apa lagi nanti ketika beranjak dewasa, ralat bukan kecil lagi tapi masih bayi sekarang Arshaka.

__ADS_1


Pulang sekolah hari ini, ketiga gadis cantik itu di antarkan oleh para lelaki tampan yang akan siap mengantarkan mereka kemanapun, jelas tujuan Zela, Seli, dan Vani untuk memberi kado untuk si bayi tampan itu.


Mereka menggunakan mobil Seli agar bisa mengangkut mereka semua, mobil mewah yang terlihat seperti mobil trevel ckck.


" Kita ke mall dulu ya?." Ajak Seli kepada mereka semua.


" Ini pada mau ngapain sih sebenarnya?." Tanya Xelo yang belum tau tujuan para gadis cantik itu.


" Kepo aja beb." Jawab Vani membuat Xelo langsung mencubit pipi Vani dengan gemas.


" Auw... Kebiasaan deh kamu, udah ketularan Seli." Jawab Vani kesal.


" Kamu sih sekarang cuekin aku terus." Jawab Xelo memelas.


" Makanya caper Lo kalau nggak mau di cuekin." Cibir Dimas yang sedang menyetir.


" Kayak Lo nggak di cueki Seli aja." Jawab Xelo berbalik mencibir Dimas.


" Semua karena bayi tampan Lo Ray." Ucap Dimas dan Xelo barengan.


Seli dan Vani langsung cekikikan, Zela menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Dimas dan Xelo, kenapa jadi anaknya yang di salahkan? Harusnya Dimas dan Xelo itu paham kalau ketampanan mereka jauh di bawah Arshaka.


Mengingat hal itu membuat Brayen tersenyum sendiri, Zela yang melihat tingkah suaminya seperti orang tidak waras menautkan alisnya, ngeri saja kalau suami tampannya ini gila.


" Kak Ray kenapa?." Tanya Zela menatap Brayen.


" Hah?." Jawab Brayen dengan muka cengo.


" Masih waras kan?." Tanya Zela membuat Brayen terkejut dengan pertanyaan dari istrinya.


Kurang aja sekali istrinya bertanya seperti itu, tidak ada sejarahnya seorang Brayen tidak waras, terkecuali jika dia di tinggal oleh Zela baru Brayen akan berubah tidak waras.


Sampai akhirnya mereka sampailah di parkiran mall besar di kota mereka. Setelah memarkirkan mobilnya mereka turun, lalu dengan berpasangan mereka masuk ke dalam mall.


Sudah lama sekali memang ketiga pasangan itu tidak hangout bersama, dan ini merupakan untuk yang pertama kalinya setelah Zela lahiran.


" Mau kemana dulu nih?." Tanya Dimas kepada mereka.

__ADS_1


" Toko mainan." Jawab Seli semangat.


" Boleh, tapi setelah itu kita ke toko mas ya?." Jawab Dimas membuat yang lain menautkan alisnya bingung.


" Toko mas? Buat apa?." Tanya Xelo yang tidak paham dengan maksud Dimas.


" Ada deh, nanti kalian juga tau." Jawab Dimas tersenyum misterius.


Brayen menyunggingkan senyumnya juga mendengar ucapan Dimas, dia cukup tau apa yang di rencanakan oleh sahabatnya itu.


" Yah... Mas Dimas nggak seru nih." Keluh Vani karena tidak di beritahukan oleh Dimas maksud dan tujuannya ke toko mas.


Sumpah demi apapun, ketiga gadis cantik ini kenapa jadi lemot begini sih pikirannya? Mereka terlalu bersemangat membeli kado untuk Arshaka, sampai tidak tau tujuan orang ke toko mas ya sudah pasti membeli cincin dan teman-temannya.


" Jangan panggil Kak Dimas Mas." Bisik Seli tidak terima Vani memanggil Dimas dengan sebutan Mas.


Meski Vani hanya bercanda saja dan Seli tau itu, tapi tetap saja Seli tidak membolehkan.


" Iya Ami." Jawab Vani terkikik.


Sedangkan Seli menatap tajam ke arah Vani, sumpah itu mulut Vani selalu saja bikin mau menyumpal rasanya, Nggak mulut nggak pantat sama-sama bikin orang kesal.


Mereka menuju toko mainan yang cukup besar. Seli dan Vani sudah sibuk memilih-milih, sedangkan Zela masih setia menempel dengan suaminya, meski sudah tidak ada seorangpun yang berani terang-terangan mengikuti atau mengejar Brayen, tapi tetap saja Zela harus waspada.


Kini semua orang yang mengidolakan Brayen hanya bisa mengaguminya dengan diam, tidak lagi berani mengikuti ataupun memberi apapun untuk Brayen. Meski mereka akui, semakin hari rasanya semakin tampan saja wajah Brayen. Semakin mempesona dan menanatang dengan predikat hot Daddy untuknya.


" Kak Ray." Panggil Zela pelan.


" Apa sayang?." Tanya Brayen menatap Zela.


" Asinya udah banyak banget kayaknya." Bisik Zela sedikit malu, tapi membuat Brayen tersenyum miring.


Meski tadi sebelum berangkat sekolah Zela sudah memompa asinya untuk persiapan. Tapi tetap saja sampai siang rasanya sudah kembali memproduksi dengan banyak.


Jika tidak segera di berikan kepada Arsha, Zela merasa sedikit ngilu, ngilu karena terlihat begitu besar.


" Sini aku bantuin keluarin yang." Bisik Brayen yang langsung membuat Zela melotot.

__ADS_1


Ucapan Brayen ini terdengar begitu ambigu, memangnya Brayen akan membantunya dengan cara apa, terkecuali dengan cara...??? you know lah wkwkwk


__ADS_2