Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Di Restorant


__ADS_3

Masih di toko yang sama. Zela dan Brayen masih saja mondar-mandir dan memilih baju-baju lucu untuk calon anak mereka. Tapi sampai hampir setengah jam, nyatanya Zela belum sama sekali menjatuhkan pilihan baju yang cukup menggoda matanya tadi. Tentu saja karena Brayen yang terus berkata jika anak mereka nanti laki-laki dan Zela di suruh memilih baju untuk baby boy mereka oleh Brayen.


Jujur saja Zela sedikit kesal dengan Brayen, niat hati ingin berbelanja baju baby tapi malah dia dan Brayen terus saja berbeda pendapat, sampai akhirnya Zela menyerah dan memutuskan untuk mengambil baju yang sudah satu paket dengan sarung tangan juga kaos kaki bayi, Zela mengambil warna biru, karena dia pikir jika anaknya nanti cewek ataupun cowok akan cocok jika di pakaikan baju warna biru muda itu.


" Itu aja yang? " Tanya Brayen tanpa dosanya.


" Iya... " Jawab Zela singkat membuat Brayen tersenyum, mood istrinya sedang tidak baik saat ini, dan Brayen tau itu.


" Nunggu 2-3 bulanan lagi yang, kita akan tau jenis kelamin anak kita, setelah itu kita borong semua baju beserta tokonya " Bisik Brayen membuat Zela menatap Brayen dengan kesal. Tapi tidak lama Zela juga menarik hidung mancung Brayen dengan gemas, yang di jawab Brayen dengan senyuman tampannya sambil mengacak rambut Zela gemas.


Bahkan para karyawan toko yang melihat adegan kedua pasangan suami istru sampai di buat terkejut dan terhipnotis karena sikap sweet Brayen kepada Zela.


" Astaga.. Gue yang meleleh karena Kak Brayen Zafano " Gumam salah satu karyawan toko dengan senyum manisnya.


Zela dan Brayen menuju ke tempat kasir. Dimana mereka hanya membeli sepasang baju yang sudah di pilih Zela tadi, tapi tentu saja mau selama apapun mereka di sana semua karyawan toko di sana tidak akan marah. Bahkan meskipun Zela dan Brayen tidak membeli satu barangpun apapun di sana.


Setelah membayar baju baby yang di pilihnya tadi, mereka segera keluar dari toko untuk menuju ke toko lain.


" Mau kemana Kak? " Tanya Zela karena Brayen menariknya untuk mencari toko baju bayi lainnya.


" Ke toko yang lain lah yang, siapa tau lebih bagus-bagus di sana pilihannya " Jawab Brayen enteng, tentu saja Zela mendengus kesal. Mau sebanyak apapun pilihan baju yang bagus tetap saja mereka tidak akan jadi membelinya, bukankah tadi juga seperti itu? banyak pilihan baju bayi yang bagus tapi pilihan mereka hanya jatuh pada satu baju bayi saja.


" Kak... Mending kita pulang aja yuk.. Aku capek keliling terus " Jawab Zela karena sudah merasa bosan dan capek jika harus berganti-ganti toko untuk memilih baju bayi.


Sedangkan nantinya mereka bingung akan membeli baju seperti apa untuk calon anak mereka, pasalnya baik Zela maupun Brayen memang belum mengetahui jenis kelamin anak mereka nanti.


" Oke.. Kita cari makan dulu ya tapi " Jawab Brayen menyetujui ajakan Zela untuk pulang. Zela mengangguk sambil tersenyum ke arah Brayen.


" Tapi cari makan di restorant luar aja ya Kak " Pinta Zela kepada Brayen.


" Nggak di sini aja yang sekalian? " Tanya Brayen kepada Zela, Brayen fikir jika makan di mall akan lebih menyingkat waktu mereka untuk pulang. Tapi dengan segera Zela menggeleng sambil menampilkan muka menggemaskannya semaksimal mungkin, tentu saja agar Brayen kembali menyetujui permintannya.


Padahal tanpa Zela seperti itu juga sudah di pastikan jika Brayen akan mengiyakan ajakannya, tentu saja karena Brayen yang begitu menyayangi Zela sampai bisa di katakan jika Brayen termasuk korban bucin saat ini.


Brayen kembali mengangguk dengan senyuman manisnya. Dia juga mengacak rambut Zela pelan.


" Let's go Tuan putri " Ucap Brayen sambil tangannya menggandeng Zela, tentu saja perlakuan Brayen membuat Zela begitu bahagia.


" Baik Kian santang " Jawab Zela sambil terkikik, begitu juga dengan Brayen yang juga tertawa dengan apa yang di katakan oleh Zela barusan, terdengar begitu lucu pikir Brayen.


Zela dan Brayen keluar dari Mall. Mereka akan segera menuju ke restorant untuk mengisi perut mereka sebelum pulang ke rumah Zafano nantinya.


" Pengen makan apa yang ? " Tanya Brayen penuh perhatian dengan Zela.


" Emmm... Pengen siomay Kak.. Makan siomay boleh nggak? " Tanya Zela seperti minta ijin kepada Brayen.


" Boleh dong yang.. Di restorant langganan Bunda ada menu siomay juga.. Kita ke sana aja ya ? " Ajak Brayen yang di jawab Zela dengan anggukan kepala.


" Tapi enak kan yang?? Kayak siomay di kantin Sekolah? " Tanya Zela tidak yakin.


" Enak dong yang.. Nggak kalah sama siomay bandung asli " Jawab Brayen kembali membuat Zela mengangguk dan merasa begitu senang.


Sampai akhirnya mobil Brayen terparkir di depan restorant yang terlihat cukup unik tapi tetap elegan.

__ADS_1


Restorant dengan di hiasi banyak pohon bambu kecil di dalamnya. Juga beberapa aquarium ikan besar di setiap sudut restorant.


Zela melihat kesekeliling yang memang terasa nyama meakipun Zela baru pertama kali mengunjungi restorant itu.


Setelah duduk, Zela segera melihat-lihat dafatar menu di restorant itu, benar saja apa yang Brayen katakan tadi benar, karena di restorant yang sedang di kunjunginya terdapat menu siomay, bahkan bukan hanya siomay saja melainkan juga cireng, cilok, bakso kerikil seperti makanan-makanan yang ada di pinggir jalan. Hanya saja cara penyajian dan rasa yang sudah berbeda, jika di pinggir jalan makanan siomay ataupun sejenisnya hanya akan di hidangkan dengan sederhana. Di restorant ini sudah di pastikan akan di hidangkan dengan cara yang unik dan terlihat begitu berkesal dari makanana itu pada umumnya.


" Kok lucu ya..?? Banyak menu makanan yang biasa di pinggir jalan Kak? " Tanya Zela kepada Brayen.


" Iya dong yang.. Chef di sini kreatif, mereka menghidangkan makanan yang biasanya adanya di pinggir jalan, biar orang-orang kaya yang pengen makanan atau jajanan seperti itu nggak malu karena harus beli di tempat-tempat umum.. " Jelas Brayen membuat Zela mengangguk.


" Eh.. Bentar, barati Kakak malu ya kalau kita makan di pinggir jalan? " Tanya Zela kepada Brayen.


Brayen menarik hidung Zela gemas, karena pertanyaan Zela yang menurut Brayen tidak masuk akal untuk dirinya.


" Nggak dong yang.. Aku ajak kamu ke sini bair lebih heginis aja karena kamu lagi hamil, bukan berati aku bilang makanan di pinggir jalan itu nggak bersih ya.. Jangan salah paham dulu " Jelas Brayen, membuat Zela kembali mengangguk.


Zela juga tau jika Brayen bukan orang seperti itu, dulu mereka juga pernah makan di pinggit jalan. Bahkan beli jagung bakar di pinggir jalan juga ketika Zela sedang mengidam. Tapi mungkin sekarang Brayen akan lebih hati-hati lagi dengan semua makanan Zela.


Sampai akhirnya makanan yang mereka pesan datang, tentu saja ini hal yang paling membahagiakan untuk Zela karena sedari tadi sudah membayangkan siomay yang begitu lezat masuk ke dalam mulutnya.


Bahkan saat sioamy pesanannya sudah siap tersaji di depannya, Zela sampai mengeluarkan air liurnya. Astaga bumil yang satu ini ada-ada saja.


Beruntung Brayen tidak melihatnya, dan dengan segera Zela mengelap dengan tisu yang di bawanya. Tentu dia akan sangat malu jika Brayen sampai melihat kejadian barusan.


Sikap menyebalkan Brayen akan datang lagi melihat kekonyolan Zela barusan.


" Ayo.. Sayang kita serbu makanannya " Ucap Zela sambil mengelus perutnya. Tentu saja Zela mengajak anaknya yang masih berada di dalam perutnya.


Brayen tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, dia begitu bahagia jika melihat Zela senang, padahal hanya dengan mengajaknya makan yang sedang di inginkannya, tapi Zela begitu bersemangat dan terlihat begitu bahagia. Hal kecil memang tapi begitu berharga untuk Brayen ataupun Zela.


" Enak banget Kak.. Bener kata Kak Ray tadi, siomay di sini nggak kalah enaknya sama siomay yang pernah aku makan " Jawab Zela masih sibuk melahap siomaynya.


" Nanti kalau siomaynya udah abis makan nasi ya " Ucap Brayens seketika membuat Zela menghentikan aktifitas makannya.


" Ini aja udah bikin kenyang Kak " Jawab Zela kepada Brayen.


" Ha..ha..ha.. Kidding yang, tapi kalau masih laper pesen lagi aja ya " Suruh Brayen yang dapat acungan jempol dari Zela.


Brayen lebih dulu selesai dengan makanannya, sedangkan Zela masih sibuk mengunyah, siomay yang tadi di pesannya sudah habis, Zela kembali memesan, tapi bukan nasi melainkan hanya memesan steak 2 porsi.


Tapi jika 2 steak itu habis, sudah di pastikan Zela akan merasa kenyang. Sampai akhirnya makanan yang Zela pesan tadi benar-benar sudah habis tanpa bantuan dari Brayen sedikitpun.


" Kak bentar ya pulangnya, perut aku berat banget " Ucap Zela yang di angguki oleh Brayen.


" Iya sayang...." Jawab Brayen singkat.


Jujur saja Brayen sedikit sibuk sekarang ini, dia sembari membalas pesan untuk Mr Richard yang sudah mengetahui keberadaan Misha. Tapi sebisa mungkin Brayen tidak akan sampai terlihat cuek kepada istri cantiknya.


Sampai akhirnya seseorang memanggil nama Zela, dengan segera Zela menoleh ke asal suara.


" Zel.. !!! " Teriak Zifa yang juga datang ke restorant itu. Tapi Zifa tidak datang bersama Jova, melainkan bersama dengan Dara. Cewek cantik yang merupakan sepupu Zela tapi diam-diam menaruh hati pada Brayen, suami Zela sendiri.


" Lho.. Kak Zifa, Dara " Jawab Zela yang berdiri dan bercipika cipiki kepada mereka.

__ADS_1


" Ayo.. Duduk sini aja " Ajak Zela kepada mereka agar bergabung dengan Zela dan Brayen.


Zifa dan Dara duduk di depan Zela juga Brayen, setelah memesan makanan mereka kembali mengobrol sembari menunggu pesanan mereka.


" Udah nih makannya ? " Tanya Zifa kepada mereka berdua. Tapi tentu saja hanya Zela yang menjawab, Brayen sedang sibuk dengan dunianya.


" Udah dong Kak.. Nih Gue sampai habis banyak porsi " Jawab Zela membuat Zifa tertawa.


Sedangkan Dara sedari tadi masih terus mencuri pandang dengan Brayen yang masih sibuk dengan ponselnya. Bahkan ada 3 ponsel Brayen yang berada di depannya tentu saja dengan kegunaan yang berbeda-beda, untui bisnis di sini, untuk bisnis di luarg negri juga untuk Orang-Orang yang mengenalnya.


Seakan tidak peduli dengan datangnya Zifa dan juga Dara, Brayen masih saja sibuk sendiri, tapi Zifa yang sudah mengerti karakter Brayen seperti itu tentu saja tidak mempermasalahkan, bahkan Brayen bisa lebih cuek lagi dari ini, beruntung tadi Brayen sempat tersenyum sambil mengangguk dengan kedatangan Zifa dan Dara sebelum kembali pada kesibukannya.


Sedangkan Dara dalam hatinya terus bertanya, kenapa Zela begitu beruntung memiliki suami yang sempurna seperti Brayen? Tidak hanya cakep dan tajir, tapi Brayen tidak tergoda sama sekali dengan wanita selain Zela istrinya. Dan itu tentu saja membuat Dara semakin mengagumi sosok Brayen Zafano.


" Kok berdua aja? Nggak sama Kak Jova ? " Tanya Zela kepada Zifa.


" Nggak lah dek.. Kalau Kakak sama Jova, kasian Dara jadi nyamuknya, secara pacar dia kan jauh " Jelas Zifa membuat Zela tertawa.


" Oh..Iya ya.. Ada yang lagi mendem kangen kayaknya.. " Jawab Zela seketika membuat Brayen menoleh ke arahnya.


Begitu juga dengan Zifa dan Dara sedikit terkejut dengan Zela karena kata-katanya terdengar seperti lagu dangdut.


" Ish.. Lo kayaknya udah ketularan Seli ya dek, penggemar dangdut " Ledek Zifa kepada Zela.


" Nggak lah Kak.. Seli nggak suka dangdut, Tapi Om Aryo yang bikin Gue ingat dengan lagu itu, gimana nggak ingat coba, setiap ke rumah Seli Om Aryo lagi bergoyang dengan lagu-lagu dangdut kesukaannya, sampai Gue juga hafal " Jelas Zela membuat Zifa dan Dara tertawa.


Zela belumlah tau, jika sahabat karibnya itu juga menyukai lagu dangdut seperti Papinya.


" Btw Dar.. Kalau Lo kangen sam pacar Lo, kenapa nggak di suruh nemuin Lo ke sini aja sih? " Tanya Zela tiba-tiba yang membuat Dara sediki terkejut


Pasalnya semenjak melihat Brayen, Dara seperti enggan untuk bertemu dengan pacaranya yang sudah cukup lama menjalin hubungan dengannya. Meski sudah beberapa kali pacar Dara meminta ijin untuk menemui Dara, tapi selalu saja Dara beralasan jika dia sedang sibuk untuk menghadapi ujian. Tentu saja itu hanya alasannnya saja agar mereka tidak bertemu.


" Nah.. Ide bagus tuh.. Itung-itung buat semangat Lo mau ngadepin ujian Dar " Sambung Zifa membenarkan apa yang di katakan oleh Dara.


" Nggak ah.. Kalau dia ke sini nanti Gue malah ngerasa keganggu " Jawab Dara sekenanya.


" Ih.. Gimana sih Lo? mumpung masih ada waktu buat jalan sama pacar Lo, sebelum nanti Lo ujian, kalau udah ujian kan Lo bakal jadi kutu buku nantinya " Jawab Zela.


" Tau nih anak.. Ketemu sama pacarnya malah nggak mau, aneh Lo " Jelas Seli kepada Dara.


Dara hanya tersenyum saja, dia enggan untuk menjawabnya lagi, karena memang sebenarnya yang bermasalah ialah dirinya sendiri, Dara salah karena sudah menyukai lelaki yang merupakan suami sepupunya sendiri.


iya.. Gue aneh.. Karena gue udah terlanjur suka sama kak ray, dan kalian nggak tau gimana rumitnya perasaan ini Batin Dara dengan tatapan matanya yang menatap Brayen dengan begitu lekat.


Tapi selalu saja baik Zela maupun Zifa tidak mengetahuinya, bahkan sekarang Zela malah sibuk merampok pesanan makan Kakaknya Zifa, sungguh rasanya perut Zela tidak ada kenyangnya.


Sedangkan Dara memainkan sendok yang sedang di pegangnya, dia memutar-mutarkan sendoknya dengan tatapan matanya yang masoh setia menatap Brayen, lelaki tampan yang masih sibuk dengan ponselnya.


Lo emang beda kak ray.. lo begitu mengagumkan buat gue Batin Dara lagi yang masih tetap menatap Brayen, bahkan tanpa dia sadari Dara sampai mengigit bibir bawahnya.


Sorry gaes sore lagi..Vote ya gaes Biar aku semangat... Vote, Vote, Vote...


Jangan Lupa Like dan Comment juga

__ADS_1


Vote.. Vote.. Vote.. Big Thanks 🙏🙏😘😘


__ADS_2