Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Pulang


__ADS_3

Sore harinya motor sport Brayen memasuki pelataran rumah mewah Zafano. Tidak lama munculah Pak Riko dan Bunda Wina yang sedang menggendong Arsha dari balik pintu utama.


Arsha tertawa senang melihat kedua orang tuanya yang baru saja pulang berkencan atau bisa di katakan mereka baru saja melakukan bulan madu di puncak. Bayi tampan itu tidak mengerti jika yang di lakukan oleh kedua orang tuanya saat ini ialah perbuatan yang salah, jelas salah karena mereka pergi ke puncak bukan di hari libur sekolah ataupun kuliah.


Melihat kedua martuanya membuat Zela hanya bisa menyunggingkan senyumnya dengan canggung, Zela paham apa yang sudah di perbuatnya sangatlah salah, meski Bunda Wina dan Pak Riko tidaklah mungkin memarahinya, tapi Zela merasa tidak enak hati atas apa yang sudah di lakukannya hari ini, mungki saja jika kedua orang tuanya tau, Zela akan lebih merasa tidak enak dan malu pastinya.


" Sayang kamu masuk dulu bersih-bersih, Arsha sudah kangen dengan Mommy nya." Jelas Bunda Wina menyuruh Zela untuk bersih-bersih terlebih dahulu.


" Baik Bund, Zela duluan Yah Bund." Pamit Zela yang di angguki oleh kedua martuanya dengan senyum mereka.


Zela masuk ke dala terlebih dahulu, lagian dia memang sudah ingin bermain dengan bayi tampannya yang sedari tadi terus tersenyum sejak kedatangannya.


" Ray juga mau bersih-bersih dulu." Pamit Brayen yang juga berniat untuk membersihkan diri sebelum bermain dengan Arsha nantinya.


" Mau kemana kamu? Duduk dulu." Suruh Bunda Wina kepada Brayen.


Brayen tidak menjawab, dia tau jika kedua orang tuanya pasti akan menanyakan tentang kejadian hari ini, jelas karena di sini Brayen sangatlah salah mengajak Zela untuk bolos di hari pertamanya masuk sekolah. Meskipun sebenarnya tidak ada paksaan karena Zela sama sekali tidak menolak, tapi tetap saja Brayen sebagai suami harus lebih mengerti dan bertanggung jawab harusnya.


" Yesi tolong jagain Arsha sebentar." Panggil Bunda Wina kepada salah satu baby sitter Arsha.


" Baik Bu." Jawabnya sembari mengangguk.


Baby sitter itu sempat melirik ke arah Brayen sekilas, tapi kemudian dia segera menggendong Arsha dan membawanya ke tempat lain.


Sedangkan kini Brayen duduk di depan kedua oranv tuanya, wajahnya biasa saja tanpa rasa salah apa lagi takut sedikitpun.


" Kamu tau kesalahanmu Ray?." Tanya Bunda Wina yang di jawab Brayen dengan menganggukan kepalanya.


Pak Riko masih menjadi pendengar, jujur saja dia tidak begitu mempermasalahkan dengan apa yang sudah Brayen lakukan, namanya anak muda harus ada cerita yang lebih seru di dalam hidupnya, terlebih Brayen membawa Zela yang merupakan istrinya, itu tidak menjadi masalah bagi Pak Riko.


" Kenapa tidak nunggu weekend dulu sih Ray? kamu kan tau hari ini istrimu pertama masuk sekolah lagi." Jelas Bunda Wina sedikit memarahi Brayen.

__ADS_1


" Ray nggak bisa biarin Zela cemburu Bun." Jawab Brayen enteng.


Bunda Wina dan Pak Riko saling pandang bingung, apa maksud dari ucapan Brayen barusan.


" Jelaskan Ray." Suruh Pak Riko dengan begitu tenang.


Pak Riko juga yakin, Brayen tidak mungkin mengajak Zela bolos tanpa sebab.


" Di kampus banyak banget gadis-gadis yang ngejar Ray." Jelas Brayen jujur apa adanya.


" Terus?." Tanya Bunda Wina penasaran.


" Zela tau, dan Zela kesal karena itu, makanya Ray ngajak Zela ke puncak biar dia nggak kesal lagi." Jelas Brayen membuat Pak Riko menyunggingkan senyumnya, sedangkan Bunda Wina mengangguk tampak sedikit paham dengan permasalahan yang ada.


" Kata Pak Kepsek tadi kamu mau pengeluaran siswi yang centil? Itu apa maksudnya?." Tanya Bunda Wina masih ingin Brayen menjelaskan.


" Oh... Itu biar mereka nggak ngejar Ray terus Bund, capek juga jadi cowok ganteng di kejar-kejar gadis terus." Jelas Brayen songong dan semakin sembarangan.


" Auw... Sakit Bund." Keluh Brayen.


" Hukuman buat anak Bunda." Jawab Bunda Wina enteng.


" Sudahlah Bund kasihan Ray, dia kan sudah bikinin kita cucu yang sangat tampan dan menggemaskan." Jelas Pak Riko mencoba menyelamtkan Brayen dari serangan istrinya.


" Benar Bund kata Ayah, apa lagi sebentar lagi cucu Bunda akan bertambah satu lagi." Jawab Brayen sekenanya, jujur saja itu hanya akal-akalan Brayen saja.


Bunda Wina terkejut dengan ucapan Brayen, dia melepaskan tarikan tangannya pada telinga Brayen, menatap Brayen serius.


" Benar Ray?." Tanya Bunda Wina masih tidak percaya, Brayen mengangguk.


" Iya Bund, tapi besok nunggu Arsha tidak minum asi lagi." Jelas Brayen sembari kabur dari hadapan orang tuanya.

__ADS_1


Pak Riko terkekeh melihat istrinya yang di kerjai oleh Brayen, sedangkan Bunda Wina tampak begitu kesal dengan Brayen.


" Ray...! Anak nakal! Untung ada Arsha kalau tidak kamu sudah Bunda cincang." Teriak Bunda Wina kesal.


Setelah kehadiran Zela dan Arsha di keluarga Zafano, banyak sekali perubahan pada sikap Brayen juga Bunda Wina, mereka jadi lebih humoris seperti Pak Riko yang memang pada dasarnya humoris.


Padahal dulu Brayen sangatlah cuek dan datar kepada siapapun, bahkan dengan kedua orang tuanya Brayen juga tidak pernah sekonyol ini, tapi sejak menikah banyak sekali perubahan pada diri seorang Brayen.


Brayen membuka pintu kamar. Tampaklah Zela yang baru saja selesai mandi, Zela masih memaka kimono handuknya, cantik dan sexy itulah gambaran Zela saat ini, Brayen berjalan ke arah Zela, lalu merangkul pinggang Zela.


" Kak Ray, mandi dulu sana." Suruh Zela kepada Brayen.


Zela paham, tatapan mata Brayen sangatlah nakal saat ini, bisa saja Brayen meminta berperang lagi.


" Pengen yang." Jawab Brayen manja, sontak saja Zela terkejut dengan penuturan Brayen, benar apa yang dia pikirkan Brayen meminta lagi, dengan sedikit gemas dan kesal Zela sampai menampuk lengan Brayen pelan.


" Ih nggak romantis banget sih, mau minta jatah malah di timpuk." Keluh Brayen tidak terima.


" Ya bisnya Kak Ray aneh aja sih, ini bukan waktu yang tepat Kak, belum puas tadi bikin aku sampai ngap-ngapan?." Kesal Zela malah membuat Brayen tersenyum miring.


" Belum kalau kamu belum sampai pingsan yang." Jawab Brayen sembari lari ke kamar mandi.


" Kak Ray...! Mesum deh.!!." Teriak Zela kesal.


Tapi mengingat apa yang Brayen katakan barusan membuat Zela sedikit menyunggingkan senyumnya, ada rasa penasaran pada diri Zela, maklum setelah berpuasa cukup lama sejak lahirnya baby Arsha, baik Zela dan Brayen memang baru melakukannya lagi di puncak tadi.


Gimana rasanya ya kalau Gue sampai di buat pingsan sama Kak Ray? Batin Zela penasaran.


Zela terkikik membayangkan hal itu, tapi kemudian dia menggelengkan kepalanya sadar dengan apa yang baru saja di pikirkan.


" Astaga... Gue mikirin apa sih?." Kesal Zela sembari memukul pelan kepalanya.

__ADS_1


Berani sekali otaknya berfikir jauh seperti itu, di buat lemas oleh Brayen saja nyatanya tadi dia sudah menyerah, apa lagi sampai pingsan? Bisa di bayangkan akan seperti apa Zela terkapar di bawah Brayen ha..ha..ha..


__ADS_2