
Brayen duduk dengan nafas yang masih memburu, menatap Sandro dengan tatapan tajam, sungguh Brayen sangatlah kesal dengan anak curut di depannya ini.
Pak Riko menghampiri Sandro, dia membantu Sandro untuk bangkit, meskipun marah dengan Bapaknya juga dirinya, tapi Pak Riko memanglah sangat baik hati.
" Sebaiknya kamu katakan tujuanmu kemari Nak..." Ucap Pak Riko kepada Sandro.
Sandro terdiam, kemudian menatap Pak Riko dengan tatapan bersalah, tatapan penyesalan yang ada pada diri Sandro saat ini.
" Maaf Om.. Maafkan saya.. Juga Bapak Saya.." Ucap Sandro dengan gemetar, tentu saja Sandro sebenarnya sangatlah takut.
Tapi demi keluarganya, Sandro nekat untuk menemui Pak Riko secara langsung di Kantornya, meskipun Dia tau resiko yang akan Dia hadapi jika bertemu dengan Brayen, anak dari Pak Riko.
Tapi Sandro tidak lagi mempermasalahkan, karena pada kenyataannya memang Dia dan Bapaknya yang salah.
Pak Riko menghembuskan nafasnya panjang, menatap Sandro dengan diamnya.
" Katakan yang sebenarnya..." Suruh Pak Riko kepada Sandro.
Sedangkan Brayen, Dimas, juga Pak Rendy masih diam tanpa menyela sedikitpun.
" Saya pantas dapat hukuman apapun Om.. Tapi tolong jangan pecat Bapak Saya..." Mohon Sandro kepada Pak Riko, membuat Pak Riko tersenyum sepintas.
Pak Riko akui keberanian Sandro, tapi untuk memperkerjakan lagi Pak Septa rasanya itu tidak akan mungkin, Pak Riko terlanjur kecewa dengan perbuatan Pak Septa yang sudah sangat di percayainya.
" Kamu tidak perlu memohon seperti ini, Aku bukan Orang yang harus kau mintai, urusanmu dengan Anaku,, Dan ingat.... Aku bukanlah orang yang mudah percaya lagi jika sudah dikecewai.. Jadi mengertilah Nak.." Jelas Pak Riko sukses membuat Brayen, Dimas, Pak Rendy dan juga Sandro terkejut.
Sandro masih berusaha agar Pak Riko bisa mempertimbangkan lagi keputusannya untuk tidak memberhentikan Pak Septa, tapi keputusan Pak Riko sudah tidak bisa lagi di ubah.
Pak Riko kecewa dan itu susah untuk dikembalikan.
" Tolong Om... Saya mohon dengan sangat.. Maafkan kesalah Bapak Saya.. Dan juga Saya..." Ucap Sandro lagi.
Huuuhh.....
Pak Riko kembali membuang nafasnya dengan kasar.
" Aku sudah memaafkanmu juga Bapakmu... Tapi untuk kembali memperkerjaan Bapakmu, Aku tidak bisa..." Jawab Pak Riko mantab, membuat Sandro memejamkan matanya.
Sandro mengepalkan tangannya erat, tapi bukan karena benci, melainkan karena menyesali perbuatannya dan juga yang dilakulan oleh Bapaknya.
" Ray... Itu urusanmu.. Ayah tidak mau ikut campur, tapi ingat tidak usah berurusan dengan polisi.." Ucap Pak Riko keluar dari ruangannya, diikuti oleh Pak Rendy yang juga ikut keluar.
Kini diruangan Pak Riko hanya ada Brayen, Dimas dan juga si anak curut Sandro.
Brayen memandangi kota dari kaca jendela, kedua tangannya di lipat dalam dada.
Sungguh melihat Sandro membuat rasa iba Brayen muncul lagi, tapi mengingat apa yang sudaj dilakukannya pada Zea seketika membit aliran darahnya seperti mendidih ingin menghajarnya lagi.
Sandro masih terdiam, dia tidak berani terucap sama sekali, takut jika apa yang dia katakan hanya akan membuat lelaki tampan di depannya marah.
" Aku sudah pernah memberimu kesempatan, tapi kamu berulah lagi..." Ucap Brayen dengan nada dinginnya.
" Kak Ray maafkan aku.. Maafkan atas kecerobohanku... Aku bingung ketika itu, aku pikir dengan aku mati, semua ini akan selesai..." Ucap Sandro berusaha menjelaskan, membuat Brayen kini tersenyum miring.
Sedangkan Dimas sedikit menggelengkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh anak curut ini.
Pemikiran yang begitu pendek pikir Dimas.
" Anak bodoh.... Jika ingin melakukan sesuatu pikirkan keluargamu..." Ucap Brayen kesal.
" Dim.. Tolong atur keberangkatan anak ini.." Suruh Brayen kepada Dimas, membuat Sandro memejamkan matanya.
Dia sudah tidak ada lagi harapan untuk tetap tinggal di negara ini, tanah kelahirannya.
Brayen pergi setelah sebelumnya menoleh ke arah Sandro sebentar lalu keluar juga.
" Sebaiknya jangan pernah melakukan hal yang akan membuat rugi dirimu sendiri,, pikirkanlah sebelum bertindak..." Ucap Dimas yang kini juga pergi meninggalkan Sandro.
Sandro masih mematung pada tempatnya, sekali lagi hanya penyesalan yang Sandro rasakan saat ini.
Penyesalan memang datang belakangan.
Tak lama datanglah 2 orang yang membawa Sandro untuk pergi dari ruangan itu, tentu saja itu orang suruhan Brayen dan juga Dimas.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Bel istirahat berbunyi, seluruh siswa siswi berhamburan menuju ke kantin, begitu juga dengan Zela dan kedua sahabatnya.
Sedari tadi di perjalanan menuju kantin, Zela tak luput dari pandangan siswi siswi yang terus memandanginya, dengan tatapan iri.
Tapi itu tidak menjadi masalah untuk Zela, karena kesalahannya hanya satu, menikah ketika masih sekolah.
__ADS_1
Untuk mereka yang tak suka karena Zela menikah dengan Brayen, Zela bisa apa memang..? Jika Brayen memanglah jodohnya.
Catat, Jodoh itu sudah Tuhan yang menentukan.
" Itu mata mereka nggak bisa banget ya liat bidadari lewat...?? " Ucap Vani yang merasa kesal dengan tatapan siswi siswi centil yang mungkin masih belum bisa menerima kenyataan.
Kenyataannya bahwa Idola mereka sudah menikah dengan Zela, teman sekolah mereka, siswi paling cantik di sekolah mereka.
Seli dan Zela tersenyum mendengar celotehan Vani barusan.
" Biarin aja lah Van.. Selama cuma mata mereka yang bicara, nggak aneh aneh.. Iya nggak Zel..??? " Jawab Seli yang juga menanyakan kepada Zela.
" Tepat..." Jawab Zela singkat tapi juga mengacungkan jempolnya.
" Iya...iya.... Up to you lah..." Jawab Vani akhirnya pasrah membuat Zela dan Seli menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
" Gue yang pesenin ya.." Usul Zela kepada kedua sahabatnya, Membuat Seli dan Vani mengangguk bersama.
" Seperti biasa kan..?? " Tanya Zela lagi memastikan.
" Iyups..." Jawab mereka kompak, Membuat Zela tersenyum lalu segera pergi menuju Buk kantin.
Sampai Buk Kantin Zela langsung memesan makanan, Tampak Buk Kantin yang sedari tadi senyum senyum tidak jelas kepada Zela.
Membuat Zela merasa aneh dipandangi seperti itu oleh Buk kantin, Zela berfikir jika ada sesuatu yang membuat mukanya lucu atau aneh gitu, tapi nyatanya tidak setelah dia merabanya.
" Buk.. Ada apa..?? " Tanya Zela yang sudah penasaran.
" Nggak ada apa apa kok Neng, Ibuk cuma seneng aja.. Denger berita Neng Zela ternyata istrinya Tuan Brayen.. Ditambah Eneng katanya udah lagi isi.. Aih..... Ibuk jadi kepo bagaimana rupa anak dari Eneng Zela dan suami, kan cantik sama ganteng.." Jelas Buk kantin sambil malu malu.
Membuat Zela juga tersenyum, Sungguh Zela tidak pernah menyangka jika orang yang hanya sekedar kenal Zela sampai berpikiran seperti itu.
" Ibuk doain Neng Zela langgeng terus ya sama suaminya... Ganteng banget atuh suami Neng Zela teh.." Sambung Buk Kantin lagi, membuat Zela melebarkan senyumnya.
" Terimakasih ya Buk atas doanya.. Ibu juga sehat selalu, Biar bisa bikin bakso terus.." Jawab Zela dengan guraun.
" Pasti atuh Neng..." Jawab Buk kantin semangat.
Akhirnya Zela kembali ketempat duduknya setelah pesanan mereka sudah jadi, dengan senyum yang terus mengembang tentunya.
" Taraaa.. Pesanan datang..." Ucap Zela semangat.
" Yang ditunggu tunggu...." Jawab Vani tak kalah senangnya.
Pasalnya jarang sekali Zela mau menunggu sampai benar benar jadi, jika dia yang memesan, ya hanya memesan saja setelah itu, dia tinggalkan sampai akhirnya Buk kantinlah yang membawanya untuk mereka.
" Hmmm... Sekali kali nggak papa lah.." Jawab Zela yang dijawab kedua sahabatnya dengan mengangguk bersamaan.
Tidak lama Vera and the geng datang, tentu saja hal yang pertama Vera lakukan adalah menatap tajam ke arah Zela.
Sungguh Vera sangatlah kesal mengetahui jika Zela sedang mengandung anak Brayen.
Vera dan gengnya duduk di bangku sebelah Zela dan kawan kawan duduk, tapi Zela, Seli dan Vani masih diam dan cuek tidak mempermasalhkan sama sekali.
" Btw kalian tau kan berita yang lagi beredar..?? " Tanya Vera kepada teman temannya, tentu saja dengan suara yang dikeraskan agar terdengar Zela dan yang lainnya.
Teman teman Vera mengangguk bersamaan.
" Maksud loe tentang pernikahan itu..?? " Tanya salah satu teman Vera.
" Iyalah apa lagi memang, Gue rasa ada yang di sembunyiin deh.. Gue nggak yakin kalau tuh cewek hamil setelah menikah.. Bisa aja kan dia sengaja merayu biar hamil dan dinikahin cowok tampan dan tajir.." Ucap Vera sengaja menyindir Zela.
Membuat Zela terdiam sebentar lalu melanjutkan makannya, begitu juga dengan Seli dan Vani yang hampir saja berdiri untuk melabrak Vera, tapi ditahan oleh Zela.
" Biarin dulu aja..." Ucap Zela kepada kedua sahabatnya.
" Akh.. Iya.. Gue juga sepemikiran ma loe.. Secara tuh cowok kan ganteng abis... Jadi idola cewek cewek, mana mau sih ma tuh cewek kalau nggak di jebak dulu..??? " Sambung salah satu teman Vera.
" Hufh.. Nggak nyangka aja ya ada cewek segila itu.. Buat apa coba sampe ngelakuin hal kayak gitu.." Ucap Vera lagi yang bertujuan untuk menyindir Zela.
Sungguh saat ini emosi Zela sudah tidak bisa lagi ditahan, cewek seperti Vera memang tidak akan ada kapoknya, Zea berfikir jika pernikahannya dengan Brayen diumumkan Vera tidak akan lagi berani menganggu, tapi nyatanya malah lebih gila lagi.
Dengan cepat Zela menghabiskan baksonya, setelah itu meminum es jeruknya sampai abis tentu saja karena mendengar celotehan Vera yang tak jelas membuat rasa haus dan panasnya bertambah kali lipat.
" Van.. Gue minta minuman loe.." Ucap Zela kepada Vani.
Membuat Vani hanya mengangguk, sambil menghabiskan mie ayam pesanannya, sedangkan Seli hanya memandangi Zela dengan bingung.
Baru mau berdiri dari duduknya sambil membawa es jeruk punya Vani yang dimintanya tadi, Zela kembali menoleh ke arah Seli.
" Punya loe juga ya.." Ucap Zela dengan senyum manisnya, membuat Seli menautkan alisnya.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Zela langsung mengambil es jeruk Seli dan juga Vani, Zela berjalan ke arah Vera dan...
Byuuuurrrrrrr..........
Zela menumpahkan es jeruk yang tadi dibuatnya kebadan Vera, sungguh membuat Zela tersenyum puas, sedangkan Vera langsung berdiri dengan marahnya.
" Kayaknya loe butuh itu.. Biar hati loe nggak panas..." Ucap Zela lalu pergi dari kantin.
Semua siswa siswi yang berada di kantin masih terbengong dengan apa yang dilakukan oleh Zela barusan kepada Vera, begitu juga dengan Seli dan Vani yang terkejut.
Tapi kemudian dia tersenyum, sambil mengarahkan jempolnya ke bawah, lalu ikut pergi dari kantin mengejar Zela.
Buk kantin yang juga melihat itu hanya terkikik geli, Buk kantin tau jika Vera memang tidak menyukai Zela, karena iri, tentu saja apa yang Zela dapatkan atau lakukan tidak akan disukai oleh Vera meskipun itu suatu hal yang baik.
" Neng Zela teh emang keren euy..." Gumam Buk kantin sambil tersenyum.
Vera mengepalkan tangannya, menahan amarah, lalu dengan segera dia pergi dari kantin untuk menuju kamar mandi, tentu saja Vera sangatlah malu, karena kelakuan Zela.
" Sialan loe Zela....!!!!!! " Teriak Vera dari dalam kamar mandi.
Seli dan Vani menghampiri Zela yang sedang duduk di taman depan, Zela memandang bunga dan rumput rumput kecil di hadapannya.
Seli dan Vani langsung memeluk Zela dari arah samping, mereka berpelukan bersama di taman.
" Huch... Gue nggak terima sama perkataan Vera tadi.." Ucap Zela kepada kedua sahabatnya.
" Gue tau kok.. Dan loe bener udah ngelakuin itu ke bakwan.." Jawab Seli mencoba menenangkan Zela.
" Gue tadinya malah mau nyumpal mulut tuh bakwan pakai gorengan..." Lanjut Vani membuat Zela dan Seli tertawa.
" Jangan sungkan kalau butuh bantuan.. Ingat kita selalu ada buat loe.." Jelas Seli yang membuat Zela mengangguk.
Ponsel Zela berbunyi, ternyata Zifa yang menelfonnya, Zela mengernyitkan keningnya, tak biasanya memang Zifa menelfon dirinya, meskipun di antara mereka sudah baik baik saja.
" Siapa Zel..?? " Tanya Vani melihat muka bingung Zela.
" Kak Zifa.." Jawab Zela singkat membuat Vani mengangguk.
" Angkat aja.." Suruh Seli yang dituruti oleh Zela.
Zela mengangkat telpnya, sedangkan kedua sahabatnya hanya menyimak di sebelahnya.
Setelah itu Zela kembali menaruh ponselnya kedalam sakunya.
" Kenapa Zel..?? " Tanya Vani kepo.
" Kak Zifa mau nemuin gue.." Jawab Zela yang dianggukin oleh Vani lagi.
" Sekarang..?? " Tanya Seli yang dijawab Zela dengan mengangkat bahunya.
" Ya udah disuruh ketemu disini aja..." Usul Vani kepada Zela.
" Emang lagi otw kesini.." Jawab Zela membuat Vani menampilkan muka menyebalkannya.
" Muka loe Van.. Kondisikan..." Ucap Seli kepada Vani.
" Apaan sih..?? Jangan mulai deh ya.." Kesal Vani yang sudah tau jika ujung ujungnya akan menjadi bahan becandaan Seli.
" Dih... Ngambek.." Ledek Seli lagi, tapi tak dihiraukan oleh Vani.
Kapan sih ya mereka benar benar bisa akur..?? Rasanya seperti tidak mungkin, ada saja pertengkaran kecil yang membuat mereka sama sama terlihat konyol.
" Zela..!! " Teriak Zifa yang sudah didepan.
Zela, Seli dan Vani menoleh ke arahnya, sedangkan Zifa berjalan menghampiri mereka.
Sampai di depan Zela, Zifa langsung memeluk Zela, membuat Seli dan Vani saling pandang bingung dengan apa yang mereka lihat.
Begitu juga dengan Zela yang terkejut juga merasa bingung, kenapa Zifa tiba tiba memeluknya..??
Ada apa sebenarnya..?? Sungguh banyak sekali pertanyaan pada diri Zela.
Zifa melepaskan pelukannya, menatap Zela dengan tatapan seorang Kakak untuk Adiknya, tatapan sayang Zifa kepada Zela.
Sungguh Zifa tidak mau terjadi apa apa dengan Zela, calon anaknya, juga rumah tangganya, Zifa ingin adiknya bisa hidup bahagia tanpa gangguan mahluk mahluk yang berusaha memisahkannya dengan suaminya Brayen.
Apakah yang akan dikatakan oleh Zifa kepada Zela..?? Ditunggu next episodenya..
Jangan Lupa, Like, Comment dan Vote..
Big Thanks..🙏🙏
__ADS_1
Semoga hari kalian menyenangkan 😘😘