Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Rencana Brayen


__ADS_3

Suasana yang tadi santai seketika berubah menjadi sedikit canggung, Zela dan Seli tidak mempermasalahkan jika Bintang ikut gabung hanya saja mereka merasa risi dengan tatapan siswi lain yang merasa iri terhadap mereka.


Berbeda dengan Vani dia malah senyum senyum tidak jelas karena merasa senang, tapi tentu saja jantungnya berdebar lebih cepat.


Vani selalu saja merasa nervouse jika dekat dengan pria tampan termasuk jika sedang dekat dengan Xelo.


" Kak Bintang mau pesen..??? Tawar Vani kepada Bintang.


" Nggak usah... Kalian aja..." Jawab Bintang sopan yang dianggukin mereka bertiga.


" Makan dulu ya kak.. Jangan pengen..." Ucap Zela becanda dan Bintang tersenyum sambil mengnggukan kepalanya.


Mereka bertiga makan di depan Bintang, memang sedikit canggung dan malu tentunya karena tak biasa makan di depan orang yang juga tidak memakan apa apa, tapi apa boleh buat Bintang datang disaat waktu yang tidak tepat memang.


" 2 porsi Zel..??? Tanya Bintang tiba tiba, membuat Zela tersedak.


Uhuk... Uhuk...


Zela mencoba menepuk nepuk dadanya, Seli langsung menyodorkan botol air minum untuk Zela.


Bintang sangat terkejut melihat Zela yang memakan 2 porsi mangkok bakso, pasalnya body Zela sangatlah jauh dari kata gendut memang sekarang lebih berisibdari sebelumnya tapi masih saja aneh menurut Bintang, wanita cantik seperti Zela makan dengan porsi banyak.


" Sorry...Sorry.." Sambung Bintang merasa tidak enak, Zela hanya menganggukan kepala tanpa menjawab karena masih bingung harus menjawab apa.


" Nggak papa kak... Itu sih mending biasanya malah 3 porsi... Biarpun badan sexy gitu Zela banyak makannya.." Ucap Vani mencoba menjelaskan agar Bintang tidak curiga.


Zela dan Seli yang mendengar penuturan Vani langsung melotot ke arahnya.


" Kampret loe.. Buka kartu gue..." Ucap Zela yang ikut permainan Vani.


Bintang yang melihat mereka bertiga menjadi tertawa, begitu juga dengan mereka bertiga.


" Makan banyak juga tetep cantik kok..." Ucap Bintang, membuat mereka bertiga terkejut.


Zela tersenyum kikuk ke arah Bintang, yang dijawab Bintang dengan senyuman juga akan mengacak rambut Zela pelan, tapi Zela segera berdiri untuk menghindarinya.


" Sorry gue ke toilet bentar ya..." Pamit Zela yang dijawab mereka dengan anggukan kepala.


Zela langsung ngacir meunju ke toilet, Bintang melihat pundak Zela yang semakin menjauh.


gue tambah penasaran sama loe... batin bintang yang sebenarnya tidak bodoh jika mereka bertiga sedang membohongi tentang zela yang makan dengan porsi banyak.


Zela menuju Toilet wanita, untuk sampai ke toilet bagian siswi, Zela harus melewati toilet siswa.


Di saat Zela melewati toilet siswa tak sengaja dia berpapasan dengan Sandro, cowok yang tadi membantu Buk Kantin untuk mengantarkan pesanan makananya, tapi Zela tidak begitu paham apa lagi dengan siswi atau siswa yang tidak begitu familiar di sekolahnya.


Zela melewati Sandro begitu saja, berbeda dengan Sandro yang langsung melihat Zela tanpa berkedip, Sandro melihat punggung Zela yang semakin menjauh, dia masih berdiri mematung, kedatangan Zela seperti sengatan listrik untuk Sandro, bahkan keringat dingin mulai bercucuran pada dahi Sandro.


" Gue...gue.... Nggak bisa begini terus..." Gumam Sandro lirih mengingatkan kepada dirinya.


Tapi sungguh ini kesempatan emas untuk Sandro, di toilet Sekolah juga tak ada seorangpun kecuali merek berdua, Sandro semakin gusar ingin mendekati Zela atau berlalu pergi.


Dengan langkah pelan Sandro mulai berjalan menuju toilet siswi di mana Zela berada, terdengar gemricik air dari salah satu toilet dan Sandro tau dimana Zela berada.


Saat Sandro mulai mendekat tiba tiba dua gadis cantik datang mengagetkannya, buru buru Sandro masuk kedalam salah satu toilet yang kosong, perasaanya masih tak menentu, dia merasa sangt sial untuk sekarang ini.


" Zel.. loe didalam..?? Teriak Vani.


" Iya.. Bentaran gaes..." Jawab Zela dari arah dalam.


Setelah selesai Zela segera keluar, di depannya sudah ada Seli dan Vani yang sedang merapikan rambutnya dan berkaca pada wastafel depan.


" Ngehindar Kak Bintang loe..?? Tanya Seli yang dapat cengiran dari Zela.


" Coba gue yang jadi loe.. Silahkan sesuka Kak Bintang deh.." Cletuk Vani.


" Wuuuuu....." Ledek Zela dan Seli bersamaan.


Tiba tiba ponsel Zela berbunyi yang ternyata dari Brayen, Zela melihat sekilas tanpa menjawabnya.


" Kak ray..?? Tanya Seli dan Zela mengngguk.


" Kenapa nggak di angkat aja sih Zel..?? Tanya Vani kepada Zela.


" Gue masih kesel.. Tadi di mobil dia cuekin gue.. telfonan mulu.." Jawab Zela dengn muka kesalnya.


" Ya elah gitu aja ngambek.. Kali aja emang bener bener penting kan..?? Sambung Vani lagi.


" Dasarr bumil..." Ledek Seli yang dapat cengirann dari Zela.


" Udah ah.. Ayo masuk kelas.." Ajak Zela dan mereka berjalan keluar menuju kelas.


Deg....


Dada Sandro merasa tak karuan, seperti terpompa lebih cepat, dia benar benar terkejut dengan perkataan tiga gadis tadi.


zela... azela hamil.... gue nggak salah denger kan tadi...?? Brayen.... batin sandro bertanya tanya.


Sandro memejamkan matanya, semakin Sandro mengingat semakin perih, tapi ada gejolak pikirannya membayangkan seorang Zela sedang menikmati sentuhan hangat dari seorang Brayen.


" Sial......" Lagi lagi Sandro menggeram sambil meninju dinding toilet.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Setelah bel pulang berbunyi Zela, seli dan Vani pulang menuju kerumah keluarga Zafano.


Kali ini Zela satu mobil dengan Seli dan juga Vani dengan Seli sebagai pengemudi, sedangkan Brayen satu mobil dengan Dimas dan juga Xelo, dengan Dimas yang menyetir setelah tadi perdebatan panjang antara Zela dengan Brayen.

__ADS_1


Akhirnya Brayen mengalah dan mengikuti mobil Seli dari belakang.


" Kalian kenapa sih Ray..?? Tanya Dimas masih fokus dengan setir mobilnya.


" Salah paham.." Jawab Brayen enteng.


" Apa jangan jangan Zela kurang puas ray.." Sambung Xelo dari belakang.


" Ngaco loe..." Jawab Brayen singkat lagi.


" Ya kali aja.. Biasanya kan istri suka ngambek kalau kurang servicenya.." Jelas Xelo membuat Brayen menoleh ke arah Xelo sekilas.


" Kayak loe udah nikah aja Xel... Mobil kali di service..." Ledek Dimas.


" Gue emang belum nikah man.. Tapi soal pengalaman gue ahlinya..." Jawab Xelo songong.


Membuat Brayen dan Dimas hanya geleng geleng kepala.


Ting.


Ponsel Brayen berbunyi, pesan dari Sandro yang melaporkan jika tadi Bintang menemui Zela di kantin Sekolah.


Sandro memang tadi berpapasan dengan Bintang, dia melihat jika Bintang memang ikut bergabung dengan Zela CS sebelum akhirnya Sandro menuju ke kamar mandi.


Brayen tersenyum miring, lalu tanpa membalas dia menaruh ponsel di sakunya lagi.


" Anak curut itu ray..?? Tanya Dimas yang melihat expresi Brayen.


Brayen mengangguk membenarkan.


" Ada masalah..??? Tanya Dimas lagi.


" Bukan masalah besar..." Jawab Brayen enteng, lalu segera mengambil ponsel lainnya dan menelfon seseorang.


Dimas kembali fokus dengan setirnya, sedangkan Xelo tampak sibuk bermain game di ponsel miliknya.


Setelah sekitar 30 menitan di dalam perjalanan, akhirnya mobil mereka sampai di pelataran rumah megah keluarga Zafano.


Brayen, Dimas dan Xelo masuk setelah tadi ketiga gadis di depannya terlebih dahulu sampai.


Seli dan Vani sudah duduk santai di ruang tv, di iikuti Dimas dan juga Xelo, Sedangkan Brayen langsung menuju ke atas untuk menemui Zela yang masih sedikit ngambek dengannya.


Sedangkan Bunda Wina menemui mereka sebentar, karena harus ada urusan dengan teman temannya.


Brayen membuka pintu kamar, di lihatnya Zela yang sedang berdiri di balkon kamar sambil menatap sore yang cerah di hari ini.


Brayen berjalan mendekat ke arah Zela, di peluknya Zela dari belakang, Zela yang tidak tau kedatangan Brayen terperanjat kaget, tapi dia juga tidak menolak perlakuan Brayen.


Cup....


Brayen mencium tengkuk leher Zela, membuat Zela memejamkan matanya dan berbalik arah menghadap Brayen, pandangan mereka bertemu, terasa hangat dan memabukan memang tatapan mata indah Brayen, Zela selalu saja di buat terpesona olehnya.


" Terus...??? Tanya Brayen lagi.


" Kesel..." Jawab Zela singkat membuat Brayen tertawa, sedangkan Zela kesal mengerucutkan bibirnya.


" Minta di cium...?? Goda Brayen kepada Zela.


" Apaan sih kak Ray..." Elak Zela dengan memukul dada bidang Brayen pelan.


Brayen menarik hidung Zela gemas, lalu kembali memeluknya, begitu juga dengan Zela yang membalas pelukan hangat Brayen.


Akh... Memang bumil itu moodnya gampang sekai berubah ubah, sebentar ngambek sebentar baikan, apa lagi Zela dengan pelukan hangat Brayen mampu membuat moodnya baik lagi.


" Loe akan tau nanti..." Ucap Brayen di sela sela pelukan mereka.


Zela merenggangkan pelukannya, dia menatap Brayen seperti menginginkan penjelasan dari maksud kata kata Brayen barusan.


Tapi Brayen hanya tersenyum menanggapinya, lalu mencium kening Zela lembut.


Kini Zela, Seli dan Vani sedang berada di ruang tv, setelah mereka mandi mereka melanjutkan lagi untuk menonton tv.


Tadinya mereka berpikir untuk pergi ke salon atau pergi ke mall membeli baju pesta untuk acara nanti malam, mengingat pasti yang datang orang orang terkenal juga kalangan kelas atas.


Tapi Brayen menyuruh mereka untuk tetap diam di rumah tanpa memberi alasan, dengan kesal mereka menurut apa yang di perintahkan oleh Brayen.


" Tumben akur nih ikan hiu sama plankton.." Ledek Dimas membuat mereka menoleh ke arahnya.


" Kasian lah kalau gue bully terus tambah kecil ntar..." Jawab Xelo ngasal.


" Enak aja.. Gue nggak kecil ya Kak.. Gede gini di bilang kecil.." Sambung Vani tak terima.


" Apanya yang gede..?? Tanya Xelo nglantur.


Sontak saja mereka kembali menoleh ke arahnya dengan terkejut.


" Ya gue lah emang apanya..." Jawab Vani membuat mereka semakin bingung.


" Maksud gue apanya loe yang gede.. Misal bok*ng loe atau dad* loe gitu.." Jelas Xelo lagi membuat ketiga gadis itu langsung memerah dan melempar bantal sofa ke arahnya.


" Gila... Vulgar banget loe ngomong sama anak kecil.." Ledek Dimas kepada ketiga gadis.


" Kita bukan anak kecil ya Kak.." Ucap ketiga gadis cantik itu barengan dan menatap Dimas tajam, tapi yang ditatap hanya nyengir saja tanpa dosa.


" Biar belajar lah mereka... Dari pada loe diem diem ngajarin Seli.. Ya nggak Sel..?? Tanya Xelo seketika membuat Seli bersemu merah.


" Jangan shok tau ya Kak..." Jawab Seli masih dengan malunya, Xelo nyengir begitu juga dengan Brayen yang sedari tadi hanya diam.

__ADS_1


Sedangkan Dimas garuk garuk kepalanya yang tak gatal, dia tampak sedikit salah tingkah.


" Eh...Lupa ada Zela yang masih kecil tapi sudah dewasa.. Bingung gue loe masih bocah tapi dewasa..." Gumam Xelo dengan muka dibuat buat bingung.


" Iya gue udah dewasa.. Dan lebih dewasa dari pada kalian Kak Xelo juga Kak Dimas.." Jawab Zela lantang sambil bersedekap.


" Cakep Zel..." Teriak Seli dan Vani setuju dengan apa yang dikatakan oleh Zela.


Brayen mengacungkan jempolnya ke arah Zela, membuat Zela sedikit terbanh tapi masih dengan sikap songongnya.


sedangkan Dimas dan Xelo hanya geleng geleng kepala dengan tingkah ketiga gadis cantik itu.. Tapi mereka juga tertawa meledek.


Tak lama bell rumah berbunyi, dengan segera asisten rumah tangga yang bernama Bi Esti membukakan pintu.


Terilihat bebrapa orang yang datang dengan membawa koper besar besar, Bi Esti tampak bingung, tapi jika dilihat dia seperti pernah melihat tapi ntah di mana Bi Esti lupa akan hal itu.


" Maaf Tuan tuan cari siapa ya..?? Tanya Bi Esti sopan kepada mereka.


" Kami ada urusan dengan Tuan muda Brayen, beliau ada..?? Jawab salah satu dari mereka.


Bi Esti terdiam sejenak, tapi kemudian tersadar kembali.


" Baik kalau begitu silahkan masuk,, saya panggilkan Den Brayen sebentar.." Jelas Bi Esti yang di angguki oleh mereka.


Bi Esti segera menemui Brayen yang sedang sibuk bermain PS dengan Dimas dan juga Xelo.


" Den Brayen maaf mengganggu... Ada tamu.." Ucap Bi Esti sopan.


" Siapa Bi..?? Tanya Brayen masih fokus dengan stik didepannya.


" Kurang tau Den.. Tapi katanya ada urusan dengan Den Brayen.. Mereka juga membawa koper besar besar.." Jelas Bi Esti seketika membuat Dimas, Xelo dan juga ketiga gadis cantik yang mendengarnya menoleh ke arahnya dengan bingung.


" Oke.. Tolong buatin minum buat mereka ya Bi..." Suruh Brayen yang dijawab Bi Esti dengan menganggukan kepala dan pamit ke belakang.


" Siapa ray..?? Tanya Dimas yang juga penasaran, Brayen tidak menjawab dia berlalu menuju ruang tamu dengan senyum misterius.


" Siapa sih tamunya Kak Ray.. Penting banget kayaknya..." Gumam Zela yang di dengar oleh Seli dan juga Vani.


Seli dan Vani menoleh ke arah Zela, juga dengan rasa penasaran.


" Ngintip aja yuk.." Cletuk Vani tiba tiba.


" Ish....ngaco loe.." Jawab Seli bingung.


" Jam berapa sih pestanya...?? Masa iya kita disuruh anteng gini..." Ucap Zela lagi sambil melirik arloji dipergelangan tangannya.


Tak lama Brayen datang sudah dengan beberapa orang di belakangnya, Zela, seli, dan Vani termasuk Dimas dan Xelo tampak bingung melihat Brayen membawa pasukan.


Mereka masih terdiam menatap bengong ke arah Brayen dan pasukannya.


Terlihat orang yang berada di belakang Brayen membungkukan kepalanya, memberi salam kepada mereka.


" Kak ray mereka siapa...??? Tanya Zela masih dengan bingungnya.


" Mereka MUA yang akan memake over kalian.." Jelas Brayen seketika membuat Zela, Seli dan Vani terkejut.


Vani melongo dan terkejut, dia baru ingat orang di depannya ini adalah make up artis terkenal, pantesan sedari tadi dia merasa sangat familiar dengan wajah salah satunya.


" Astaga... Ini Gila..." Gumam Vani membuat Zela dan Seli menoleh ke arahnya Bingung.


" Mereka MUA terkenal Zel.. Gue tau salah sata dari mereka.." Ucap Vani lagi.


" Siapa..?? Tanya Zela yang juga penasaran.


" Gue lupa..." Jawab Vani lirih.. Membuat Zela memutar matanya jengah.


" Mas Sandy..." Sambung Seli membuat Zela dan Vani menoleh ke arahnya.


Zela baru ingat.. Ternyata di depannya ini adalah Make up artis terkenal, dan ini semua rencana Brayen.


" Akh..Iya bener.. Gue inget.." Sambung Vani lagi.


" Jadi kak ray..." Ucap Zela yang dapat anggukan dari Seli dan Vani.


Sedangkan Brayen sudah tersenyum di depannya, ternyata Brayen memberi kejutan yang tak terduga, dia ingin membuat Zela dan teman temannya tampil lebih cantik dan elegan, meskipun pada dasarnya tanpa harus di datangkan MUA mereka juga bisa tampil cantik dan elegan tapi ya begitulah Brayen dia ingin memberi yang terbaik untuk istrinya.


Zela yang baru sadar langsung berjalan kedepan mengahmpiri Brayen, lalu mencium pipi Brayen tanpa malu adanya beberap pasang mata yang melihat aksinya.


" Thanks kak.. And sorry..." Gumam Zela lirih, yang dijawab Brayen dengan senyuman sambil mengacak rambut Zela gemas.


" Mari Nonan nona Cantik..." Ajak salah satu dari mereka yang bernama Sandy, ya si make up artis terkenal itu.


Zela, seli dan Vani menurut, mereka menuju kamar tamu, diikuti orang orang yang akan membuat mereka semakin cantik dan mempesona nanti di pesta.


" Gila keren ray.. Gue nggak nyangka loe segitu perhatiannya dengan istri loe.." Puji Dimas sambil menepuk pundak Brayen.


" Gue yakin anak anak kecil itu akan jadi bidadari malam ini..." Sambung Xelo membuat Brayen dan Dimas menoleh ke arahnya dengan menegrnyitkan keningnya.


" Gadis kecil..." Gumam Brayen lirih yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.


Brayen tersenyum miring, dia sudah merencanakan sesuatu untuk membuat Misha tak bisa lagi berharap lebih darinya, dan juga Bintang yang sudah pasti juga berada di pesta Misha malam ini.


Kira kira apa rencana Brayen di pesta..?? Di tunggu next episodenya.


Jangan lupa Like, Coment dan Vote ya kak..


Please Vote kak.. Biar author semangat buat lanjutin ceritanya..

__ADS_1


Big Thanks 🙏🙏😘😘


__ADS_2