
Zela dan Brayen lebih dulu pulang karena Zela yang harus segera meny*sui Arshaka. Brayen tadi meminta sopir Bunda Wina untuk menjemput mereka.
Sedangkan sahabat mereka masih berada di mall mencari kado yang aka di berikan untuk Baby Arsha nanti malam.
Sepanjang perjalanan Brayen terus menggenggam tangan Zela. Sesekali dia mengecupnya, mereka duduk di belakang karena ada sopir Bunda Wina yang menyetir. Jelas sikap Brayen sekarang sangat berubah dari sejak awal pertemuan mereka, bahkan di awal pernikahan juga Brayen masih sedikit cuek meski mereka sudah mengagumi satu sama lain. Tapi sekarang Brayen benar-benar menjadi lelaki bucin kepada Zela.
" Kak gerah ini tangannya." Ucap Zela merasa basah pada telapak tangannya, tentu saja tangan Zela basah karena di genggam oleh Brayen.
" Kita sama-sama basah yang." Jawab Brayen membuat Zela tersenyum sembari menarik hidung suaminya dengan tangan yang satunya.
" Jangan mesum deh." Jawab Zela membuat Brayen tertawa.
" Kalau mesum dari tadi sudah aku **** itu." Jawab Brayen terdengar ambigu.
Zela melotot mendengar apa yang di ucapkan suaminya barusan, jelas maksud Brayen ialah dua gunung kembar Zela yang memang terlihat begitu menggoda karena besar. Zela tau itu, karena sedari tadi ucapan Brayen tidak jauh- jauh dari otak mesumnya.
" Jangan nakal deh Kak, sekarang ini masih punya Arsha." Jawab Zela sembari membenarkan jaket yang melekat pada seragamnya.
" Satu tahun lagi masih lama yang aku nungguinnya, di percepat kan bisa." Jelas Brayen yang langsung dapat pukulan pelan pada lengannya.
Kini tangan mereka sudah tidak lagi menggenggam satu sama lain, karena memang keringatan sampai basah, catat yang basah tangan mereka ya gaes hahaha
" Nggak sabaran banget sih sekarang Kak Ray." Kesal Zela.
" Gimana bisa sabar kalau setiap harinya di suguhkan sumber mata iar yang gede gitu." Bisik Brayen membuat mata Zela melotot dan langsung menyerang suami tampannya.
Sumpah demi apapun, Brayen sekarang ini tidak ada jaimnya sama sekali dengan Zela, dia selalu menggoda Zela dengan kata-kata yang tidak jauh dari otak mesumnya. Mungkin karena sebelumnya terlalu lama berpuasa menahan pisang besarnya untuk merasakan kenikmatan. Jadilah otaknya seperti hilang se-ons.
Bahkan sopir yang sedang mengemudi di depan mereka saja sampai menahan tawa mendengar perbincangan pasangan suami istri muda itu, meski tidak terdengar begitu jelas karena Brayen yang lebih sering berbisik tadi ketika mengucapkannya, tapi sopir itu cukup tau jika Tuan mudanya sedang menggoda istri cantiknya.
__ADS_1
Lucu memang jika anak kecil sudah menikah dan mempunyai anak, mereka masih sering bertengkar kecil dengan kekonyolan mereka. Terlihat seperti orang yang sedang pacaran tapi di rumah sudah ada jagoan kecil dan tampan hasil dari menanam benih mereka hahaha
Sedangkan kini di mall Seli dan Vani masih asik memilih mainan yang akan di berikan kepada Arshaka. Dimas dan Xelo hampir menyerah menemani mereka yang sudah 1 jam lebih belum juga kelar memilih.
Bahkan Dimas yang tadinya akan mengajak Seli untuk memilih cincin di toko mas di urungkan niatnya. Dimas akan memesan saja.
" Beb." Panggil Xelo sembari membuntuti Vani dari belakang.
Dimas hanya duduk di ruang tunggu yang sudah di sediakan oleh pihak toko. Dia tersenyum melihat Xelo yang mau-maunya membuntuti pacarnya yang sedang menyebalkan itu.
" Hmm." Jawab Vani tanpa menoleh ke arah Xelo.
" Cepetan dong Beb, lumutan nih aku." Jelas Xelo merasa bosan menemani Vani.
Gimana tidak bosan coba, kalau sedari tadi Seli dan Vani hanya mondar-mandir tanpa memilih satupun, jika sudah akan mengambil masih saja ada yang menurut mereka lebih bagus, dan itu terus terulang sampai 1 jam ini belum ada pilihan satupun yang mereka jatuhnkan.
Sial memang, kalau saja bukan pacarnya ogah-ogahan Dimas dan Xelo menemani, sudah sering di cueki karena Arsha, sekarang di suruh nungguin sampai seperti kanebo kering.
" Nanti aku kerokin tuh lumut." Jawab Vani ngasal.
Seli cekikikan melihat Xelo yang sedari tadi terus mengeluh meminta cepat, sedangkan Dimas anteng di tempat duduknya sembari memainkan ponselnya.
Cowok idaman banget deh pokoknya Dimas, pikir Seli.
" Lha di kerokin, di c*pok baru mau aku Beb." Jawab Xelo membuat Vani akhirnya menoleh ke arahnya.
Vani langsung mencubit perut Xelo yang kekar karena seringnya olahraga. Keras memang tapi lumayan terasa karena cubitan Vani ini memang dasyat.
" Auw... Sakit Beb." Keluh Xelo sembari mengusap perut yang baru saja di cubit oleh Vani.
__ADS_1
" Makanya jangan mesum." Jawab Vani kembali sibuk memilih mainan.
" Nggak papa kalau mesum bikin kamu perhatiin aku, masa iya cowok ganteng gini di anggurin." Jelas Xelo yang tidak lagi mendapat jawaban dari Vani.
Xelo menghela nafasnya kasar, sungguh kejam pacarnya ini, membiarkan dirinya merasa bosan dan lumutan seperti ini.
" Sini aja lah Man." Seru Dimas kepada Xelo yang terlihat begitu menyedihkan.
Xelo menoleh ke arah Dimas, dia menghampiri Dimas dan duduk di sebelahnya.
" Mereka ngeselin banget sumpah." Keluh Xelo kepada Dimas.
" Tau Gue, makanya mending tungguin dari sini, dari pada Lo buntutin Vani kayak ekor cicak terpisah sama badannya." Cibir Dimas membuat Xelo meliriknya tajam.
" Awas aja kalau udah jadi istri, Gue bikin Vani minta ampun." Ucap Xelo terdengar ambigu.
" Jangan KDRT Lo karena dendam gara-gara ini." Ucap Dimas yang membuat Xelo tersenyum miring.
" Minta ampun yang bikin Vani nagih maksud Gue." Jelas Xelo membuat mereka tertawa bersama.
" Brengs*k banget dah, Brayen udah ribuan kali ngerasain kita belum sama sekali." Ucap Xelo lagi membuat Dimas tertawa.
" Sabar Man sebentar lagi mereka lulus, kita serius langsung nikahin saja, biar bisa celup-celup sepuasnya." Jawab Dimas begitu vulgar.
" Gue pengen banget ngelakuin di dapur kayak di film-film gitu." Sambung Xelo sembari tersenyum membayangkan blue film yang pernah di tontonnya.
Mereka kembali tertawa, menunggu dua gadis cantik itu membuat pikiran kotor mereka kemana-mana. Jika saja mereka sudah menikah, tentu saja Dimas dan Xelo akan menghukum Seli dan Vani nanti ketika sudah di rumah karena sudah berani membuat kedua lelaki tampan itu lama menunggu sampai lumutan.
Tapi semua hanya andai saja, karena nyatanya pembalasan mereka masih lama, menunggu mereka sampai sah dulu menurut agama dan negara. Tapi sepertinya Seli dan Vani harus siap-siap dengan calon suami mereka yang sudah merencanakan ide gila ketika nanti mereka sudah menikah.
__ADS_1
Siap-siap menunggu serangan yang akan membuat kedua gadis cantik itu meminta ampun karena merasa nikmat.