Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Gerakan Si Kecil


__ADS_3

Zela, Seli dan Vani menatap ke arah ketiga cowok yang malah dengan sengaja menghindari nyanyian dari suara mereka dengan menggunakan headset. Tentu saja membuat ketiganya merasabkesal bukan main, dengan segera Zela menghampiri Brayen untuk melepaskan headsetnya, begitu juga dengan Seli dan Vani yang menghampiri Dimas dan Xelo.


" Yang kok udahan nyanyinya? " Tanya Brayen tanpa rasa bersalahnya. Tapi tidak di jawab oleh Zela, Zela masih menatap Brayen dengan tatapan kesalnya.


" Lagi ayo girls, kalian punya bakat emas yang terpendam." Sambung Xelo sambil menjulurkan lidahnya, menyesali apa yang baru saja di katakan olehnya, tentu saja karena Xelo bohong dengan mengatakan suara mereka emas, sedangkan kenyataannya sangatlah memekik telinga sampai terdengar seperti panci yang sedang di tendang-tendang oleh anak kecil.


" Hei... Kenapa kalian menatap kita seperti itu? Kita terlalu tampan ya?." Pertanyaan Dimas yang sukses membuat Zela, Seli, dan Vani ingin muntah sekarang juga.


Mereka menampakan muka jijiknya kepada ketiga cowok tampan yang sudah sangat kurang ajar itu karena tidak mendengarkan lagu yang mereka bawakan.


Brayen, Dimas, dan Xelo saling pandang, mereka tau jika bidadari cantik mereka saat ini sedang murka dan sudah berubah seperti Trio angel yang siap menerkam mereka.


Hufhh....


Brayen menghela nafasnya, Dia berdiri tepat di depan Zela yang kini sedang berdiri di depannya dengan wajah yang masih kesal dan begitu menantang untuk berperang. Tanpa kata Brayen langsung mencium Zela, bahkan membuat Zela dan kedua sahabatnya Seli dan Vani begitu terkejut, tapi sekali lagi apa yang di lakulan oleh Brayen tidak bisa di tolak oleh Zela.


Rasanya Zela ingin menolak, tapi tubuhnya berkata lain, tubuh dan naluri Zela begitu menikmati sampai ciuman Brayen menjadi ******n, meskipun tidak begitu lama, tentu saja karena ada kedua sahabat Zela yang mangaku masih polos itu.


Dimas dan Xelo menutupi mata Seli dan Vani dengan tangan mereka, tentu saja agar mata mereka tidak ternodai oleh adegan Zela dan Brayen saat ini, tapi dengan kompaknya Seli dan Vani melepaskan tangan Dimas dan Xelo yang menutupi mata mereka.


Membuat Dimas dan Xelo menggelengkan kepalanya.


" Jangan di lihat nanti kamu pengen Mi " Bisik Dimas sengaja, membuat Seli menatap Dimas kesal sambil mengacungkan tangan mengepalnya yang siap meninju Dimas.


Kembali Dimas terkekeh karena Seli yang begitu galak, tapi juga sangat manis.


Brayen melepaskan pagut*nnya pada bibir Zela, membuat Zela terdiam di tempatnya dengan perasaan yang ntah tidak bisa dia jelaskan.


Brayen mengacak rambut Zela pelan, lalu mengelus perut Zela yang sudah mulai buncit itu. Dimas dan Xelo hanya menggelengkan kepala mereka dengan senyum miringnya, ternyata tinggal di negri orang memang membuat Brayen bisa melakukan itu dengan begitu nekat di depan kedua sahabat Zela.


" Udah... Jangan marah ya yang? Kita lanjut makan aja gimana?." Tawar Brayen membuat Zela mengangguk dan hampir melupakan kemarahannya kepada Brayen, Dimas, dan Xelo.


Tapi dengan segera Seli dan Vani mencegah Zela agar tidak tergoda oleh tipu daya syaiton yang berbentuk ketiga lelaki tampan di depan mereka itu.


" Zezel... Ingat... Mereka udah jahat sama kita." Ucap Vani mencoba mengingatkan Zela, membuat Zela kembali tersadar, jika apa yang di lakukan oleh suaminya itu memang agar dia tidak lagi marah.


" Beb, Kita jahat gimana sih?." Tanya Xelo kepada Vani.


" Kalian jahat, udah ngelanggar peraturan pacaran karena tidak mendengarkan lagu yang kita bawakan untuk kalian." Jelas Seli dengam begitu tegas.


Sontak saja Dimas dan Xelo terkejut tapi mereka juga tertawa, mendengar peraturan pacaran yang sudah mereka langgar itu, jika Brayen dia begitu santai karena memang bawaan Brayen seperti itu, dan tentu saja karena Brayen dan Zela bukan pacaran lagi melainkan sudah menikah jadi Brayen tidak melanggar aturan pacaran yang Seli sebutkan tadi.


" Mi, Kita bukan nggak mau dengerin kalian nyanyi, tapi karena telinga kita gatal banget tadi sampai berdengung." Jawab Dimas menjelaskan, tapi apa yang di katakan oleh Dimas malah semakin membuat Seli dan Vani kesal, begitu juga dengan Zela yang ntah kenapa sebenarnya sudah tidak merasa kesal dengan Brayen, tapi dia hanya ikut-ikutan saja.


Merasa semakin rumit saja jika berdebat dengan ketiga gadis cantik itu, Brayen mencoba menjelaskan agar masalah cepat terselesaikan.


" Oke... Kita ngaku kalau kita udah salah banget karena nggak dengerin kalian nyanyi tadi, lain kali kita janji bakal setia dengerin kalian bernyanyi " Jelas Brayen yang sontak membuat Dimas dan Xelo menatap Brayen tidak percaya.


Memangnya siapa yang kuat mendengarkan suara panci pecah mereka, bahkan tadi Dimas baru berapa detik saja sudah merasa mual rasanya, telinganya langsung tidak menerima suara ketiga gadis cantik itu, antara telinga dan mata mereka memang sangat berbeda, jika mata mereka rasanya ingin selalu menatap wajah ayu Zela, Seli, dan Vani, berbeda dengan telinga ketiga cowok tampan itu yang tidak ingin berlama-lama mendengarka suara Zela, Seli, dan Vani ketika sedang bernyanyi.


Zela, Seli, dan Vani mulai tersenyum miring, hati mereka mulai luluh mendegarkan apa yang di katalan oleh Brayen barusan, jika lain kali mereka akan mendengarkan dengan setia ketika ketiga gadis cantik itu bernyanyi.


" Kita minta maaf, dan sekarang udahan dulu marahnya ya... Kita makan dulu, kasian anak Gue udah di ajak nyanyi oleh Mommy nya pasti laper. " Jelas Brayen lagi, yang ntah sihir dari mana membuat ketiga gadis cantik itu tersenyum dan mengangguk.


" Oke kita maafin." Jawab mereka kompak yang tentu saja membuat Dimas dan Xelo terkejut dengan ucapan Brayen yang seperti sihir itu.


Zela segera menggandeng Brayen untuk keluar, begitu juga dengan Seli dan Vani yang menggandeng Dimas dan Xelo, bahkan seperti baru saja tidak terjadi apa-apa di antara mereka.


Dimas dan Xelo saling pandang dengan rasa bingung mereka. Tapi ya begitulah pacaran dengan anak yang masih SMA dan konyol seperti mereka. Harus sering-sering saja di rayu atau di gombalin, nanti juga ngambeknya akan hilang begitu aja. Catat tapi jika mood mereka memang sedang baik, jika tidak sudah di pastikan baik Dimas ataupun Xelo akan galau memikirkan gadis cantiknya yang sedang ngambek dan tidak kunjung berbaikan.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Kini Zela dan Brayen sudah berada di rumah. Mereka sedang santai di depan tv, Brayen sedikit sibuk dengan ponselnya yang membalas pesan Dimas jika Misha memang sudah kembali ke Indo.

__ADS_1


Tapi Brayen memang tidak akan melakukan apa-apa jika Misha tidak lagi mengusik keluarganya atau hubungannya dengan Zela. Karena bagaimanapun Misha adalah sahabatnya dulu sebelum semua berubah karena apa yang Misha rasakan untuk Brayen dalam hatinya begitu salah.


" Yang." Panggil Brayen pelan, membut Zela menolej ke arahnya dengan senyum.


Brayen juga tersenyum ke arah Zela, dia tiduran di atas paha Zela, sambil sesekali mencium perut Zela.


" Kenapa Kak?." Tanya Zela sambil mengelus rambut Brayen pelan.


" I Love You." Ucap Brayen membuat Zela tersenyum lagi.


" Love You Too." Jawab Zela membuat Brayen tersenyum dan menekan kepala Zela agar bisa mencium Zela dengan posisi mereka saat ini.


Cupp..


Brayen mencium bibir Zela sekilas, membuat Zela tersenyum malu tapi juga bahagai dengan sikap romantis Brayen yang sering kali tidak terduga olehnya.


" Ekhem...." Deheman Dari Pak Riko yang baru saja pulang dari kantornya.


Sontak saja Zela dan Brayen terkejut, tapi seperti biasa Brayen akan bersikap biasa saja, sedangkan Zela sudah merasa malu sampai ke ubun-ubunnya.


Astaga.. ke gep lagi sama ayah martua Batin Zela ingin bersembunyi rasanya.


Pak Riko tersenyum melihat muka Zela yang sudah begitu merah.


" Ray... Jangan kurang aja kamu, selalu bikin menantu cantik Ayah wajahnya jadi merah begitu." Ucap Pak Riko sengaja menggoda.


Akh.... Sungguh apa yang di katakan oleh Pak Riko semakin membuat Zela merasa tidak enak. Zela semakin yakin jika Ayah martuanya tadi melihat adegan yang seharusnya tidak di lihatnya.


Zela mencubit lengan Brayen pelan, sampai membuat Brayen menoleh ke arah Zela, tapi Brayen tidak mengatakan apa-apa, Brayen malah tersenyum melihat muka Zela yang memang begitu merah karena sedang malu.


" Sudah Ayah sana pergi dulu, mengganggu saja." Jawab Brayen yang membuat Zela terkejut dengan perkataan Brayen barusan, Brayen mengusir Ayahnya agar tidak mengganggu mereka berdua.


" Kamu ini memang anak bandel, beruntung kamu mempunyai istri secantik dan sebaik Zela yang sabar menghadapi sikap nakal kamu." Jelas Pak Riko sambil berlalu.


" Zela suka Yah, Ray nakalin !!." Teriak Brayen membuat Pak Riko menoleh ke arah mereka sekilas dengan tawanya, lalu kembali menuju kamarnya.


Sedangkan Zela langsung melayangkan cubitannya lagi pada lengan Brayen.


" Yang sakit." Ucap Brayen mengaduh.


" Biarin Kak Ray nakal sih." Jawab Zela dengan kesal.


" Tapi kamu suka kan?." Tanya Brayen menggoda Zela.


" Kak Ray ih....!!." Kesal Zela menimpuk bantal sofa ke arah Brayen, karena memang benar apa yang Brayen katakan, Zela suka di nakali oleh Brayen, memangnya siapa yang tidak suka di nakali oleh cowok setampan Brayen yang juga merupakan suami Zela sendiri.


Sampai akhirnya pagi hari menjelang, Zela sudah rapih untuk ke Sekolah. Begitu juga dengan Brayen yang sudah rapih mengantarkan bidadari cantiknya yang akan berangkat Sekolah.


Setelah selesai sarapan, Zela duduk di kursi depan rumah sambil memakai sepatu Sekolahnya. Menunggu Brayen yang sedang sibuk mencari kunci mobilnya yang tidak juga ketemu, bahkan sampai dapat bala bantuan dari para pelayan dan juga Bunda Wina.


Mereka terus membantu Brayen mencari keberadaan kunci mobilnya yang ntah di mana ngumpetnya.


Saat Zela ingin membungkuk rasanya cukup susah tidak seperti biasanya, Dia tersadar jika perutnya sudah semakin membesar.


" Udah besar ya dek... Mommy sampai kesusahan mau pakai sepatu." Gumam Zela sambil mengelus perutnya.


Tiba-tiba ada gerakan dari dalam perut Zela, rasanya seperti kedutan pas di telapak tangannya yang sedang mengelus perutnya.


Zela terkejut, tapi dia juga senang, saking senangnya Zela sampai berteriak kegirangan, ini untuk yang pertama kalinya perut Zela keduatan karena gerakan dari calon Baby nya.


" Kak..!! Kak Ray !!." Teriak Zela saking senangnya.


" Bunda... Ayah....!!." Teriak Zela lagi memanggil kedua martuanya.

__ADS_1


Tidak lama kedua martuanya datang, begitu juga dengan suami tampannya, siapa lagi kalau bukan Brayen Zafano, yang datang dengan muka kusutnya karena kunci mobil kesayangannya belum juga di temukan, sungguh sikap Brayen ini begitu menyebalkan seperti tidak ada mobil lain saja untuk di gunakan.


Padahal dalam garasinya, ada sederet mobil mewahnya, Catat hanya punya Brayen seorang, karena koleksi mobil mewah Pak Riko ada di garasi yang berbeda dengan koleksi mobil mewah Brayen.


" Kenapa Nak?." Tanya Bunda Wina khawatir.


" Bunda, coba rasakan ini." Jawab Zela sambil menuntun tangan Bunda Wina untuk meraba perutnya yang masih saja kedutan.


Bunda Wina tersenyum begitu bahagia, merasakan gerakan calon cucunya pada perut menantu cantiknya.


" Ya ampun... Cucu Bunda, pintar sekali." Ucap Bunda Wina saking senangnya dan tidak percaya.


" Yah... Calon cucu kita udah gerak-gerak Yah." Sambung Bunda Wina lagi kepada Pak Riko.


" Ayah boleh merasakan Nak?." Tanya Pak Riko yang juga ingin merasakan gerakan dari calon cucunya itu.


Zela mengangguk malu, tapi dengan segera Brayen mencegahnya.


" No Ayah, Ray aja belum masa Ayah duluan." Ucap Brayen yang langsung mendekat Zela dan meraba perut Zela.


Tapi ketika Brayen yang merabanya, kedutan pada perut Zela berhenti, sampai membuat Brayen mengernyitkan keningnya, manatap Zela dan Bunda Wina yang masih dengan senyumnya karena begitu bahagia.


" Kok Ray nggak ngerasain apa-apa?." Tanya Brayen dengan polosnya. Membuat Bunda Wina tersenyum, sedangkan Pak Riko menggelngkan kepalanya.


" Itu tandanya anak kamu nggak suka sama Daddy nya." Jawab Pak Riko sengaja menggoda Brayen. Membua Brayen menatap Pak Riko kesal, tanpa menajwabnya yang di jawab Pak Riko degan tawa kecil meledeknya.


" Kamu usap-usap dong Ray perut Zela, nanti juga anak kamu akan merespon lagi, coba deh." Suruh Bunda Wina.


Brayen mengelus-elus pertu Zela dengan begutu pelan dan lembut, jujur saja sampai membuat Zela sedikit geli, tapi Zela tahan karena Zela juga ingin Brayen merasakan gerakan pada calon anak mereka.


Masih tidak ada pergerakan dari perut Zela, sampai akhirnya Braye memutuskan untuk menyudahi tapi ketika dia akan melepaskan tangannya pada perut Zela, tiba-tiba perut Zela kembali kedutan, pertanda jika calon anak mereka merespon karena dapat sentuhan.


" Yang... Baby merespon yang..." Ucap Brayen begitu senang, Zela mengangguk dengan senyuman cantiknya.


Brayen semakin merasakan kedutan pada perut Zela, sungguh ini keajaiban yang luar biasa, bisa merasakan gerakan dari calon anak mereka.


Sampai Brayen mencium perut Zela berkali-kali di depan kedua Orang tuanya yang juga sedang tersenyum bahagia. Dengan tangan Brayen yang masih berada di perut Zela, masih merasakan respon dari calon anaknya.


Sampai tidak terasa Brayen melompat-lompat girang, aura datar dan dinginnya hilang begitu saja melihat Brayen yang sedang melompat senang seperti anak kecil.


Kembali Brayen mencium perut Zela dengan begitu hangat.


" Bund.. Panggilin dokter ke sini." Suruh Brayen kepada Bunda Wina.


" Eh.. Nanti sayang, setelah kalian pulang, dokter ke sini." Jelas Bunda Wina yang di angguki oleh Zela. Tapi tidak dengan Brayen yang sudah merasa tidak sabar ingin tau perkembangan calon anaknya.


Sampai akhirnya tanpa di sengaja, Brayen menatap meja kecil di depan rumah yang berada di sebelah Zela.


Hufh... Brayen menghela nafasnya lega, tapi juga ada rasa sedikit kesal dengan benda kecip itu.


" Astaga... Gue cari-cari ternyata di sini." Ucap Brayen mengambil kunci mobilnya.


" He... Sorry Kak aku lupa mau kasih tau kalau ternyata kunci mobilnya udah aku bawa." Jawab Zela dengan senyum kikuknya.


" Nggak papa sayang, yang penting kamu dan Baby baik-baik aja, aku nggak marah kok." Jawab Brayen sambil mengelus rambut Zela.


Tentu saja Brayen tidak jadi kesal kepada istri cantiknya, ini semua juga karena malaikat kecil mereka yang sudah merubah mood Brayen jadi begitu baik dan bersemangat hari ini.


Begitu juga dengan Bunda Wina dan Pak Riko yang begitu senang dengan perkembangan calon cucu mereka yang sudah bisa bergerak, keluarga itu sudah tidak sabar dengan kehadira malaikat kecil yang akan membuat keluarga Zafano lebih bahagia.


Malaikat kecil yang akan merubah hidup mereka nantinya.


Jangan Lupa Like, Comment and Vote ya gaes... Vote... Vote.. Vote.. Big Thanks 🙏🙏😘😘

__ADS_1


__ADS_2