
Zela berjalan dilorong kelas, ditemani kedua sahabatnya tentunya, keadaan di sekolah sudah cukup sepi.
Banyak siswa siswi yang sudah memutuskan untuk pulang sedari tadi.
Seli menatap Zela sekilas kemudian beralih menatap Vani, sebenarnya sedari tadi ada yang ingin diungkapkan oleh Seli, tapi dia masih mempertimbangkannya.
" Kenapa sih Sel..?? Tanya Vani yang melihat gerak gerik Seli seperti tak biasanya.
" Hmm..??? " Jawab Seli yang sebenarnya sedikit terkejut dengan pertanyaan Vani barusan.
" Naksir loe..?? Tanya Vani lagi kepada Seli, sedangkan Zela masih menyimak sambil terus berjalan.
" Naksir..??? ma siapa..??? " Tanya Seli berbalik bertanya kepada Vani.
" Ya ma gue lah.. Dari tadi loe kan liatin gue..." Jawab Vani songong.
" Ish.... Ngaco ni anak..Kelamaan di gantung kak Xelo jadi gini nih..." Jawab Seli sekaligus meledek Vani.. Tapi juga merangkul Vani.
Vani melotot ke arah Seli, selalu saja ada ide yang membuat Vani jadi bahan ledekan.
Sedangkan Zela sudah tertawa karena sikap keduanya.
" Ikh.. Bau ketiak loe Sel..." Cletuk Vani yang masih dirangkul oleh Seli.
Seketika membuat Seli tertawa begitu juga dengan Zela yang ikut tertawa.
" Nih.. Cium..nih..." Jawab Seli sambil mendekat dekatkan ketiaknya pas dihidung Vani.
" Seli udah deh..Kasian Vani nanti pingsan.." Ucap Zela yang melihat Vani terus menutup hidungnya dengan jarinya.
" Biarin aja Zel.. Gue belum mau berenti kalau nia anak belum pingsan.." Jawab Seli sengaja untuk membuat Vani parno.
" Gila loe... Akh..Sahabat macam apa loe.." Jawab Vani kesal seketika kembali menutup hidungnya lagi.
Sebenarnya apa yang diucapkan Vani tentang ketiak Seli tidaklah benar, Vani hanya becanda begitu juga dengan Seli.
Zela yang melihat tingkah kedua sahabatnya hanya menggelengkan kepala, tapi juga tak henti tertawa karena ulah mereka.
" Zel.. Tolongin napa... Gue udah nggak tahan nih..." Sambung Vani lagi sambil terus melepaskan rangkulan dari Seli.
Tapi semakin Vani meronta, semakin Seli merangkulnya lebih erat, benar benar sahabat kampret untuk Vani.
" Sel.. Udah.. Loe nggak malu kalau ada yang liat.." Ucap Zela kepada Seli.
" Tenang aja nggak akan ada yang liat.." Jawab Seli santai.
Membuat Zela hanya mengangkat bahunya sambil terus tertawa.
" Zel.. Please... Help me.. Gue mau pingsan.." Teriak Vani masih didalam rangkulan Seli.
Benar benar konyol mereka, bahkan ketika sampai diparkiran sekolah, Seli masih tetap diposisinya merangkul Vani.
" Kalian ngapain pencak silat disini..??? Tanya seseorang dari arah berlawanan.
Seketika membuat Mereka bertiga tekejut dan menoleh ke asal suara, lagi lagi mereka semakin terkejut, betapa tidak...?? Jika didepan mereka kini sudah berdiri ketiga cowok tampan yang masih setia menatap ke arah mereka.
Dengan segera Seli melepaskan rangkulan Vani, dia begitu malu dengan sikap konyolnya sedari tadi.
Tunggu..??? Apa kak Brayen, Dimas dan juga Xelo sudah sedari tadi..??
Apakah ketiga cowok tampan di depan mereka sekarang ini benar benar melihat tingkah konyolnya..?????
Pikir Seli terus bertanya tanya.
Sedangkan Zela dan Vani sekarang terkikik geli dengan wajah merah Seli yang terlihat sangat merah.
Dimas menatap Seli dengan tatapan yang susah diartikan, sungguh saat ini Seli sangatlah malu.
Ingin rasanya dia masuk kedalam lubang semut agar tidak ada yang melihat.
Karena sudah dipastikan sedari tadi cowok yang sedang menatapnya ini pasti sudah melihat tingkah konyolnya.
Seli terus menundukan kepalanya, jika saja diantara mereka tidak terjadi something mungkin akan beda ceritanya.
Seli tidak akan merasa malu seperti sekarang ini, tapi karena di antara Seli maupun Dimas sedang dalam masa masa pendekatan tentu saja image Seli sangat dipertaruhkan saat ini.
Sedangkan Xelo, dia menatap Vani dengan tatapan iba, tentu saja tatapan Xelo itu dibuat buat, membuat Vani membrengut kesal.
Sungguh kesal.. Tatapan mata Xelo seakan akan membuat dirinya seperti orang yang perlu untuk dikasihani.
Menyebalkan...!!!
Brayen berjalan ke arah Zela, dia mencium sekilas kening Zela.
Membuat Seli dan Vani sedikit terkejut tapi juga canggung.
Akh... Cowok tampan yang menjadi Idola Kampus juga sekolahnya itu memang selalu bersikap seenaknya saja.
Bahkan kerap sekali jika Brayen seperti sengaja memperlihatkan kemesraannya dengan Zela.
Sikap Brayen kepada Zela memang membuat yang lain seakan menggelengkan kepalanya, susah ditebak pikir mereka.
" Ayo pulang..." Ajak Brayen kepada Zela.
Zela yang masih diam dan berdiri hanya menurut saja apa yang dikatakan oleh suaminya.
__ADS_1
" Gue duluan ya.." Pamit Zela tanpa dosa kepada kedua sahabatnya.
Seli dan Vanu saling pandang, kemudian mengangguk pelan juga masih dengan rasa bingungnya.
" Malah bengong... Ayo pulang..." Ajak Xelo tanpa dosanya kepada Vani.
Vani dengan bingungnya menunjuk dirinya dengan jari telunjuknya, dan dijawab Xelo dengan senyum tampannya tentunya.
Melihat Vani yang masih bingung membuat Xelo tanpa pikir panjang langsung menarik tangannya dan masuk kedalam mobil Vani.
What..??? Mobil Vani..??? Apa apaan ini..???
Sungguh sangat susah ditebak cowok cowok tampan ini.
Begitu juga dengan cowok tampan yang sekarang sudah duduk dikemudi mobil Vani.
Xelo langsung melajukan mobil Vani, setelah sebelumnya meminta kunci mobil terlebih dahulu.
Kini tinggalah Seli dan Dimas yang masih berada di parkiran sekolah.
Seli begitu bingung dan canggung, dia memikirkan apa yang akan dilakukan oleh cowok tampan yang kini sedang mendekatinya.
Dengan tampannya Dimas menghampiri Seli, lalu tersenyum menampilkan gigi putih dan gingsulnya.
Sungguh tampan memang.
Seli begitu gugup, akh.. Belum juga hilang rasa malunya tadi karena ulahnya sendiri dan sekarang dibuat lebih gugup oleh Dimas yang terus menatap Seli secara intens.
" Nggak mau pulang..??? Tanya Dimas kepada Seli.
" Hmm..??? Jawab Seli yang begitu gugup.
" Pulang..." Jawab Dimas mengulang kata katanya.
" Eh.. Iya kak.. Duluan ya..." Jawab Seli canggung.
Tapi sebelum Seli sempat masuk kedalam mobilnya Dimas sudah terlebih dulu menahan tangannya, sampai membuat Seli terkejut dan menoleh ke arah Dimas dengan pelan.
" Kakak yang anter.." Ucap Dimas dengan senyum tampannya.
Seli menatap Dimas dengan tatapan yang semakin bingung.
" Akh.. Sorry.. Maksud kakak.. Kakak numpang mobil Seli.." Sambung Dimas menjelaskan kepada Seli.
Seli mengangguk pelan, dan sedikit menyunggingkan senyumnya.
Tanpa pikir panjang Dimas langsung membukakan pintu mobil untuk Seli, setelah itu dia segera beralih ke kursi kemudi, untuk melajukan mobilnya dan pulang berasama dengan cewek cantik yang ingin dia dapatkan saat ini.
Sebaliknya mobil Brayen terus melaju membelah jalanan yang cukup padat di sore hari ini.
Zela menoleh ke arah Brayen dengan senyum manisnya.
" Pengen apa..??? Tanya Brayen sekaligus menawarkan Zela jika ingin sesuatu.
Zela kembali menatap Brayen tapi hanya sekilas, dan menatap lurus kedepan.
" Emmm.. Langsung pulang aja... Tapi kerumah Mamah... Aku kangen sama Mamah Kak.." Jawab Zela dengan nada meminta kepada Brayen.
" Oke..." Jawab Brayen singkat sambil mengacak rambut Zela pelan.
Membuat Zela melemparkan senyuman manisnya.
Cukup lama di antara mereka berdua sama sama terdiam, Zela asik memainkan ponselnya, sedangkan Brayen fokus dengan setir mobilnya.
Sampai akhirnya Brayen kembali memecah keheningan.
" Tuh artis masih gangguin kamu nggak yank..??? Tanya Brayen membuat Zela menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung.
Tapi kemudian dia segera tau siapa yang dimaksud oleh Suaminya itu.
" Kak Bintang maksud Kak Ray..??? " Tanya Zela kepada Brayen.
" Bintang... Nggak usah panggil Kak..." Jawab Brayen sedikit ketus membuat Zela tersenyum dengan tingkah Brayen.
" Cie... Suamiku jealuose.." Ledek Zela sambil menoel dagu Brayen.
" Yank ikh.. Serius aku..." Jawab Brayen dengan nada kesalnya.
" Aku juga serius kak.." Jawab Zela masih dengan nada meledeknya.
" Serius sayang....!!!! " Sambung Brayen kembali dengan nada kesalnya tapi masih dengan panggilan yang romantis.
" Iya..ya.. Sorry deh.. Kak ray lucu kalau lagi ngambek.." Jawab Zela dengan nada meledeknya.
Brayen hanya menjawab dengan gelengan kepalanya.
" Nggak gangguin kok dia.. Kak ray tenang aja.. Aku pasti jaga hati ini buat kakak..." Sambung Zela menjelaskan kepada Brayen dengan gombalan lebaynya.
Brayen mengangguk dengan senyum tampannya.
" Son.. Bilang ya ke daddy kalau Mommy nakal.." Ucap Brayen mengelus perut Zela sekilas.
" Ciap Dad..." Jawab Zela menirukan suara anak kecil.
Membuat mereka tertawa bersama.
__ADS_1
" Love you.." Ucap Brayen kepada Zela.
" Love You too..." Jawab Zela dengan senyum manisnya.
Sebelah tangan Brayen menggenggam tangan Zela, membuat Zela menatap Brayen dengan tatapan kasih sayangnya juga kembali tersenyum kepada Brayen.
Sungguh rasanya Zela selalu ingin tersenyum untuk Brayen, selalu memberi kenyamanan untuk suami tercintanya.
Ingin rasanya Zela menghentikan waktu disaat seperti ini, waktu ketika dirinya dan Brayen selalu memberi kehangatan cintanya, meskipun hanya dengan tatapan hangat cinta mereka.
Juga tak ingin rasanya jika Zela harus kehilangan hangat sentuhan tangan Brayen, sentuhan lembut yang selalu mampu membuat Zela terbuai dan tak mampu untuk menolak.
Sungguh, sejauh ini Zela begitu merasa teramat bahagia setelah menikah dengan Brayen.
Zela tak pernah menyangka, pernikahan yang dulu sama sekali tak dia inginkan, bahkan dia hindari sekarang begitu membuat dia merasa bahagia, terlebih sebentar lagi akan hadir malaikat kecil di tengah keluarganya, yang membuat Zela merasa lebih bahagia dan sempurna menjadi seorang wanita.
Sungguh kehidupan yang sebelumnya tak pernah Zela bayangkan, dan Zela sangat bersyukur akan hal ini sekarang.
Mobil Brayen memasuki pekarangan rumah keluarga Adafsi, setelah Brayen memarkirkan mobilnya, Zela sangat bersemangat untuk bertemu dengan orang tuanya.
Brayen membukakan pintu mobil untuk Zela, mereka bergandengan tangan dan berjalan menuju rumah Zela dulu sebelum menikah dengan Brayen.
Terlihat rumahnya yang cukup sepi, Zela tau jika Pak Adam masih dalam perjalanan pulang dari kantor, sedangkan Mamah Hana pasti sedang sibuk di dapur, tentu saja karena hari sudah semakin sore, Mamah Hana pasti sedang membantu para asisten rumah tangga untuk menyiapkan makan malam nanti.
Dengan semangat Zela berjalan ke arah dapur, di ikuti oleh Brayen yang berada di sampingnya, dan benar saja terlihat wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dengan baju daster rumahannya sedang menggoreng di dapur.
Zela dan Brayen saling tatap dan tersenyum,
Mamah Hana masih fokus dengan pekerjaanya, sampai dia tak sadar jika anak dan menantunya sedang mengamatinya.
Sedangkan para asisten rumah tangga yang sudah tau kedatangan Zela, mereka hanya tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya kembali setelah tadi di beri kode oleh Zela untuk tidak memberitahukan kepada Mamah Hana.
Terlihat Mamag Hana yang sudah selesai dengan penggorengan di atas kompornya.
" Bi tolong lanjutkan menata piring di depan ya.. Aku mau mandi dulu.." Ucap Mamah Hana meminta tolong kepada asisten rumah tangganya.
" Baik Nyah.." Jawab mereka kompak.
Ada 2 orang yang sedang membantu Mamah Hana memasak didapur, sedangkan yang lain sibuk dengan pekerjaan masing masing.
Saat Mamah Hana membalikan tubuhnya untuk keluar dari dapur, betapa terkejutnya dia karena ternyata anak cantiknya juga menantu tampannya sudah berdiri tepat di pintu keluar dapur.
" Astaga... Zezel...." Teriak Mamah Hana saking terkejutnya karena Zela dan juga Brayen.
Zezel..Adalah panggilan sayang Mamah Hana dulu ketika Azela masih kecil, tapi sekarang sangat jarang Mamah Hana memanggil Zela dengan sebutan itu.
" Mamah...." Jawab Zela spontan memeluk Mamah Hana.
Zela melepaskan pelukannya, setelah itu mencium tangan Mamah Hana diikuti oleh Brayen.
" Anak nakal.. Kok nggak bilang mau kesini..?? Tanya Mamah Hana kepada Zela dan juga Brayen.
" Kan kejutan..." Jawab Zela manja.
" Ikh.. Kamu tuh ya.. Tapi Mamah beneran terkejut tadi.." Jawab Mamah Hana sambil menarik gemas hidung Zela.
Membuat Zela hanya tersenyum genit.
Brayen tersenyum melihat tingkah martua dan istrinya, ternyata yang suka menarik hidung mancung Zela bukan hanya dirinya, tapi juga Mamah Hana dan itu lucu pikir Brayen.
Zela memang selalu menggemaskan.
Mereka menuju ruang tengah untuk mengobrol.
" Gimana kabar cucu Mamah..?? Tanya Mamah Hana kepada calon cucunya yang masih berada diperut rata Zela.
" Baik dong tita.." Jawab Zela lagi lagi menirukan suara anak kecil.
Membuat Mamah Hana tersenyum gemas dan senang, rasanya Mamah Hana sudah tak sabar lagi ingin menimang cucu pertamanya.
" Dijaga baik baik lho sayang..." Pesan Mamah Hana kepada Zela.
" Pasti Mah... Zela udah nggak sabar.." Jawab Zela dengan senyuman.
" Apa Lagi Mamah sayang... Udah pengen menimang cucu..." Jawab Mamah Hana sambil menggenggam tangan Zela.
Mereka berdua sama sama tersenyum, menantikan kehadiran malaikan kecil ditengah keluarga besar Adafsi maupun Zafano.
" Mamah mandi dulu ya sayang... Bentar lagi Papah pulang.. Kalian juga mandi dan istirahat nanti Mamah panggil ya buat makan malam.." Sambung Mamah Hana kepada mereka Zela dan Brayen.
" Siap Mah.." Jawab Zela dan Brayen kompak.
Mamah Hana tersenyum melihat kekompakan anak dan menantunya, begitu terlihat manis menurutnya.
Mamah Hana menuju kamarnya, begitu juga dengan Brayen dan Zela yang menuju ke atas untuk menuju kamar Zela.
Sampai dikamar, terlihat tatanan kamar yang masih rapih dan juga wangi, tak seperti kamar yang tidak pernah ditempati.
Brayen memeluk Zela dari belakang, membuat Zela mengehentikan langkahnya, dengan pelan Brayen mengelus perut Zela yang masih memakai seragam sekolahnya.
Sensasi yang tak biasa membuat Zela merasakan detak jantungnya mulai tak beraturan, sungguh Zela kesal akan hal ini tapi dia juga suka diperlakukan seperti ini oleh Brayen.
Brayen mengecup tengkuk leher Zela, membuat Zela memejamkan matanya menahan rasa nikmat dan sensasi yang memabukan untuk dirinya.
Ntah kenapa Zela selalu suka diperlakukan seperti sekarang ini oleh Brayen, Zela selalu suka dengan sentuhan hangat yang Brayen berikan, dan Zela selalu menginginkan itu, untuk dirinya dan hanya dirinya.
__ADS_1
Jangan Lupa Like, Comment dan Vote ya kak.. Big Thanks 🙏🙏😘😘