Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Perjalanan Yang Penuh Cerita


__ADS_3

Di jalan sedari tadi Zela terus diam dan murung, meninggalkan baby Arsha untuk yang pertama kalinya sangatlah berat bagi Zela, rasanya dia tidak akan mampu jika harus berjauhan satu jam saja dengan bayi montok itu.


Baru juga berapa menit meninggalkan rumah untuk menuju ke sekolah. Nyatanya Zela sudah galau setangah mati karena terus kepikiran baby Arsha, sungguh hal itu membuat Brayen sedikit kesal karena rencana yang dia buat gagal total. Sangat jauh dengan bayangannya yang akan mendapat pelukan hangat Zela, lalu Brayen akan melajukan motornya begitu kencang sampai membuat Zela menjerit dan memeluknya sangat kencang.


Tapi nyatanya itu semua hanya angan-angan Brayen saja, sangat aneh memang seorang Brayen kesal hanya karena masalah sepele seperti itu. Tapi ya begitulah Brayen yang sudah cukup lama di anggurin oleh Zela.


" Yang pegangan yang erat, aku mau ngebut." Ucap Brayen setengah berteriak.


Tidak ada jawaban dari Zela, membuat Brayen semakin gusar dan kesal saja karena Brayen benar-benar di cueki oleh Zela, padahal mereka sedang bedua, catat hanya berdua tanpa adanya si bayi montok yang akhir-akhir ini benar-benar mengambil Zela dari Brayen.


Tidak lama terdengar suara isakan dari belakang, meskipun sama tapi Brayen yakin itu suara istrinya, memangnya siapa lagi kalau bukan Zela?


Isakan itu semakin terdengar jelas, membuat Brayen harus menepikan motornya di pinggir jalan. Brayen berhenti kemudian dia menoleh ke belakang, tampak Zela yang sedang menangis sembari menatap layar di ponselnya.


Ternyata Zela sedang menatap foto bayi montok yang di jadikannya untuk wallpaper di ponselnya. Brayen menghela nafas dia juga menggeleng dengan sikap Zela yang ternyata begitu berlebihan pisah dengan baby Arsha, padahal nanti siang juga Zela sudah bisa bersama dengannya, tapi Brayen juga sebenarnya sama dengan Zela, selalu berat ketika akan berangkat ke kampus atau ke kantor meninggalkan baby Arsha. Hanya saja cara Brayen dan Zela berbeda, jika cowok tidaklah akan sampai menangis, tapi cewek sudah pasti akan mengeluarkan air mata atas apa yang sedang di rasakannya.


Seperti Zela sekarang yang sudah merasa kangen dengan buah hatinya. Padahal baru berapa menit saja, Zela memanglah lebay, tapi yang namanya wanita sedang bahagianya menjadi seorang Ibu, dia akan sangat sedih harus pisah dengan anaknya, meski hanya sebentar saja, seperti apa yang di alami Zela saat ini.


Brayen dan Zela turun dari motor, jika pengendara yang lain melihat, mereka seperti anak SMA dan Anak kuliah yang pacaran lalu sedang berantem di pinggir jalan. Meskipun jelas perawakan dan wajah mereka bukan dari kalangan orang biasa.


" Mau balik aja?." Tanya Brayen sedikit frustasi.


Zela menggeleng tanpa menjawab, dia masih menangis dan memandangi foto anaknya.


" Kalau nggak balik jangan nangis gini dong yang." Sambung Brayen mengingatkan Zela.


Tapi malah semakin membuat tangisan Zela lebih kencang.


" Kak Ray jahat ngomong gitu, Kak Ray nggak akan tau gimana rasanya jadi aku yang seorang Ibu." Jawab Zela ngegas, membuat Brayen merasa jadi serba salah.

__ADS_1


" Sini peluk aku." Suruh Brayen yang membuat Zela menatap Brayen dengan kesal.


Karena tidak ada pergerakan dari Zela, membuat Brayen menarik Zela ke pelukannya. Brayen mengelus rambut Zela, lalu mengcupnya pelan untuk menenangkan Zela.


Dan apa yang di lakukan oleh Brayen berhasil membuat Zela tidak menangis lagi. Brayen menghela nafas lalu kembali mengelus rambut Zela. Mereka seakan tidak peduli dengan beberapa pengendara yang melihat mereka dengan bingung, bahkan ada yang sampai mengabadikan dengan ponselnya. Tapi jelas itu tidak menjadi masalah karena Brayen dan Zela ialah suami istri, hanya saja jangan sampai ada berita simpang siur yang tidak tau kebenarannya memberitakan mereka dengan opininya sendiri.


" Sayang... Dengerin aku, Arsha akan baik-baik saja di rumah, kalau kamu kangen kamu kan bisa Video call dengan Bunda untuk melihat Arsha, sekarang kamu fokus dulu buat sekolah, aku tau, di awal-awal memang akan sangat sulit untuk kamu, tapi nanti seiring berjalannya waktu kamu akan terbiasa, aku juga dulu sama seperti kamu yang." Jelas Brayen membuat Zela meregangkan pelukannya, lalu menatap Brayen yang sedang tersenyum dengannya.


" Kak Ray dulu juga seperti aku gini?." Tanya Zela tidak percaya.


Brayen mengangguk membenarkan, membuat Zela ingin tertawa rasanya.


"Jadi Kak Ray dulu juga nangis di jalanan karena kangen sama Arsha?." Sambung Zela bertanya, tapi sukses membuat Brayen terkejut.


Pasalnya apa yang dia maksud ialah Brayen yang memang begitu sedih dan tidak tega untuk meninggalkan Arsha dan Zela, bukan yang sampai nangis seperti yang Zela pikirkan, sedangkan kini Zela sedang tertawa karena itu, Zela yang tadi menangis tersedu-sedu hanya dalam hitungan detik sudah tertawa terbahak karena cerita Brayen.


" Udah baikan kan sekarang?." Tanya Brayen yang di angguki oleh Zela.


" Mau lanjut berangkat apa balik nih?." Tanya Brayen sengaja menggoda Zela.


Zela tersenyum, lalu memukul lengan Brayen pelan, membuat Brayen pura-pura kesakitan sampai meringis.


" Auw sakit yang." Ucap Brayen sembari mengelus lengannya.


" Lebay deh, ayo jalan lagi." Ajak Zela kepada Brayen.


" Jalan kemana sayang?." Goda Brayen lagi kepada Zela.


" Ke planet mars." Jawab Zela kesal membuat Brayen tertawa.

__ADS_1


Mereka kembali menaiki motor gede itu. Zela juga sudah lebih baik lagi, bahkan ponselnya sudah dia masukan ke dalam tasnya.


" Pegangan yang, mau ngebut nih, biar nggak telat karena tadi ada yang berhenti buat nangis dulu." Ucap Brayen dengan meledek Zela.


" Di ledek terus nggak jadi sekolah nih aku." Jawab Zela kesal, sembari pura-pura melepaskan pelukannya.


" Hey... Jangan ngambek dong just kidding sayang." Ucap Brayen membuat Zela tersenyum lalu kembali memeluk Brayen dengan erat.


" Ready honey?." Tanya Brayen yang di angguki Zela malu-malu di pundaknya.


" Oke let's go." Jawab Brayen yang langsung melajukan motornya dengan kencang.


Bahkan apa yang Brayen rencanakan dan inginkan akhirnya terwujud juga, meskipun harus di sela dengan drama Zela menangis membuat mereka berhenti di pinggir jalan dulu. Tapi nyatanya sekarang Brayen bisa merasakan sesuatu yang begitu membuatnya semangat, jelas Brayen merasa sensasi yang berbeda karena Zela begitu memeluknya dengan erat, balon yang ada pada dada Zela menempel dengan sempurna di bagian belakang atau pundak Brayen.


Konyol memang, tapi itu semua gara-gara film yang Brayen, Dimas dan juga Xelo tonton.


Brayen menarik tangan Zela yang sedang memeluknya dari belakang. Lalu di kecupnya dengan lembut, bahkan sampai membuat Zela sedikit terkejut.


Tidak pernah mereka merasakan keromnatisan di dalam perjalanan yang seperti sekarang ini, pasalnya mereka selalu menggunakan mobil. Sedangkan dulu ketika menggunakan motor, Zela sedang hamil besar baby Arsha, jadi rasanya tidaklah sama seperti sekarang ini.


" i love you." Ucap Zela di telinga Brayen, karena mereka menggunakan helm, jadi Zela sedikit berteriak.


" I love you too Honey." Jawab Brayen berteriak, membuat Zela tersenyum dan memeluk Brayen semakin erat.


Nyatanya ada cara lain untuk membuat mereka tetap romantis, meskipun mereka kini sudah menjadi orang tua, tapi yang namanya keharmonisan atau keromantisan harus tetaplah di bangun untuk menjaga suatu hubungan.


Jangan Lupa Like, Comment and Vote ya gaes..


" My Naughty Brother " Juga sudah up ya gaes.. 🤗

__ADS_1


__ADS_2