
Pagi hari ini di kantin Sekolah sudah ada ketiga gadis cantik yang sedang duduk sambil memakan soto pesanannya. Zela, Seli, dan Vani duduk sambil bercerita tentang apa saja yang sudah mereka lalui di SMA sekolah itu.
Bahkan Vani sampai meneteskan air matanya saking harunya, Vani sedih karena ini hari terakhir Zela berangkat sekolah sebelum lahiran nantinya. Tidak ada penyambutan atau perpisahan secara resmi di sekolah untuk menyambut hari terakhir Zela masuk sekolah. Dan itu Zela yang memintanya, awalnya Kepsek juga rekan Guru yang lain mengajukan untuk mengadakan acara perpisahan untuk Zela, tapi dengan segera Zela menolak, karena menurutnya itu terlalu berlebihan, meskipun Zela adalah menantu dari yang mempunya Sekolah. Tapi Zela tidak ingin mereka bersikap lebih kepadanya.
Begitu juga dengan kedua sahabatnya, baik Seli maupun Vani ingin menemani Zela melanjutkan home schooling, tapi Zela menolak karena Zela tau, masa SMA di sekolah itu masa yang paling indah dan menyenangkan sangat di sayangkan jika sampai terlewatkan.
" Gue pengen nemenin Lo Zezel." Ucap Vani dengan nada sedihnya, karena sedari tadi Zela terus menjelaskan agar kedua sahabatnya tidak harus sampai ikut home schooling.
" No." Jawab Zela cepat dan singkat.
" Lo nggak butuh kita?." Tanya Vani yang membuat Zela menatap Vani dengan gemas.
Kedua tangan Zela menggenggam tangan Vani, karena memang di antara mereka Vanilah yang paling cengeng, mudah sekali baper dan berlanjut ke tangisan.
" Dengerin Gue, kalau Gue udah lahiran terus baby udah bisa di tinggal, Gue sekolah lagi kok." Jelas Zela agar Vani tidak terus bersedih.
Seli masih fokus pada soto yang pagi ini akan di traktir oleh Zela, Seli belum membuka suaranya, karena dia tau Zela itu orang yang teguh pada pendirian, sebanyak apapun Vani atau mungkin dirinya meminta, tetap saja jawaban Zela akan tetap tidak, atau lebih tepatnya Seli dan Vani tetap melanjutkan Sekolahnya di SMA bukan dengan cara home schooling seperti dirinya.
" Van, udah deh kita kan bisa pulang sekolah ke rumah Zela." Ucap Seli yang di angguki oleh Zela.
Tapi tidak dengan Vani, dia masih berusaha agar Zela mengiyakan permintaannya.
" Gue maunya nemenin Zela, kalau Lo mau tetep berangkat ya udah sendiri aja." Jawab Vani tidak mau kalah dan seperti anak kecil.
Seli menggelengkan kepalanya, dia juga menghela nafasnya dengan teman yang satunya ini.
" Kalau kayak gitu kita nggak akan solid lagi Van, udah deh jangan kekanakan gitu." Jelas Seli dengan nada sedikit kesal.
" Gue nggak kekanakan ya, Gue cuma nggak mau pisah sama Zela." Jawab Vani dengan muka yang sudah benar-benar sedih.
" Vani kita nggak akan pisah, kita tetep bersa kok, hanya saja cara belajar kita untuk sementara waktu berbeda dulu, tapi ini nggak akan lama hanya beberapa bulan saja." Jelas Zela yang langsung di angguki oleh Seli.
" Dengerin tuh miss telmi." Imbuh Seli.
" Tapi beneran kan kalau ponakan Gue udah lahir Lo sekolah lagi? Gue nggak bisa bayangin Zela berdua aja sama Seli di sekolah sampai waktu yang lama, yang ada Gue mati perlahan karena kekerasan." Jelas Vani membuat Zela dan Seli menggelengkan kepalanya.
" Makanya nurut kalau masih mau hidup." Ucap Seli seperti mengancam, meskipun apa yang mereka katakan ialah sebatas candaan belaka.
" Seli." Tegur Zela yang dapat cengiran dari Seli.
" Iya Vani, beneran dan Gue janji." Jawab Zela yang langsung di peluk oleh Vani.
" Ikut...." Rengek Seli yang juga langsung mendapat rentangan tangan dari Zela dan Vani.
Ketiga gadis cantik itu berpelukan di dalam kantin. Hari ini mereka sengaja berangkat lebih awal dari hari biasanya, karena agar waktu kebersamaan mereka di sekolah lebih lama, jelas itu semua karena Zela yang besok sudah harus melakukan home schoolingnya.
Meskipun sebenarnya dari lubuk hati Zela juga ada perasaan sedih, tapi ini kenyataan hidupnya setelah menikah dan akan mempunyai seorang anak.
Zela memang harus menjeda masa SMAnya di Sekolah. Tapi dia bahagia karena rumah tangganya dengan suami dan kedua martuanya begitu bahagia, itu sesuatu yang tidak dapat di bandingkan dengan apapun menurut Zela, terlebih Tuhan mempercayai Zela untuk menitipkan seorang anak di tengah-tengah keluarga mereka sebentar lagi, dan Zela begitu bersyukur akan hal itu.
Setelah selesai dengan sarapan di kantin. Ketiga gadis cantik itu langsung menuju ke kelas. Sudah banyak teman-teman kelasnya di sana meskipun bell masuk belul terdengar.
Beberapa teman kelasnya melihat Zela ngilu, karena perut Zela yang memang begitu besar seperti lebih dari usia kandungannya.
Dan tiba-tiba kelas Zela menjadi gaduh karena kedatangan lelaki yang juga merupakan Idola di sekolah mereka.
Dia adalah Bintang, lelaki tampan pemain film yang banyak di sukai oleh teman sekolahnya. Meskipun tidak sebanyak Brayen fans Bintang, tapi Bintang di urutan ke dua setelah Brayen, nyatanya Bintang bisa menggeser posisi Dimas dan juga Xelo.
" Kak Bintang." Bisik Vani sembari menyiku lengan Seli.
__ADS_1
" Ssstt tau Gue." Jawab Seli mengintruksi agar Vani diam dan tidak banyak tingkah dulu.
Seli ingin tau maksud dan tujuan Bintang ke kelasnya. Meskipun pada dasarnya Seli sudahlah tau jika Bintang ke kelasnya karena Zela. Tapi Seli ingin lebih memastikannya lagi.
Dan benar saja, Bintang menghampiri Zela yang sedang duduk di kursinya. Semua siswa siswi yang berada di kelas mereka menyaksikan itu.
Bahkan beberapa siswi sampai terlihat iri dengan Zela yang sedang hamil besar saja, masih di datangi oleh cowok tampan yang begitu sangat susah untuk mereka dapatkan.
" Azela." Ucap Bintang yang kini sudah berada di depan Zela.
Bintang berdiri di depan Zela yang sedang duduk sambil mengelus perut buncitnya. Bahkan Bintang sempat melirik perut Zela sekilas lalu tersenyum, senyuman yang terlihat tulus tanpa maksud tertentu.
" Iya Kak." Jawab Zela singkat, tanpa adanya maksud lain, hanya sekedar menjawab sapaan atau panggilan dari Bintang yang merupakan Kakak kelasnya.
" Gue ke sini mau bilang." Ucap Bintang terjeda, bahkan sampai membuat siswi yang lain menjadi gugup, meskipun Zela yang Bintang maksud tapi mereja juga merasakan kegugupan karena Bintang.
Samar-samar Dara mendengar bahwa teman kelasnya masuk ke kelas 11. Dan yang mereka maksud ialah kelas Zela. Kelas yang sedang di datangi oleh Bintang. Membuat Dara buru-buru juga ke kelas Zela ingin tau apa yang akan di lakukan atau katakan oleh Bintang.
Siswa paling tampan di sekolahnya.
" Gue pernah suka sama Lo." Ucap Bintang terjeda, yang mampu membuat semua siswa siswi di kelas itu bungkam dan tidak percaya dengan apa yang Bintang ungkapkan.
Begitu juga dengan Dara yang baru tiba tepat di depan kelas Zela. Dara bisa mendengar apa yang Bintang katakan barusan.
Jelas nyali Bintang sangatlah besar, berani mengungkapkan perasaannya kepada Zela yang merupakan istri dari Brayen Zafano.
Sedangkan Zela masih diam, meskipun Bintang pernah menyatakan cintanya, tapi Zela harus menghargai perasaan Bintang dengan membiarkan Bintang mengungkapkan perasaannya di depan teman-teman kelasnya.
Meskipun jawabannya sudah jelas akan sama seperti dulu, Zela tidak bisa dan perasaan Zela hanya untuk Brayen seorang.
" Bukan hanya sekedar suka tetapi sudah menjadi rasa sayang, rasa yang tulus untuk Lo, tapi Gue nggak mau egois dengan perasaan ini, Gue bahagia kalau Lo juga bahagia ntah dengan siapapun itu." Sambung Bintang yang sukses membuat para siswi ingin berteriak karena sweet dan baiknya seorang Bintang.
Mereka baru tau jika Bintang menyayangi Zela dengan tulus, kebahagiaan Zela yang terpenting untuk Bintang, dan itulah yang di namakan cinta yang tulus, cinta yang tanpa harus memiliki.
Zela berdiri dan langsung memeluk Bintang yang masih berdiri di depannya.
" Sorry, i hope you get better than me." Ucap Zela di sela-sela pelukan mereka.
Tidak lama Seli dan Vani ikut memeluk Bintang, lelaki yang dengan tulus mencintai Zela, dan rela menyampingkan egonya untuk kebahagiaan Zela, membuat Seli dan Vani begitu merasa salut dengan sosok lelaki seperti Bintang.
Jangan lupakan Xelo juga termasuk lelaki yang berhati besar seperti Bintang, meskipun dulu perasaannya untuk Zela hanyalah sekedar kagum bukan rasa sayang seperti apa yang Bintang rasakan untuk Zela.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Dan kini Zela sudah berada di mobil dengan Brayen. Rencananya tadi Seli dan Vani mengajak Zela untuk jalan-jalan terlebih dahulu tapi dengan nada kesal Brayen yang menolak.
Sudah bisa di tebak, Brayen kesal karena kabar Zela yang memeluk Bintang sudah terdengar sampai ke telinganya, bahkan karena hal itu sampai membuat Brayen tidak fokus lagi dengan mata kuliahnya tadi.
Dengan kecepatan sedang Brayen melajukan mobilnya meninggalkan sekolah yang nantinya akan membuat Zela rindu dengan cerita masa SMA nya.
Tidak ada percakapan di antara ke duanya, baik Zela maupun Brayen saling diam dan larut dalam pikiran masing-masing, Zela yang menyibukan diri dengan ponselnya. Juga Brayen yang fokus pada setir mobilnya.
" Kak Ray." Panggil Zela lirih juga dengan nada yang begitu lembut.
" Hmm?." Jawab Brayen yang membuat Zela menoleh ke arahnya.
Sudah cukup lama Zela tidak mendengar kata itu dari Brayen, dan Zela suka akan hal itu, tapi sekarang Brayen mengatakan itu lagi pertanda jika Brayen sedang kembali ke mode awal, cuek dan datar, bisa di bilang Brayen sedang marah dan akan irit bicara saat ini kepada Zela.
" Jangan gitu dong Kak." Ucap Zela mencoba mencairkan suasana.
__ADS_1
" Gini kok." Jawab Brayen singkat dan terdengar begitu menyebalkan.
Jawaban Brayen terdengar seperti cowok alay yang sedang ngambek dengan pacaranya menurut Zela.
" Kayak anak kecil." Ucap Zela karena sudah kesal dengan sikap Brayen yang mulai cuek itu.
" Tapi aku setia." Balas Brayen membuat Zela kembali menoleh ke arahnya tak percaya.
Astaga... Jadi benar-benar karena masalah tadi.
Sebenarnya wajar sih Brayen marah, tapi cara marahnya itu yang membuat Zela tidak nyaman, harusnya Brayen bisa berkata langsung kepada Zela janga malah diemin Zela seperti sekarang ini.
Zela yang hamil, tapi untuk saat ini Brayen yang sensinan.
" Tadi itu sebagai tanda perpisahan aja Kak, nggak lebih." Jelas Zela tapi terdengar masih ambigu.
" Dengan meluk cowok lain di depan orang lain." Jelas Brayen untuk mengingatkan Zela.
" Tapi kan mereka tau aku istri Kak Ray." Jawab Zela yang malah membuat Brayen semakin kesal tapi juga gemas rasanya dengan Zela yang berubah tidak peka an, sejak kedatangan Yubi si kucing brengs*k menurut Brayen.
" Justru karena mereka tau kamu istri aku, kenapa kamu meluk dia di depan orang lain? aku nggak cuma sakit yang, tapi harga diri aku juga turun." Jelas Brayen membuat Zela kesal dengan jawaban Brayen.
" Oh jadi ini karena harga diri?." Tanya Zela tidak kalah kesalnya sekarang dengan Brayen.
" Kenapa kamu sekarang yang marah?." Tanya Brayen kepada Zela.
" Oke cukup, aku tau ini semua karena harga diri bukan karena.... Ah sudah lupakan." Jawab Zela.
Zela mengira jika Brayen cemburu karena Zela memeluk Bintang, tapi jawaban Brayen tentang harga diri membuat Zela kesal dan juga sedih.
Sedangkan Brayen terlalu gengsi untuk mengatakan jika sebenarnya dia begitu cemburu, bahkan mendengarnya saja tadi rasanya Brayen ingin memukul Bintang dan melemparkannya ke laut.
Tapi untuk mengatakan cemburu rasanya terlalu berat untuk Brayen, apa lagi yang di cemburui itu lelaki seperti Bintang yang tidak ada apa-apanya untuk Brayen.
Sungguh semua ini karena kesalah pahaman, juga karena ke egoisan Brayen dan juga Zela yang tidak langsung menjelaskan tadi setelah bertemu dengan Brayen.
Sampai di depan rumah Zafano. Zela langsung ke luar dari mobil meninggalkan Brayen yang sedang uring-uringan tidak jelas. Brayen memukul setir mobilnya. Dia juga mengacak rambutnya kesal. Brayen baru menyadari kalau apa yang dia katakan memanglah salah.
Zela salah, tapi seharusnya Brayen lebih mengerti atau katakanlah Brayen pura-pura bersikap biasa agar masalahnya tidak sampai seperti sekarang ini.
Zela langsung duduk di depan kandang Yubi. Dia ingin bercerita dengan Yubi tentang masalah yang sedang di hadapi, aneh memang, tapi itulah Zela sekarang, karena sedang hamil dan juga begitu menyayangi Yubi sampai membuatnya seperti orang tidak waras dengan mengajak bicara hewan peliharaannya.
" Yubi, Gue lagi kesel." Adu Zela kepada kucing kesayangannya.
" Meow." Satu kata yang selalu Yubi katakan.
Dan itu Zela artikan sebagai jawaban iya, jika Yubi akan mendengarkan cerita Zela sekarang.
Tanpa Zela sadari, Brayen dan Bunda Wina sudah berada di belakangnya, melihat tingkah Zela yang begitu lucu beribcara dengan kucing kesayangannya, membuat Bunda Wina tersenyum.
" Kamu apakan menantu Bunda Ray?." Tanya Bunda Wina setengah berbisik.
" Nggak ngapa-ngapain kok Bund, selain bikin perut Zela membesar." Jawab Brayen yang terdengar begitu ambigu.
Bunda Wina menggeleng tidak percaya dengan apa yang Brayen katakan, membuat Bunda Wina memukul lengan Brayen pelan, semakin ke sini sikap Brayen semakin mirip dengan Ayahnya, hanya saja yang membedakan ialah Brayen yang masih bersikap datar dan cuek kepada orang lain, sedangkan Pak Riko bertolak dari Brayen.
Jangan Lupa Like, Comment and Vote ya gaes...
Ingat Vote... yang banyak oke?😊
__ADS_1
Bit Thanks 🙏🙏😘😘