Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Kebenaran Yang Terungkap 2


__ADS_3

Dimas dan Pak Rendy sudah menyiapkan semua bukti yang memang masih di simpan oleh Brayen untuk berjaga-jaga.


Oliv duduk di depan Dimas dan Pek Rendy yang sedang membuka sebuah laptop yang kini di serahkan kepada Oliv.


" Silahkan buka Nona Oliv." Ucap Pak Rendy kepada Oliv yang dengan ragu mengambil laptop di depannya itu.


" Saya sarankan siapkan mental anda untuk melihatnya." Ucap Dimas sarkas dan tentu saja sengaja.


Oliv menatap Dimas tajam, tetapi dia juga masih kekeuh pada pendiriannya.


" Apa kalau Kakak ku terbukti tidak bersalah Tuan Brayen siap untuk berurusan dengan hukum?." Tanya Oliv angkuh.


Dia masih percaya diri jika Kakaknya tidak ada sangkut pautnya dengan kesalahan Bapaknya, tetapi Sandro yang menjadi korban dari semua yang sudah Pak Septa lakukan, itulah yang ada di pikiran Oliv saat ini.


Dimas tersenyum meremehkan, lalu menatap Pak Rendy dengan menganggukan kepala, mempersilahkan Pak Rendy untuk berbicara dan menjelaskan sedikit kepada Oliv.


Pak Rendy mengangguk menyetujui apa yang di perintah oleh Dimas.


" Sebaiknya Nona Oliv lihat dulu apa yang ada di laptop itu, Tuan muda Brayen tidak mungkin mengirim Kakak anda ke New York jika kesalahan yang di perbuatnya tidak fatal." Jelas Pak Rendy membuat Oliv mendengus kesal.


Mau tidak mau memang Oliv harus melihatnya agar tahu semuanya, dan tidak lagi mempermalukan dirinya di hadapan keluarga Zafano.


Dengan pelan Oliv mulai membuka laptop di hadapannya, Dimas dan Pak Rendy menatap Oliv seksama.


Mereka ingin tahu rekasi gadis angkuh di depannya ini setelah melihat apa yang sudah Kakaknya perbuat kepada istri Brayen.


Mata Oliv membelalak, dia tidak percaya dengan apa yang sudah Kakaknya lakukan, bahkan ada video ketika Sandro mengakui perbuatannya.


Dengan penuh keberanian Oliv membuka beberapa foto dengan wajah Zela tetapi tubuh pemain film hots yang sudah Kakaknya edit.


Bahkan banyak sekali foto Zela ketika sedang tertawa di sekolahnya bersama kedua sahabatnya Seli dan Vani.


Oliv menghela nafasnya sangat pelan, dadanya bergemuruh mengetahui kejadian yang sebenarnya.


Apa Kak Sandro begitu mengagumi Azela? Batin Oliv dengan tangan mengepal kuat.


Oliv merasa kesal mengetahui semuanya dari orang lain, bahkan dia sudah menuduh Brayen melakukan penindasan kepada Kakaknya.


Oliv menutup laptop di depannya dengan perasaan yang sudah tidak menentu. lalu menatap Dimas dan Pak Rendy yang juga masih menatapnya serius.

__ADS_1


" Maafkan saya, sudah menuduh Tuan Brayen yang tidak-tidak." Ucap Oliv seraya menganggukan kepalanya.


Pak Rendy menganggukan kepala untuk menjawabnya, sedangkan Dimas masih tidak bereaksi apa-apa.


" Bolehkah saya bertemu dengan Tuan Brayen, untuk menyelesaikan kesalahpaham ini?." Tanya Oliv sopan kepada Dimas dan Pak Rendy.


Oliv sudah menyingkirkan semua rasa malunya untuk mengatakan ini.


Setelah melihat semua bukti, Oliv menyadari jika Pak Septa dan Sandrolah memang yang bersalah, tidak mungkin keluarga Zafano tega memberhentikan Pak Septa juga mengirim Sandro jika kesalahan yang mereka lakukan tidak sefatal ini.


Oliv menyadari satu hal, beruntung Bapak dan Kakaknya tidak di masukan ke jerujui besi, Oliv sangat bersyukur dengan itu.


" Bisa saja, tetapi tolong bersikaplah sopan dengan Tuan muda Brayen, dia sudah sangat berbesar hati untuk memafkaan kesalahan yang di perbuat Bapak dan Kakak anda Nona Oliv." Jawab Pak Rendy sarkas.


" Saya mengerti Pak, saya ingin menemui Tuan Brayen untuk meminta maaf atas apa yang sudah saya lakukan." Jelas Oliv kepada Pak Rendy.


Pak Rendy menoleh ke arah Dimas yang menganggukan kepalanya, pertanda Brayen boleh di temui oleh gadis di depannya ini.


Tok...


Tok...


Pak Rendy mengetuk pintu ruangan Brayen. Tidak lama terbukalah pintu ruangan Brayen, dengan menampilkan sosok wanita cantik di depan mereka. Siapa lagi kalau bukan istri Brayen, Azela Syakarina Adafsi.


Zela menatap Oliv yang tersenyum seraya menundukan kepalanya sekilas kepadanya.


Apa Dia sudah tidak kesurupan seperti tadi ketika datang? Batin Zela menatap Oliv penasaran.


" Nona Zela, dia ingin bertemu dengan Tuan muda Brayen." Ucap Pak Rendy memberitahukan.


Zela tidak langsung menjawab, tetapi menatap Dimas untuk meminta jawaban, Dimas menganggukan kepalanya lagi yang membuat Zela akhirnya memperbolehkan Oliv untuk menemui Brayen lagi.


" Masuk." Suruh Zela kepada Oliv.


Pak Rendy dan Dimas mengikuti dari belakang. Mereka juga ikut masuk ke ruangan Brayen.


" Ray dimana Zel?." Bisik Dimas kepada Zela.


" Di kamar mandi Kak." Jawab Zela dengan pelan.

__ADS_1


Dimas mengangguk, tetapi kemudian dia segera menggelengkan kepalanya menyadari apa yang baru saja di perbuat oleh Brayen dan Zela.


" Apa kalian melakukannya lagi?." Tanya Dimas pelan kepada Zela.


Sontak saja Zela langsug melotot dan menggeleng.


" Tidak, mana mungkin kita melakukan di saat keadaan sedang genting seperti sekarang ini." Elak Zela membuat Dimas tersenyum.


" Gue tahu Ray itu tidak akan perduli dengan masalah yang ada, kalau dia menginginkan juga pasti akan terjadi." Bisik Zela membuat Zela lagi-lagi melotot seraya memukul lengan Dimas.


" Kak Dimas!!." Kesal Zela membuat Dimas tertawa.


" Ampun Zel, maklum demam Gue bentar lagi mau nikah." Jawab Dimas membuat Zela juga ikut tertawa memaklumi apa yang sedang di rasakan oleh Dimas yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan dengan Seli sahabatnya.


Tanpa di sadari, interaksi mereka berdua sampai membuat Oliv sedikit terkejut, mengetahui Zela begitu dekat dengan kaki tangan Brayen. Sedangkan Pak Rendy malah malu sendiri melihat interaksi di antara Zela dan Dimas. Pak Rendy memang sudah tahu kedekatan di antara mereka, bahkan dengan sahabat Brayen Xelo dan juga Tian.


" Ehem..." Deheman dari Pak Rendy membuat Zela dan Dimas tersadar dan menghentikan apa yang sedang mereka lakukan.


Dimas kembali duduk di sebelah Pak Rendy, dengan wajah datar menampilkan wajah tanpa dosanya.


Pak Rendy hanya menghela nafasnya, di saat serius juga mereka masih saja bersikap konyol, tetapi itu yang membuat banyak karyawan Zafano betah puluhan tahun kerja dengan Pak Riko, selain tegas dan berwibawa, keluarga Zafano juga humoris, Pak Riko terutama, jika Brayen anaknya, yang mereka tahu ialah bersikap datar dan cuek.


" Sayang... Siapkan bajuku." Ucap Brayen yang tiba-tiba datang dan menyuruh Zela untuk menyiapkan bajunya.


Sontak saja semua yang berada di ruangannya menoleh ke arahnya. Bahkan Zela melotot meliha Brayen yang hanya mengenakan handuk dan membiarkan tubuh atlestisnya di biarkan terlihat oleh mereka.


Terlebih ada wanita lain selain Zela, ialah Oliv yang tanpa sadar sampai menelan air ludahnya susah payah melihat Brayen yang begitu mempesona.


Sadar Oliv sadar Batin Oliv agar tidak begitu terpana melihat mahluk indah di depannya.


" Kak Ray!." Teriak Zela yang langsung menghampiri Brayen dan mengajaknya ke kamar kecil di ruangannya.


" Sayang sorry aku nggak tahu ada mereka." Ucap Brayen merasa tidak enak.


" Bukan mereka, tetapi ada teman kampusku." Jawab Zela dengan kesal.


Brayen mengacak rambutnya kesal, dia baru sadar jika ada wanita lain selain istrinya yang melihat tubuh sexynya.


Brayen paling tidak suka memarkan apa yang menjadi kelebihannya selain ketampanan dan kekayaan di depa wanita lain selain istrinya.

__ADS_1


Jelas karena Brayen tidak ingin mereka semakin menggilainya dengan kategori lelaki yang hampir sempurna itu.


__ADS_2