Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Sebentar Lagi


__ADS_3

Seperti permintaan Zela tadi, Brayen sendiri yang menggendong Zela dan membawanya masuk ke dalam mobil. Sedangkan Pak Riko dan Bunda Wina membuntuti mereka dari belakang.


Meskipun Zela sangatlah berat, tapi tidak jadi masalah untuk Brayen, bahkan rasa berat pada tubuh Zela seketika hilang begitu saja mengingat malaikat kecil mereka yang sedang berjuang mencari jalan untuk keluar.


Brayen mendudukan Zela di kursi mobil belakanb, di ikuti Bunda Wina yang juga duduk di sebelah Zela untuk menemani Zela.


Sedangkan Pak Riko duduk di sebelah setir kemudi, tentu saja Brayen sebagai pengemudi sekarang.


Bunda Wima terus mengelus pinggang Zela untuk meredakan rasa sakit yang sedang Zela rasakan saat ini.


" Bund... Zela nggak kuat." Ucap Zela kepada Ibu Martuanya.


" Tenang sayang sebentar lagi ya kita sampai." Jawab Bunda Wina.


Padahal mobil baru saja jalan, tapi untuk membuat Zela tidak panik dan lebih tenang, Bunda Wina terpaksa membohonginya, karena Zela juga sudah tidak fokus dengan jalanan sekitarnya, yang dia rasakan saat ini ialah nyeri yang teramat pada pinggang juga perutnya.


" Ray cepetan." Suruh Pak Riko kepada Brayen.


Tidak ada jawaban dari Brayen, karena Brayen terus fokus dengan setir mobilnya. Di dalam pikirannya saat ini ialah Zela segera cepat di tangani oleh Dokter.


Dengan keahlian mengemudi Brayen, akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit Zafano. Bahkan Brayen yang tidak sabar langsung menggendong Zela dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit.


Bunda Wina dan Pak Riko saling pandang, rupanya mereka lupa untuk memberitahukan jika mereka dalam perjalana ke rumah sakit


dan menyuruh karyawan untuk mempersiapkan ranjang dorong untuk Zela.


Jangan lupakan kedua orang tua paruh baya itu juga lupa memberitahukan besannya jika Zela sudah akan melahirkan, dengan setengah berlari Bunda Wina dan Pak Riko mengejar Brayen yang tadi sudah membawa Zela masuk terlebih dahulu.


Bahkan sapaan dari beberapa karyawan juga Dokter tidak lagi Pak Riko dan Bunda Wina hiraukan, mereka hanya mengangguk tanpa senyum, tentu saja karena mereka sedang dalam mode was-was menantikan kelahiran cucu pertama mereka.


Kini Zela sudah di bawa ke ruang VIP untuk di tangani juga di periksa oleh Dokter. Brayen, Bunda Wina, dan Pak Riko menunggu di luar ruangan. Ponsel Brayen terus berbunyi karena mendapat panggilan telepon dari Dimas.

__ADS_1


Rupanya Dimas menanyakan keberadaan Brayen yang tak kunjung sampai kampus. Akhirnya Brayen memberitahukan Dimas jika sekarang Dia sedang di rumah sakit karena Zela yang sudah akan melahirkan.


Setelah menutup telepon Dimas, Brayen kembali mondar mandir di depan pintu. Tidak lama pintu ruangan terbuka menampilkan Dokter yang baru saja memeriksa Zela.


" Gimana Dok?." Tanya Brayen dan Bunda Wina barengan.


" Tidak ada masalah Bu, hanya saja masih pembukaan satu mungkin nanti sore atau malam bayinya baru akan lahir, silahkan kalau mau masuk ke dalam, saya permisi dulu." Jelas Dokter kepada Bunda Wina.


Bunda Wina mengangguk, lalu Dokter itu pergi terlebih dahulu, sebelum nanti sekitar 10/20 menitan akan memeriksa Zela lagi.


Setelah kepergian Dokter, Brayen langsung masuk ke dalam di ikuti Bunda Wina dan Pak Riko. Brayen menghampiri Zela yang sedang terbarinh di rumah sakit, Zela tidak sedang tidur melainkan beberapa suster sedang mengelus pinggangnya seperti yang tadi Bunda Wina dan Brayen lakukan kepadanya, dengan tujuan meredakan sakit yang Zela rasakan.


" Kalian boleh pergi." Ucap Bunda Wina yang di angguki oleh 2 suster itu.


Setelah pamit kepada Bunda Wina dan Pak Riko dua suster itu keluar dari ruangan Zela. Brayen langsung memeluk Zela, bahkan matanya sudah berkaca karena tidak tega melihat Zela yang sedang menahan sakit.


" Nggak mau di peluk Kak Ray." Ucap Zela membuat Brayen melepaskan pelukannya dan menatap Zela tajam.


Bunda Wina dan Pak Riko saling pandang dan tersenyum, Pak Riko menggelengkan kepalanya dengan tingkah Zela dan Brayen yang selalu ada saja tingkah konyolnya.


Bunda Wina mendekat ke arah Zela, membuat Brayen reflek mundur, lalu Bunda Wina duduk di sebelah Zela yang sedang berbaring miring menghadap ke kanan, Bunda Wina segera mengusap-usap pinggang Zela, membuat Zela tersenyum dan bahagia dengan perhatian Ibu martuanya.


" Tenang Ray, sikap aneh Zela sebentar lagi akan hilang kalau anak kamu sudah lahir." Bisik Pak Riko berniat menggoda Brayen.


Brayen menatap Ayahnya horor, tapi kemudian tersenyum.


" Aku tau Yah... Tapi ingat sebentar lagi Ayah akan ada saingan setelah anaku lahir." Jawab Brayen dengan senyum mengejek Ayahnya.


Pak Riko menautkan alisnya bingung, tapi kemudian Pak Riko menggeleng, dia baru maksud apa yang di katakan oleh Brayen, ialah istrinya yang sebentar lagi akan lebih perhatian kepada Cucunya di banding dirinya.


" Zezel..!!." Teriak Seli dan Vani barengan.

__ADS_1


Rupanya Dimas datang membawa pasukannya, Seli, Vani, dan Xelo ikut ke rumah sakit bersama Dimas. Bahkan Seli dan Vani sampai bolos karena begitu panik sampai lupa untuk ijin.


Semua yang ada di ruangan menoleh ke asal suara. Dengan berlari Seli dan Vani menghampiri Zela, lalu memeluk Zela yang sedang berbaring, bahkan Vani sampai meneteskan air matanya, setelah melepaskan pelukannya Seli dan Vani menatap Zela.


Tentu saja mereka sebagai anak SMA masih bingung apa yang harus di lakukan kepada sahabatnya yang sebentar lagi akan melahirkan.


" Lo udah mau lahiran?." Tanya Vani yang dapat anggukan dari Zela.


" Kenapa nggak kasih tau kita sih?." Tanya Vani lagi membuat Zela menyipitkan matanya.


" Nak, Zela bukan nggak mau kasih tau kalian, tapi sakit yang sedang di rasanya itu sampai melupakan semua, kalian bantu doa ya supaya semuanya berjalan dengan lancar." Jelas Bunda Wina yang di angguki oleh Seli dan Vani.


" Mana yang sakit Zel?." Tanya Vani lagi.


" Ya perut lah Van masa gigi, Zela kan mau lahiran." Jawab Seli ngegas.


" Kok Lo ngegas sih Sel? Gue kan berniat bantuin Zela biar nggak terlalu sakit." Jawab Vani membuat Zela tersenyum.


Kedatangan kedua sahabatnya ini benar-benar membuat Zela seperti hilang rasa nyerinya, padahal mereka sangatlah berisik. Sedangkan yang lain geleng-geleng kepala dengan tingkah Seli dan Vani, bukannya datang untuk mensuport Zela, malah mereka gaduh sendiri.


" Auw... Sakit." Aduh Zela yang kembali merasa sakit dalam perutnya.


Semua yang berada di ruangan semakin panik, begitu juga Bunda Wina yang menyuruh Pak Riko untuk memanggil Dokter.


Brayen malah seperti bingung sendiri harus berbuat apa, Brayen menghampiri Zela lagi untuk mengusap-usap pinggangnya.


" Kak Ray aku mau p*p." Ucap Zela membuat Brayen mengangguk dan berniat menggendong Zela menuju kamar mandi.


Sedangkan Bunda Wina semakin panik tapi dia juga mencegah Brayen untuk membawa Zela ke kamar mandi. Karena Bunda Wina tau, Zela sudah bukaan sempurna atau sepuluh, dan sebentar lagi anak Zela dan Brayen akan segera keluar.


Bunda Wina langsung memencet tombol untuk memanggil Dokter dan perawat atau nurse call.

__ADS_1


Jangan lupakan Bunda Wina juga menggiring pasukan Zela dan Brayen untuk keluar terlebih dahulu, sedangkan Pak Riko sudah berdiri di pojokan sembari menelfon seseorang agar segera datang ke rumah sakit.


Gaes sorean sorry ya... Jangan lupa like, Comment dan Vote ya.. Di tunggu lho 😘😘


__ADS_2