
Brayen mengejar Zela yang sudah berlari keluar dari ruangannya. Zela akan menemui teman kampusnya yang merupakan adik dari Sandro. Seseorang yang sudah membuat Zela merasa terhina atas apa yang Sandro perbuat dulu. Meskipun itu kejadian sekitar 2-3 tahun lalu, tetap saja Zela merasa di lecehkan.
Setelah Brayen menjelaskan apa yang sudah di perbuat oleh Sandro. Zela tidak langsung marah dia terdiam begitu shok, bahkan dirinya saja tidak mengetahui yang namanya Sandro di sekolahnya. Tetapi lelaki itu sampai berbuat hal yang menurut Zela di luar batas.
Apa yang Sandro lakukan sama saja dengan pelecehan meskipun tidak secara langsung, tadi ketika Brayen akan mengatakan jika dirinya sudah mengirim Sandro ke New york. Zela sudah lebih dulu pergi untuk menemui adik dari Sandro yang kini masih berada di bawah kantor Zafano. Dia sedang di bujuk Dimas untuk pergi sebelum mempermalukan diri sendiri jika salah satu dari karyawan Zafano memberitahukan kebenarannya.
Zela terus berlari sampai akhirnya dia melihat gadis yang sedang berdebat dengan Dimas untuk meminta bertemu Brayen.
Plakk... Tamparan cukup keras mendarat di pipi gadis manis tersebut, sebenarnya ini bukanlah salah Oliv, tetapi mengingat apa yang sudah Kakaknya perbuat, di tambah dengan apa yang sedang Oliv perbuat di Kantor Zafano membuat Zela tidak bisa lagi mengendalikan amarahnya.
" Kamu." Tunjuk Oliv seraya memegang pipi yang baru saja Zela tampar.
" Apa?." Tanya Zela menantang.
Tidak ada ketakutan sama sekali pada diri Zela saat ini, yang ada dirinya sangatlah kesal dan ingin sekali mencekik lelaki yang bernama Sandro itu.
" Berani ya Lo nampar Gue?." Tantang Oliv yang akan menampar Zela balik.
Tetapi dengan segera Brayen datang dan langsung menepis tangan Oliv yang hampir saja mendarat di pipi mulus istrinya.
Oliv menatap Brayen tajam, bergantian dengan Zela yang masih di liputi rasa amarah, lalu dia tersenyum miring melihat Brayen dan Zela yang menurut Oliv tidak punya hati sama sekali.
Melihat kejadian di depannya, membuat Dimas menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, biasanya masalah apapun akan cepat di selesaikan oleh Dimas, tetapi gadis yang satu ini sangatlah keras kepala.
" Orang kaya memang berbuat semau dan seenaknya saja." Sindir Oliv sarkas.
Sontak saja Zela mengepalkan tangannya kuat, menurut Zela Oliv benar-benar gadis yang arogan mempermasalahkan sesuatu tanpa tahu kebenarannya terlebih dahulu.
Sedangkan Brayen menghela nafasnya, dia sebenarnya tidak ingin membuat adik Sandro malu, tetapi kalau sudah begini Brayen bisa apa memang? Selain menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
" Dan Lo kalau nggak tahu apa-apa nggak usah banyak omong." Jawab Zela yang sudah merah padam sedari tadi menahan amarah.
__ADS_1
" Aku nggak bakal kayak gini kalau suami dan Ayah martua Kamu tidak seenaknya saja memperlakukan Kakak dan orang tua aku." Jelas Oliv dengan penuh keberanian.
Jelas karena Oliv saat ini masih belum tahu permasalahan yang sebenarnya.
Hufh...
Ini cewek pengen gue sumpal tuh mulut Batin Zela kesal, benar-benar kesal mendengar Oliv yang masih saja mencibir suaminya.
" Kak Ray jelasin ke dia, apa yang sudah Kakak dan Bapaknya perbuat." Suruh Zela kepada Brayen.
Brayen memejamkan matanya sebentar, lalu mengangguk mengiyakan apa yang istrinya minta, memang sudah saatnya Oliv tahu semuanya.
" Ayo ikut Gue." Ucap Brayen kepada Oliv untuk mengikutinya ke ruangannya.
Tanpa menjawab, Oliv mengikuti Brayen dan Zela yang berjalan di depannya, begitu juga dengan Dimas yang ikut mengikuti mereka, bahkan untuk berjaga-jaga, Dimas sempat menghubungi Pak Rendy untuk menjelaskan semuanya, dengan catatan jangan sampai Pak Riko tahu tentang masalah kecil yang rumit ini.
Sampilah mereka di ruangan Brayen. Ruangan cukup luas dan megah.
" Langsung saja kalau ada yang perlu di jelaskan, aku tidak banyak waktu." Ucap Oliv sombong, jelas Brayen tersenyum mengejek mendengar penuturan Oliv barusan.
Bagaimana bisa dia berkata tidak banyak waktu? Sedangkan baru saja dia menunggu untuk bertemu Brayen dengan membuat kegaduhan di lantai bawah Kantor Zafano.
" Dim, apa Lo bawa apa yang kita perlukan?." Tanya Brayen yang hanya di angguki oleh Dimas.
Dimas langsung menyiapkan beberapa dokumen sebagai bukti jika Pak Septa sudah menggelapkan dana perusahaan dengan jumlah yang sangat banyak.
Tidak tanggung-tanggung, Dimas menyerahkan semua bukti untuk bisa di teliti oleh anaknya Oliv.
Zela melirik Oliv dengan malas, sungguh teman Kampusnya ini membuang-buang waktu saja dengan perbuatannya tadi yang tidak penting, tetapi itu menurut Zela, menurut Oliv jelas penting untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarganya.
Kertas yang di pegang Oliv sektika jatuh ke lantai. Matanya melotot melihat isi di kertas itu, lalu dengan wajah merah dia bertanya kepada Brayen.
__ADS_1
" Apa ini sungguh Bapaku yang melakukannya?." Tanya Oliv masih tidak percaya.
Pak Septa adalah sosok kepala rumah tangga yang baik di keluarganya.
" Kalau anda masih tidak percaya, bisa tanyakan langsung ke Bapak anda." Jawab Brayen sarkas.
Seketika air mata Oliv mengalir begitu saja, dia tidak percaya dengan Ayah yang menjadi idola untuknya itu ternyata bisa berbuat hal yang memalukan, meskipun Oliv tahu semua Pak Septa lakukan demi keluarganya, tetapi tidak seharusnya Pak Septa melakukan itu, Pak Septa mendapat gaji yang cukup banyak selama bekerja di keluarga Zafano. Bahkan dia juga di belikan mobil oleh Pak Riko.
Tetapi semua hanyalah tinggal kenangan, sesuatu yang sudah rusak akan sangat sulit untuk di benarkan lagi, terlebih ini menyangkut kepercayaan.
Melihat Oliv yang begitu menyedihkan membuat Zela merasa tidak tega, Zela ingin memeluk untuk menenangkan Oliv, tetapi seketika matanya kembali memanas mendengar pertanyaan Oliv kepada suaminya.
" Lalu kenapa Anda membuang Kakaku ke New york jika Bapaku yang bersalah Tuan Brayen Zafano?." Tanya Oliv dengan sarkas, matanya menatap tajam ke arah Brayen.
Zela mengepalkan tangannya kuat, dia kembali teringat dengan Sandro salah satu teman sekolahnya dulu yang ternyata begitu brengs*k.
" Kesalahan Kakak anda lebih besar dari apa yang sudah di lakukan oleh Bapak anda Nona Oliv." Jawab Brayen tidak kalah sarkas dari Oliv.
Bahkan tangan Brayen juga mengepal kuat untuk menahan amarah dan sesak di dadanya, mengingat kejadian dulu.
Brayen berdiri dari duduknya. Dia mendekat ke arah Zela, lalu tersenyum tampan dan mencium kening Zela dengan begitu lembut.
" Maafkan aku yang, terlambat mengetahui semuanya." Ucap Brayen meminta maaf kepada Zela.
Zela menggeleng, Brayen tidak bersalah sama sekali, tetapi memang Sandro yang berniat buruk dengannya.
" Tidak Kak, aku tidak apa." Jawab Zela tersenyum ke arah Brayen. Lalu Zela melangkah mendekati Oliv yang sedang menatapnya dengan berbagai pertanyaan, Zela tersenyum kecut ke arah Oliv.
" Kalau kamu mau tahu apa yang sudah di lakukan oleh Kakakmu, ikutlah Kak Dimas, kamu akan tahu jawabannya nanti." Ucap Zela membuat Oliv menautkan kedua alisnya bingung, tetapi juga penuh dengan rasa penasaran.
Zela dan Brayen menunggu di ruangan Brayen. Rasanya Brayen tidak sanggup untuk melihat foto-foto istrinya yang sudah di edit sedemikian rupa oleh si brengs*k Sandro.
__ADS_1
Biarkan Oliv tahu semua kebenaran yang sudah di lakukan oleh keluarganya terhadap keluarga Zafano yang begitu baik dengan keluarganya.