
Kini Zela dan juga Brayen sudah tertidur dikasur empuk kamar Zela dulu, setelah tadi melakukan ritual mandi bersama.
Tidak terjadi apa apa diantara mereka tadi, hanya pelukan dan cumbu*an hangat yang Brayen berikan untuk Zela.
Tapi Brayen meminta untuk mandi bersama, dan istirahat bersama.
Brayen memeluk Zela begitu juga dengan Zela yang memeluk Brayen, mereka saling berhadapan dan berpelukan dengan mata yang terpejam.
Jika dilihat mereka saat ini benar benar dua sejoli yang tak mungkin bisa dipisahkan, ntah seberapa orang yang berusaha untuk memishakan keduanya.
Tapi hal itu tidak akan pernah terjadi, mereka saling percaya satu sama lain, kekuatan cinta dan kasih sayang yang mereka berikan satu sama lain sangatlah besar.
Tak akan mudah goyah, dan selamanya akan tetap begitu, Zela mulai belajar bersikap dewasa, memahami Brayen, menjadi istri yang selalu percaya kepada suaminya.
Zela percaya jika Brayen tidak mungkin menghianatinya, Brayen sangat bisa diandalkan, Brayen adalah hidupnya sekarang, sebaliknya begitu juga dengan Brayen, dia akan melindungi Zela, meindungi dari butiran debu yang terus berusaha mengusik kehidupannya.
Tok...Tok..Tok..
Suara ketukan pintu dari arah luar kamar Zela, tapi tentu saja mereka masih lelap dengan tidurnya.
Pintu kamar terbuka, ternyata Mamah Hana yang berniat untuk memanggil mereka makan malam, karena melihat pemandangan yang begitu menyejukan hatinya, Mamah Hana menutup kembali pintu kamar Zela dengan senyum yang terus merekah sampai dimeja makan, dimana disana sudah ada Pak Adam juga Zifa yang sedang menunggu tamu special yang masih berada dialam mimpinya.
" Gumana Mah..???? Tanya Pak Adam kepada Mamah Hana.
" Kita makan dulu saja Pah.. Nggak tega Mamah banguninnya.." Jawab Mamah Hana menjelaskan kepada Pak Adam.
" Masih tidur..?? Tanya Pak Adam yang dianggukin oleh Mamah Hana dengan senyum manisnya.
" Ck.." Zifa berdecak, dia menggelengkan kepalanya tapi juga tersenyum.
Zifa berpikir jika Zela dan Brayen pasti kelelahan setelah bertempur, mungkin akan berbeda jika melakukannya di kamar Zela yang dulu, akan lain sensasinya dibanding dengan kamar mereka ketika di rumah keluarga Zafano.
Sungguh terlau jauh pikiran Zifa.
Pak Adam, Mamah Hana juga Zifa mulai makan malam terlebih dahulu tanpa menunggu dua sejoli yang masih di alam mimpinya.
Masih di posisi yang sama seperti tadi, ponsel Brayen berbunyi membuat keduanya terbangun dengan kesal karena suara ponsel yang berada tidak jauh dari mereka.
Ponsel Brayen berada di meja rias dan terus berbunyi, benar benar mengganggu kenyamanan tidur Zela maupun Brayen.
Dengan kesal Brayen segera bangun dari tidurnya begitu juga dengan Zela yang langsung duduk masih dengan muka bantalnya.
Brayen meraih ponselnya dan mengangkat telp yang ternyata dari Bunda Wina.
Bunda Wina menanyakan keberadaan Brayen dan Zela yang belum juga sampai rumah, tentu saja karena mereka berdua sama sama lupa memberitahukan terlebih dahulu jika akan pulang kerumah Mamah Hana.
Setelah menjelaskan kepada Bunda Wina dan memberitahukan jika Zela baik baik saja, mengingat tadi Bunda Wina yang terus menanyakan keadaan menantunya, meskipun dia tau jika Zela baik baik saja tapi rasanya akan kurang untuk Bunda Wina jika tak tau kabar menantu kesayangannya itu.
Brayen segera menutup telponnya, lalu menoleh kepada istrinya yang sedang duduk disebelahnya, tentu saja masih dengan keadaan yang mengantuk, Zela begitu terlihat lucu, seperti zombi cantik pikir Brayen.
" Bunda Kak..??? Tanya Zela menoleh kepada Brayen.
Brayen mengangguk sambil tersenyum, melihat muka Zela yang begitu menggemaskan membuat Brayen seperti ingin memakannya.
" Pulang aja yuk..." Ajak Zela kepada Brayen.
" Nggak nginep..??? Tanya Brayen balik kepada Zela.
" Nggak usah deh... Lain kali aja.." Jawab Zela yang dianggukin oleh Brayen.
Zela menatap jam dinding yang berada tepat di depannya.
Astaga ternyata jam sudah menunjukan pukul 7 malam, berapa jam mereka tertidur..??
Cukup lama memang, sampai mereka juga melupakan makan malam bersama.
Sedangkan Brayen saat ini sudah semakin dekat, bukan badannya melainkan wajahnya yang tepat di depan Zela hanya berjarak berapa senti saja.
Ntah bagaimana tiba tiba Brayen sudah mendekatkan dirinya, Brayen terus menatap Zela, membuat Zela sedikit gugup, selalu dan selalu seperti ini, Zela memang setiap saat selalu dibuat Brayen terkejut dengan perilakunya.
Zela memejamkan matanya saat Brayen lebih mendekatkan wajahnya.
Cup....
Brayen mencium bibir manis Zela, seperti tak ingin terlepas, Brayen terus memagu* bibir Zela, begitu juga dengan Zela yang menurut dengan permainan Brayen.
Sungguh pesona Brayen memang menahlukan Zela, bahkan tak mungkin bisa untuk Zela tolak, terkadang Zela sendiri yang menginginkannya.
Saat mereka sedang menikmati p*gutan bibir juga lid*h, menikmati setiap hangat sentuhan bibir Brayen yang diberikan untuk Zela.
Tiba tiba suasana berubah menjadi canggung dan malu tentunya untuk Zela.
Kriukkk...kriukkk....
__ADS_1
Suara perut Zela yang segera meminta untuk di isi, Zela yang tadinya lapar seketika lupa karena perlakuan Brayen barusan.
Mereka segera menghentikan aktifitas bercumb*nya, Zela sedikit salah tingkah dan malu tentunya.
Di saat dia sedang menikmati permainan Brayen, justru dia sendiri malah yang secara tidak langsung menghentikannya, padahal Zela sangat menikmati dan mungkin jika masih berlanjut, Zela bisa menginginkan lebih.
Sedangkan Brayen berusaha menahan tawa, ini sungguh lucu tapi Brayen tak ingin membuat Zela semakin malu di depannya.
" Sorry son.. Daddy lupa kalau kamu lapar.." Ucap Brayen penuh kasih sambil mengelus perut Zela.
Berharap sedikit mengurangi rasa malu Zela terhadap dirinya, juga Brayen merasa bersalah karena sampe membiarkan Zela merasa lapar karena perbuatannya.
Cup....
Bayen mencium kening Zela dengan lembut, setelah itu mengacak rambut Zela pelan.
" Ayo kebawah.. Pasti semua sudah menunggu.. Atau malah sudah makan terlebih dulu.." Ajak Brayen kepada Zela, juga masih berusaha mencairkan suasana.
Zela mengangguk sambil tersenyum, lalu dengan sengaja dia menggandeng tangan Brayen untuk menuju kebawah.
Membuat Brayen tersenyum senang, sungguh sikap Zela akhir akhir ini sangat mudah berubah.
Baru saja Zela terlihat malu dan canggung, sekarang sudah biasa seperti tak terjadi apa apa lagi, dan Brayen suka itu.
Mereka berdua bergandengan kebawah, menuju meja makan.
Tapi terlihat tatanan meja makan yang sudag rapih tapi sepi.
" Kak.. Mamah kemana ya..?? Tanya Zela kepada Brayen.
Tentu saja Brayen juga tidak tau, bukankah Brayen sedari tadi juga bersama dengan Zela..??
Lucu memang, ya begitulah Azela gadis cantik yang sama halnya dengan kedua sahabatnya konyol.
" Mungkin di ruang tv yang.." Jawab Brayen sekenanya.
Zela mengngguk tanpa menjawab.
" Ehemm..." Deheman dari Zifa membuat Brayen dan Zela menoleh kearahnya bersamaan.
" Kak Zifa..." Ucap Zela sambil memeluk Zifa, begitu juga dengan Zifa yang membalas pelukan hangat Zela.
Ya.. Sekarang ini kedua kakak beradik ini sudah bisa rukun, dan lebih dekat tentunya, nggak ada lagi dendam dan perselisihan.
" Kalian makan aja.. Tadi kita udah makan duluan.. Tadi Mamah mau bangunin tapi nggak tega sama dua sejoli yang sedang tidur nyenyak sambil berpelukan.." Jelas Zifa membuat Zela sedikit malu, sedangkan Brayen bersikap biasa aja datar.
" Terus Mamah sekarang dimana..??? Tanya Zela yang tidak ingin membahas apa yang dikatakan oleh Zifa barusan.
Karena tentu saja hal semacam itu sangat membuat Zela malu di depan kakaknya
" Mamah sama Papah tadi keluar, nggak tau ada apa tapi buru buru juga sih.." Jelas Zifa lagi kepada Zela.
Terlihat Zela yang mengangguk pelan, pertanda dia mengerti dan tidak mempermasalahkan.
" Ya udah kalian makan dulu gih.. Gue tinggal ya.." Ucap Zifa sambil berlalu menuju kamarnya.
Sedangkan Brayen dan Zela segera makan untuk mengisi perut yang sedari tadi terus berbunyi, lebih tepatnya perut Zela yang memang tidak bisa di ajak untuk bekerja sama lagi.
Setelah selesai makan Zela dan Brayen bersantai didepan tv.. Ditemani oleh Zifa yang sedang sibuk dengan ponselnya, juga sudah berpakaian rapih dan sexy tentunya, sepertinya Zifa ingin pergi bersama Jova.
Tak lama ponsel Brayen kembali berbunyi, Ternyata Dimas yang menelfon.
Dengan segera Brayen mengangkat telponnya.
Setelah selesai dengan obrolannya lewat telp dengan Dimas, Brayen terlihat sedikit gugup.
Ntah apa yang dia sembunyikan, tapi yang jelas untuk saat ini Brayen belum siap memberitahukan kepada Zela.
Zela memandang Brayen dengan seksama, seperti dapat membaca isi pikiran Brayen, sedangkan Zifa hanya menatapnya sekilas lalu kembali dengan ponselnya lagi.
" Kak Dimas..?? Tanya Zela yang dianggukin oleh Brayen.
" Kenapa..??? Tanya Zela lagi kepada Brayen.
Kali ini Zifa sedikit menyimak pembicaraan suami istri muda itu disampingnya.
" Penting ya...??? Tanya Zela lagi karena tak juga dapat jawaban dari Brayen.
" Ya udah kalau gitu Kak Ray temui Kak Dimas aja.." Sambung Zela lagi membuat Brayen menatapnya tak percaya.
" Tapi yang.. Kita bentar lagi pulang.." Jawab Brayen mengingatkan Zela.
" Aku nginep disini aja kak.. Lagian ada Kak Zifa yang nemenin.." Jawab Zela kepada Brayen.
__ADS_1
Membuat Zifa menatap ke arah Zela tak percaya, sungguh Zifa tak percaya jika Zela akan mengatakan jika dirinya menemani Zela.
Bukankah Zela tau kalau dia akan bertemu dengan Jova..??? Akh.. Sepertinya Zifa harus membatalkan kencannya dengan Jova malam ini, demi calon keponakan yang ada didalam perut Zela pikir Zifa.
" Iya ray.. Loe tenang aja gue temenin Zela kok.." Sambung Zifa meyakinkan Brayen.
" Oke.. Gue titip Zela ya Zif.. Tolong jangan sampai dia kenapa napa.." Jawab Brayen berpesan kepada Zifa.
" Cih.. Idola kampus ternyata selebay ini sekarang.." Jawab Zifa meledek Brayen.
Membuat Brayen tersenyum.
" Pasti.. Zela nggak akan kenapa napa.. Kalau dia nakal biar gue tabok ntar.." Jawab Zifa ngawur, Membuat Brayen kembali tersenyum, begitu juga dengan Zela.
Ternyata Zifa ada selera humornya juga jika sudah mengenal lebih dekat, mungkin karena sudah tidak secanggung dulu.
" Aku temui Dimas dulu ya yang.. Ini penting banget, sorry harus tinggalin kamu nanti aku pulang kesini kalau udah selesai.. Oke..?? " Pamit Brayen kepada Zela, membuat Zela mengangguk mengerti.
Brayen mengecup kening Zela, membuat Zela serasa tak rela melepaskan kepergian Brayen.
" Harus sekarang ya kak..??? " Tanya Zela dengan nada seperti tak rela.
" Cuma bentar kok.. Aku janji nanti pulang kesini.." Jawab Brayen yang juga tak tega melihat Zela seperti ingin menahannya.
" Ya ampun.. Kalian kayak mau pisah berapa tahun aja.. Ayolah Zel.. Ini cuma bentar.. Jangan bikin suami loe yang mempesona itu jadi berkurang wibawanya karena jadi lebay dan mellow kayak gini.." Jelas Zifa panjang lebar membuat Brayen dan Zela tertawa.
" Hati hati kak.." Ucap Zela kepada Brayen.
" Love you too.." Jawab Brayen tidak nyambung sama sekali dengan ucapan Zela.
Tapi sungguh itu membuat Zela senang dan senyum manisnya terukir dibibir manisnya.
Brayen segera berlau pergi untuk menemui Dimas.
Sedangkan Zela saat ini begitu merasa hampa, sepi dan tentu saja dia menahan tangisnya.
Padahal hanya berapa jam saja, tapi sungguh Zela merasa sangat tidak rela, mulai terasa sesak dadanya tapi Zela tidak boleh egois, ini hanya sebentar kenapa Zela begitu lebay..??
Atau karena sedari tadi Brayen terus bersamanya dan melakukan hal hal yang membuat Zela melambung dan bahagia tentunya.
Sikap Brayen yang sangat susah ditebak dan selalu bersikap romantis kepada dirinya.
Akh... Rasanya Zela benar benar tidak kuat menahan tangisnya.
Mungkin karena bawaan debay juga yang membuat Zela jadi seperti ini, dan Zela akan menikmati juga ikuti alurnya tanpa protes kepada calon anaknya.
Hua.....hua....
Tangis Zela pecah karena benar benar sudah tidak bisa lagi untuk menahannya.
Zifa yang melihat tingkah konyol adik cantiknya hanya geleng geleng kepala, tapi juga berusaha membuat Zela tenang.
" Kenapa nangis sih Zel..?? Tanya Zifa kepada Zela yang sedang terlihat seperti anak kecil sekarang ini.
Jika saja ada Seli dan Vani sudah dipastikan Zela akan menjadi bahan ledekan mereka berdua.
" Gue kangen Kak Ray.." Jawab Zela jujur.
Membuat Zifa benar benar tidak habis pikir dengan adiknya ini.
" Baru juga berapa menit Zel.. Nanti juga Brayen pulang kesini.. Tadi kan udah dijelasin.." Jawab Zifa mencoba agar Zela lebih tenang.
" Gue juga nggak tau kak.. Rasanya nggak mau jauh dari Kak Ray.." Jawab Zela lagi lagi membuat Zifa benar benar ingin menabok Zela sekarang.
Oke kali ini Zifa memang harus bersabar menghadapi bumil yang satu ini, mood Zela memang sedang gampang berubah ubah dan Zifa harus memaklumi itu.
" Mau coklat nggak..?? Tanya Zifa mencoba agar Zela lebih tenang.
" Gendut.." Jawab Zela singkat.
" Beneran nggak mau..??? Tanya Zifa lagi memastikan.
" Boleh deh.. Tapi agak banyakan ya kak.. Secara gue kan bagi bagi makannya.." Jawab Zela sambil mengelus perut ratanya.
" Cih.. Tadi aja nggak mau sekarang langsung semangat 45.. Bentar ya gue pesenin Kak Jova.." Jelas Zifa yang langsung dijawab Zela dengan menunjukan jari berbentuk OK.
Zifa segera memesan coklat kepada Jova, yang masih berada dalam perjalanan menuju rumahnya, tentu saja kencan yang tadinya mereka rencanakan malam ini akan menjadi malam untuk menemani Zela memakan coklat agar tidak sedih.
Zifa menatap Zela yang sudah sibuk memainkan ponselnya, senyum manis terukir dibibir manis Zifa, sungguh sekarang Zifa benar benar menyayangi Zela sebagai adik, dan rasa sayang Zifa benar benar tulus untuk Zela.
Ntah bagaimana Zifa sendiri tidak tau,.sejak kapan dia merasakan hal semacam ini, ingin melihat adik tersayangnya bahagai dan Zifa juga merasa bahagia akan hal itu.
Jangan Lupa Like, Comment dan Vote ya kak.. Please.. Vote.. Vote.. Vote..
__ADS_1
Big Thanks.. 🙏🙏😘😘