
Zela, Seli, dan Vani melotot tidak percaya melihat ke empat cowok tampan itu sedang tertawa terbahak, tapi yang paling parah ialah Dimas yang sampai memegangi perutnya.
Vani menyiku Seli karena malu, bahkan dia sampai berdiri di belakang Zela karena merasa begitu malu dengan ke empat cowok tampan di depannya sekarang.
Vani malu karena Xelo sekarang terus manatapnya sembari tersenyum.
" Gue pengen kabur aja rasanya." Bisik Vani kepada Zela.
Zela menatap Vani sekilas.
" Lo tenang." Jawab Zela yang di angguki oleh Vani.
" Nggak usah malu Van biasa aja, mereka kan udah pernah di bom sama Lo." Sambung Seli kepada Vani.
" Tapi ada Kak Xelo, Gue malu dong tadi kentut Gue gede banget suaranya." Jawab Vani membuat Seli terkikik. Sedangkan Zela menggeleng dengan tingkah Vani yang selalu saja bikin gemas, meskipun kadang menyebalkan.
" Ya kita liat aja gimana nanti reaksi Kak Xelo ke Lo." Jawab Seli lagi, kali ini Vani mengangguk pelan.
Vani menatap ragu ke arah ke empat cowok tampan di depannya, dan matanya semakin terbelalak menyadari jika ada Tian yang juga berada di sana, bahkan Tian juga ikut tertawa seperti Dimas.
" Astaga...." Ucap Vani lirih.
" Kenapa lagi?." Tanya Zela dan Seli barengan.
" Ada Kak Tian juga, dia tau dong kalau Gue suka kentut sembarangan." Jelas Vani membuat Zela dan Seli terkikik dan menarik Vani untuk berdiri di sebelah mereka.
Padahal tanpa Vani dan Tian sadari mereka pernah bertemu, bahkan ini untuk yang ke dua kalinya Tian mendapat bom yang sudah kadaluarsa dari Vani, meskipun yang sekarang ini Vani tidak sengaja membuanganya tepat di depannya seperti waktu itu. Hanya saja Tian juga mencium bau kentut Vani yang tidak begitu enak itu sekarang, mungkin hanya Zela seorang yang merasa tidak keberatan dengan kentut Vani.
" Gaes... Malu Gue." Ucap Vani tapi tidak di tanggapi oleh Zela dan Seli.
Zela menatap tajam ke empat cowok yang masih dengan tawanya, begitu juga dengan Seli, hanua Vani yang sedang menunduk malu di tengah-tengah mereka.
" Kalau masih berani ketawa, kita nggak jadi pergi." Ucap Zela sarkas.
Brayen, Dimas, dan Xelo menatap Zela tidak percaya, kenapa juga hanya karena mereka tertawa Zela jadi membatalkan rencana jalan-jalan mereka sore ini.
Sedangkan Tian tersenyum miring, semakin Tian tau sifat asli Zela semakin menambah kekaguman pada diri Tian untuk Zela, meskipun dia sadar, bahkan sangat sadar jika apa yang dia rasa untuk Zela sangatlah salah.
" Nah tuh... Dengerin, Ibu negara lagi ceramah." Sambung Xelo yang dapat jitakan di kepala dari Dimas.
" Yang ceramah Ustadzah Man, bukan Ibu negara." Ledek Dimas membuat Xelo terkikik.
" Sorry yang, kita ketawa bukan karena Vani atau kalian, kita emang lagi becanda, iya kan?." Ucap Brayen agar Zela dan kedua sahabatnya tidak lagi marah.
" Iya... Iya benar apa yang Ray bilang." Jawab Dimas dan Xelo kompak.
Tian ingin tertawa melihat betapa bucinnya Brayen kepada Zela, bahkan hanya karena Zela dan kedua sahabatnya marah saja segitu takutnya Brayen, sampai harus berbohong tentang apa yang sebenarnya membuat mereka tertawa.
Zela dan Seli masih diam tanpa menjawab, mereka malas untuk berdebat dengan cowok-cowok tampan di depan mereka.
Tapi, tidak lama Xelo berjalan ke depan mereka. Ke depan Vani lebih tepatnya, bahkan Xelo langsung menggenggam tangan Vani, membuat Vani terkejut dan menatap Xelo ragu, begitu juga dengan Zela dan Seli yang juga menatap ke arah Xelo, mereka ingin tau apa yang akan Xelo lakukan atau katakan kepada Vani.
Terasa dingin telapak tangan Vani, membuat Xelo semakin yakin, jika Vani saat ini sedang merasa begitu malu karena kekonyolannya tadi yang buang gas sembarang tempat dengan suara yang cukup keras.
Jujur saja mengingat hal itu membuat Xelo ingin tertawa, tapi ini bukan saat yang tepat, Xelo harus membuat Vani ceria seperti tadi lagi.
" Beb... Gue denger suara kentut Lo tadi." Ucap Xelo terjeda yang sukses membuat Vani menatap Xelo tidak percaya, dan merasa semakin malu di depannya dan sahabat mereka.
Begitu juga dengan Zela dan Seli yang menatap Xelo tidak percaya, apa yang Xelo katakan itu akan membuat Vani semakin malu nantinya.
Sama halnya dengan dua bidadari cantiknya, Brayen dan Dimas saling pandang dan menggelengkan kepalanya dengan apa yang Xelo katakan, mereka berfikir jika masalah yang sebenarnya kecil ini akan semakin rumit.
__ADS_1
Hanya Tian seorang yang masih ingin tau apa yang akan pasangan yang menurutnya konyol ini lakukan ataupun katakan. Tian baru menyadari jika Brayen dan Dimas sekarang sangat jauh berbeda dengan dulu sebelum mengenal gadis-gadis cantik di depannya ini.
" Tapi Lo harus tau Beb, suara kentut Lo adalah suara kentut terindah yang pernah Gue denger, bau kentut Lo adalah bau kentut terwangi yang pernah Gue cium, bahkan parfum mahal yang sering orang pakai, kalah jauh dengan bau kentut Lo, Gue rela di kentutin Lo setiap hari beb, karena apa yang Gue katakan ini semua benar adanya dari hati Gue, dari Xelo yang akan selalu menyayangimu." Jelas Xelo yang sempat membuat Vani semakin kesal tapi akhirnya tersenyum juga.
Xelo tersenyum tampan ke arah Vani, dengan tangannya di regangkan agar Vani memeluknya, tentu saja dengan senang hati Vani melakukannya, Vani memeluk Xelo dengan erat.
Meskipun awalnya kesal dengan kata-kata Xelo tadi, tapi setelah mendengar penuturan di akhir perkataan Xelo tadi membuat Vani akhirnya tersenyum dan merasa senang karena Xelo menyayangi seperti apapun Vani, itu tandanya Xelo mencintai Vani dengan tulus dan menerima kekurangan Vani.
Zela dan Seli menatap Xelo masih tidak percaya, bagaimana bisa Xelo merangkai kata seperti itu, yang awalnya lucu tapi di akhir kata menjadi begitu sweet menurut Zela dan Seli.
" Gokil." Gumam Dimas melirik Brayen, membuat Brayen menatap Dimas sambil memegang bahu Dimas.
" Parah... Gombalan terunik yang pernah Gue tau." Ucap Tian yang juga dapat senyuman dari Brayen dan Dimas.
" Lo akan terkejut dengan tingkah cewek-cewek cantik itu." Ucap Dimas kepada Tian.
" Termasuk bini Lo Ray?." Tanya Tian yang di angguki oleh Brayen.
Tian tersenyum, ternyata meskipun paras mereka cantik, tapi mereka tidaklah seperti cewek-cewek yang lain, yang akan begitu menjaga image mereka.
Zela, Seli, dan Vani bersikap apa adanya di depan pasangan mereka, bahkan hal tergila seperti menyanyi dengan suara yang sama sekali tidak enak di dengarpun mereka pernah melakukannya di depan pasangan Brayen, Dimas, dan juga Xelo.
Dan itu yang membuat lelaki seperti Brayen dan kedua sahabatnya semakin tertarik dengan ketiga gadis cantik itu.
Tidak hanya cantik saja, tapi dekat dengan Zela, Seli, dan Vani membuat Brayen, Dimas, dan Xelo selalu bahagia, ketiga gadis cantik itu merubah hidup mereka dengan cara sederhana tapi begitu bermakna.
" Tidak semua cewek cantik itu menyebalkan." Ucap Dimas yang langsung di angguki oleh Tian.
Dengan Tian yang masih menatap Zela di depan mereka.
" Cie... Yang udah baikan sampai nggak mau lepas pelukannya." Ledek Seli membuat Vani dan Xelo akhirnya melepaskan pelukannya.
" Kalau pengen bilang aja Sel ama Abi Dimas." Jawab Vani membuat Seli membrengut kesal ke arah Dimas yang malah sedang terkikik.
" Oke... Let's go." Ucap Xelo menggandeng tangan Vani dan berlalu pergi.
Zela dan Seli berjalan di depan Brayen, Dimas dan Tian yang berjalan di belakang mereka. sedangkan Xelo dan Vani sudah lebih dulu jalan tadi.
Sampai akhirnya mereka sampai di depan. Mereka akan pergi dengan menggunakan 2 mobil saja. Awalnya Tian menolak karena dia tau pasti dia akan menjadi orang yang sangat tidak enak jika berjalan hanya sendiri tanpa pasangan, tapi Dimas terus memintanya dan alhasil sekarang Tian satu mobil dengan Zela dan Brayen. Sedangkan Dimas, Xelo, Seli, dan Vani mereka juga satu mobil.
Brayen yang biasanya menggunakan mobil kesayangannya, sekarang menggunakan mobil lainnya agar Tian bisa ikut bersamanya.
Jujur saja satu mobil dengan Zela malah membuat Tian semakin merasa tidak enak dan aneh, tapi Tian tidak mungkin menolak tawaran Brayen tanpa alasan yang masuk akal.
Kini Brayen sebagai pengemudi Zela duduk di belakang sendiri, sedangkan Tian duduk di sebelaj Brayen.
" Lo nggak balik ke rumah?." Tanya Brayen yang dapat gelengan kepala dari Tian.
" Lo nginep di hotel Gue aja." Sambung Brayen yang dapat anggukan dari Tian.
" Lo kenapa sih Man? Sekarang aneh tau, nggak kayak tadi." Tanya Brayen karena Tian sedari tadi hanya menggeleng atau menganggukan kepala menjawab pertanyaan Brayen.
" Gue males balik ke New York, tapi Gue lebih males di sini." Jawab Tian membuat Brayen menghela nafasnya.
" Gue nggak suka Lo yang kayak gini, Lo udah dewasa... Bisa bersikap lebih bijak lagi seharusnya." Jelas Brayen yang tidak mendapat jawaban dari Tian.
Tian malah sibuk mengamati Zela dari spion sebelah depan mobil. Meskipun tidak begitu terlihat jelas wajah cantik Zela.
Tiba-tiba Zela bersuara yang membuat Tian terkejut.
" Kak Tian udah punya pacar?." Tanya Zela yang sukses membuat Tian terkejut. Sedangkan Brayen tersenyum melirik Tian.
__ADS_1
" Banyak yang, dia punya pacar lebih dari 100 malah." Jawab Brayen yang membuat Tian menatap Brayen kesal, tapi hanya di jawab Brayen dengan cengiran saja.
Sedangkan Zela begitu terkejut, tidak di pungkiri memang jika lelaki setampan suaminya dan Tian itu memang akan sangat mudah untuk mendapatkan seorang wanita. Hanya saja Zela beruntung karena suaminya yang paling tampan itu merupakan lelaki yang bersikap dingin dan cuek kepada wanita lain selain dirinya sekarang. Jadi Zela merasa sedikit lega dan bersyukur dengan sikap Brayen yang seperti itu.
" Brengs*k Lo Ray." Jawab Tian yang tidak terima dengan jawaban Brayen tentang dirinya.
Tian jadi merasa bukan cowok baik-baik di depan Zela, meskipun kenyataannya memang seperti itu, hanya saja di lebihkan oleh Brayen dengan mengatakan jika Tian memiliki 100 pacar.
Tian mempunyai banyak pacar memang, tapi tidak ada satupun yang mampu merebut hati Tian, semua itu hanya untuk kesenangan semata.
" Sayang banget dong Kak, padahal tadinya aku pengen nyomblangin Kak Tian sama sepupu aku." Jelas Zela yang membuat Brayen menggeleng.
Gue mau kalau sepupu Lo sama seperti Lo Batin Tian untuk Zela.
" Jangan jodohin siapapun dengan cowok ini yang, biar aku yang cariin jodoh untuknya nanti." Jawab Brayen dengan senyum miringnya. Tian menatap Brayen semakin kesal.
" Lo pikir Gue nggak laku sampai harus di cariin jodoh." Jawab Tian membuat Brayen tertawa renyah.
" Bukan nggak laku, tapi Lo terlalu banyak milih." Jawab Brayen.
" Awas lho Kak nanti jadi perjaka tua." Sambung Zela dari belakang, seketika membuat Brayen tertawa, sedangkan Tian semakin malu saja jika berbicara tentang jodoh. Karena memang dia belum terpikir sama sekali tentang pernikahan.
" Dia nggak nikah sampai tua juga bukan perjaka lagi yang, tapi bujangan tua." Jawab Brayen yang membuat Zela mengernyitkan keningnya bingung, Zela juga tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, tapi dia memilih untuk tidak melanjutkan pertanyaannya lagi.
Sedangkan Tian memukul lengan Brayen pelan.
" Sahabat bej*t Lo." Ucap Tian yang dapat cengiran dari Brayen.
Yang di maksud Brayen bukan perjaka lagi ialah karena Tian yang memang sudah melakukan hubungan dengan beberapa teman kencannya, Brayen paham sekali tentang bagaimana Tian, begitu juga sebaliknya, Tian yang begitu paham atau mengerti tentang bagaimana seorang Brayen Zafano.
Sedangkan di mobil lain. Dimas dan Xelo sedang nyengir karena telinganya sudah tidak tahan dengan teriakan dua mahluk cantik di belakang mereka.
Sedari tadi Seli dan Vani terus saja menunjukan bakatnya yang seharunya di pendam dalam-dalam oleh mereka, karena suara mereka memang tidak seindah paras mereka, sangat bertolak belakang dengan apa yang di lihat dan di dengar.
" Bro... Mereka suruh diem napa, telinga Gue udah berdengung." Ucap Xelo yang duduk di depan sebelah Dimas yang sedang mengemudi.
" Hah apa?." Tanya Dimas yang tidak begitu mendengar ucapan Xelo.
Xelo memajukan dirinya ke arah Dimas, lalu dia berteriak keras sampai membuat Dimas mengerem mobilnya mendadak.
" Seli sama Bebeb Gue suruh diam!!!!!." Teriak Xelo di telinga Dimas.
Sssssttttt.... Mobil berhenti begitu saja, sampai membuat Seli dan Vani yang berada di belakang hampir terjungkal.
Begitu juga dengan Xelo yang cukup terkejut karena Dimas.
" Astaga... Gue hampir nggak ada." Gumam Vani yang langsung di siku oleh Seli.
" Mulut Lo." Jawab Seli singkat, membuat Vani tersenyum kikuk.
" Sorry." Ucap Dimas kepada mereka.
" Kenapa sih Kak?." Tanya Seli kepada Dimas dan Xelo.
" Karena kalian!." Jawab Dimas dan Xelo kompak, membuat Seli dan Vani saling pandang bingung.
" Kita?." Tanya Seli dan Vani barengan.
Dimas dan Xelo saling pandang bingung untuk menjawab alasan yang membuat Dimas mengerem mendadak, karena sepenuhnya memang bukan salah Xelo, tetapi juga karena teriakan kedua gadis cantik di belakang mereka yang menurut mereka sendiri sedang bernyanyi.
" Iya karena suara kalian yang begitu indah, tapi lebih indah lagi kalau kalian diam saja dulu." Jelas Xelo yang sukses membuat Seli dan Vani kesal dengan mereka.
__ADS_1
Sedangkan Dimas menggelengkan kepalanya, Dimas tau kalau sepanjang perjalanan ini mereka akan di musuhi oleh kedua bidadari cantiknya nanti. Dan mungkin sampai nanti di tempat tujua, tetapi Dimas sudah siap akan hal itu, dari pada sepanjang perjalanan harus mendengarkan suara teriakan yang tidak jelas dari kedua bidadari cantiknya, pikir Dimas.