
Zela masih saja terus ikut memakan pesanan Zifa, padahal dia sudah lumayan banyak menghabiskan beberapa porsi makan tadi, bahkan steak juga sudah 2 porsi, di tambah dengan siomay yang tadi sangat di inginkannya.
Sampai akhirnya tanpa dia sadari Brayen sudah selesai dengan urusan di ponselnya. Brayen terus menatap Zela yang terlihat seperti orang kerasukan makannya, begitu banyak dan tidak ada kenyangnya.
Brayen menggeleng sambil tersenyum, istrinya ini memang dari awal ketemu sangatlah unik, bahkan setelah Zela hamil, Zela begitu unik tapi juga cantik menurut Brayen.
Zifa yang menyadari jika Brayen sedang menatap Zela begitu lekat segera memberi kode kepada Zela agar segera tersadar.
" Apa ? " Tanya Zela tanpa suara.
" Suami Lo " Jawab Zifa yang juga tanpa suara, Zela langsung menoleh ke arah Brayen yang masih sama seperti tadi, sedang menatap Zela dengan begitu lekat, tentu saja Brayen juga sedang senyum-senyum sendiri.
Cup..
Zela dengan sengaja mencium pipi Brayen, tentu saja apa yang di lakulan oleh Zela membuat Brayen segera tersadar. Brayen semakin gemas saja dengan tingkah istrinya, unik dan menggemaskan. Brayen tersenyum sambil mengacak rambut Zela gemas.
Sedangkan Zifa menggelengkan kepalanya dengan tingkah adiknya yang sekarang lebih berani, mencium suaminya di depan Kakaknya dan juga sepupunya yang sedang LDR dengan pacaranya. Astaga... Zifa benar-benar sudah kalah dengan Zela yang sudah bersetatus istri.
Zifa melirik Dara, begitu juga degan Dara yang melirik Zifa. Mereka tersenyum sambil menggelengkan kepalanya lagi. Tapi senyuman Dara sangat terlihat begitu berbeda dengan Zifa, jika Zifa tersenyum senang Dara tidak, Dia tersenyum kecut, senyuman yang tidak dari lubuk hatinya, dia mengamati semua gerak-gerik Brayen sedari tadi, bahkan di saat Brayen sedang mengamati Zela, Dara tau itu, hatinya menjerit tapi ini memang salah Dara sendiri, dan Dara harus lebih tau diri akan hal itu.
" Hayoo.. Ngelamunin apa tadi ? aki cantik ya Kak ? " Tanya Zela yang ntah kenapa percaya dirinya melonjak begitu tinggi.
" Nggak usah tanya gitu juga semua Orang tau kali dek kalau kamu cantik, mana mungkin seorang Brayen Zafano mau sama cewek buluk " Jawab Zifa membuat Zela terkikik.
" Ish.. Kak Zifa.. Gue kan pengen Kak Ray yang jawab ! " Kesal Zela yang hanya dapat cengiran dari Zifa.
" Gimana Kak ? " Tanya Zela lagi kepada Brayen.
" Gimana apanya? " Tanya Brayen begitu menyebalkan.
Astaga.. Brayen ini memang suka sekali menggoda Zela sampai membuat Mood Zela kembali tidak baik.
" Kakak sayang nggak sama aku? " Jawab Zela dengan berbeda pertanyaan karena kesal dengan Brayen.
" Sayang dong yang.. Sayang banget.. Dan kamu juga cantik, wanita paling cantik " Jawab Brayen seketika membuat Zela tersenyum malu-malu.
Sedangkan Zifa semakin menggelengkan kepalanya dengan tingkah adiknya yang sekarang lebih genit dari pada dirinya, tapi maklum Zela sedang hamil dan itu sangat jauh dari sifat Zela yang asli.
Jangan di tanya jika Dara sudah pasti sedang merasakan sesak di dadanya, sampai rasanya dia tidak bisa lagi menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya, tapi memang ini resiko dengan jalan yang sudah dia sendiri tetapkan, mengagumi suami orang lain yang seperti Brayen Zafano harus berani menanggung sakit sendiri. Karena Brayen bukan lelaki yang mudah tergoda oleh wanita di luaran sana.
" Eh.. Gue ke toilet bentar ya " Pamit Dara yang langsung di angguki oleh Zela dan juga Zifa.
Dara beranjak dari duduknya, sebelum pergi dia sempat melirik Brayen sekilas, lalu segera berlalu menuju di mana tempat yang akan dia gunakan untuk meluapkan kesedihannya.
Sedangkan Zela dan Zifa masih saling bercanda. Sampai akhirnya Brayen mengajaknya untuk pulang.
" Kak Zifa.. Gue ma Kak Ray pulang dulu ya " Pamit Zela kepada Kakaknya.
" Iya dek.. Kalian hati-hati ya.." Jawab Zifa yang di angguki oleh Zela, sedangkan Brayen sudah biasa dia akan bersikap datar seperti itu.
Brayen menuju ke kasir. Tentu saja dia juga yang akan membayar pesanan makanan Kakak iparnya. Biarka saja nanti Zifa tau setelah selesai makan dan akan membayar.
" Salam buat Dara ya " Ucap Zela lagi yang dapat acungan jempol dari Zifa.
Zela menghampiri Brayen yang sudah selesai dengan urusannya di kasir. Dengan segera mereka kembali masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil meninggalkan Restorant itu.
Tidak lama setelah kepergian Brayen dan Zela, Dara ke luar dari toilet. Dia kembali menuju meja makannya yang tadi. Tapi di sana hanya ada Zifa seorang yang sedang sibuk dengan ponsel dan makanannya.
Dara mengernyitkan keningnya bingung, pasalnya Zela dan suami tampannya sudah tidak berada di sana. Padahal meskipun sakit di dadanya, Dara tetap bahagia bisa memandang Brayen lebih lama lagi.
Apa yang di rasakan oleh Dara ialah, perasaan yang tidak seharusnya ada, Dara harus memendam rasa karena hatinya yang salah menyukai lelaki yang sudah beristri.
__ADS_1
" Zela udah balik Kak ? " Tanya Dara yang di angguki oleh Zifa.
" Iya.. Tadi dia pulang dulu.. Lo ngapain aja lama banget di toilet? " Tanya Zifa membuat Dara tersenyum.
" Perut Gur sakit Kak " Jawab Dara berbohong.
Zifa mengangguk, mereka kembali melanjutkan makannya, sebelum nanti akan menemui Jova di tempatnya.
Mobil Brayen berhenti tepat di depan rumahnya. Dengan segera mereka berdua keluar dan masuk ke dalam rumah. Keadaan rumah cukup sepi, tidak ada Bunda Wina dan Pak Riko yang biasanya di jam segini sedang duduk santai di ruang tv. Zela menanyakan kepada pelayan rumahnya.
Ternyata Pak Riko dan Bunda Wina sedang menghadiri acara ultah rekan bisnisnya. Tapi mereka tidak seperti biasanya yang mengajak anak dan menantunya, ntah lah mungkin acara ini hanya sekedar makan malam bersama saja.
Dengan segera Zela dan Brayen menuju ke atas. Dimana kamar mereka berdua berada. Zela menghempaskan tubuhnya di kasur yang sudah menjadi saksi di mana dia dan Brayen mengarungi samudra cinta bersama.
" Yang hati-hati dong.. Kasian baby " Ucap Brayen melihat Zela yang tadi begitu kasar membaringkan tubuhnya ke dalam kasurnya. Bukan lagi membaringkan tapi memang menghempaskan.
" Iya... Sorry Kak, Kebiasaan " Jawab Zela sambil terkikik.
Brayen membaringkan tubuynya di sebelah Zela. Lalu dengan segera dia mengelus perut Zela yang sudah lumayan membuncit itu.
" baby... Nggak sakit kan? " Tanya Brayen kepada calon anaknya dengan penuh perhatian.
" Nggak daddy, aku baik-baik aja kok... Uat " Jawab Zela dengan suara menirukan anak kecil.
Brayen tersenyum ke arah Zela, dia mengecup kening Zela dengan begitu lembut.
Keesokan harinya. Zela dan Brayen sudah rapih untuk menuju ke Sekolah dan Kampus. Sebelum nanti siang Brayen sudah merencanakan akan mempertemukan Vera dan cowok brengsek yang sudah menghamilinya.
Dengan segera pasangan suami istri itu turun untuk sarapan bersama kedua Orang tua mereka. Pak Riko dan Bunda Wina juga sudah menunggu mereka di meja makan dalam ke adaan yang juga sudah rapih. Tentu saja kedua Orang Tua paruh baya itu juga akan ikut menghadiri pertemuan antara Vera dan lelaki itu.
Sedangkan Vera sendiri belum tau sama sekali rencana ini, dia seperti biasa berangkat sekolah dengan di antarkan sang sopir. Meskipun keadaannya sudah cukup baik karena teman-temannya sudah mau menerimanya lagi, dan itu semua karena Zela CS. Tapi jauh di lubuk hatinya masih ada goresan karena dia nantinya harus membesarkan anak seorang diri, tanpa lelaki apa lagi suami. Vera tersenyum kecut, jalan hidupnya begitu pahit, tapi dia bersyukur banyak sekali orang yang peduli, termasuk Zela, musuh bebuyutannya sendiri.
Orang Tua Vera memang tidak memberitahukan tentang kejutan ini kepadanya, Orang Tua Vera sudah di beritahu oleh bawahan Pak Riko jika lelaki yang menghamili Vera sudah ditemukan dan dia juga siap untuk bertanggung jawab atas apa yang sudah di lakukannya.
" Bunda mau pergi ya? " Tanya Zela kepada Ibu Martuanya.
" Iya sayang.. Ada urusan di luar " Jawab Bunda Wina dengan senyumnya. Zela mengangguk mengerti.
" Bareng sama Ayah ? " Tanya Zela lagi yang di angguki oleh Bunda Wina dengan senyumnya.
" Iya Nak, kita pengen bernostalgia jaman pacaran dulu " Jawab Ayah Riko membuat Zela tersenyum begitu juga dengan Bunda Wina yang menggelengkan kepalanya dengan senyumnya.
" Ray... Kamu kuliah pagi kan hari ini? " Tanya Pak Riko yang di angguki oleh Brayen.
Dan keluarga itu kembali melanjutkan makannya sebelum nantinya ke tujuan masing-masing.
Kini Zela dan Brayen sedang berada di dalam mobil. Brayen melirik Zela yang sedang cekikikan karena membalas pesan singkat Vani, yang terus saja bercerita tentang Xelo dan dirinya yang melakukan video call sampai sama-sama tertidur.
" Yang " Panggil Brayen pelan.
" Iya Kak ? " Jawab Zela menoleh ke arah Brayen.
" I Love You " Ucap Brayen membuat Zela tersenyum.
" Love You too Hubby " Jawab Zela membuat Brayen menggenggam tangan Zela dan menciumnya.
Sampai akhirnya mobil Brayen berhenti tepat di depan gerbang Sekolah. Setelah pamit dan memberi kiss untuk semangat, Zela segera turun dari mobil suaminya. Dia berjalan masuk ke Gedung tinggi dan megah yang beberapa tahun ini menjadi tempat menimba ilmu untuk dirinya. Sekolah elit yang merupakan Sekolah milik kedua Martuanya itu.
Zela melangkahkan kakinya menuju ke kelas. Sampai akhirnya dia terlonjak kaget karena kedua sahabatnya yang dengan jail mengagetkannya.
" Dorrrr.... !!!! " Ucap Seli dan Vani barengan. Zela menoleh ke arah mereka dengan kesal. Tentu saja kesal karena jantungnya hampir saja lepas dari tempatnya, jika dia tidak memiliki jantung lalu bagaimana nasib Brayen suami tampannya itu? ah.. Sudah lupakan Zela terlalu lebay dengan hal ini.
__ADS_1
" Kalian... Iseng banget sih ! " Kesal Zela membuat kedua sahabatnya cekikikan.
Dengan segera Seli dan Vani menariknya untuk masuk ke dalam kelas. Dan mendudukan Zela di kursi bangkunya.
" Apasn sih kalian ! " Kesal Zela lagi.
" Duduk manis Zel.. Vani mau nyeritain kekonyolannya tadi malam " Jelas Seli membuat Zela mengernyitkan keningnya menatap Vani yang sedang senyum-senyum mali tapi menyebalkan itu.
" Tentang Lo yang melakukan video call sampai ketiduran? " Tanya Zela yang dapat gelengan kepala dari Vani.
" Hah... Terus ? " Tanya Zela mulai penasaran.
" Makanya dengerin dulu, mumpung belum masuk " Sambung Seli yang dapat anggukan kepala dari Zela.
" Oke.. Van.. Silahkan kalau mau cerita " Suruh Seli yang membuat Vani berdiri menutup wajahnya dengan tangannya sambil melompat-lompat persis seperti orang gila.
Zela yang melihat tingkah Vani malah jadi ngeri sendiri, sepertinya Vani setelah mempunyai kekasih malah jadi semakin tidak waras saja.
" Lo jangan aneh-aneh deh Van, kayak orang yang ada di RSJ tau nggak " Ucap Zela membuat Vani melotot.
" Sembarangan Lo, masa Gue cantik gini nempatin tempat begituan " Jawab Vani kesal membuat Zela tertawa.
" Ya makanya jangan banyak tingkah, katanya tadi mau cerita giliran Zela udah datang malah langsung kesurupan " Sambung Seli membuat Vani semakin kesal saja dengan perkataan kedua sahabatnya.
" Ih... Kalian nggak tau banget sih, Gue kayak gini karena malu mau cerita ke kalian, tapi Gue juga pengn cerita, ih tau ih.. " Jawab Vani malaj bingung dan kesal sendiri.
" Astaga.. Tinggal cerita aja Lo ribet banget sih, apa yang nggak kita tau tentang Lo Miss telm**i yang suka kentut sembarangan " Jelas Seli membuat Vani terkikik.
" Oke.. Gue ceritain nih ya...." Ucap Vani yang di angguki oleh Zela dan Seli dengan serius.
" Jadi..., Tadi malam kan Gue video call tuh sama Kak Xelo " Jelas Vani lagi membuat Zela dan Seli kembali mengangguk dan mendengarkan dengan seksama apa yang akan di katakan oleh Vani.
" Gue ketiduran, begitu juga Kak Xelo, tapi kalian tau nggak tadi pagi Kak Xelo telepon Gue " Jelas Vani lagi.
" Terus ? " Tanya Zela kepads Vani.
" Terus Kak Xelo bilang kalau ternyata cewek imot dan manis seperti Gue, kalau lagi bobok ternyata ngiler dan ngorok juga, astaga.. Gue sampai malu banget sumpah " Jelas Vani yang membuat Zela dan Seli seketika tertawa terbahak.
" Ha...Ha...Ha.... Mamp*s Lo " Ucap Seli begitu jahat.
" Lo tuh ya.. Selalu ada aja tingkah konyolnya " Sambung Zela menarik hidung Vani gemas.
" Siap-siap aja Lo nanti di ceraikan Kak Xelo " Sambung Seli denga jahatnya. Tentu saja masih dengan tertawanya.
" Sumpah Lo jahat banget Sel ! Terus gimana nih nasib Gue, sekarang Gue malu banget kalau ketemu Kak Xelo " Jelas Vani kepada kedua sahabatnya.
" Gimana biar Lo nggak malu banget, Lo bilanga aja kalau ternyata Kak Xelo tidurnya ngompol " Usul Zela yang sama sekali tidak masuk akal.
" Nggak mungkin Lah Zela Gue tau dia ngompol, kan yang keliatan cuma wajahnya aja " Jawab Vani membuat Zela tertawa.
" Iya Zel... Lagian Lo lupa ya, kalau tukang kentut, ngompol, ngorok, sama yang ileran itu kan Vani, semua udah di borong sama ni anak " Jelas Seli semakin tertawa. Begitu juga dengan Zela yang ikut tertawa.
Sedangkan Vani tampak begitu kesal, tapi apa yang di katakan oleh Seli memanglah benar, bahkan pernah sekali Vani ngompol ketika mereka sedang tidur di rumah Seli. Dan tentu saja karena hal itu Seli sering meledeknya, tapi sekarang kebiasaan Vani yang mengompol sudah tidak pernah terjadi lagi.
" Woy...!!! Diam kalian, bell sekolah bunyi tuh " Ucap Vani membuat Zela dan Seli seketika terdiam.
Duuuooaddd...
Suara kentut Vani yang begitu besar dan terdengar menggelegar di kelas mereka. Seketika Zela dan Seli saling pandang dan langsung menyerbu Vani, yang masih saja jorok di depan kedua sahabatnya, berbeda ketika dengan Xelo Vani akan mati-matian berusaha menahan kentut dan sikap konyolnya.
Tapi sekarang sepertinya tidak ada lagi yang di sembunyikan oleh Vani dari Xelo, termasuk ketika Vani tertidur dengan mengorok juga ileran, tapi Xelo akan selalu menyayangi Vani, apapun kekurangan Vani.
__ADS_1
Jangan Lupa Like, Comment and Vote ya gaes.. Big Thanks