
Zela menarik tangan kedua sahabatnya setelah tadi sebelumnya membaca pesan dari Brayen.
Zela tau pasti ada yang memata matainya, tapi siapa..?? adakah orang suruhan Brayen., Zela benar benar khawatir, bukan karena dia menemui Bintang barusan, tapi karena mulai sekarang Zela tidak bisa seleluasa dulu lagi, dan dia juga harus lebih hati hati lagi, jangan sampe teman sekolahnya mengetahui tentang bagaimana hubungannya dengan Brayen sesungguhnya.
Ya meskipun pada dasarnya Zela sangatlah senang dengan sikap posesif Brayen tapi dia juga kesal, Senang dan kesal ya begitulah yang Zela rasakan saat ini.
" Kenapa sih Zel..?? Tanya Vani yang penasaran.
" Iya.. loe aneh tau nggak setelah buka pesan tadi.. Dari siapa..??? Sambung Seli menanyakan kepada Zela.
" Kak ray yang chat gue..." Jawab Zela masih dengan menarik kedua sahabatnya.
" Terus..?? Tanya Seli lagi.
" Kak ray tau kita ketemu Kak Bintang..." Jelas Zela singkat kepada mereka.
" What..?? Seriusan loe..??? Wah.. ternyata kak ray selain cakep juga hebat ya.. perfect emang.." Sambung Vani ngasal.
Zela dan Seli seketika menoleh ke arahnya dengan bingung.
Zela memutar matanya jengah dengan pendapat Vani.
" Kenapa..?? Tanya Zela kepada Vani.
" Ya... dia punya mata kaki... Upsss maksud gue mata mata Azela.. Sampe kak Ray tau apa yang loe lakuin, itu berati Kak ray sayang banget sama loe.. Akh... Gue juga mau digituin..." Jelas Vani membayangkan.
" Ishh... loe itu ya..." Toyor Seli kepada Vani.
" Gue nggak munak ya.. Siapa coba yang nggak mau diperlakuin seperti itu sama cowok setampan Kak ray..." Jelas Vani jujur.
Terlihat Zela yang menganggukan kepala, mencerna setiap kata kata Vani barusan, memang benar kalau begitu berati Brayen begitu sangat menyayanginya, tapi bagaimana dengan Zela..???
Yuppp... Dari awal Zela hanya takut jika hubungannya dengan Brayen diketahui oleh teman teman sekolahnya sekarang ini, dia belum siap akan hal itu, Zela masih ingin menikmati masa sekolahnya yang tinggal beberapa bulan lagi.
Setelah perutnya semakin besar nanti, Zela akan meneruskan sekolahnya secara home schooling, dimana Brayen juga akan mengumumkan tentang hubungan mereka yang sesungguhnya, tapi tak di pungkiri dia juga merasa sangat senang dengan perlakuan Brayen untuknya.
Sebelum bel masuk berbunyi mereka memutuskan untuk ke kantin terlebih dahulu.
" Terus gimana..?? Kita ke pestanya jadi apa nggak nih...?? Tanya Vani.
" Jadi...." Jawab Zela singkat.
" Loe serius Zel tetep mau ke pesta Sepupunya Kak Bintang..?? Tanya Seli penasaran, Zela mengangguk mantap.
" Emang bakal di perbolehin sama Kak Ray...?? Jangan aneh aneh deh ya.." Sambung Seli lagi.
" Gue ke sana bareng Kak Ray.. Dan loe pada bareng Kak Dimas sama Kak Xelo aja, gimana..?? Tanya Zela balik.
" What..?? Kok gitu..?? Nggak enak ma Kak Bintang dong Zel.." Jelas Vani.
" Resiko ngajakin bini orang dong..." Jawab Zela mantab.
Seli dan Vani terdiam tapi kemudian mereka mengngguk paham.
" Atau jangan jangan loe yang nggak bisa deket Babang Xelo.. takut jantungnya meledak ya Van..?? Ledek Seli tiba tiba kepada Vani.
" Loe kali Sel.. Yang nggak bisa nahan jantung kalau deket Kak Dimas.." Elak Vani.
" Udah..Kenapa jadi ngomongin jantung sih.. Kalau lagi jatuh cinta ya emang gitu..." Jelas Zela yang dapat tatapan tajam dari kedua sahabatnya.
Tapi kemudian mereka saling senyum, dan Zela yang tau dengan tingkah kedua sahabatnya itu, sudah bisa menebak, apa lagi kalau bukan mereka sedang jatuh cinta, sama halnya ketika Zela sedang jatuh cinta dengan Brayen dulu.
" Oke kembali lagi ke rencana tadi.." Sambung Zela kepada mereka berdua, seketika Seli dan Vani menatapnya serius.
" Kalian harus tau yang akan mengadakan pesta itu siapa.. Dan Gue tau orangnya..." Jelas Zela setengah setengah, membuat Seli dan Vani melotot seketika.
Mereka bertambah penasaran, dengan serius mereka terus bertanya kepada Zela untuk meminta jawaban.
" Siapa..?? Tanya Vani.
" Loe tau Zel..? Tambah Seli tak kalah penasaran.
Zela mengangguk tersenyum, membuat Seli dan Vani lagi lagi bertambah penasaran.
" OMG.... Kenapa nggak bilang dari tadi sih..." Kesa Vani, yang di jawab Zela dengan senyuman.
__ADS_1
" Terus siapa...??? Tanya Vani lagi tak sabaran.
" Cewek Cantik teman kak ray dulu..." Jawab Zela pelan.
" What...????? Tanya Vani spontan, membuat anak anak yang berada di kantin menoleh ke arah mereka.
Vani tersenyum tapi kemudian melotot agar mereka segera mengalihkan pandangannya kembali, Tak lama pesanan mereka datang, dengan segera mereka memakannya, karena Vani yang sudah sangat penasaran dengan penuturan Zela tadi.
Vani dengan geragakan cepat memakan baksonya, sangat terlihat Vani yang sedikit kerepotan karena bakso yang masih begitu panas tapi ya begitulah Vani, cewek cantik imoet yang doyan makan.
Beruntung sekarang juga ada Zela yang juga sangat bertambah nafsu makannya, jadi dia tidak sendirian lagi.
Setelah selesai dengan makannya, mereka langsung membayar ke Buk Kantin,, tak seperti biasanya yang akan nongkrong dulu sebelum bel masuk berbunyi, kali ini mereka memutuskan untuk langsung masuk ke kelas.
Sampai di kelas, Zela langsung dapat deretan pertanyaan dari kedua sahabatnya tapi lebih tepatnya Vani yang sedari tadi terus bertanya.
" Stoppp...." Teriak Zela , yang membuat Seli dan Vani diam seketika.
" Gue pernah denger Kak ray Sama Kak Dimas ngomongin tentang pesta ultah tuh Cewek... Misha..." Jelas Zela seketika membuat Seli dan Vani melongo.
" What....??? Teriak mereka bersamaan.
Lagi lagi mereka di buat terkejut oleh Zela.
" Jadi Kak Bintang sama tuh Cewek..?? Ucap Vani yang langsung di potong oleh Zela.
" Sepupu..Cewek yang pernah kepoin hubungan gue sama kak ray waktu itu..." Jelas Zela lagi menambahkan.
" Gue nggak nyangka sumpah... Rumit gila.. Pasti ada sesuatu Zel.." Sambung Seli, dan Zela mengangguk membenarkan.
" Ya begitu emang,, dan gue tau sesuatu.." Sambung Zela lagi membuat mereka berdua lagi dan lagi di buat Zela bertambah penasaran.
" Apaan Zel..?? Tanya Vani dengan tak sabar.
" Kalian bareng Kak Dimas sama Kak Xelo oke...??? Mereka juga diundang kok.." Jelas Zela dengan senyum tanpa bersalahnya.
Awalnya Zela ingin menceritakan tentang apa yang dibicarakan oleh Brayen dan Dimas, tapi dia berfikir jika ini bukan waktu yang tepat, Zela ingin tau lebih jauh dulu sebelum benar benar menceritakan kepada kedua sahabatnya.
" Yeee... kirain apaan.. Tapi kok bisa mereka juga diundang...???." Sambung Vani lagi.
" Jadi gimana..??. Tanya Zela..
" Gue sih oke..Nggak tau nih Vani..." Jawab Seli yang membuat Vani mengerucutkan mulutnya.
Masih dengan diamnya, Vani belum juga menjawab, dia bingung harus menjawab apa, secara dia sama Kak Xelo kan nggak ada kedekatan lebih, selain ketika mereka sedang kumpul bersama, meskipun tak di pungkiri jika Vani sudah menyimpan sedikit rasa untuk Xelo.
" Malah diam.. Berati gue anggap iya ya Van.. oke deh deal..." Sambung Zela, membuat Seli tertawa dan mengacungkan jempolnya.
Sedangkan Vani melotot tapi masih enggan bersuara, dia masih bingung harus menjawab iya atau tidak.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Seperti biasa ketika jam pulang sekolah Brayen sudah menunggunya di depan gerbang, kali ini Zela melangkahkan kakinya dengan perasaan ketar ketir, takut jika nanti Brayen akan memarahinya atau Zela lebih takut lagi jika Brayen akan bersikap cuek dengannya, secara Brayen kan pada dasarnya cowok tampan yang begitu datar dan cuek.
Setelah sampai di depan gerbang, terlihat mobil Brayen yang sudah terparkir rapih di pinggir jalan, dengan pelan Zela membuang nafasnya.
" Oke Zel..tenang.." Gumam Zela untuk dirinya sendiri.
Zela melangkahkan kakinya, dia membuka pintu mobil dan langsung duduk di sebelah Brayen.
Tanpa berani menatap Brayen, begitu juga dengan Brayen yang tanpa menatap Zela langsung melajukan mobilnya.
Oke.. sampai di sini perasaan Zela sudah tidak bisa tenang, dia tau jika cowok tampan di sebelahnya ini sedang marah dengannya.
Sampai hampir 5 Menitan belum ada percakapan di antara mereka, dan akhirnya Brayen sendiri yang membuka suaranya.
" Kenapa diam dari tadi...??? Tanya Brayen melirik sekilas ke arah Zela.
" Sorry...." Jawab Zela lirih tapi masih terdengar oleh Brayen.
Brayen mengernyitkan keningnya, dan melirik ke arah Zela sedikit mengamatai gerak gerik Zela.
" Untuk...??? Tanya Brayen sengaja.
" Tadi siang..." Jawab Zela masih dengan takutanya atau merasa bersalahnya.
__ADS_1
" It's oke..." Jawab Brayen tenang seperti tak mempermasalahkan.
Seketika Zela berani menoleh ke arahnya, dia tidak menyangka jika Brayen akan mengatakan hal itu.
" Kak ray nggak marah..??? Tanya Zela ragu.
" Ngapain marah.. Gue tau tadinya loe mau nolak..." Jawab Brayen membuat Zela tersenyum lega.
Tapi Zela juga terkejut, bagaimana bisa Brayen tau semuanya sampai yang dia bicarakan juga tau, apa Brayen memasang alat di dalam tubuhnya, akh.. rasanya sangat tidak mungkin.
" So..." Sambung Brayen setengah setengah, Zela kembali menatap Brayen, seperti meminta Brayen untuk meneruskan kalimatnya.
" Loe bareng gue kesana..." Sambung Brayen lagi yang seketika membuat Zela lega, dan begitu senang.
Sesuai dengan rencana Zela, ternyata Brayen juga sepemikiran dengannya, akh Zela benar benar merasa senang, rasa yang tadi sempat merasa takut hilang sudah.
Cupp..
Zela mencium sekilas pipi Brayen.
" Makasih Kak ray..." Sambung Zela dengan senyum manisnya.
Brayen yang melihat tingkah Zela tersenyum, bukannya tadi sangat terlihat jika istri cantiknya itu sangat tegang dan takut tapi sekarang sudah bisa tersenyum lagi, benar benar bumil pikirnya.. Brayen mengacak gemas rambut Zela.
" Mau makan dulu...?? Tawar Brayen kepada Zela.
" Nggak usah kak.. Langsung balik aja.." Jawab Zela.
" Oke.. kita ke apartemen ya..." Sambung Brayen, Zela menoleh ke arah Brayen terdiam sebentar lalu mengangguk mengiyakan.
Brayen tersenyum senang, kembali melajukan mobilnya menuju apartemen dengan kecepatan sedang.
Sampai di apartemen mereka langsung duduk bersandar di sofa depan tv, tanpa ada yang berganti baju terlebih dahulu diantara mereka.
Brayen memejamkan matanya, sedangkan Zela mengamati Brayen dari arah samping, terlihat wajah Brayen yang kelelahan.
" Kak ray mau minum...?.." Tanya Zela masih dengan menatap Brayen.
Brayen membuka matanya, menoleh ke arah Zela masih dengan posisi yang sama.
Kemudian dia mengangguk pelan.
" Susu..." Jawab Brayen dengan senyum jailnya.
Deg... Jantung Zela mulai bergemuruh.
" Bentar gue ambilin dulu.." Sambung Zela yang akan segera berdiri.
Tapi tangan Brayen menariknya, membuat Zela kembali berbalik ke arahnya, hanya saja sekarang posisi mereka bertambah lebih dekat.
Brayen terus menatapnya membuat Zela sedikit salah tingkah, Zela sudah bisa menebak jika terus seperti ini jantungnya pasti akan terus bergemuruh.
Sungguh Zela sangat tidak suka situasi ini, terkadang karena tatapan Brayen yang seperti sekarang ini, mampu membuatnya menjadi sangat agresif meskipun sudah mati matian Zela berusaha untuk tetap tenang pada akhirnya dia tidak bisa lagi menahannya.
Brayen lebih mendekat kearahnya, membuat jantung Zela lebih cepat memompa, mulai tak berkosentrasi, karena Zela juga terus menatap Brayen, gila ini benar benar gila sering sekali permainan Brayen yang seperti ini.
Hanya karena Tatapan Brayen mampu membuat Zela terpesona bukan hanya terpesona tapi Zela seperti terbius olehnya.
" Gue mau sekarang..." Bisik Brayen membuat Zela merasakan geli yang teramat dan mulai menjalar ketubuhnya.
Zela tidak menjawab, lidahnya terasa kelu, sangat sulit sekali jika sudah seperti ini untuk berkosentrasi, Brayen benar benar sangat pandai membuat Zela selalu menginginkan lebih, bahkan untuk bergerak saja rasanya tak mampu.
Brayen yang melihat Zela hanya diam tanpa menjawab langsung melancarkan aksinya, mencium, ******* dan tangannya mulai nakal untuk menjamah bagian tubuh Zela yang sangat di sukainya.
Padat dan berisi, ya begitulah Zela sekarang dengan postur tubuh yang tinggi ditambah nafsu makannya yang meningkat membuat Zela terlihat semakin sexy, dan Brayen menyukainya.
Sekitar 1 jaman mereka menghabiskan sore yang panjang di sofa ruang tv, Zela yang merasa lelah dan tak berdaya digendong oleh Brayen untuk menuju tempat tidur.
Brayen membaringkan Zela, kemudian dia berbaring tepat di sebelahnya, dibelainya wajag cantik Zela, Brayen tersenyum dan mencium kening Zela, karena Zela yang sudah sangat lelah, dia samar samar memberi senyuman untuk Brayen, tapi kemudian menutup matanya untuk segera menuju mimpi indahnya.
Mereka tertidur bersama dengan Brayen memeluk Zela, masih tanpa sehelai benangpun hanya ditutupi selimut, mungkin malam ini Zela dan Brayen tidak akan pulang ke rumah, mereka akan tidur di apartemen.
Oke gaes.. ini aku tulis ketika malam hari ya.. jadi sorry banget kalau reviewnya siang.. kalian harus baca yang vulgar sedikit.. tapi hanya sedikit....
Dan jangan berasumsi sendiri ceritanya bakal kayak gini lah kaya gitulah.. yang bikin cerita kan author jadi tolong nurut aja sama alur ceritanya..
__ADS_1
Jangan lupa Like, Comment dan Vote.. Oke.. Big Thanks..