Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Rasa Penasaran Yang Terjawab


__ADS_3

Zela dan Brayen masuk kedalam rumah dengan bergandengan tangan, tentu saja sebelumnya Brayen sudah menenangkan Zela yang terus merasa gugup.


Sampai di ruang tamu.. Benar saja disana sudah berkumpul kedua orang tua mereka, Zela semakin gugup karenanya.


Tapi Zela tetap mencoba untuk tenang sebelum tau maksud dari semua ini.


Zela dan Brayen duduk di depan kedua orang tua mereka, setelah sebelumnya mereka menyapa dan bersalaman terlebih dahulu.


" Sayang... Maaf ya pasti kami bikin kamu bingung.." Ucap Bunda Wina melihat muka gugup Zela.


Zela tersenyum dan mengangguk, dia tidak begitu mempermasalahkan karena rasa penasarannya yang begitu tinggi.


Mamah Hana bergeser untuk duduk disebelah Zela, kemudian dia memeluk Zela dengan mata yang sudah berkaca, sebenarnya Mamah Hana sudah menahan tangis sedari tadi, tapi dia berusaha untuk menyembunyikan semuanya dari putri bungsunya itu.


Jujur saja, setelah tadi Mamah Hana mendengar penjelasan dari Ayah martua Zela atau besannya, Mamah Hana begitu terkejut dia tidak bisa membayangkan jika hal buruk benar terjadi pada putrinya itu.


Sama halnya dengan Bunda Wina yang juga sangat terkejut, bahkan Bunda Wina begitu shok tadi, sempat juga menyalahkan Brayen yang tidak langsung membicarakan masalah ini kepada mereka.


Tapi, baik Bunda Wina maupun Mamah Hana sama sama saling suport satu sama lain untuk menyembunyikan ini dari putri kesayangan mereka.


Sedangkan Pak Riko juga Pak Adam masih bisa menahan, hanya saja mereka memang harus memberi pelajaran untuk Pak Septa juga anaknya, siapa lagi kalau bukan Sandro.


Mamah Hana melepaskan pelukannya, lalu tersenyum manis dan teduh untuk Zela, juga mencium kening Zela.


Zela membalasnya dengan senyuman yang begitu manis untuk Mamah Hana, menatap satu persatu semua orang yang yang berada disana, lalu membuang nafasnya pelan agar tidak lagi gugup.


Mamah Hana menggenggam tangan putrinya, begitu juga dengan Brayen yang juga berada di sebelah Zela mengenggam tangan Zela untuk menenangkannya, Zela duduk ditengah antara Brayen dan Mamah Hana.


" Ekhmmm.... Jadi maksud kita berkumpul sekarang ini untuk membahas tentang pernikahan kalian..." Ucap Pak Riko yang sukses membuat Zela terkejut.


Deg....


Pernikahan..?? Ada apa sebenarnya..?? Bukankah pernikahannya dengan Brayen baik baik saja..?? Pikiran Zela terus bergelut.


" Iya nak... Kami sepakat untuk mengumumkan pernikahan kalian.. " Sambung Pak Adam menjelaskan.


Zela semakin terkejut, tapi dia masih diam mendengarkan.


" Dan kami juga ingin tau pendapat kamu sayang..." Jelas Bunda Wina menambahkan.


Zela menatap Mamah Hana yang semakin mengeratkan genggaman tangannya dengan senyum manis dan menganggukan kepalanya.


Lalu Zela menatap Brayen, sama halnya dengan Mamah Hana, Brayen juga memberikan senyum tampannya untuk Zela.


" Percayalah nak.. Ini untuk kebaikan kalian.." Sambung Mamah Hana.


Zela masih berfikir, tentu saja sebenarnya dia juga menyetujuinya, tapi Zela hanya ingin tau alasan yang membuat keputusan ini begitu mendadak, bahkan Brayen sendiri sengaja memamerkan hubungan mereka di Sekolahnya tadi.


Bukankah itu sangat aneh..??


Zela pikir ada suatu alasan yang membuat semua jadi seperti sekarang ini.


" Yank.. Kalau nunggu sampe usia kandungan kamu terlihat itu bisa menjadi rumit nantinya.." Ucap Brayen mencoba meyakinkan Zela.


Zela menatap Brayen seperti meminta penjelasan, tapi nyatanya Brayen begitu tenang, dan tanpa Zela sadari membuat Zela menganggukan kepalanya.


" Aku setuju..." Jawab Zela membuat yang lain tersenyum lega.


" Tapi... Apakah ada yang tidak aku ketahui..? " Sambung Zela menanyakan rasa penasarannya sedari tadi.


Semua kembali terkejut tapi kemudian tersenyum tenang untuk menenangkan Zela, menghilangkan rasa penasarannya, mereka tidak mungkin memberitahukan alasan sebenarnya kepada Zela.


Tentu saja itu tidak akan baik untuk Zela juga kandungannya, karena sudah dipastika itu akan menjadi beban pikiran untuk Zela.


Kini Bunda Wina yang bergeser duduk disebelah Zela, membuat Brayen mengalah dan pindah duduknya di sebelah Pak Riko.


" Sayang.. Ini semua untuk kebaikan kamu dan Brayen.. Tenang saja masalah sekolah kamu, kita sudah membicarakannya dengan Pak Dodi.." Jelas Bunda Wina yang juga menggenggam tangan Zela sama halnya dengan Mamah Hana disebelahnya.


Zela mengangguk mengerti, dia juga begitu lega jika masih diperbolehkan untuk bersekolah sebelum kandungannya membesar.


" Terimakasih Ayah, Papah, Bunda juga Mamah..." Jawab Zela kepada kedua orang tuanya juga kedua martuanya.


" Sama sama nak.. Kami ingin yang terbaik untuk kamu dan Ray.." Jawab Pak Riko.


" Ini semua karena kita sayang kamu.." Jawab Pak Adam.


" Sama sama sayang.." Jawab Bunda Wina juga Mamah Hana barengan dan memeluk Zela secara bersamaan.


" Ehem... Aku nggak yank..?? Tanya Brayen mencoba mencairkan suasana.


" Buat apa..?? " Tanya Zela kepada Brayen.


" Ya ucapan terimakasi gitu.." Jawab Brayen membuat Zela menautkan kedua alisnya.


" Iya.. Makasih ya Kak.. Udah bikin aku dag dig dug tadi.." Jawab Zela membuat semua menjadi tertawa.


Suasana yang tadi sempat membuat Zela tegang kini berubah menjadi hangat lagi.


Zela memang tidak mempermasalahkan jika pernikahannya dengan Brayen diumumkan, karena sebenarnya Zela sendiri juga menginginkannya.


" Oke.. Deal ya.. Besok kita akan mengadakan press conference Di kantor.." Jelas Pak Riko.


" Siap Yah.." Jawab Zela semangat membuat yang lain sedikit terkejut tapi juga tertawa senang.


Setelah semua sudah ditetapkan dengan jelas, mereka makan siang bersama di rumah kelaurga Zafano, juga mengobrol ringan di ruang keluarga.

__ADS_1


Karena hari yang semakin sore Pak Adam Juga Mamah Hana pamit untuk pulang.


Kini Zela dan Brayen sedang berada di kamar mereka, bahkan Zela masih memakai seragam sekolahnya sedari tadi juga Brayen yang masih memakai kemejanya.


Zela menatap pemandangan yang begitu terihat indah dari balkon kamarnya, memang di perumahan elit Keluarga Zafano banyak sekali pohon juga taman.


Dan itu sangat terlihat jelas dari balkon kamar mereka.


Zela memejamkan matanya, menarik nafas panjangnya kemudian menghembuskan dengan pelan.


Tiba tiba Brayen memeluknya dari belakang, juga mencium tengkuk leher Zela.


Zela sedikit terkejut tapi dia juga menikmatinya, kecupan Brayen begitu menggetarkan jiwa dan hasratnya.


" Kenapa Kak Ray rahasiain ini dari aku..?? " Tanya Zela kepada Brayen.


Maksud Zela ialah, Brayen yang tidak langsung memberitahukannya kepada Zela terlebih dahulu.


Karena tentu saja Zela tadi sempat takut daj merasa gugup, Zela takut jika dia melakukan kesalahan tanpa dia sadari.


" Sorry yank.. Udah bikin kamu hampir jantungan.." Jawab Brayen membuat Zela tersenyum kesal.


Zela membalikan badannya menghadap Brayen, dia memukul ringan dada bidang Brayen.


" Tau nggak Kak..?? Tadi aku sempat berfikir kalau mereka bakal misahin kita.." Jela Zela jujur.


Sontak saja Brayen begitu terkejut, pikiran Zela sangatlah jauh, Brayen menarik hidung mancung Zela dengan gemas.


" Ish.. Ngaco... Atas dasar apa mereka misahin kita..??? " Tanya Brayen kepada Zela.


" Ya.. Kali aja aku nggak sengaja bikin kesalahan gitu.. Sejak nikah sama kamu sampe sekarang aku belum bisa jadi isrti yang baik untuk kamu.." Jelas Zela kepada Brayen.


Brayen tersenyum miring kepada Zela, membuat Zela semakin yakin jika dirinya memanglah belum bisa jadi istri yang baik untuk suami tampannya ini.


" Kamu cukup melayaniku aja di ranjang itu sudah menjadi istri yang baik.." Bisik Brayen seketika membuat Zela melotot.


" Kak..Ray.. Mesummmm..emm..." Jawab Zela yang sudah dibungkam oleh bibir Brayen.


Brayen mencium Zela, juga melum*tnya, sesekali menghis*p lidah Zela.


Zela juga membalasnya, menikmati permainan lidah yang Brayen berikan.


Sampe akhirnya mereka melanjutkan di dalam ranjang, menjadi sore yang begitu panjang, bermandikan keringat yang begitu mengesankan.


Sama sama merasakan kenikmatan yang mereka berikan satu sama lain.


Zela masih terkapar diranjang, dia menoleh ke arah suaminya yang memejamkan matanya, tapi sebenarnya Brayen tidaklah tidur, dia hanya memejamkan matanya saja.


" Kak..?? Tidur ya..?? Tanya Zela kepada Brayen.


Membuat Brayen membuka matanya dan tersenyum ke arah Zela.


" Mau lagi..?? " Tanya Brayen yang membuat Zela semakin kesal karena pertanyaannya barusan.


" Ngeselin..." Jawab Zela yang semakin membuat Brayen tersenyum bahkan Brayen malah terkikik.


" Biasanya kalau istri kesal itu karena merasa kurang yank.. Akh.. Seharusnya tadi tidak langsung aku keluarkan.." Jelas Brayen yang membuat Zela melotot juga reflek menggelengkan kepalanya.


" Akh... Bukan begitu Kak.. Aku puas kok.. Bahkan sangat puas.. Lihat aku masih bermalas gini karena begitu lelah.." Jawab Zela yang tidak membenarkan perkataan Brayen.


Zela sangatlah takut jika Brayen meminta lagi, hari sudah semakin gelap, Zela begitu merasa puas dengan apa yang Brayen lakukan juga berikan.


Brayen semakin terkikik melihat muka merah Zela, juga kegugupan yang Zela perlihatkan.


" Just kidding kali yank... Aku tau kamu pasti capek... Aku bisa memintanya besok lagi.." Jawab Brayen membuat Zela lega tapi juga terkejut.


" Kak Ray ikh..." Kesal Zela kepada Brayen, sedangkan Brayen malah tersenyum senang melihat muka merah Zela saat ini.


" Kenapa..?? Tampan ya..?? Tanya Brayen membuat Zela melotot, sungguh suaminya ini sangatlah PD.


Tapi memang begitu adanya sih... Zela jadi geleng geleng kepala sendiri dengan semua ini.


" Ayo mandi bareng aja yank..." Ajak Brayen kepada Zela.


" Kak Ray duluan.." Jawab Zela yang sebenarnya sedikit was was jika Brayen melakukannya lagi.


" Bareng aja yank.. Tadi Dimas chat.. Udah nunggu di caffe biasa.." Ucap Brayen memberitahukan kepada Zela.


Zela memutar bola matanya jengah, juga menghembuskan nafasnya kasar.


" Kan Kak Ray yang mau ketemu Kak Dimas.. Jadi Kak Ray aja yang mandi duluan..." Jawab Zela menolak.


" Siapa bilang cuma Kakak yang nemuin Dimas.." Jawab Brayen membuat Zela lagi lagi terkejut.


Juga seperti ada yang aneh dengan apa yang baru saja didengarnya.


Brayen menyebut dirinya " Kak " Iya.. Itu yang membuat Zela merasa aneh dan asing.


" Maksud Kak Ray..??? Aku juga..?? " Tanya Zela ragu.


Brayen menangkup wajah Zela, kemudian mengecup sekilas bibir Zela.


" Iya.. Sayang... Xelo, Vani, dan Seli juga disana.." Jawab Brayen menjelaskan kepada Zela.


Sontak saja membuat Zela tersenyum senang, tiba tiba moodnya berubah menjadi sangat baik, membuatnya sangat bersemangat juga.

__ADS_1


" Ayo Kak cepetan kita mandi.." Ajak Zela yang udah berdiri, juga masih dalam keadaan nak*d.


Membuat Brayen geleng geleng kepala melihatnya, tapi tidak dipungkiri jika body Zela memanglah sangat menggodanya.


Zela semakin hari semakin berisi, dan tubuhnya sama sekali belum melebar karena perutnya yang juga masih lumayan rata.


Jangan Lupakan jika sedari tadi mereka mengobrol masih dalam keadaan sama sama tanpa busana atau nak*d.


Setelah selesai dengan mandinya, mereka segera bersiap siap untuk menuju caffe.


Setelah berpamitan kepada Bunda Wina juga Ayah Riko, Brayen dan Zela segera masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya untuk menunu ke caffe, dimana sahabat mereka sudah menunggunya.


Benar saja, sampai di caffe Dimas dan yang lainnya sudah menunggu sambil mengobrol, bahkan mereka terlihat seperti sedang melakukan double date.


Terlihat dari kejauhan kalau mereka sedang tertawa, hanya satu yang terlihat kesal, siapa lagi kalau bukan Vani.


Zela sudah bisa menebaknya jika pasti ada perdebatan kecil antara Vani dan musuh bebuyutannya, siapa lagi kalau bukan Xelo si ikan hiu.


Zela dan Brayen bergandengan menghampiri mereka.


" Hallo gaes.. Sorry nunggu lama.." Sapa Zela kepada sahabatnya.


" Akhirnya yang ditunggu datang juga.." Jawab Dimas.


" Zezel... Akhirnya loe dateng.. Gue dari tadi dibully sama mereka.." Ucap Vani seperti mengadu kepada Zela.


Membuat yang lain tertawa dengn sikap Vani kepada Zela, persis anak kecil yang meminta perlindungan kepada emaknya.


" Benarkah begitu..?? Tenang nak.. Ada ibu disini.. Biar nanti Ibu yang balas.." Jawab Zela yang malah membuat yang lain semakin tertawa dibuatnya.


" Tukang ngadu loe.." Ledek Seli kepada Vani.


" Biarin... Nggak takut loe ada emak gue..?? " Jawab Vani berani membuat yang lain semakin tertawa.


" Gue heran.. Sebenarnya Ibu apa Emak sih.. Nggak konsisten banget loe manggilnya.." Ledek Xelo membuat Vani mendelik kesal, sedangkan yang lain semakin tertawa.


Baru juga formasi lengkap karena kedatangan Brayen dan Zela, tapi sudah semakin riuh dan terus membuat semua menjadi tertawa bahagia.


Bahkan Brayen sendiri sudah tidak seperti awal awal ketika mereka kumpul bersama, selalu datar dan dingin, hanya beberapa kali senyuman terukir dibibir manisnya.


Kali ini Brayen juga tertawa lepas, melupakan beberapa hari yang lalu, masalah yang membuatnya sedikit menguras emosi dan pikirannya.


" Btw lama banget sih kalian.. Bis anu anu dulu ya..? " Tanya Xelo seketika membuat yang lain terdiam.


Bahkan Zela melotot dibuatnya, karena pertanyaan Xelo ini memanglah benar.


" Tepat sekali pertanyaan loe.." Jawab Brayen enteng membuat Zela semakin melotot karenanya.


Muka Zela sangatlh merah, persis sepertu buah tomat yang sudah matang.


Malu, malu dan malu itu yang sekarang Zela rasakan.


Sedangkan Seli dan Vani terkejut dengan pengakuan Brayen yang begitu terdengar jelas.


Jangan ditanyakan Dimas, dia hanya tersenyum tipis mengerti dengan ucapan Brayen, Dimas tau tanpa Brayen kasih tau.


" Tapi boong..." Sambung Brayen membuat Zela seketika bernafas lega.


Juga Seli dan Vani yang tadi menganggap benar adanya, sedangkan Xelo semakin tertawa melihat muka ketiga cewek cantik didepannya yang sudah sama sama tegang tadi.


Dimas masih berexpresi sama seperti tadi tersenyum tipis, tapi kali ini dia juga menggelengkan kepalanya.


Zela melirik Brayen sekilas, tapi yang diliriknya malah tersenyum dengan tampangnya, membuat Zela mendengus kesal.


Untung cakep...batin Zela.


" Eh.. Zel.. Nih tas loe.. Kebisaan deh kalau kabur lupa sama bawaan.." Ucap Vani memberikan tas Zela yang tadi ditinggal di Sekolah.


" Thanks Van.." Jawab Zela singkat, yang dijawab Vani dengan membentuk jarinya berbentuk OK.


" Udah clear kan..??? " Tanya Dimas kepada Brayen.


Brayen mengangguk tenang, membuat Dimas tersenyum senang.


" Apaan sih Zel..?? Tanya Seli tanpa suara kepada Zela.


" Nanti loe juga bakal tau.." Bisik Zela membuat Seli semakin penasaran.


" Paan sih..?? " Tanya Vani yang juga tanpa suara.


" Nanti gue ceritain..." Jawab Zela membuat Seli dan Vani menganggukan kepalanya.


Kini Zela, Seli dan Vani mengobrol sendiri sesama cewek, begitu juga dengan Brayen dan yang lainnya.


" What...??? " Teriak Vani begitu keras sampe membuat pengunjung lain juga Brayen CS menoleh kepadanya.


Vani begitu terkejut dengan apa yang Zela ceritakan, begitu juga dengan Seli yang merasa terkejut, tapi mereka sama sama menunggu reaksi siswi siswi centil yang pastinya akan merasakan patah hati berjamaah.


Teruntuk Vera tentunya, sudah dipastikan jika Vera tidak akan berani lagi mencari masalah dengan mereka jika tau Zela adalah istri Brayen Zafano.


Juga mahasiswi yang begitu mengidolakan Brayen, juga cewek diluaran sana mungkin yang tanpa mereka ketahui juga mengidolakan seorang Brayen, mereka semua akan segera mendapat hantaman yang begitu keras dan sakit dihatinya.


Itu sungguh membuat Seli dan Vani terkikik geli sekarang, dan mereka tidak sabar menantikan hari esok.


Begitu juga dengan Zela yang sudah merasa siap, dengan apapun nanti yang terjadi setelah pernikahannya dengan Brayen diumumkan.

__ADS_1


Like, Comment dan Vote ya Kak.. Biar author semangat buat up setiap harinya..


Big Thanks 🙏🙏😘😘


__ADS_2