
Seli dan Vani masih menatap Zela yang masih cekikikan tidak jelas, jujur saja ketawa Zela saat ini persis seperti Miss K yang menyeramkan dan sering nangkring di pohon.
Bahkan sampai membuat Vani bergidik ngeri mendengarnya, selalu saja ada hal baru dal diri Zela sejak kehamilannya, salah satunya ya seperti sekarang ini, suara cekikikan Zela yang terdengar ngeri menurut Vani. Tapi itu hanya menurut Vani saja berbeda dengan Selo yang tampak biasa saja.
" Zezel udah dong ketawanya, ceritain kita penasaran tau." Ucap Vani agar Zela tidak lagi membuatnya takut karena tawanya.
" Sorry Van, Gue tuh males mau ceritain ke kalian, ini kan memalukan." Jawab Zela masih membayangkan beberapa bulan lalu.
" Dih kayak ma siapa aja Lo malu." sambung Seli membuat Zela kembali terkikik.
" Oke, Gue ceritain ke kalian, pas malam ke berapa Gue lupa tapi yang jelas Gue masih rada malu gitu sama Kak Ray, eh pas mau nyoba gaya baru nggak taunya Gue kelepasan , dan kalian tau nggak?." Jelas Zela membuat kedua sahabatnya semakin penasaran.
Seli dan Vani mengangguk dengan muka yang sudah serius menanti Zela untuk bercerita lagi, Zela tersenyum jail, dia sengaja ingin membuat kedua sahabatnya penasaran.
" Ih... Cepetan dong Zel, di tungguin juga." Suruh Vani yang memang sudah tidak sabar, begitu juga dengan Seli yang mengangguk, mengiyakan apa yang Vani katakan.
" Suara kentut Gue kayak kegencet pintu, kecil tapi jelas banget." Jelas Zela kembali tertawa mengingat kejadian waktu itu.
Begitu juga dengan Seli dan Vani yang tampak terkejut tapi setelah itu mereka juga tertawa dengan apa yang Zela ceritakan.
" Ha...ha.... Gila, parah banget Lo ya Zel." Ucap Vani masih dengan tawanya.
" Gue kirain seorang Azela itu selalu perfect, taunya sejenis sama miss telmi." Sambung Seli juga dengan tawanya.
" Gue malah kebayang gimana Kak Ray waktu itu." Cletuk Vani yang sukses membuat Zela dan Seli berhenti tertawa.
Seli menatap Zela seperti meminta penjelasan, begitu juga dengan Vani yang juga sama penasarannya dengan Seli dengan kelanjutan cerita konyol Zela di saat sedang memadu kasih dengan Brayen.
" Kak Ray malah tersenyum, dan bilang kalau kentut Gue bau wangi." Ucap Zela yang sontal membuat kedua sahabatnya melotot tidak percaya.
" Serius Kak Ray bilang gitu?." Tanya Seli yang di angguki olej Zela.
" Emang Lo makan apa Zel? Kok bisa kentut Lo wangi? Biasanya juga bikin makanan Gue di perut mau keluar lagi." Sambung Vani membuat Zela tertawa lagi.
" Ha...ha.... Gue kalau ingat itu lagi jadi pengen ketawa, jelas lah kentut Gue bau, malahan bau busuk kalau menurut Gue, Kak Ray aja yang aneh." Jawab Zela membuat Seli dan Vani tertawa membayangkan jika sebenarnya Brayen sudah sangat keracunan dengan angin yang Zela keluarkan dari pantatnya.
Tapi yang namanya cinta dan pasangan baru sudah di pastikan semua akan di tutupi dengan hal yang indah, termasuk bau kentut Zela yang busuk, tapi Brayen tetap mengatakan jika bau kentut Zela wangi.
Meskipun sebenarnya Zela tau jika Brayen mati-matian menahan nafasnya agar tidak mencium bau busuk yang Zela keluarkan dan membuat suasana yang romantis dan hot menjadi canggung.
" Ketika kentut busuk menjadi wangi, dan itu semua karena cinta." Cletuk Vani membuat Zela dan Seli semakin tertawa.
" Gila... Parah banget Lo Zel." Ucap Seli.
" Lebih parah lagi Kak Ray, Sang Idola yang menahan bau racun dari istrinya." Sambung Vani tertawa, begitu juga dengan Zela dan Seli yang tertawa ngakak karena cerita konyol Zela.
Brooootthh....
" Upss... Kelepasan gaes." Ucap Vani tersenyum kikuk.
" Vani...!!!." Teriak Zela dan Seli barengan, lalu dengan segera menyerang Vani dengan melemparkan bantal ke arah Vani.
Sampai akhirnya pintu kamar hotel mereka di buka, tampaklah Brayen yang berada di depan pintu untuk menjemput sang istri agar kembali ke kamar mereka.
Melihat kedatangan Brayen malah membuat Seli dan Vani ingin tertawa, kenapa bisa cowok setampan dan sekeren Brayen bisa mengalami hal memalukan seperti itu. Yang malu sebenarnya bukanlah Brayen melainkan Zela, tapi sebagai lelaki tampan yang banyak di gilai wanita seharusnya Brayen merasa harga dirinya turun karena ulah Zela yang sudah membuat polusi udara pada indra penciumnya. Tapi biarkanlah Brayen tidak mempermasalahkan hal itu karena tulus menyayangi Zela apa adanya.
" Gue balik kamar dulu ya." Pamit Zela yang di jawab Seli dan Vani dengan anggukan kepala tapi masih cekikikan saja.
Zela melotot untuk memeperingati agar kedua sahabatnya tidak lagi membahas soal itu, yang di jawab Seli dan Vani dengan anggukan kepala lagi.
Zela menghampiri Brayen di pintu. Sebelum pergi, Zela sempat mengacungkan kepalan tangannya ke arah kedua sahabatnya, tapi tetap sama seperti tadi Seli dan Vani hanya cekikikan saja membuat Zela malas dan benar-benar berlalu dari kamar inap kedua sahabatnya.
Setelah kepergian Zela dan Brayen. Seli dan Vani langsung ngakak mengingat apa yang terjadi di antara Zela dan Brayen, meskipun mereka tidak tau persis seperti apa kejadiannya, tapi membayangkan sendiri membuat keduanya tertawa ngakak tanpa henti.
" Ha...ha...ha.... Gila, gila, gila.... Cowok setampan Kak Ray dapat bonus udara dari Zela." Ucap Vani masih dengan ketawanya.
" Dan udaranya yang udah kadaluarsa di dalam pantat Zela, udara berbau busuk." Sambung Seli kembali membuat mereka tertawa.
__ADS_1
Sedangkan kini Zela dan Brayen sudah berada di dalam kamar hotel mereka. Brayen memeluk Zela dari belakang dengan tangannya mengelus perut buncit Zela.
Brayen juga mencium tengkuk leher Zela, membuat Zela memejamkan matanya sesaat.
" Yang... 3 bulan ke depan kita udah nggak bisa kayak gini lagi." Ucap Brayen membuat Zela menoleh ke arah Brayen dengan bingung.
" Maksud Kak Ray?." Tanya Zela meminta penjelasan.
" Kan udah ada si kecil, kamu pasti sibuk sama jagoan kecil kita." Bisik Brayen membuat Zela tersenyum lega.
" Kenapa gitu? Kamu ngiranya aku akan pergi jauh?." Tanya Brayen yang di angguki langsung oleh Zela.
" Kalau aku pergi kamu juga ikut yang." Sambung Brayen membuat Zela tersenyum dan langsung mengecup bibir Brayen sekilas, tapi hanya sekilas saja.
" Dan Kak Ray tenang aja, jagoan besarku yang ini tidak akan sampai di abaikan." Jawab Zela sambil menarik hidung mancung Brayen, membuat mereka sama-sama tersenyum.
Sampai tidak terasa, kini pagi sudah menjelang, Zela dan Brayen masih bermalas di ranjang hotel mereka. Begitu juga dengan Seli dan Vani yang masih anteng di bawah selimut tebal hotel. Berbeda dengan Dimas dan Xelo yang sudah melakukan olahraga kecil di pagi hari ini.
Sedari tadi Dimas sudah menghubungi Brayen, tapi tidak juga kunjung ada jawaban, begit juga dengan Xelo yang menghubungi Bebe tersayangnya, tapi sama hasilnya dengan Dimas tidak ada jawaban, membuat kedua lelaki tampan itu memutuskan untuk berlari kecil di sekitaran hotel hanya berdua saja. Tanpa mereka yang masih nyaman berada di dalam kamarnya.
Mereka memutuskan untuk berendam di dalam kolam. Meskipun hari masih pagi tapi air di kolam hotel ada yang bersuhu hangat dan dingin, dan mereka memilih untuk berendam di dalam kolam yang hangat.
Sampai akhirnya mata Dimas menangkap sosok laki-laki yang seperti di kenalinya, Dimas memastika bahwa yang dia lihat itu benar temannya atau dia hanya salah melihat.
Semakin memastikan, Dimas semakin yakin kalau yang berada di sebrang kolam ialah temannya.
" Bro Gue ke sana bentar ya?." Ucap Dimas pamit kapada Xelo.
" Ngapain Lo? Awas macam-macam Gue bilangin Seli." Jawab Xelo membuat Dimas terkekeh.
" Lebay Lo ah." Jawab Dimas berlalu ke sebrang kolam. Dimana dia melihat temannya.
Xelo hanya mengamati Dimas yang sedang berjalan semakin jauh darinya.
Begitu juga dengan Dimas yang sudah sampai di depan cowok tampan yang sedang duduk santai di tepian kolam yang dingin sambil memainkan ponselnya.
" Ha...ha... Gue kangen Lo Man." Jawab Tian sambil memeluk Dimas.
Dimas membalas pelukan hangat sahabatnya yang sudah lama tidak ada kabarnya. Setelah melepaskan pelukannya, mereka kembali tersenyum senang dan tidak menyangka setelah beberapa tahun akhirnya bertemu lagi
Sedangkan Xelo masih mengamati mereka dari kejauhan, sambil berendam di kolam air panas.
" Kapan Lo balik?." Tanya Dimas kepada Tian.
" Semingguan ini man." Jawab Tian yang di angguki oleh Dimas.
" Btw Ray, ah... Shit tuh cowok udah nikah, bener apa cuma hoax aja sih?." Tanya Tian kepada Dimas tentang sahabat karibnya dulu yang ternyata sudah menikah.
Dimas mengangguk sambil tersenyum, membuat Tian mengacak rambutnya kesal.
" Brengs*k, Gue di langkahi." Sambung Tian kesal tapi juga tersenyum.
Brayen dan Tian adalah sahabat ketika mereka berada di New York dulu. Begitu juga dengan Misha, dan Tian tau seperti apa kisah antara Misha dan Brayen.
Tian adalah playboy yang sering berganti-ganti pacar. Sedangkan Brayen meskipun banyak yang menyukainya, dia bersikap datar dan cuek tidak memperdulikan dengan banyak wanita yang menggilainya.
Bahkan karena Tian juga sampai membuat Brayen sering pergi ke klub malam di waktu dulu. Tapi tetap mereka sahabat yang begitu solid.
" Lo terlalu banyak bermain-main sampai lupa kalau seharusnya Lo udah nikah." Ledek Dimas yang dapat cengiran dari Tian.
" Gue penasara cewek seperti apa yang udah bikin seorang Brayen Zafano mau menikahinya." Ucap Tian membuat Dimas terkekeh.
Pasalnya memang Tian tau betul seperti apa seorang Brayen, bahkan Misha yang begitu cantik dan sexypun tidak mampu membuat seorang Brayen menerimanya. Dan Tian yakin wanita yang sudah menjadi istri Brayen sekarang ialah wanita yang istimewa.
" Dia masih sekolah, dan sekarang lagi hamil besar." Jawab Dimas membuat Tian menatap Dimas tidak percaya.
" Sekolah? Astaga... Gila, Brayen nikah sama anak kecil dong." Ucap Tian membuat Dimas semakin terkekeh.
__ADS_1
" Kecil usianya, tapi body nya mantab lah, sampai tidak bisa Brayen tolak." Jawab Dimas membuat Tian semakin penasaran dan ingin tau seperti apa wajah istri Brayen yang masih sekolah, tapi mampu membuat seorang Brayen Zafano terpikat.
" Ha...ha...ha.... Udah jangan di pikirin, nanti Lo juga tau, ayo... Gue kenalin sahabat Gue." Ucap Dimas mengajak Tian menuju ke arah Xelo.
Mereka berdua menuju di mana Xelo masih menikmati air hangat yang membuatnya tenang dan nyaman.
" Wuih.... Bawa pasukan nih, siapa?." Tanya Xelo melihat kedatangan Dimas yang tidak sendiri.
" Tian." Ucap Tian memperkenalkan diri.
" Xelo, cowok paling tampan di antara Brayen dan Dimas." Jawab Xelo songong membuat Tian tertawa.
" Gue suka gaya Lo man, kita pasti cocok." Jawab Tian yang langsung menyukai sikap Xelo yang hampir sama sepertinya. Narsis meskipun pada kenyataannya mereka memang tampan.
" Oke... Kalian tunggu sini bentar, Gue panggilin bos besarnya dulu." Ucap Dimas yang di angguki oleh Xelo dan Tian dengan kekehan.
Dimas bermaksud untuk memanggil Brayen, beserta bidadari-bidadari cantik mereka.
Dengan segera Dimas langsung mengetuk pintu hotel Brayen. Karena jika dia memanggil lewat sambungan telepon sudah dipastikan tidak akan mendapat jawaban seperti tadi.
Dengan segera Diamas menggedor pintu hotel. Tapi masih sama tidak ada jawaban dari dalam. Membuat Dimas semakin kesal saja dengan Brayen dan Zela yang tidurnya sama seperti kebo.
" Ray... Buka woy!!." Kesal Dimas.
" Ekhem...!!." Deheman dari arah belakangnya membuat Dimas langsung menoleh.
" Ah... Brengs*k Lo, dari mana aja?." Tanya Dimas ngegas.
" Gue dari dapur, Zela pagi-pagi minta di bikinin bubur ayam." Jelas Brayen sambil membawa 2 mangkok bubur ayam.
" Kenapa nggak minta sama pelayan aja?." Tanya Dimas kepada Brayen.
" Istri Gue ngidam, dia nggak mau kalau orang lain yang buat." Jawab Brayen membuat Dimas tersadar jika Zela sedang hamil, dan sudah pasti mintanya kepada Brayen, seseorang yang sudah menghamilinya.
" Minggir." Usir Brayen kepada Dimas tanpa rasa bersalahnya.
" Eh... Ray, Gue ke sini mau ngasih tau Lo, Tian ada di sini." Ucap Dimas membuat Brayen menoleh ke arah Dimas lagi, lalu tersenyum tampan.
" Suruh dia tungguin Gue, bilang Gue ada urusan penting yang harus di selesaikan dulu." Jawab Brayen menyuruh kepada Dimas.
Dimas menggeleng tidak percaya, bahkan Brayen bukan hanya bucin saja kepada Zela, tapi Brayen benar-benar sudah tidak bisa di ganggu jika sedang bersama istrinya.
Tapi tidak lama Zela datang menemu mereka. Zela sudah rapih dan terlihat begitu cantik, meskipun badannya tidak seperti dulu lagi tapi Zela malah terlihat semakin cantik dan sexy.
" Ada apa Kak Dim?." Tanya Zela kepada Dimas.
" Lo makan buburnya di bawah aja Zel, sambil liat-liat pemandangan gimana? ada yang mau ketemu Brayen soalnya." Jawab Dimas membuat Zela menoleh ke arah Brayen. Lalu mengangguk mengiyakan.
Dimas menatap Brayen seperti meledek, membuat Brayen menatap Dimas kesal, tapi jika Zela sudah mengiyakan Brayen akan menurut saja.
Baru juga mereka akan ke bawah, tiba-tiba Dimas di kejutkan lagi oleh kedatangan dua bidadari cantik yang juga sudah sama rapihnya dengan Zela.
Zela, Seli, dan Vani memang sudah berencana akan jalan-jalan di hari minggu ini.
" Yang mau pergi?." Tanya Brayen kepada Zela.
" Iya Kak, tapi kita bertiga aja ya?." Jawab Zela seperti meminta ijin, jika Zela ingin pergi jalan dengan kedua sahabatnya saja.
" No." Jawab Brayen dan Dimas barengan.
Membuat ketiga gadis cantik itu menatap mereka kesal.
" Terserah....!!." Jawab Zela, Seli, dan Vani kompak. Membuat Brayen dan Dimas saling pandang dan langsung menggendong Zela dan Seli menuju ke bawah.
Sedangkan Vani menatap mereka tidak percaya, astaga... Mereka benar-benar menyebalkan seperti tidak peduli dengan adanya seorang Vani di sana.
Dengan kesal Vani menghubungi Xelo untuk menjemput dan membawanya ke bawah sama seperti apa yang Brayen dan Dimas lakulan, tentu saja Vani akan meminta Xelo untuk menggendongnya juga.
__ADS_1