Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Pesta Misha


__ADS_3

Zela berjalan dengan anggunya, menghampiri sahabatnya yang sudah terlebih dahulu sampai dipesta tadi, dengan penampilan yang sangat membuatnya terlihat amat cantik dan anggun malam ini, tentu saja banyak pasang mata kaum hawa yang melihatnya dengan pandangan iri atau tak suka.


Tapi sekali lagi Azela memanglah gadis yang cantik, dan mereka harus terima itu apapun alasannya.


Brayen tersenyum ke arah Zela, begitu juga dengan Zela yang membalas dengan senyuman cantiknya, membuat gadis cantik yang sudah menunggu kedatangan Brayen sedari tadi mengepalkan tangannya kesal.


Apa lagi malam ini aura Brayen lebih mempesona dari hari hari biasanya, tentu saja membuat para gadis yang berada di pesta memandangnya kagum.


Sosok tampan, dingin tapi selalu membuat kaum hawa terpesona dengannya.


" Yang di tunggu.." Ucap Dimas kepada Brayen dan Zela.


Brayen hanya tersenyum, begitu juga dengan Zela yang berada disebelahnya.


Zela segera menghampiri kedua sahabatnya.


" Ngapain aja loe..?? Bisik Vani yang hanya ditanggapi Zela dengan senyum sekilas.


" Zel...akhirnya loe dateng..." Ucap Bintang yang ingin memeluk Zela tapi tentu saja Zela sudah sigap untuk menolaknya secara halus.


Termasuk Seli, Vani, dan kedua sahabat Brayen Dimas dan Xelo terkejut dengan tingkah Bintang.


Brayen yang melihat tingkah Bintang hanya tersenyum sinis, dia masih diam meskipun tingkah Bintang cukup membuatnya geram.


Berbeda dengan Misha, dia berjalan menghampiri mereka dengan senyum merekahnya karena ulah sepupu tampannya itu.


" Sorry Zel..." Sambung Bintang merasa tak enak, Zela hanya mengangguk tersenyum.


Zela melirik Brayen sekilas, bebarengan dengan Brayen yang juga melirik Zela, akh....Zela benar benar gugup karena ini.


Sumpah demi apapun muka Brayen saat ini sudah terlihat sangat menakutkan untuk Zela, meskipun yang lain tak nenyadarinya tapi Zela cukup peka akan hal itu.


" Hay Ray..akhirnya loe dateng juga.." Sapa Misha sambil mengalungkan tanganya keleher Brayen.


Brayen melirik tingkah Misha yang begitu menjijikan menurutnya, begitu juga dengan


Zela yang melirik tingkah Misha dengan sangat kesal, sama halnya dengan yang lain sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Misha.


ada apa dengan dua saudara ini... sikapnya sama sama menjijikan... batin Zela beragumen sendiri.


" Dasar cewek murahan..." Gumam Vani kesal dengan tingkah Misha.. Zela yang mendengar hanya melirik Vani sekilas, lalu dia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Zela benar benar merasa sesak dengan tingkah Misha, membuatnya merasa semakin gerah dan ingin cepat cepat pergi dari pesta ini, tapi tentu saja ini masih permulaan bahkan pestanya juga belum di mulai.


" Ehem...Happy birthday Sha.." Jawab Brayen singkat sambil menyingkirkan kalungan tangan Misha dilehernya.


Msiha tersenyum masam karena tingkah Brayen, dia sangat ingin membuat gadis di sebelah Brayen ini malu dan menyesal karena berani merebut Brayen darinya.


Tapi sepertinya Misha harus bertindak dengan cara lain, dan bersabar untuk sekarang ini, akh larat seorang Misha tak mungkin akan bersabar dia hanya ingin terlihat baik didepan Brayen.


" Malam kak... HBD ya kak.." Ucap Zela singkat dan canggung kepada Misha, tentu saja juga dengan senyum yang di paksakan.


Misha hanya membalasnya dengan senyum miring, dan hal itu tentu saja membuat seorang Zela sangat malu, tapi bukan Zela namanya jika dia menanggapinya tidak dengan santai.


Zela sudah tau kalau hal ini akan terjadi, bahkan mungkin lebih, mengingat dengan siapa dia datang ke Pesta, meskipun Brayen adalah suaminya tapi tentu saja gadis cantik di depannya ini tak akan mungkin rela membiarkan Zela dengan Brayen begitu saja.

__ADS_1


Misha naik keatas podium dimana disana sudah terdapat kue besar mewah yang berisi lilin angka 21th, dimana usia Misha sekarang bertambah.


Misha tersenyum ke arah semua teman temannya yang hadir, pesta ultah sekarang memang hanyalah dihadiri oleh teman temannya, bahkan kedua orang tuanya yang masih berada di new york juga tak datang untuk menghadiri pestanya.


" Selamat malam gaes.. Thanks kalian udah dateng di Pesta gue.." Sapa Misha kepada teman temannya.


Semua teman temannya bertepuk tangan untuknya, bahkan banyak juga teman teman lelakinya yang bersiul untuknya, juga memuji penampilan Misha yang memang juga sangat terlihat cantik malam ini.


" Dan gue juga berterimakasih kepada temen baik gue.. Brayen Zafano, , Dia tamu spesial gue malam ini.." Sambung Misha dengan senyum penuh arti.


Sontak saja semua teman temannya seketika hening melihat ke arah Brayen yang masih bersikap datar, tanpa expresi sama sekali.


Tapi kemudian mereka kembali riuh dengan tepukan tangan mereka.


Berbeda dengan Zela yang ntah kenapa dadanya terasa semakin sesak, sumpah demi apapun jika bisa saat ini Zela sangat ingin mencabik muka Misha yang membuatnya penuh dengan emosi.


" Jika berkenan.. Maukah Tuan Brayen Zafano menemani saya untuk memotong kue ini..." Sambung Misha lagi secara formal dan dengan senyum manisnya.


" Ayo.. Kak ray temani Misha.." Teriak salah satu teman Misha.


" Kak ray.. ke atas.." Teriak mereka lagi.


" Naik..!!!"


" Naik...!!! "


" Naik...!!! " Teriak semua tamu yang datang di pesta.


Zela memejamkan matanya sejenak, Seli dan Vani segera menghampiri Zela, mereka tau apa yang sedang sahabatnya hadapi, menggenggam tangan Zela mencoba untuk menguatkannya.


Zela mencoba untuk tetap bersikap tenang, tapi sungguh dadanya terasa amat sesak, susah payah dia mencoba untuk bersikap biasa tapi tetap saja tidak bisa, Zela tidak mampu, Zela tidak bisa melihat suaminya bersanding dengan wanita lain selain dirinya.


Tapi sekali lagi Zela memejamkan matanya agar lebih tenang, meskipun sangat sulit tapi pada akhirnya dia merasa sedikit tenang karena Seli dan Vani berada di sampingnya untuk menguatkan.


Brayen berjalan kedepan, membuat Misha semakin tersenyum senang, dan Zela yang melihat itu semakin terasa sesak di dadanya, Bagaimana mungkin Brayen melukai hati Zela dengan bersikap seperti ini...?? Taukah Brayen jika saat ini Zela mati matian untuk tetap bisa berdiri tegak tanpa adanya air mata .


Tapi baru berapa langkah, Brayen menoleh ke arahnya, kemudian dia menghampiri Zela, dan menarik tangan Zela untuk ikut maju kedepan menghamipir Misha yang berdiri tegak dengan pandangan lurus kedepan.


Sontak saja apa yang diperbuat oleh Brayen membuat semuanya terkejut, termasuk Misha yang nampak sangat kesal dan kecewa dengan Brayen.


Tentu saja Zela juga sama terkejutnya dengan mereka, bahkan saat ini Zela merasa seperti setengah sadar, Zela hanya bisa menurut apa yang akan dilakukan oleh suaminya.


Baru ketika Brayen dan Zela akan melangkahkan kakinya ke atas, tangan kekar Bintang menahan Zela dari belakang, kembali mereka menoleh dengan apa yang dilakukan oleh Bintang, termasuk juga teman teman yang datang ke pesta dibuat terkejut lagi dan lagi.


" Maaf Kak Brayen.. Kak Misha hanya menyuruh Kakak.. Biarkan Zela dengan saya.." Ucap Bintang berani kepada Brayen.


Brayen menatapnya tajam, tapi juga meremehkan , dia sangat kesal karena Bintang berani menyentuh tangan Zela.


" Jangan ikut campur.." Jawab Brayen sambil menyingkirkan tangan Bintang yang menggenggam tangan Zela.


Brayen kembali menarik Zela untuk menju ke atas, Bintang menatapanya dengan kesal, dia terlalu meremhkan seorang Bryaen Zafano memang, tapi kenapa juga Zela mau saja dengan Brayen..?? Apa hubungan mereka sebenarnya pikir Bintang bertanya tanya.


Brayen dan Zela sampai di depan Misha, tentu saja dengan Senyum tampannya, sedangkan Misha dia berusaha untuk bisa tersenyum meskipun saat ini hatinya teramat kecewa dengan lelaki tampan didepannya ini.


Zela merasa canggung sendiri, meskipun tak di pungkiri dia sangat senang dengan apa yang dilakukan oleh Brayen, bahkan saat ini Zela berharap jika Brayen mengungkapkan hubungan mereka yang sesungguhnya, persetan dengan gosip yang akan teman teman sekolah juga kakak kakak kampus depan katakan.

__ADS_1


Dia hanya ingin menunjukan jika Brayen Zafano cowok tampan yang digilai banyak wanita itu adalah suami Zela, punya Zela, dan hanya untuk Zela.


Zela sudah merasa siap akan hal itu.. Untuk sekarang, tapi ntah besok ya.. Bisa beda lagi pemikirannya maklum saat ini sedang di bakar api cemburu juga bawaan debay mungkin.


" Oke semua... Saya sangat berterimakasih dan tersanjung sekali dengan Nona Misha,, tapi kalian harus tau Saya kesini tidak sendiri, ada wanita terindah yang akan tersakiti jika saya menyanggupi apa yang dikatakan oleh nona Misha,, Sekali lagi terimakasih buat Mona Misha.. Semoga dengan bertambahnya usia anda lebih baik lagi..." Ucap Brayen lantang dan tegas, lalu kembali menggandeng Zela untuk pergi dari hadapan Misha.


Zela terus menatap Brayen, dia tersenyum bahagia, meskipun Brayen tak mengatakan tentang hubungannya tapi Brayen menolak wanita tidak tau diri itu didepannya, bahkan di depan semuanya.


Zela lebih mengeratkan genggamana tangannya kepada Brayen, sumpah demi apapun rasanya saat ini Zela ingin langsung memeluk dan menghujani ciuman untuk suaminya itu.


Misha yang mendengar penuturan Brayen tersenyum kecut, baginya ultah kali ini adalah yang teramat buruk, satu tahun lalu sebelum dia mengungkapkan perasaanya kepada Brayen dan bersikap agresif kepada Brayen, dia masih bisa merayakan ultahnya dengan bahagia bersama lelaki yang malam ini mutlak mempermalukannya.


Menolaknya secara halus, didepan semua teman temannya, dan Misha tidak akan tinggal diam karena ini.


Semua tamu masih terbengong tak percaya, gadis secantik Misha ditolak oleh Brayen Zafano di hari ultahnya, meskipun Zela tak kalah cantik dari Misha tapi mereka masih terkejut dengan apa yang dilakukan sang idola kampus.


Dimas dan Xelo hanya tersenyum, dia tau apa yang dilakukan Brayen memanglah benar, begitu juga dengan Seli dan Vani yang merasa lega dan senang mereka tersenyum bahagia.


Berbeda dengan Bintang yang bertambah rasa keingintahuannya kepada Azela, gadis cantik yang mampu meluluhkan Sang Idola Kampus.


It's oke girl... gue tambah tertantang... batin bintang.


Di sudut ruangan ada seorang pemuda memakai topi yang sedari tadi hanya menyimak dan memperhatikan apa yang dilakukan oleh orang orang kayak itu.


Dia mengawasi setiap gerakan orang orang yang berada di pesta, awalnya dia sangat terpukau dan terpesona bahkan hatinya seperti tertumpuk salju ketika melihat keindahan yang Tuhan ciptakan.


Gadis cantik yang sangat dia inginkan.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Brayen melajukan mobilnya, sedangkan sedari tadi Zela hanya senyum senyum tak jelas, membuat Brayen yang melihat tingkah Zela geleng geleng kepala dan gemas.


" Nanti service gue..." Ucap Brayen tiba tiba membuat Zela menoleh ke arahnya dengan bingung.


" Loe cantik banget malam ini.. Sayang kalau gue anggurin..." Sambung Brayen lagi, membuat Zela seketika melotot bertambah terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Brayen.


Baru saja tadi dia menjadi pangeran idaman, kenapa sikapnya kembali menyebalkan, dan apa gue..??? Bukannya tadi Brayen berkata sedikit formal dengannya dengan menggunakn kata " Aku "


Brayen Zafano memanglah begitu, dan Zela harus tau karena dia juga tidak sedikit berbeda dengan Brayen yang gampang berubah ubah.


" Emmm...Boleh nggak kalau nawar..?? Jawab Zela membuat Brayen menautkan alisnya, tapi kemudian mengangguk mengiyakan.


" Pijit aja gimana.." Tawar Zela kepada Brayen.


Tentu saja dengan suara Zela yang dibuat buat semanja mungkin.


" No... Kasian babynya capek.." Jawab Brayen membuat Zela bingung, jawaba Brayen menurutnya sangat tak masuk akal.


" Apa hubungannya dengan baby yang capek..?? Bukannya kalau kita itu itu babynya tambah capek ya kak..?? Tanya Zela ragu sambil mengigit bibir bawahnya.


Brayen yang mendengar penuturan Zela seketika ketawa, dan mengacak rambut Zela gemas, membuat Zela berdecak kesal, karena tatanan rambutnya sedikit tak rapih.


Sepertinya sikap menyebalkan Brayen yang akan selalu menggodanya kambuh lagi, dan Zela harus siap dengan itu.


" Baby nggak akan capek, karena loe juga menikmati dan dia seneng di tengokin daddynya..." Jawab Brayen dengan tampang menggoda membuat Zela lagi lagi kesal tapi kali ini juga malu dengan apa yang dikatakan oleh Brayen.

__ADS_1


Menurut Zela apa yang dikatakan oleh Brayen sangatlah Vulgar, Zela benar benar malu, dengan wajah merahnya sambil terus mengigit bibir bawahnya membuat Brayen semakin gemas, dan ingin cepat menyerang istri cantiknya itu.


akh...sial...kenapa mobilnya lambat sekali sih... Batin Brayen kesal dengan menyalahkan mobilnya yang dianggapnya lamban.


__ADS_2