
Arsha sudah berada di kamar bersama kedua orang tuanya. Pesta sederhana tapi penuh dengan kenangan itu kini telah usai. Sudah pukul 11 malam tapi Arsha malah kembali terbangun dari tidurnya.
Sedari tadi bayi tampan itu terus tersenyum sembari bermain dengan bungkusan besar dari Seli dan Vani.
Semua kado sudah di buka, tinggal 2 kado yang Zela tinggalkan untuk di buka paling akhir.
" Mo..mo...mo...." Ucap Arshaka sembari menepuk-nepuk bungkusan kado itu.
" Mau di buka sekarang sayang kado dari onty?." Tanya Zela yang mendapat senyuman tampan dari Arsha.
" Onty Cecel sama Vanvan ngasih apa ya?." Tanya Zela kepada bayi tampan itu.
Arsha tidak menjawab, dia masih sibuk dengan bungkusan besar di depannya, tidak lama Brayen keluar dari kamar mandi dan langsung menghampiri mereka berdua yang sedang duduk di ranjang kamar.
" Lho bangun dia?." Tanya Brayen melihat bayi tampannya itu sudah duduk sembari menepuk bungkusan besar.
" Iya, tapi pinter banget nggak nangis dia malah langsung tersenyum dan duduk." Jelas Zela membuat Brayen langsung menghampiri Arshaka dan menciumnya.
Brayen menciumi bayi tampan itu di wajah dan perutnya, Arsha yang merasa geli karena di cium di perutnya oleh Daddy nya langsung tertawa.
Zela yang melihat Brayen dan Arsha tersenyum senang, meskipun terkadang suaminya itu suka jealuose dengan Arsha, tapi nyatanya Brayen sangat menyayangi anaknya.
Bahkan kado yang di berikan oleh Brayen untuk Arshaka saja Zela belumlah tau, mereka akan tau besok.
" Nggak bisa nananina dong malam ini." Keluh Brayen sembari bermain dengan Arsha.
Zela melirik Brayen sekilas, lalu tersenyum.
" Libur dulu dong Kak, malam ini kan spesial untuk Arsha." Jelas Zela sembari membukan bungkusan dari Seli.
" Justru karena pengen ngasih kado spesial buat Arsha yang, kita harus nananina." Jawab Brayen membuat Zela menghentikan aktifitasnya.
Zela menarik hidung suaminya itu dengan gemas, Arsha yang melihat Zela menarik hidung Brayen malah tertawa.
" Kamu kok ketawa sih? suka ya Daddy di KDRT sama Mommy?." Tanya Brayen membuat Arsha yang belum tau apa-apa itu mengangguk.
" Daddy nakal ya sayang." Ucap Zela kepada Arshaka.
" Nakalnya Daddy kan mau buatin Arsha temen bermain." Jawab Brayen membuat Zela menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Suaminya ini ada saja alasannya, selalu bisa menjawab jika menginginkan malam yang panjang dengannya, tapi sayang malam ini Arsha sepertinya tau harus berjaga agar kedua orang tuanya fokus dengan dirinya di malam spesial ini.
" Kyaaaa!!!." Teriak Zela membuat Brayen langsung menatap ke arah kado yang Seli dan Vani berikan.
Brayen tersenyum sembari menggelengkan kepalanya melihat apa yang sudah di belikan oleh kedua sahabat istrinya untuk anaknya, sedangkan Zela sampai bertolak pinggang dengan perasaan kesal kepada kedua sahabatnya.
" Awas ya Lo berdua!!." Gumam Zela kesal kepada Seli dan Vani.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Pagi harinya seperti biasa, Zela akan bersiap-siap ke sekolah bersama suaminya. Pagi ini Baby Arsha belum bangun, karena tadi malam dia tertidur di jam 2, benar-benar tidak memberikan kedua orang tuanya kesempatan untuk memberikan adik untuknya.
Setelah selesai bersiap-siap dan mengeringkan rambut suaminya, Zela turun ke bawah untuk menemui Ibu martuanya. Sedangkan Brayen masih tertinggal di kamar untuk bersiap-siap.
" Pagi Bund." Sapa Zela menemui Bunda Wina yang masih sibuk berada di dapur.
" Eh sayang, udah siap berangkat sekolah?." Tanya Bunda Wina sembari menuangkan teh untuk suaminya.
" Sudah Bund, tinggal nunggu Kak Ray." Jawab Zela mengambil gelas yang sudah di isi teh dan membawanya ke ruang tamu untuk Ayah martuanya itu.
Zela kembali menemui Bunda Wina yang masih sibuk membantu para asisten rumah tangga di dapur.
" Nggak papa Bund, sekali-kali Zela bantuin." Jawab Zela membuat Bunda Wina tersenyum.
Sejak kelahiran Arshaka Zela memang jarang membantu menyiapkan makanan untuk sarapan, karena Zela sudah harus sibuk mengurus Arsha, tapi pagi ini Zela tidak seperti biasanya.
" Lho cucu Bunda mana?." Tanya Bunda Wina yang baru sadar bahwa cucunya tidak ikut ke bawa bersama Mommy nya.
" Masih bobok Bund." Jawab Zela sembari cekikikan.
" Tumben sekali jam segini masih tidur dia." Jawab Bunda Wina yang tidak tau jika tadi malam Arsha mengajak kedua orang tuanya untuk begadang dan libur nananina.
" Mbaknya Arsha mana Bund?." Tanya Zela yang tidak melihat dua asisten pribadi Arshaka itu.
" Lagi Bunda suruh beli cemilan buat Arsha di minimarket depan." Jelas Bunda Wina yang di angguki oleh Zela.
Tidak lama Brayen datang bebarengan dengan Pak Riko, mereka sarapan bersama di meja makan, sedangkan kedua baby sitter Arsha sudah menunggu di kamar Brayen dan Zela. Mereka di suruh menunggu Arsha yang masih tertidur, takut saja kalau nanti Arsha bangun tanpa ada satu orangpun di sebelahnya, dia akan menangis, bahkan sudah beberapa kali kejadian Arsha jatuh dari tempat tidur ketika bangun.
Setelah selesai sarapan, Zela dan Brayen pamit untuk berangkat ke Kampus dan Sekolah.
__ADS_1
Kini mereka berdua sudah berada di mobil mewah Brayen. Zela sedang membalas chat dari kedua sahabatnya, Seli berangkat dengan Dimas, begitu juga Vani yang berangkat dengan Xelo.
Baik Dimas maupun Xelo sekarang sudah seperti sopir pribadi Seli dan Vani saja, Seli jarang sekali membawa mobilnya dia akan di antar dan jemput oleh Dimas, begitu juga pasangan Vani dan Xelo.
Zela meletakan ponselnya di tas, dia memilih untuk melihat jalanan yang sudah mulai macat ini.
" Masih ngantuk nggak?." Tanya Brayen melihat Zela yang beridam diri.
Jujur saja Zela memang mengantuk dan capek, tapi mengingat sebentar lagi sudah akan ujian, Zela tidak boleh sering membolos seperti dulu, dia harus rajin berangkat dan belajar agar mendapat nilai yang memuaskan nantinya.
" Nggak kok." Jawab Zela berbohong.
Padahal Brayen tau betul jika Zela sangatlah lelah dan mengantuk, sangat terlihat memang.
" Yakin?." Tanya Brayen yang di jawab Zela dengan menganggukan kepalanya.
Pakai bohong kamu yang Batin Brayen melirik Zela.
" Aku kasih obat biar nggak ngantuk yah?." Tanya Brayen membuat Zela langsung menoleh ke arah suaminya.
Memangnya obat ngantuk apaan kalau bukan kopi? Pikir Zela.
Brayen menepikan mobilnya dan berhenti di pinggiran jalan. Zela melirik Brayen sembari menautkan alisnya. Fix Brayen akan membelikan kopi untuknya, pikir Zela lagi menerka-nerka.
Tapi dugaan Zela salah besar, karena kini Brayen malah semakin mendekat dengannya, Brayen mendekatkan wajahnya ke ara Zela.
Astaga Zela baru sadar kalau yang di maksud obat nagntuk oleh Brayen yang pasti bukan kopi tapi....????
Cupp...
Baru Zela bermain dengan pikirannya, Brayen sudah mengecup bibirnya, Zela tidak menolak dia membiarkan Brayen untuk menciumnya atau bahkan melum*t bibirnya.
Sedangkan Brayen memang sudah sangat kehausan kegiatan seperti itu dengan Zela, bayangkan saja tadi malam Brayen harus menahan dirinya untuk ena-ena dengan Zela, mereka harus menemani bayi tampan itu bermain dan begadang.
Brayen semakin memperdalam ciumannya, bahkan jari-jari tangannya mulai nakal bermain dengan gundukan kembar Zela yang masih terbungkus seragam.
Tapi tidak lama pintu kaca mobil mereka di ketuk oleh seseorang, membuat pasangan suami istri muda itu terkejut dan menghentikan aktifitasnya.
" Shit, jerk !!." Umpa Brayen kesal melihat seseorang yang sedang berdiri di samping mobilnya.
__ADS_1
Sorry gaes sorean, aku sibuk banget tapi tetep berusaha up buat kalian, sorry ya kalau di episode ini feelnya nggak dapat.