
Dengan kecepatan tinggi Dimas melajukan mobilnya menuju tempat dimana ketiga gadis nakal itu berada, bahkan sedari tadi di dalam mobil terus mengumpat kesal kepada Zela.
Brayen khawatir jika ada cowok selain dirinya yang melihat lekukan tubuh istrinya, tapi mengingat mereka sedang berada di water park, sudah dipastika jika Zela menggunakan baju berenang, yang membuat Brayen semakin kesal saja.
" Cepetan dong Dim... Akh lama Loe.." Ucap Brayen dengan kesalnya.
Padahal Dimas sudah menyetir dengan kecepatan yang sangat tinggi, tapi menurut Brayen begitu lambat, mungkin karena Brayen sedang di bakar oleh api kecemasan.
" Mau secepat apa Ray..?? Loe mau kita celaka..?? " Tanya Dimas yang juga kesal dengan ocehan Brayen sedari tadi.
Sungguh sejak menikah Brayen ini kadang seperti emak emak, sukanya marah marah tidak jelas, pikir Dimas.
" Kalian kalau berantem malah lama.. Udah sih tenang dulu napa.." Sambung Xelo kepada mereka berdua.
" Gimana Gue bisa tenang, istri Gue lagi di sana.. Akh...." Jawab Brayen tak terima, ya tentu saja karena rasa khawatir Brayen yang begitu tinggi.
" Zela di sana berenang Ray bukan dugem..." Jawab Xelo yang juga ikut ikutan kesal.
" Mending dugem dari pada berenang, kalian bayangin pasti mereka pake baju baju yang kurang bahan..." Jawab Brayen lagi masih dengan kesalnya, membuat Dimas dan Xelo menghembuskan nafas panjangnya.
" Namanya baju renng ya gitu lah Ray.. Beda sama baju buat ndaki.." Jawab Dimas lagi.
Tapi tak dijawab oleh Brayen,, karena Brayen masih terus mencoba menghubungi Zela lewat ponselnya.
Tapi masih sama tak ada jawaban dari Zela, membuat Brayen semakin dibuat uring uringan saja oleh istrinya.
" Akh... Shit....." Kesal Brayen sambil memukul pintu mobilnya.
Dimas dan Xelo yang melihat tingkah Brayen kembali menggelengkan kepalanya.
Dasar bucin.. Batin Dimas sambil terkikik.
" Napa Loe ketawa..?? " Tanya Brayen yang melihat Dimas terkikik barusan.
" Apaan...??? " Tanya balik Dimas mengelak.
" Loe barusan nertawain apa..?? " Tanya Brayen dengan nada kesal.
" Astaga... Loe bener bener Ray.. Kayak gitu aja dipermasalahin, udah kayak emak emak Loe Ray..." Jawab Xelo yang diacungin jempol oleh Dimas.
Brayen tak menjawab dia masih kesal dengan Zela, malas jika harus menanggapi dua kunyuk ini juga.
Padahal sebenarnya sedari tadi yang paling heboh juga Brayen.
Mobil berhenti tepat diparkiran, mereka segera masuk kedalam, setelah sebelumnya membeli karcis terlebih dahulu.
Karena hari minggu, jadi pengunjungnya lumayan banyak, dan itu sukses membuat Brayen bertambah kesal
Beruntung kedatangan mereka , terutama Brayen tidak disadari oleh pengunjung, tentu saja karena Brayen menggunakan masker dan juga topi.
Bahkan jika Zela melihat Brayen sekarang, dia pasti akan meledek Brayen yang terlihat lucu memakai topi.
" Brengs*k.. Banyak sekali orang... Apa mereka benar benar memakai pakain bangs*t itu...??? " Gumam Brayen yang sudah semakin kesal saja.
Begitu juga dengan Dimas dan Xelo, yang tadinya bisa bersikap biasa tidak seheboh Brayen, melihat begitu banyak orang membuat mereka juga sama kesalnya dengan Brayen.
" Ayo kita cari mereka, setelah itu kita bawa ke puncak.." Jawab Dimas yang sudah sama kesalnya dengan Brayen.
Mereka mencari keberadaan Zela, Seli dan Vani tapi tak kunjung ketemu, beberapa kolam renang dewasa sudah mereka cari tapi tak terlihat ketiga gadis cantik itu.
" Mereka dimana sih..?? " Kesal Xelo.
" Apa jangan jangan mereka dicu..." Ucap Xelo yang segera di potong oleh Dimas.
" Hanya ada satu kolam berenang yang belum kita lihat..." Jelas Dimas dengan senyum devilnya.
Membuat Brayen dan Xelo seketika menoleh ke arahnya dengan penasaran, Brayen tentu saja tidak akan tau tempat seperti itu, dia tidak mungkin mengunjungi water park kalau bukan Zela yang membuatnya kesitu.
" Maksud Loe..??? " Tanya Xelo yang sudah sangat penasaran.
Sedangkan Brayen masih diam mendengarkan, tapi tetap matanya juga mencari cari keberadaan istri nakalnya itu.
" Ayo ikut Gue.." Ajak Dimas kepada Brayen dan Xelo.
Dimas membawa Brayen dan Xelo kepetugas yang berada di depan pintu tertutup, membuat Brayen semakin bingung saja, sedangkan Xelo sudah cukup mengerti, dia semakin tersenyum devil sama seperti Dimas.
" Permisi Mbak.." Ucap Dimas sopan kepada Mbak Mbak yang sedang berjaga disana.
Mbak Mbak itu menoleh ke arah mereka, tentu saja dia sedikit terkejut karena kedatangan tamu cowok cowok tampan seperti mereka.
Bahkan Mbak itu sampai dibuat bengong, dia mamandang mereka dengan bergantian, dan betapa terkejutnya lagi, jika pandangan matanya yang terakhir tertuju kepada Brayen Zafano.
Membuat Mbak Mbak itu seketika melotot tak percaya bahkan hampir lemas karenanya.
" B...B..Brayen Zafano bukan..?? Iya Brayen Zafano kan..?? " Ucapnya dengan tak percaya.
Brayen mengangguk juga dengan senyum tampannya, membuat Mbak penjaga semakin merasa lemas saja, bahkan rasanya seperti akan pingsan.
Tak lama datanglah petugas cowok, yang merupakan temannya menjaga di tempat itu.
Dia menatap temannya yang sedang terduduk lemas, juga sampe berkeringat, lalu menatap ketiga cowok tampan di depannya.
__ADS_1
Dan..
Jeng Jeng....
Cowok iu sama halnya dengan si Mbak yang masih tak percaya jika seorang Brayen Zafano datang ketempat bekerjanya.
" Astaga.. Gue nggak mimpi ini kan..??? " Gumamnya pada diri sendiri.
Tapi tentu saja di dengar oleh teman juga ketiga cowok tampan yang berada di depannya.
" Tuan.. Akh.. Em... Den Brayen... Duh.. Nggak cocok Gue panggil apa ya.. Kak Brayen aja.. Iya Kak Brayen Zafano kan..?? " Tanya petugas cowok itu dengan antusias.
" Gue ngefans berat sama Kak Brayen.. Adu..du..du..du... Kak Brayen teh ternyata kasep.. Kasep pisan.." SambungNya lagi dengan genit semakin membuat Brayen bingung.
Begitu juga dengan Dimas dan Xelo yang sama bingungnya dengan Brayen, bahkan si petugas cowok sampe melonjak lonjak tak jelas, lebih heboh dari teman ceweknya melihat kedatangan Brayen.
Petugas cowok itu menghampiri Brayen, Dimas dan Xelo, sampai di depan, dia malah senyum senyum tak jelas kepada Brayen, jika cewek yang sedang melakukan itu, mungkin bisa dikatakan sedang tebar pesona atau mencari perhatian Brayen.
Tapi karena dia itu cowok, membuat Brayen rasanya ingin muntah saja, Brayen merasa risih sekali.
" Boleh minta foto Kak Ray...?? Maksud Gue kita selfi bareng..." Ucapnya lagi dengan senyuman genit, matanya di kedip kedipakan ke arah Brayen, seketika membuat mata Brayen melotot.
Sedangkan Dimas dan Xelo malah terkikik geli, mereka tau rupanya cowok di depannya ini adalah cowok jadi jadian, bisa dikatakan kalau dia sedikit ngondek.
" Ayo dong Kak Brayen... Kita foto dulu.. Setelah itu Kak Brayen boleh masuk nyusulin istri Kakak yang lagi ada di dalam..." Ucapnya lagi dengan genit, tentu saja membuat Brayen semakin risih saja.
Tapi mendengar jika Zela berada di dalam membuat Brayen, menimbang permintaan cowok aneh di depannya ini.
Dimas dan Xelo sudah tak bisa menahan tawanya, melihat si cowok aneh itu yang membawa bawa Zela untuk bisa berfoto dengan Brayen.
" Udah Ray terima aja.." Usul Xelo kepada Brayen.
Brayen menatap tajam Xelo, memangnya pernyataan cinta yang harus diterima.
" Iya lah Ray.. Biar cepet kelar urusannya..." Sambung Dimas lagi kepada Brayen.
Sungguh Brayen merasa kekesalannya bertambah kali lipat saja, kedua sahabatnya malah sengaja menjeruskan Brayen kedalam lembah yang tidak jelas menurutnya,
Akh.. Berfoto dengan lelaki seperti yang ada di depannya ini tidak pernah terfikirkan oleh Brayen.
Sumpah demi apapun, setelah menemukan istrinya dia benar benar akan menghukum Zela yang sudah membuatnya seperti sekarang ini.
Lalu tanpa disengaja, muncul ide gila dari Brayen, ini dirasa cukup adil untuknya.
" Oke.. Gue mau foto bareng Loe.." Ucap Brayen membuat si cowok ngondek itu merasa senang tak tertahankan, bahkan dia hampir saja memeluk Brayen, jika tak langsung Brayen cegah.
Begitu juga dengan Dimas dan Xelo yang sudah tersenyum senang, sambil mengacungkan jempolnya.
" Sama kedua sahabat Gue.." Jelas Brayen lagi menunjuk ke arah Dimas dan Xelo yang sekarang sedang terbengong.
Sungguh wajah mereka saat ini sangatlah lucu, mungkin jika saja ada ketiga gadis cantik yang sedang mereka cari disana, sudah pasti mereka akan ditertawai dan menjadi bahan ledekan.
" Akh.. Curang Loe.." Ucap Dimas kesal sedangkan Brayen hanya tertawa renyah.
" Emm.. Boleh Kak Brayen, tapi tetep Kak Ray yang ditengah ya deketan Gue.." Jawabnya dengan genit.
Sungguh jika bukan karena demi Zela, rasanya Brayen ingin mencekik cowok yang tingkahnya seperti cewek saja, membuat mual perutnya.
" Oke..." Jawab Brayen membuat si cowok aneh itu tersenyum senang, bahkan dia sempat menjawil janggut Brayen karena reflek.
" Hei.. Nggak boleh sampe sentuh sentuh gitu..." Ucap Brayen yang dapat jawaban darinya dengans senyuman tanpa bersalahnya.
Sungguh Brayen sangatlah malas berhadapan dengan orang aneh seperti itu.
Mereka akhirnya melakukan foto bersama.
Catat hanya sekali foti saja, padahal si cowok aneh sudah meminta untuk berfoto lagi, tapi melihat gaya cowok yang terus saja kecentilan membuat Brayen tak ingin meneruskan moment abadinya bersama cowok aneh itu.
Akhirnya Brayen, Dimas dan Xelo diperbolehkan untuk masuk, cukup luas memang didalam, bahkan pemandangannya lebih indah dari kolam yang berada di luar, meskipun terletak di dalam tapi di tempat itu juga bisa melihat keindahan alamnya.
Brayen dan kedua sahabatnya terus masuk mencari keberadaan ketiga gadis nakal itu.
Sebenarnya mereka cukup merasa lega mengetahui jika Zela, Seli dan Vani berenang di kolam yang termasuk VIP itu, jadi tubuh mereka tidak harus dilihat yang lain.
Tapi jika mereka tau ketiga gadis cantik itu sebelumnya juga berenang di tempat yang umum, sudah dipastikan ketiga cowok itu akan meledak ledak emosinya.
Bahkan hukuman yang mereka dapat mungkin akan sangat berat.
Sampai akhirnya,, Brayen , Dimas , dan Xelo mendengar suara cewek cewek yang sedang tertawa bersama, sudah dapat ditebak jika mereka adalah Zela dan kedua sahabatnya.
Dengan pelan, Brayen, Dimas , dan Xelo berjalan ke arah Zela, Seli dan Vani yang masih berendam.
Bahkan Brayen dan kedua sahabatnya persis seperti mata mata atau detektif yang sedang mengamati musuhnya.
Semakin dekat,,, semakin dekat.... Brayen dan kedua sahabatnya bisa dengan jelas melihat Zela dan kedua sahabatnya.
Betapa terkejutnya Brayen, melihat Zela yang memakai pakaian renangnya sampe bok*ng dan pay*dar*Nya tercetak begitu jelas.
Bukannya terpesona dengan keindahan tubuh yang istrinya miliki, melihat itu amarah Brayen semakin memuncak saja, Brayen mengepalkan tangannya kuat, sungguh dia tidak rela Zela mengexpose tubuhnya, meskipun hanya dengan Seli dan Vani yang merupakan sahabatnya juga sama sama wanita.
Tapi Brayen tetap merasa tidak rela, dan Zela benar benar harus dapat hukuman.
__ADS_1
Brayen akan menghampiri Zela, tapi dengan segera dicegah oleh Dimas, mereka akhirnya sembunyi di belakang pohon seperti penguntit.
" Bis ini kita kemana..?? " Tanya Vani kepada Zela dan Seli.
" Ke Kak Jova yuk.. Gue pengen kesana.." Jawab Zela yang langsung ditolak oleh Seli dan Vani.
Begitu juga dengan Brayen yang sudah tersenyum devil, mendengar penuturan sang istri yang malah mengajak teman temannya ke tempat terkutuk itu, bagaimana tidak terkutuk jika tempat Jova adalah Club malam.
" Tenang dulu Ray.." Ucap Dimas pelan mengingatkan Brayen.
" No.. Zezel.." Tolak Vani langsung.
" Ogah.. Gue nggak mau ya ngajak bumil ketempat begituan, apa lagi Loe sekarang udah punya suami, dan suami Loe itu orang yang sangat terpandang bisa berabe urusannya kalau Loe ketahuan ketempatnya Kak Jova.." Jelas Seli kepada Zela.
Mendengar Seli yang mencegah Zela, membuat Dimas malah jadi senyum senyum sendiri.
" Ish.. Berisik kalian.. Gue ngajak kalian ketempat Kak Jova cuma pengen dibikinin nasgor sama Kak Jova..." Jelas Zela membuat Seli dan Vani terbengong.
" Kalian tau nggak.. Tadi pagi Gue dimasakin nasgor sama Kak Ray.. Tapi nggak Gue makan,, melihat saja sudah bikin enak.." Sambung Zela menjelaskan kepada Seli dan Vani.
Sedangkan Brayen terkejut tak percaya, bagaimana bisa Zela mengatakan itu jika dia sendiri yang minta, memang tidak dia makan, tapi bukankah Zela memuji baunya yang begitu enak itu..??
Astaga... Brayen harus benar benar sabar menghadapi bumil yang satu ini.
Dimas dan Xelo sudah terkikik geli, mendengar apa yang Zela ucapkan.
" Seriusan nggak Loe makan..?? Wah.. Sayang banget dong Zel... Tau gitu dimakan Gue aja.." Jawab Vani membuat Zela tertawa.
" Ikh.. Makan gratis aja Loe cepet.." Ledek Seli kepada Vani yang dapat cengiran dari Vani.
" Mungkin Loe aja yang liatnya enek.. Siapa tau aslinya enak.. Secara yang bikin kan cogan Zel..." Sambung Seli kepada Zela.
" Tau akh.. Kadang Gue ngerasa sayang banget gitu sama Kak Ray, tapi kadang Gue ngerasa sebel parah ma Kak Ray.. Gue juga nggak tau kenapa..." Ucap Zela menceritakan kepada kedua sahabatnya.
" Duh... Itu pasti bawaan debay deh Zel... Baby jangan gitu dong.. Kacian Daddy kamu ya.." Ucap Vani yang juga mengelus perut Zela, Vani seperti sedang berbicara dengan anak Zela.
Xelo yang mendengar penuturan Vani barusan tersenyum, karena Vani begitu menyayangi anak kecil dan itu sangat cocok untuk Xelo jadikan istri, secara Mami Xelo kan juga sangat menyukai anak anak, pikir Xelo.
" Ciap aunty..." Jawab Zela menirukan suara anak kecil, membuat mereka tertawa bersama.
" Btw gimana hubungan Loe ma Kak Dimas Sel..?? " Tanya Zela akhirnya kepada Selu setalah sekian lama merass tidak enak untuk menanyakan hal ini.
Hufh...
Seli menghembuskan nafas panjangnya..
" Nggak tau Gue.. Kak Dimas tuh sumpah ya ngeselin tau Nggak..." Jawab Seli dengan kesal.
Membuat Zela dan Vani bingung dengan jawaban Seli.
Sedangkan Dimas semakin penasaran, dengan pendapat Sei tentang dirinya.
" Kok gitu..?? " Tanya Zela.
" Why...?? " Sambung Vani.
" Hmm... Kak Dimas tuh kelamaan gantungin Gue.. Masa iya Gue yang harus tembak dia duluan...?? " Jawab Seli dengan kesalnya.
" Kode itu bro.." Bisik Xelo kepada Dimas, yang dijawab Dimas dengan menatap Xelo tapi tanpa kata.
Dimas kembali menatap ke arah gadis yang sedang duduk ditepian kolam bersama dengan kedua sahabtanya.
" Apa perlu Gue bilang Kak Dimas..?? " Tanya Zela kepada Seli.
" No Zel.. Biarin aja lah.. Mungkin dia belum yakin sama perasaanya.." Jawab Seli seketika membuat Dimas merasa bersalah.
" Btw Van.. Loe gimana sama Kak Xelo..?? " Tanya Seli kepada Vani.
" Hah.. Gue..?? " Tunjuk Vani kepada dirinya yang diangguki oleh Seli dengan cepat.
" Kok Gue sih..?? " Tanya Vani balik kepada Seli.
" Iya Loe lah Van.. Emang siapa yang paling Uwu sama Kak Xelo, Kita..??? " Tanya Zela lagi malah membuat Vani bingung saja.
" Gini deh Van.. Gue rasa diantara kalian itu sama sama punya rasa, tapi kalian masih belum memahami, belum mengerti, Gue yakin cepat atau lambat kalian juga bakal menyadari perasaan kalian masing masing.." Jelas Zela lagi, seketika membuat Vani terdiam.
Apa yang dikatakan oleh Zela memang ada benarnya, terkadang Vani merasakan getaran dalam hatinya jika bertemu dengan Xelo, meskipun endingnya mereka akan sama sama perang mulut.
" Kode Bro.." Kini gantian Dimas yang berbisik kepada Xelo, membuat Xelo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Gimana kalau kita nanti belanja aja buat masakin mereka.. Nanti kita masak tuh di rumah Gue..Nanti biar Gue bilang Kak Ray buat nyuruh Kak Diamas sama Kak Xelo kerumah.. Gimana..?? Ya... Itung itung kalian nyogok merekalah biar cepet sadar ma persaannya.." Ucap Zela yang langsung dapat cipratan air dari Seli dan Vani.
Sedangkan ketiga cowok itu malah senyum senyum tidak jelas, yang tadinya datang dengan emosi, tapi hilang begitu saja setelah menguping pembicaraan ketiga gadis yang sedang saing curhat ditepian kolam itu.
Jangan Lupa Buat Like, Comment, dan Vote
Vote.. Vote.. Vote.. Ya Kak.. Ditunggu..
Dan Baca juga cerita author " My Brother Handsome "
Big Thanks.. Salam sayang untuk kalian.. 😘😘
__ADS_1