
Brayen dan Dimas masuk ke ruangan dimana di sana para Guru sudah duduk dan berisap-siap untuk melaksaknakan rapat. Juga kedua Orang Tuanya yang sudah hadir untuk mengikuti rapat.
Saat pintu di buka oleh Brayen, semua yang berada di ruangan menoleh ke arahnya dengan terkejut, begitu juga dengan Bunda Wina dan Pak Riko yang mengernyitkan keningnya melihat kedatangan Brayen dan Dimas.
Dengan segera staf Guru mempersilahkan Brayen dan Dimas untuk duduk dan mengikuti rapat hari ini.
" Sayang... Kamu tau?" Tanya Bunda Wina kepada Brayen.
Brayen mengangguk, tangannya menggenggam tangan Bunda Wina dengan pelan. Baik Bunda Wina maupun Pak Adam memang tidak ada yang memberitahukan tentang masalah ini kepada Braye, tapi bukan Brayen namanya jika masalah yang terjadi di sekolah istrinya dia tidak mengerti.
" Bund... Ray akan bantu Bunda juga Ayah untuk menyelsaikan masalah ini" Jawab Brayen dengan senyuman.
Bunda Wina dan Pak Riko mengangguk dengan senyuman.
Rapat segera di mulai, para Guru juga kedua Orang Tua Brayen saling bahas tentang bagaimana nasib Sekolah Vera kedepan. Sebenarnya semua Guru yang ada di Sekolah itu menginginkan untuk memberhentikan Vera dari Sekolahnya. Tapi dengan segera Pak Riko memberi penjelasan agar Vera bisa kembali bersekolah seperti menantunya yang juga sedang dalam ke adaan hamil tapi masih bisa bersekolah.
" Maaf semua saya menyela, saya tau orang yang sudah membuat Vera seperti sekarang ini" Ucap Brayen tiba-tiba membuat semua yang ada di ruangan menoleh ke arahnya dengan terkejut.
" Kami punya buktinya" Sambung Dimas menjelaskan. Kembali membuat semua orang yang berada di ruangan itu semakin terkejut.
" Nak.. Apa itu benar? " Tanya Bunda Wina yang di angguki oleh Brayen.
" Di sini ada bukti yang kuat, tapi maaf tidak semua bisa melihatnya" Jelas Brayen membuat semua Guru semakin terkejut dan juga bingung.
Brayen mengangguk kepada Dimas, pertanda agar Dimas menjelaskan kepada semua.
" Mungkin Pak Guru BK, wali kelas saudari Vera, Pak wakil Kepala Sekolah, juga Pak Kepala Sekolah bisa ikut saya sebentar" Jelas Dimas membuat semuanya kembali terkejut, tapi juga Guru yang Dimas maksud barusan mengangguk mengiyakan.
Dimas beserta beberapa Guru yang tadi di maksudnya segera pindah ke ruangan sebelah. Dimana di sana hanya ada mereka saja, Dimas akan memperlihatkan Video Vera juga cowok yang sudah menghamilinya. Tentu saja video itu sudah di edit sedemikia ruap agar tubuh polos Vera tidak terlihat dengan jelas.
Tapi tetap wajah Vera dan juga lelaki itu masih terlihat dengan jelas.
" Ray.. Kamu tidak perlu repot seperti ini, Ayah tau urusanmu di New York belum selesai sepenuhnya" Ucap Pak Riko.
Bunda Wina menatap Pak Riko dan Brayen bergantian. Tentu saja Bunda Wina bingung dengan apa yang sedang suami dan anaknya katakan, karena Bunda Wina tidak begitu mengerti masalah apa yang sedang anaknya hadapi, Bunda Wina hanya tau jika Sandro sudah melecehkan Zela, dan Brayen mengirimnya ke New York. Tapi Bunda Wina tidaklah tau tentang masalah Sandro yang di jebak oleh Misha menggunakan obat-obatan terlarang.
" Kalian ngumpetin apa dari Bunda? " Tanya Bunda Wina membuat Brayen kembali menggenggam tangan Bundanya.
" Tidak ada Bund.. Ray hanya perlu mengajari anak SMA itu agar terbiasa hidup di sana" Jelas Brayen yang tentu saja berbohong.
" Benar Bund.. Jangan khawatirkan Brayen, dia bisa mengatasi sendiri kalaupun ada masalah" Sambung Pak Riko kepada istrinya.
" Awas ya kalau sampai main rahasia-rahasiaan dasar anak nakal." Jawab Bunda Wina sambil menggenggam erat tangan Brayen dan tersenyum.
Tidak lama Dimas dan para Guru yamg tadi mengikutinya datang. Mereka kembali duduk di kursi. Tampak Pak Kepala Sekolah juga Guru yang lain terlihat lesu dan tidak bersemangat.
Awalnya mereka mengira jika Vera korban pemerkosaan, karena memang kedua Orang Tua Vera mengatakan seperti itu ketika di tanya oleh Pihak Sekolah, kedua Orang Tua Vera sangatlah malu sehingga tidak lagi bisa berkata apa-apa selain mengatakan kebohongan itu.
Brayen menatap Dimas yang mengaggukan kepalanya, pertanda semua berjalan dengan sesuai rencana dan lancar. Membuat Brayen menghela nafasnya lega.
" Sebelumnya saya minta maaf yang sebesar-besarnya kepada Pak Riko dan juga Bu Wina karena tidak bisa mendidik dengan benar murid saya, saya setuju dengan Pak Riko jika Nak Vera tetap bisa Sekolah di sini, dan kami berjanji masalah ini tidak akan sampai pihak luar Sekolah tahu, hanya kita dan para murid yang sudah mengetahuinya" Jelas Pak Kepala Sekolah kepada semuanya.
" Buat Nak Brayen, kami sangat berterimakasih sekali sudah membantu mencari kebeneran dari permasalahan ini" " Sambung Pak Kepala Sekolah kepada Brayen.
Brayen mengangguk mengerti, sedangkan Bunda Wina dan Pak Riko semakin penasaran dengna bukti yang Brayen berikan kepada Kepala Sekolah.
" Begini semua.. Nak Brayen dan juga temannya saudara Dimas akan mencari siapa lelaki yang sudah menghamili Nak Vera" Jelas Pak Kepala Sekolah dengan lantang dan jelas, sontak saja semua yang ada di ruangan itu semakin terkejut, termasuk kedua Orang Tua Brayen. Siapa lagi kalau Bukan Bunda Wina dan juga Pak Riko.
__ADS_1
" Maaf sebelumnya jika saya membuat kalian terkejut, niat saya hanya ingin membantu, agar saudari Vera bisa di nikahi oleh orang yang memang seharusnya bertanggung jawab atas apa yang sudah diperbuatnya " Jelas Brayen membuat yang lain samakin terkejut.
" Saya tidak ingin nama Sekolah ini tercoreng karena masalah ini, terlebih saya juga menikahi satu siswi yang kebetulan Sekolah di sini. Jika istri saya tetap bisa Sekolah sampai nanti ketika hari di mana akan melahirkan, sebaiknya saudari Vera juga dapat kesempatan seperti istri saya Azela" Jelas Brayen lagi dengan tegas yang membuat semua orang yang berada di ruangan itu semakin terkejut dan mengangguk membenarkan jika apa yang di lakukan oleh Brayen memanglah benar.
Begitu juga dengan Pak Riko dan Bunda Wina yang mengangguk dengan senyum karena begitu terharu dengan Brayen dan juga Dimas. Keduanya memang masih muda, tapi apa yang mereka perbuat selalu membanggakan Pak Riko dan Bunda Wina.
Semua orang yang berada di sana memberi tepuk tangan untuk Brayen, begitu juga dengan Dimas yang kagum dengan sikap Brayen, meskipun kadang kali sangatlah konyol tapi sekali lagi sikap dermawan Pak Riko menuruni anaknya Brayen Zafano. Dan sekarang terbukti lagi dengan apa yang akan Brayen lakukan.
Jika saja Zela tau bagaimana Brayen sesungguhnya, sudah di pastikan Zela akan mengagumi Brayen lebih dari siapapun, meskipun pada dasarnya Zela memang sudah teramat mengagumi Brayen, menyayangi dan mencintai Brayen dengan tulus apa adanya, dengan segala kekurangan dan kelebihan Brayen, tapi jika tau Brayen sering kali berbuat baik kepada seseorang sudah di pastikan Zela juga akan sama bucinnya dengan Brayen.
Setelah rapat selesai, Bunda Wina dan Pak Riko melihat-lihat Sekolah. Mereka berkeliling Sekolah bersama Brayen dan Dimas. Di dampingi oleh Pak Kepala Sekolah juga Wakil Kepala Sekolah.
Sontak saja semua siswa siswi yang melihat keberadaan Buna Wina dan Pak Riko, memberi salam kepada mereka. Bunda Wina dan Pak Riko mengangguk dengan senyum kepada mereka. Jangan di tanya semua siswi yang melihat keberadaan Brayen juga sebenarnya sudah sangat heboh, mereka pendam di dalam hati mereka, jauh di dalam lubuk hati mereka mejerit karena kedatangan Brayen Zafano. Tapi mengingat adanya Pak Riko dan juga Bunda Wina mereka lebih sopan dari biasaya yang akan berteriak-terial tidak jelas.
Dimas hanya tersenyum simpul dengan sikap gadis-gadis Remaja di depannya ini, mereka terlihay lucu karena menyembunyikan rasa senangnya terhadap Brayen.
Dimas tau jika tidak ada Bunda Wina dan Pak Riko sudah di pastikan mereka akan langsung meminta foto Brayen seperti biasanya.
" Gaes ada apaan sih di luar pada berisik? " Tanya Vani kepada Zela dan Seli.
Ketiga gadis cantik itu masih di dalam kelas. Mereka tidak tau sama sekali dengan kedatangan Bunda Wina, Pak Riko juga Brayen dan Dimas.
" Tau... Palingan biasa gosip baru" Jawab Zela malas.
" Gimana ya hasil rapatnya? Menurut kalian Vera bakal di keluarin nggak? " Tanya Seli yang tiba-tiba membuat Zeka terdiam.
" Pasti... Menurut Gue kalau dia terbukti emang lagi bunting nggak akan lagi ada kesempatan " Jawab Vani mantab membuat Seli mengangguk. Meskipun mereka sudah berbaikan dengan Vera, tapi memanga apa yang Vera lakukan sangatlah di luar batas dan begitu keterlaluan, Vera sudah membuat nama baik Sekolah hancur. Beruntung berita ini tidak sampai tersebar kemana-mana selain di Sekolah mereka. Juga kampus depan tentunya.
Sedangkan Zela masih dengan diamnya, sungguh Zela tidak ingin jika Vera sampai di keluarkan dari Sekolah. Dia akan merasa sangat tidak adil jika itu terjadi, karena Dia sendiri masih bisa Sekolah dalam keadaan sedang berbadan dua, tapi tidak lama mendengar nama rapat membuat Zela teringat jika kedua martuanya akan mengukuti rapat, dan otomatis Bunda Wina dan Pak Riko sedang berada di Sekolah.
" Astaga.. Gue lupa" Gumam Zela membuat Seli dan Vani mengernyitkan keningnya bingung.
" Temenin Gue yuk" Ajak Zela kepada kedua sahabatnya.
Zela langsung menarik Seli dan Vani untuk keluar dari kelasnya. Sampai di luar suara gaduh semakin terdengar, meskipun tidak ada suara jeritan tapi begitu terdengar jika banyak siswa siswi yang sedang menghebohkan sesuatu.
" Kayak di deket perpus deh Zel" Ucap Vani yang di angguki oleh Zela dan Seli.
Dengans segera mereka menuju ke perpus. Dan betapa terkejutnya mereka melihat keberadaan Bunda Wina, Pak Riko, Brayen, dan juga Dimas, serta Kepala Sekolah dan wakil Sekolah tidak lupa beberapa siswa siswi juga.
" Astaga.. Bunda Zel" Gumam Seli kepada Zela.
" Dan pangeran Lo juga Sel" Sindir Vani melihat keberadaan Dimas.
Seli melirik ke arah Dimas, dia tersenyum malu.
" Gue cantik nggak? " Tanya Seli yang tiba-tiba berubah jadi centil, persis Vani dulu.
" Astaga... Ganjen amat Lo" Jawab Vani melihat kelakuan Seli yang sedang merapihkan rambutnya dengan tangan.
" Biarin centil sama cowok sendiri" Jawab Seli sambil menjulurkan lidahnya. Membuat Vani menatap Seli kesal.
" Dih.. Gue tarik lidah Lo tau rasa" Jawab Vani tidak mau kalah.
" Sudah.. Kalian kenapa berantem sih? Ayo ke sana" Ajak Zela kepada kedua sahabatnya.
Mereka segera masuk ke dalam perpus untuk menemui Bunda Wina dan Pak Riko, juga Brayen dan Dimas tentunya.
__ADS_1
Melihat Zela, Seli dan Vani yang sedang berjalan ke arah Bunda Wina, membuat siswi-siswi centil itu menatap iri dengan Zela.
" Menantu kesayangannya gaes" Bisik salah satu siswi membuat temannya mengangguk.
" Diem bege kalau nggak mau kena masalah" Jawab salah satu siswi lain.
" Tapi Gue tetep nggak rela kehidupan Zela mujur banget" Jelas salah satu siswi lagi.
" Sssttt... Kita liat aja, sampai kapan Zela bisa bertahan dengan Kak Brayen yang banyak di sukai wanita" Jelas yang lainnya membuat teman-temannya mengangguk semangat.
Seakan mereka akan ada kesempatan untuk mendekati Brayen, padahal sudah pasti itu hanya mimpi dan angan-angan mereka saja.
" Bunda " Sapa Zela dan kedua sahabatnya kompak.
Bunda Wina menoleh ke asala suara, begitu juga dengan Pak Riko, Brayen dan Dimas yang menoleh ke arah Zela, Seli, dan Vani yang sedang menghampiri mereka.
" Anak Bunda..." Jawab Bunda Wina dengan senyuman cantiknya.
Zela mencium tangan Bunda Wina dan Pak Riko, di ikuti Seli dan juga Vani.
" Bunda udah dari tadi? " Tanya Zela yang di angguki oleh Bunda Wina dengans senyumnya.
" Sudah sayang... Kita sudah selesai rapat, ini sebentar lagi mau nengokin kampus" Jawab Bunda Wina yang di angguki oleh Zela dan kedua sahabatnya.
Sedangkan para siswi yang melihat keakraban Bunda Wina dan Zela semakin merasa iri saja, Zela benar-benar wanita paling beruntung karena memiliki martua sebaik Bunda Wina dan Pak Riko, mereka tidak hanya tajir, tapi juga memilik anak yang begitu rupawan, siapa lagi kalau bukan Brayen Zafano suami dari Zela yang menambah berkali-kali lipat keberuntungan Zela di mata teman-teman sekolahnya.
" Ekhemm..." Deheman Brayen karena keberadaanya di cueki oleh Zela.
Bahkan siswi yang sedari tadi mengikuti mereka saja, hanya ingin melihat seorang Brayen, sedangkan Zela malah dengan santainya bersikap biasa saja dengan keberadaan Brayen di sana.
" Kak Ray" Sapa Zela mencium tangan Brayen juga. Sontak saja pemandangan itu membuat para siswi yang melihat menjadi semakin memanas saja.
" Kak Ray sama Kak Dimas kok ada di sini?? " Tanya Zela kepada suaminya dan Dimas.
" Asa urusan Zel" Jawab Dimas membuat Zela mengangguk.
" Urusan sama Seli ya Kak Dim? " Celetuk Vani membuat Seli melotot, sedangkan yang lain tertawa karena perkataan Vani.
Dimas menatap Seli dengan senyum tampannya, tentu saja membuat Seli semakin malu, tapi jujur saja dalam hatinya begitu senang karena keberadaan Dimas di sekolahnya.
" Ya sudah Bunda sama Ayah mau ke depan dulu ya.. Kalian yang semangat Sekolahnya " Pamit Bunda Wina kepada mereka.
Mereka mengangguk dengan senyuman.
Bunda Wina dan Pak Riko di antar sampai depan oleh Kepala Sekolah juga Wakil Sekolah.
Sedangkan Brayen dan Dimas memutuskan untuk tetap di Sekolah dulu. Mereka akan menemani bidadari-bidadari cantik itu di kantin Sekolah. Sebelum nantinya ke kampus depan.
Vani yang memesan makanan, seperti biasa Zela akan memesan dua porsi, sontak aja Brayen dan Dimas terkejut karena baru mengetahuinya.
Brayen tau jika Zela memanglah sedang banyak makan, tapi dia tidak tau jika Zela sampai memesan dua porsi dalam sekali makan. Dan itu membuat Brayen semakin gemas saja dengan tingkah istri cantiknya.
Tidak lama Dara datang, dan meminta bergabung dengan mereka. Tentu saja mereka mempersilahkan, sedangkan Dimas sedikit curiga dengan siswi cantik ini yang tadi juga di temuinya ketika mereka baru saja tiba di Sekolah.
Tapi sangat terlihat jika Zela dan Dara sangatlah akrab, Dimas melirik ke arah Brayen yang bersikap biasa saja seperti tidak terjadi sesuatu, karena memang pada dasarnya Brayen akan bersikap cuek dengan seseorang yang baru di kenalinya.
Gaes up siangan sorry ya.. Sebenarnya hari ini nggak mau up, tapi aku sayang kalian readers yang setia dengan cerita ini.
__ADS_1
Ow.. Ya.. Jangan Lupa Like, Comment and Vote ya.. Di tunggu lho..
Big Thanks 🙏🙏😘😘