
Zela menceritakan dari A sampai Z kenapa bisa Xelo salah paham dengan Vani. Bukannya simpati, baik Brayen maupun Dimas malah tertawa terbahak mendengar penjelasan Zela.
Bahkan Dimas tidak hentinya memukul setir mobil saking konyolnya seorang Vani.
Vani menatap mereka dari belakang dengan kesal, bukannya mencari solusi untuknya agar berbaikan dengan Xelo malah menertawainya, kampret banget pokoknya deh kedua cowok tampan di depannya itu, untung tampan kalau tidak sudah Vani jitak tuh kepala biar berhenti tertawa dan mengaduh sakit.
" Jahat banget malah pada ketawa." Gumam Vani membuat Zela dan Seli sedikit terkikik, lucu memang pikiran konyol Vani itu.
" Diam Kak kasian Arsha lagi tidur ntar bangun lho." Sambung Vani lagi agar Brayen dan Dimas tidak lagi meledeknya dengan ketawa jahatnya.
" Ah... Shit diam Lo Dim, anak Gue tidur." Ucap Brayen yang baru tersadar jika si embul Arsha ikut mereka sekarang ini.
Lucu sekali mereka sekarang kemana-mana sudah ada si kecil Arsha.
" Sorry Bro." Jawab Dimas sembari tersenyum.
Brayen kembali merogoh ponselnya di saku celana, Dia mencoba menghubungi Tian. Brayen menghubungi Tian untuk menanyakan keberadaan Xelo, bisa saja Tian tahu keberadaan sahabatnya yang sedang patah hati itu, pikir Brayen.
Tian mengangkat telepon Brayen. Bahkan dia menyuruh Brayen untuk pergi ke Apartemennya yang baru saja di belinya. Xelo memang sedang berada di Apartemennya. Xelo juga datang ke Apartemen Tian dengan membawa banyak botol minuman. Sekarang ini Xelo sedang dalam keadaan mabuk berat. Terdengar juga dari sebrang telepon jika Xelo sedang mengoceh tidak jelas menyebutkan nama Vani.
Setelah tahu keberadaan sahabatnya, Brayen menyuruh Dimas untuk ke Apartemen baru Tian.
Tanpa pikir panjang Dimas menurut apa yang di katakan oleh Brayen. Dimas tahu jika Brayen sudah tahu dimana keberadaan Xelo.
Melihat jalanan yang cukup asing membuat ketiga gadis cantik itu saling pandang bingung, pasalnta tadi mereka tidak ada yang mendengar ketika Brayen menyuruh Dimas untuk melajukan mobilnya menuju ke Apartemen baru Tian.
" Kita mau kemana Kak?." Tanya Zela kepada Brayen.
" Ke tempat Xelo sayang." Jawab Brayen membuat Zela menautkan alisnya bingung.
" Tapi ini jalannya salah Kak." Jawab Vani yang sudah sangat paham jalanan menuju ke Rumah ataupun Apartemen Xelo.
Brayen tidak menjawab, dia melirik Dimas sembari tersenyum miring. Memang deh mode datar Brayen kembali lagi kecuali ketika dirinya hanya bertiga saja dengan Zela dan Arshaka.
__ADS_1
Dimas melajukan mobilnya lebih kencang, tidak begitu banyak percakapan seperti biasanya di dalam mobil. Karena yang biasanya paling cerewet sedang dalam keadaan cemas memikirkan hubungannya dengan pacar kesayangannya.
Di tambah baby Arsha yang sedang tertidur nyenyak, mereka tidak mau menganggu tidur bayi tampan dan menggemaskan itu.
Sampailah mereka di parkiran Apartemen yang megah. Di lihat dari struktur bangunannya sih jika Tian membeli Apartemen dengan harga yang fantasi. Jelas Apartemen yang Tian beli untuk kalangan elit.
Mereka turun dari mobil. Brayen sebagai pengarah jalan mereka untuk menuju ke Apartemen Tian. Sedangkan kini Arshaka sudah di gendong oleh Xelo. Arsha masih tertidur nyenyak, bibirnya terlihat menggemaskan seperti meminta untuk di cium.
Setelah sampai di depan Apartemen Tian. Dengan segera Brayen membuka pintu Apartemen. Karena tadi sebelumnya Tian memang sudah memberika paswordnya untuk Brayen.
Mereka masuk ke Apartemen Tian yang tidak kalah megah dengan Apartemen Brayen CS.
" Lumayan juga." Gumam Brayen mellirik ke sekeliling Apartemen.
" Udah datang kalian?." Tanya Tian yang tiba-tiba muncul dari arah dalam.
Deg
Jantung Vani sedikit terpompa cepat, bukan karena menyukai Tian, tetapi karena harus bertemu dengan lelaki yang sudah pernah menjadi tempat untuk dirinya membuang gas busuknya.
Apa itu artinya Bebeb Xelo di sini? Astoge... Batin Vani sedikit gugup.
Vani takut jika Tian menceritakan tentang kekonyolannya dulu kepada Xelo. Pokoknya rahasia memalukan itu kalau bisa baik Xelo ataupun sahabatnya jangan sampai tahu.
" Dimana Dia?." Tanya Brayen kepada Tian yang sedang tersenyum ke arah mereka.
" Di kamar, sudah fly dia." Jawab Tian seraya tersenyum devil.
Jika soal minuman Tian memang jagonya, sebanyak apapun botol yang kosong karena sudah di teguknya. Dia tidak akan pernah mabuk.
" Lega Gue Kak Xelo teler" Gumam Vani yang terdengar oleh Zela dan Seli.
Zela dan Seli menatap Vani bingung, mereka menggelengkan kepalanya mendengar apa yang Vani ucapkan.
__ADS_1
" Sinting Lo pacar teler malah lega." Cibir Seli yang membuat Vani hanya nyengir saja.
Vani merasa lega, karena jika Xelo mabuk berati Tian tidak akan bercerita tentang rahasia memalukannya itu, meskipun itu hanya pikiran parno Vani saja.
" Bo-boleh kan Kak Gue ke Kak Xelo?." Tanya Vani gugup kepada Tian.
Tian mengangguk dengan senyum, membuat Vani buru-buru ingin menemui pacarnya yang sedang terkapar.
Tapi baru berapa langkah, tiba-tiba Tian berucap yang hampir saja membuat jantung Vani lompat dari tempatnya.
" Tunggu." Ucap Tian membuat Vani menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke arah Tian.
Vani sudah deg deg ser tidak karuan, otak Vani sekarang penuh dengan kecemasan jika Tian akan meneceritakan semuanya kepada Xelo atau sahabatnya.
Sedangkan yang lain kini sudah duduk di depan tv. Arshaka juga sudah di rebahkan di atas sofa yang cukup besar itu.
Jadi sekarang yang masih berdiri di tempat yang tadi hanya ada Tian dan Vani saja.
" Dari tadi Dia terus nyebut nama Lo, tapi Gue saranin kalau Lo nanti denger apapun yang dia katakan jangan di ambil hati karena Gue rasa dia kecawa, tahu sendiri lah orang fly itu ngomongnya suka ngelantur, bukan Gue shok tahu tapi Gue harap apapun masalah kalian, tolong selesaikan dengan kepala dingin." Jelas Tian yang membuat Vani malah mangap tidak percaya.
Nasihat Tian benar-benar sangat bijak menurut Vani.
" Jangan bengong aja Lo temuin pacar Lo, kalau nggak bangun keluarin aja jurus ampuh Lo." Sambung Tian lagi sembari tersenyum, Tian berjalan meninggalkan Vani yang masih terbengong karena nasehatnya barusan, Tian ikut gabung bersama Brayen dan yang lainnya.
Sedangka Vani masih mangap seraya memikirkan kata-kata terakhir Tian tadi.
Jurus ampuh? emang Gue punya jurus ampuh? Batin Vani bertanya-tanya.
" Astaga... Jangan-jangan jurus ampuh yang di maksud Dia." Gumam Vani seraya menutup mulutnya.
Vani yakin jika jurus ampuh yang di maksud Tian ialah kentutnya, tapi jika memang benar kentutnya bisa membangunkan Xelo yang sedang terkapar karena mabuk, bisa saja Vani melakukan itu, karena yang terpenting baginya saat ini ialah Xelo tidak salah paham lagi.
Vani ingin segera menjelaskan semuanya.
__ADS_1
Vani ingin Xelo kembali lagi dengan dirinya, dan Vani akan memaklumi apapun nanti yang di katakan Xelo tentang dirinya, Vani tahu jika Xelo sedang salah paham karena kebod*hannya. Tapi Xelo ialah lelaki yang selama mau menerimanya apa adanya. menerima segala kekurangan Vani.